Bab 41. Shera 24

1373 Kata
Shera Fuji Lesmana Si Adrian ini mungkin akan merasa senang jika aku naik darah. Untuk apa dia berada disana. Apa kata-kataku tadi sore begitu kurang jelas hingga dia tidak menggubrisnya dan malah kembali lagi kesini. Atau mungkin dia memang belum pergi sejak tadi? Aduhh jangan sampe deh. Namun, wajahnya tidak terlihat kusut lagi. Pakaiannya juga sudah berbeda dengan apa yang dikenakannya tadi sore. Jelas dia sudah sempat membenahi diri, lalu kemudian kembali lagi kesini. Syukurlah ... Jika tidak, maka aku akan merasa sangat bersalah karena sudah membuat anak orang ini jadi menunggu hingga hampir seharian. Setelah sempat melihatku, Adrian langsung mematikan rokoknya. Ia kemudian berdiri lalu berjalan ke arahku. Untungnya, bukan aku yang menghampirinya. Rasanya agak gengsi juga, setelah marah-marah dan memintanya untuk menjauh, malah aku yang mendekat. "Ayo pulang!" ajaknya seraya meraih tanganku dan berbalik lalu menariknya. Tapi aku tidak berniat untuk bergerak. Kakiku masih menempel pada tempat berpijak. Apa-apaan dia. Datang tak diundang kemudian menunjukan gaya sok posesif dengan raut wajah yang sama sekali tidak bersahabat. "Ayo Sher. Ini udah malem. Jangan banyak tingkah deh!" Aku melepaskan tangannya perlahan kemudian menggelengkan kepala. Miris ... Mungkin dia pikir aku hanya main-main. Salahku juga sih! Setiap ada masalah, aku tidak pernah terlalu mempermasalahkannya. Aku memang sensitif, tapi cepat juga membaik. Dan mungkin dia pikir, kali ini juga sama. Mungkin dia pikir, hanya dengan membiarkanku beberapa saat, maka rasa kesalku telah mereda. Namun kali ini berbeda. Hari ini, jam ini, menit ini, dan di detik ini juga aku seperti melihat wajah seorang musuh. Dan aku mulai ... Membencinya. "Kamu yang banyak tingkah, Yan. Udah ku bilang. Mulai sekarang kita harus jaga jarak!" tegasku. Semoga kali ini, dia mengerti. "Ayolah Sher, ini bukan pertama kalinyakan? Jangan kaya anak kecil gini?" Anak kecil? disini aku atau dia sih yang kaya anak kecil. Tapi kurasa benar ... Pemikiran Adrian tidak akan pernah dewasa. Jadi, dialah yang kekakanak-kanakan disini. Hanya karena ini bukan pertama kalinya, lantas dia ingin membuatku terbiasa dengan kedadaan yang memuakkan ini. Beberapa saat kemudian, dari kejauhan aku bisa melihat ada angkutan umum yang akan lewat. Tanganku terulur dan menghentikan benda beroda empat tersebut. "Shera! Lo dengerin gue nggak sih?" sentak Adrian. Aku menulikan pendengaran, dan tidak menggubris pria itu. Dia mungkin perlu tahu, kalau dunia kami ini berbeda. Jadi aku harus sedikit egois. Setidaknya, agar Adrian tahu kalau terus menerus mempermainkan wanita adalah hal yang buruk. Lagipula, meskipun aku kembali bicara hingga berbuih, pria itu tidak akan berubah, jika tidak kutunjukan sesuatu yang nyata. Angkot yang ku tunjuk akhirnya berhenti. Aku baru saja akan naik, saat Adrian kemudian kembali berteriak. "Shera ... Kalau itu mau lo, ya udah. Mulai sekarang kita nggak akan jadi sahabat lagi. Persahabatan kita putus!" Tubuhku sempat kaku untuk sesaat. Sebenernya ini agak memalukan. Dia berteriak tanpa tahu situasi. Didalam angkutan umum itu, juga ada penumpang lain. Di dunia yang egois, hanya orang egoislah yang akan menang. Dan untuk kali ini, maafkan aku Adrian. Jika memang dengan mempertaruhkan persahabatan kita, bisa membuatmu lebih baik dalam segala hal. Maka aku akan memilihnya. Aku masuk ke dalam angkutan umum. Kemudian meminta supir untuk segera jalan. Aku juga tidak boleh menoleh ke belakang. Tatapan mata Adrian, bisa dengan mudah meluluhkanku, dan itu akan sangat berbahaya. Hingga saat kurasa telah jauh, dan hotel tidak akan masuk ke dalam jarak pandangku lagi, barulah aku berbalik. Namun alangkah terkejutnya aku, begitu mendapati Adrian ada disana. Dia berada tepat di belakang angkot yang kunaiki. Jalanan yang renggang serta kelihaiannya dalam mengendarai motor, seharusnya tidak menjadi penghalang bagi Adrian untuk menyalip atau mendahului. Bukankah dia sudah memutuskan persahabatan kami tadi? Tapi kenapa sekarang pria itu masih bersikeras untuk mengikutiku. Kenapa Adrian ini tidak bisa membuat hidupku lebih mudah. Aku mengacuhkannya dengan kembali melihat kedepan. Terserah, jika dia memang mau mengikuti, itu adalah urusannya. Jika sudah lelah, Adrian juga pasti akan berhenti sendirikan? Aku bertahan dengan rasa ego untuk tidak berbalik hingga sampai ke tempat tujuan. Setelah memberikan beberapa rupiah pada supir juga kendaraan itu kembali melaju, aku bermaksud untuk segera berbalik. Tapi lagi-lagi, langkahku terhenti. Orang yang kupikir sudah menyerah, ternyata ada disana. Dia berada di sebrang jalan, duduk di atas motor yang masih menyala. Wajahnya ditutupi helm, membuatku tak bisa tahu ekspresi apa yang saat ini ia sembunyikan. Namun sampai beberapa menit kami berdiri. Dia tak juga menunjukan pergerakan apapun. Sepertinya memang aku yang harus terlebih dahulu memberikan contoh. Jadi kuputuskan untuk pergi. Tanpa tahu, apakah dia masih menungguku. Atau justru kecewa dan pergi. Tapi ini bukan salahku ... Bukan! dia yang memaksaku untuk membuat pilihan. *** Pukul 10.00 siang. Aku terbangun karena suara ketukan pintu yang lumayan keras memanggil-manggil namaku. Ini agak menyebalkan bro. Siapa yang kurang kerjaan pagi-pagi begini sudah bertamu dan memanggilku. "Sher ... shera. Buka pintunya Sher. Lo masih tidur?" Baiklah, sebenarnya ini sudah siang. Tapi berhubung hari ini di kampus lagi nggak ada kelas, ku anggap ini masih pagi. Suaranya agak familiar, tapi aku tidak bisa menebak itu siapa. Meskipun yang tahu tempat tinggalku hanya Tama dan Adrian, ini sama sekali bukan suara dari mereka berdua. Lagi pula ... Seharusnya mereka sudah tidak akan pernah datang lagi ke tempat ini kan? Kedua-duanya telah memutuskan hubungan dengan ku. Tama memutuskan hubungan sebagai pacar, dan Adrian memutuskan hubungan sebagai sahabat. Menyebalkan sekali, bangun tidur bukannya sarapan roti atau nasi uduk, malah sudah di sambut beban berat lebih dulu. Orang yang berada di balik pintu itu juga tidak sabaran agaknya. Ia terus saja memangil namaku, tanpa takut kalau teriakannya itu akan mengganggu tetangga sebelah. Ah ... Sialnya. Istirahatku hari ini akan terganggu. "Iya tunggu sebentar," ujarku dengan suara lantang. Barulah setelah ku jawab, pria itu tak lagi bersuara, mungkin dia agak tenang karena tahu sang pemilik kamar sudah bangun. Aku berkumur-kumur dan membasuh mukaku sebentar dengan air sekenanya. Minimal, mata ini harus ikut terbuka juga saat aku membuka pintu. Aku menggenakan Kaos hitam bekas kuliah kemarin dan celana pendek, karena malas untuk menambah cucian lagi. Toh hanya dipakai tidur saja, nggak perlu terlalu bagus jugakan? Dengan rambut kusut, mata yang masih tetap ngeyel untuk diistirahatkan, juga penampilan seadanya, aku membuka pintu. Oh ... ya ampun! Baiklah, seharusnya aku sudah menduga, siapa yang akan berada disana. Yang tahu tempat ini hanya Adrian dan Tama. Bahkan Mira dan Leana juga tidak ku beritahu. Lantas bagaimana makhluk ganteng itu bisa berdiri di depan kamarku. Padahal yang ku tahu, dia selalu mengantarku pulang sampai di depan gerbang saja. "Axel ... Ngapain lo kesini. Kok bisa tahu kamar gue?" tanyaku agak heran. Aku celingukan, melihat kondisi diluar. Tidak ada orang lain lagi. Dia datang sendiran. "Hei ... lo ini nyari siapa?" Aku menatapnya tajam. Bukannya, dia bilang ini adalah tempat yang tidak baik, tidak benar, dan seharusnya aku juga pindah dari sini. Tapi kenapa juga dia ada sini. "Nggak nyari siapa-siapa. Lo ngpain pagi-pagi disini. Tahu kamar gue darimana?" "By the way ini udah siang, bukan pagi lagi. Soal kamar, tadi gue udah nanya sama orang didepan. Untunglah, aku nggak salah kamar," cetus Axel dengan ucapan yang terdengar lega. "Kalau salah kamar emangnya kenapa?" "Nggak apa-apa juga. Cuman kalau ada yang tiba-tiba maen tarik-tarikan kedalem, kan bisa bahaya?" Aku tertawa agak geli mendengarnya. "Jadi ... gue nggak disuruh masukkah?" "Nggak boleh. Inikan kamar cewek!" protesku. "Yah ... tapi gue bawa makanan nih! yakin nggak mau? nggak enak loh makan didepan," bujuknya lagi. Ia memperlihatkan kantung belanja dari salah satu restorant cepat saji yang isinya pasti enak. Ah ... godaan makanan, siapa yang bisa menolak. "Ck ... ya udah deh. Karena bawa makanan boleh masuk. Tapi nggak usah koment, dan banyak pertanyaan ini itu. Kamar gue berantakan!" ancamku. Dan yang diancam, sama sekali nggak merasakan ngeri. Ia malah tampak sangat senang sambil mengangkat tangan kanannya, meletakan di ujung dahi, ala-ala hormat peserta upacara. Baru kali ini, gue liat ada orang girang banget cuma karena dibolehin masuk kamar, yang padahal keadaannya amburadul banget. Dasar ... orang kaya memang aneh. Aku sempat tidak mengizinkannya masuk, bukan karena ini kamar cewek. Aku hanya nggak biasa membiarkan laki-laki lain masuk selain Tama dan Adrian. Rasanya agak aneh, dan aku tahu kapasitas kesadaran mereka. Jadi bahkan, bila mereka menginappun, tidak akan ada yang terjadi. Tapi orang ini ... Axel itu agak aneh. Entah karena cara pandangnya yang berbeda, atau hanya karena aku yang belum lama mengenalnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN