Shera Fuji Lesmana
Aku bergegas menuju Mess karyawan untuk mengganti seragam kerja. Sedang tidak ada orang disini. Hanya ada aku dan pikiran-pikiranku yang kini menjalar kemana-mana. Mendadak ada rasa sesal yang menelusup didalam hati ini. Kenapa aku berkata seperti itu pada Adrian tadi. Memutuskan hubungan persahabatan kami yang sudah terjalin selama bertahun-tahun, bahkan sejak kami masih SMA. Dia sudah begitu banyak membantuku. Apa salahnya jika aku membantunya sedikit.
Namun, jika aku masih bersikeras, kurasa tahun terakhirku di kampus akan semakin tidak stabil. Aku tidak mau berharap terlalu banyak. Apalagi bergantung padanya. Fokuslah pada tujuan utamamu Sher. Belajar, lulus, mendapat gelar dan pekerjaan yang lebih baik. Ya ... Kamu harus semangat.
Selesai berganti seragam, aku meletakan semua barang-barangku di loker termasuk ponsel. Tapi sebelumnya, sempat ada pesan masuk berisi notifikasi kuota yang baru saja di top up.
Ya ampun, jadi Axel tidak bercanda. Kuotaku beneran diisi. Memang sih, kalau sampai dia bercanda, bakalan jadi aneh banget. Harga kuota ini, tentu saja tidak akan sebanding dengan omset Cafenya yang ramai setiap hari itu. Belum lagi cabang-cabangnya yang ada di tempat lain. Akan jadi memalukan jika dia tidak benar-benar memenuhi janji.
Baru saja aku memikirkan pria itu, mendadak ada video call yang tersambung, gercep juga rupanya si Axel ini.
"Kuotanya udah masuk kan Sher?"
Pertanyaan bodoh. Kalau belum masuk, mana bisa dia telpon langsung nyambung begini.
"Iya udah masuk kok. Thanks banget ya, sorry ngerepotin." Kaku banget sih gue. Ya tapi, kenapa cuma kuota? Nggak minta diisiin pulsa aja sekalian.
"Its oke. Nggak masalah. Lo udah ganti seragam tuh? Mau kerja sekarang?"
"Ah ... Merhatiin juga ya ternyata. Iya nih, udah dulu ya. Nanti balik kerja dilanjut. Soalnya gue juga belom absen."
"Oke deh kalau gitu. Semangat kerjanya ya. Bye!"
Aku menutup panggilan terlebih dulu, kemudian memasukan ponselku ke loker, bersatu dengan barang-barang lainnya. Kemudian bergegas mengisi absen dan menuju dapur.
Sesampainya di kitchen, tampak beberapa Chef kini sedang mulai memasak untuk makan malam. Aku mencomot beberapa udang goreng tepung yang akan dijadikan salah satu menu makan malam hari ini.
"Heh ... dateng-dateng maen comot aja," protes Wawan, salah satu kawanku di sini. Aku hanya nyengir memamerkan deretan gigi yang putih dan berkilau.
"Eh di depan ada Adrian tuh. Tadi nanyain. Lo udah ketemu?"
Aku mengambil box putih berisikan sendok dan garpu yang sebentar lagi, akan ku susun di meja makan bersama Wawan dan lainnya. Sembari membawa barang, aku menjawab ...
"Udah kok."
"Kalian lagi berantem ya?"
Kami berjalan beriringan menuju aula ruang makan. Wawan membawa barang yang lebih berat, yaitu piring juga mangkuk Sementara yang lain tengah membersihkan setiap meja. Kebetulan hotel ini sedang di booking untuk acara pelatihan salah satu organisasi, yang terdiri dari kurang lebih sekitar 150 orang peserta. Dan kami harus menyediakan makan pagi, siang, malam juga snack ringan di sore hari.
"Nggak, ngapain juga gue berantem sama dia," balasku.
"Oh ... tapi gue berasa ada yang aneh aja gitu."
Nggak di kampus, nggak disini. Setiap ada apa-apa, semua orang pasti bisa menyadarinya. Sepertinya, ini adalah efek karena aku sudah terlalu dekat dengan pria itu. Mungkin keputusaan ku kali ini untuk agak menjaga jarak dengan Adrian sudah benar.
"Nggak ada yang aneh. Namanya orang mah, pasti punya masalah," ujarku lagi.
Pekerjaanku sebenarnya tidak terlalu melelahkan. Hanya menyiapkan makan, mencuci piring, gelas juga alat makan yang kotor, lalu hanya membersihkan ruang makan dan dapur. Untuk bagian lain, sudah ada yang bertugas di area masng-masing. Setelah semua itu selesai, dan saat tamu-tamu mulai makan, aku juga bisa berleha-leha dan bercanda dengan teman lainnya.
Hanya jam kerjanya saja yang agak menyulitkan. Meski pekerjaan sudah selesai, aku masih harus menunggu jam pulang dengan tepat untuk absen. Jika pulang lebih awal, tentu saja absensiku akan berubah jadi merah. Menemukan pekerjaan yang bisa disesuaikan dengan waktu belajar di kampus, agak sulit. Karenanya, aku termasuk beruntung bisa bekerja disini.
Aku dan Adrian juga melamar pekerjaan di waktu yang tepat bersama-sama. Saat itu, ditempat ini memang sedang membutuhkan beberapa orang karyawan. Setelah intervew, kami lolos dan diterima bekerja pada hari yang sama.
Gaji pertama selain ku kirim pada orang tua, juga kugunakan untuk mentraktirnya makan eskrim. Padahal aku tahu, uangnya jauh lebih banyak, gaji kami selama bekeja di hotel bahkan tidak mampu menandingi setengah saja dari uang jajannya. Tapi, aku merasa kalau sahabat baikku, harus setidaknya merasakan sedikit saja hasil jerih payahku, meskipun nggak banyak.
Beberapa hari setelah dia resign, aku memang merasa agak kehilangan. Meski kami masih sering bertemu di luar Hotel. Tapi dia tak disini, seolah tak ada lagi tangan jahil yang mencolekku saat bekerja, tak ada yang tiba-tiba membawakan makanan, atau tak ada juga yang menggodaku dengan celotehan-celotehan aneh.
Ah ... Sialnya, disaat seperti ini aku jadi memikirkannya. Ini jam kerja, jangan sampai konsentrasiku terganggu hanya karena dia.
Selesai menyiapkan peralatan makan, kami masih menunggu divisi dapur untuk menyelesaikan menu masakan. Setelah selesai, barulah kami akan meletakan semua makanan di atas meja satu persatu. Sambil menunggu, aku bisa istirahat sejenak, sembari memperhatikan para chef yang sedang memasak.
Dulu aku pernah bermimpi seperti ini. Ingin menjadi chef handal, bekerja di hotel atau restorant besar. Tapi setelah melihat dan praktek langsung setiap harinya. Mimpiku berubah, aku ingin mendapatkan pekerjaan yang layak juga uang yang banyak untuk membuka usahaku sendiri, dan memberi gaji pada chef-chef itu. Bagaimanapun juga aku adalah chef di rumahku sendiri.
Setelah beberapa saat kemudian, semua masakan akhirnya selesai. Aku, Wawan dan karyawan lain tinggal menyusun semua menu per satu porsi di atas meja. Sayangnya divisi kitchen memiliki keterlambatan waktu. Sampai pada akhirnya, kami yang tadinya bisa bekerja dengan santai, jadi diburu waktu.
Semua orang sudah berbaris di depan pintu masuk dan dipandu oleh panitia, sementara aku dan anak-anak lain sibuk meletakan semua makanan, secepat mungkin.
"Sher ... Meja sebelah sini ayamnya mana?" tanya salah satu karyawan, sembari melambaikan tangannya padaku.
"Bentar-bentar. Kayanya kelewat tadi," ujarku dengan segera, lalu menghampiri tempat yang dimaksud.
"Eh ... Ini minumannya mana njir?"
Wawan yang bertugas membawa minum, tertawa sambil berjalan ke arahku.
"Sorry namanya juga manusia. Ini udah selesai semuakan ya? Udah yuk buruan kita keluar!"
Tanpa basa-basi lagi, kami segera kembali ke dapur. Terdengar lengkingan suara panitia yang mempersilahkan peserta pelatihan untuk memasuki ruang makan. Syukurlah ... Meski sedikit keteteran, tapi kami masih bisa mengatasinya dengan baik.
Semua berjalan lancar, hingga tiba waktunya untuk pulang. Aku kembali ke mess dan mengambil semua barang-barangku, tanpa mengganti seragam terlebih dahulu. Selain malas, kurasa seragam ini juga perlu dicuci. Dan entah mengapa, aku juga malas memeriksa ponsel. Jadi, setelah memasukkannya ke dalam tas, segeralah aku pamit pada yang lain kemudian mengisi daftar absen pulang kerja.
"Huuuhhh ... Akhirnya," aku menarik nafas dengan lega, karena bisa melewati hari yang begitu melelahkan dan penuh drama sejak tadi pagi. Beberapa hari ini, kesabaranku memang di uji. Tapi aku harus yakin, ujian itu di berikan padaku, karena takdir itu tahu kalau Shera Fuji Lesmana adalah gadis yang kuat.
Sekarang tinggal menunggu angkot untuk pulang. Meski bukan jadwal off, setidaknya besok tidak ada kelas yang mesti ku ikuti. Jadi aku bisa istirahat sampai sore. Ah ... Senangnya, entah sudah berapa lama jam tidurku menjadi begitu buruk. Kurasa semua itu terjadi sejak masalahku dan Tama dimulai. Tapi ya sudahlah, buat apa juga meratapi nasib yang tak ingin berpihak lebih baik padaku.
Jalanan Ibu kota memang tidak pernah sepi. Apalagi di depan hotel ini. Tapi saat malam, setidaknya ada sedikit jarak dari satu kendaraan menuju kendaraan lainnya, yang membuat semuanya tampak agak renggang.
Aku keluar dari gerbang dan berdiri sambil menoleh ke arah kanan untuk menghentikan angkutan umum yang lewat. Namun yang terjadi malah di luar dugaan.
Mataku dengan bodohnya malah menangkap sesosok makhluk sejenis laki-laki yang sedang berjongkok di sisi jalan dan rokok yang mengepulkan asap. Mengapa ku sebut bodoh? Karena andai saja aku tak melihatnya, maka aku tidak harus bingung untuk memutuskan diantara pergi menemuinya, atau bersikap acuh dan pura-pura nggak melihat. Ternyata, hariku yang penuh drama ini, belum berakhir kawan.