Adrian Maulana "Ayo donk, Yan. Cepetan bawa mobilnya! nanti kita telat!" Untuk ke sekian kalinya Leana bicara di dalam mobil dan benar-benar menganggu konsentrasi ku dalam mengemudi. Ku rasa besok-besok dia harus mengganti pewarna bibir. Karena semakin bibirnya merah, semakin sering pula dia membuat telingaku panas. "Bisa diem nggak sih? aku lagi bawa mobil. Kamu mau bikin kita kecelakaan?" tegurku tanpa menoleh. Sejak pagi dia sudah menggangguku dengan berbagai macam aktivitas memuakkan yang membuat emosi ku naik. Leana nggak pernah berubah bahkan setelah aku memutuskan untuk bertunangan dengannya. "Lagian buat apa kita harus dateng ke sana lebih awal, huh. Shera mungkin belom selesai ngapa-ngapain juga," tambahku lagi. "Beneran kamu nanya kaya gitu? Adrian, aku ini sahabatnya She

