Pesawat yang mereka naiki sudah take off. Wulan memejamkan matanya dan berpegangan erat pada kursi yang ia duduki. Kebetulan Wulan duduk di sebelah bos Ali dan tepat berada di sebelah jendela. Hati Wulan seakan merasakan sensasi naik kora-kora. Meluap dan meredup tak henti-hentinya menghirup dan menghela napas. Ali yang melihat hal itu, hanya bisa menahan tawa. Ia merasa Wulan adalah sesuatu hal yang selalu menghibur dan memberi warna dalam hidupnya. “Lan! Ngapain tutup mata? Kamu mau tutup mata dan telinga pun, pesawat ini tetap terbang.” Ali kembali menatap Wulan dengan tatapan sendunya. Perlahan Wulan membuka mata dan melirik ke arah sebelahnya. Ia mendapati bos Ali sedang menatapnya dengan senyuman. Wulan menggaruk kepalanya untuk mengurangi rasa gugup yang mendera jiwanya saat ini.

