Lucky sudah merasa sedikit lega karena terhindar dari tawuran konyol itu. Kini dirinya masih berada di dalam mobil mewah yang dikendarai Om Jo. “Om Jo biasa lewat jalur sini?” Lucky penasaran dengan Om Om baik itu. “Kadang-kadang, Om lewat jalur sini ... dan hari ini kebetulan Om lagi lewat, pas banget ketemu kamu ... sekarang kelas berapa kamu, Nak?” Om Jo terlihat baik pada Lucky. “Kelas tiga SMA, Om.” Lucky terlihat masih berusaha mengatur napas yang tadi tersengal-sengal. “Wah sebentar lagi lulus, dong?” Om Jo tersenyum kembali. “Iya, Om ... makanya saya gak mau bikin kakak saya kecewa kalau sampai saya ikutan tawuran itu, bisa mati konyol dan berakhir penyesalan.” Lucky merasa bersyukur bisa terhindar dari tawuran yang baru saja terjadi. “Kakak? Memang orang tua kamu ke mana?”

