“Angin malam... bawalah aku meraih senyumnya... merengkuh hatinya... walau aku merasa diri ini tidak pantas untuknya... namun... hati ini tidak bisa lagi berbohong... jika perhatian dan sikap lembutnya mampu membuatku nyaman dan jatuh hati padanya... aku hanya bisa mencintainya secara diam-diam... menyimpannya dalam lubuk hatiku terdalam... asalkan bisa melihatnya bahagia... aku pun akan merasa bahagia... Tuhan, jagalah dia selalu dan bahagiakan hatinya.” Dari lubuk hati Lukman yang terdalam. Malam itu Lukman mulai menyadari betapa dirinya menyayangi Elya. Suara motor Lukman terdengar berhenti di depan rumah Bang Jafar. Elya langsung membukakan pintu dan menyambut Lukman dengan senyuman. “Assalamualaikum... El.” Lukman mengenakan celana jeans berwarna hitam dan jaket bomber berwarna biru

