Episode 18

1254 Kata
Helen terduduk di lantai setelah kepergian Bakta, ia bingung apa yang harus dilakukan? Semua terasa sulit dan tak mudah untuknya. Rasanya seperti ada yang menusuk hatinya hingga berdenyut nyeri. Sayup-sayup ia mendengar pertengkaran ke dua orang tuanya, membuatnya semakin ketakutan dan merasa bersalah gara-gara dia mereka menjadi bertengkar. Rumah yang biasa tenang berubah gaduh bahkan, Helen seperti mendengar benda-benda yang terjatuh, ia menangkup wajah membiarkan air mata luruh membasahi pipi. Helen tak tahan lagi memutuskan untuk turun ke lantai bawah takut Bakta berbuat kekerasan, bagaimana pun ini semua salahnya gak seharusnya Lusi ikut terkena dampaknya. Biar dia sendiri saja yang menanggung resikonya. "Stop! Yah. Maafin aku, ini semua salah aku. Tolong jangan sakit mama." Helen memeluk Lusi saat Bakta akan memukulnya, bahkan ia melihat ada tanda merah di pipi Lusi seperti bekas tamparan, emosinya sungguh tak terkendali seperti orang kerasukan setan. "Gugurkan kandungan kamu Helen! Kamu benar-benar sudah mencoreng muka Ayah. Bisa-bisanya kamu melakukan hal serendah ini. Ayah kecewa sama kamu!" geram Bakta dengan sorot mata tajam dan rahang yang mengetat. "Apapun akan Helen lakukan Ayah, asal jangan gugurkan kandungan ini. Anak ini gak bersalah, yah?" ucap Helen sambil terisak. "Gak ada jalan lain Helen! Mau ditaruh di mana muka Ayah saat orang-orang tau kamu berbadan dua. Kamu tau kan Ayah sedang mencalonkan diri menjadi anggota dewan, ini semua bisa dijadikan lawan buat menjatuhkan Ayah. Paham Helen!" geram Bakta seraya menekan rahang Helen. "Kamu benar-benar sudah mencoreng nama baik keluarga, memalukan. Siapa orang yang sudah menghamili kamu, Helen?" Helen menggeleng, tak ingin memberitahu. Bibirnya bergetar tak mampu mengeluarkan sepatah katapun ia takut hubungan keluarganya semakin runyam dengan keluarga Samudra mereka semua orang-orang baik gak sepantasnya ikut terseret masalahnya. "Cepat beri tahu Helen? Sebelum kesabaran Ayah habis!" Helen bungkam membuat Bakta semakin geram. "Sakit, yah." "Hentikan Mas, Helen kesakitan." Lusi berusaha menjauhkan tangan Bakta dari rahang Helen. "Dasar kalian semua wanita sialan!Bisanya cuma merepotkan!" Bakta menghempas kasar tangannya dari wajah Helen pergi begitu saja sambil melempar vas ke lantai membuat Lusi terlonjak kaget dan langsung memeluk Helen yang gemetar ketakutan. Bi Siti yang melihat hal itu sampai bergidik ngeri melihat Bakta yang sedang tersulut emosi, ia mengintip dari arah dapur apa yang terjadi di ruang tamu sampai-sampai bibirnya terbuka saat ruang tamu nampak berantakan vas bunga, guci pecah, sampai-sampai pak security ikut mengintip juga saat mendengar kegaduhan itu terjadi tetapi mereka hanya diam tak berani melakukan apapun. "Kamu gak pa-pa, Len?" Helen hanya menggeleng dengan air mata yang terus membanjiri. "Cerita sama mama siapa, orang yang menghamili kamu? Apa dia tau?" Lagi-lagi Helen hanya menggeleng dan semakin terisak, ia tak menyangka keadaannya akan serumit ini. Kenapa semua jadi berantakan. "Ayo, duduk kita tenangkan diri kamu dulu. Habis itu cerita sama, mama jangan dipendam sendiri." "Aku gak pa-pa, ma. Mama sendiri gimana? Maafin Helen, ma sudah membuat keluarga kita berantakan," ucap Helen seraya menghapus air matanya. "Tolong kasih tau mama, siapa pria yang sudah menghamili kamu?" tanya Lusi hati-hati. Helen menatap Lusi dengan mata berkaca-kaca ia memejamkan mata sebelum menjawab pertanyaan Lusi. "Kaisar, ma." "Hah?" Syok tentu saja saat mendengar nama itu, karena ia tak pernah berpikir Kaisar pelakunya. "Bukan salah Kaisar, ma. Aku yang salah, aku yang sudah menggoda dia." "Astaga! Apa yang kamu lakukan Helen bisa-bisanya kamu nekat berbuat seperti ini. Apa yang kamu pikirkan sebenarnya. "Lusi memijit pelipisnya yang terasa pening. Pengakuan Helen membuat Lusi semakin sedih dan nelangsa ia merasa bukan ibu yang baik, karena tidak bisa menjaga anaknya dengan baik. Wajar saja Bakta marah ia memang pantas menerima perlakuan itu. Menjaga satu anak saja tidak becus. "Kasih aku waktu, ma. Aku belum bisa cerita sekarang." Lusi hanya bisa menghela napas berat dan memberikan waktu sampai Helen mau bercerita dan mengatakan yang sebenarnya. "Aku ke kamar dulu, ma." "Helen... tunggu, mama belum selesai bicara." Namun Helen terus melangkahkan tungkainya menaiki anak tangga menuju kamar, menyendiri menenangkan diri. Ia menghempaskan diri ke ranjang membenamkan wajah ke dalam bantal. . Sejak semalam Kaisar menghubungi Helen, tetapi nomornya gak aktif gak biasanya seperti ini rumahnya nampak sepi chatnya pun masih centang satu. Hanya suara operator telepon yang terdengar. Ia memutuskan untuk ke rumah Helen untuk mencarinya sejak kemarin perasaannya tidak enak takut sesuatu yang buruk terjadi. "Mau kemana, Kai?" tanya Samudra saat melihat Kaisar membuka pintu ia sedang duduk membaca koran sambil meminum kopi. "Olahraga pa." "Olahraga pakai piyama?" Kaisar menatap penampilannya sendiri dari atas hingga bawah. "Ahgt iya." Kaisar menepuk keningnya sendiri berbalik ke kamar berganti baju. Samudra hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anak pertamanya lalu melanjutkan membaca koran mengamati harga saham yang akhir-akhir ini sedang naik. Membuat keuntungan perusahaan semakin meningkat. Kaisar menyempatkan diri membuka ponselnya sebelum kembali turun, seketika ia merasa lega saat membaca chat dari Helen yang mengatakan batrenya lowbet dari semalam, belum sempat mengisi daya. Mendapat balasan chat seperti itu saja sudah cukup untuk Kaisar setidaknya diberi kabar, karena hubungan yang dewasa itu bukan dari seberapa sering membalas chat atau seberapa sering melakukan telepon, bukan. Tapi cukup memberi kabar saat dan dimana kamu berada. Ting. Satu pesan masuk ke dalam ponsel Kaisar, ia tersenyum simpul mendapat pesan dari Helen. "Abang, bisa kita ketemu?" "Bisa. Kapan." Balasnya. "Nanti malam gimana? Ketemu di taman." "Oke. Nanti aku jemput." "Gak usah abang, kita langsung ketemu di sana, aja. Aku lagi gak di rumah." "Oh... pantes rumah sepi. Kamu dimana?" Bukannya membalas chat justru kata online di layar mendadak hilang dan saat Kaisar mengirimkan pesan kembali chatnya berubah menjadi centang satu. Berbagai pertanyaan hingga di kepala Kaisar perasaannya mulai gak enak Tapi ia berusaha menepis pikiran buruk itu toh nanti malam akan bertemu taman. Malam merangkak naik Kaisar mematut penampilan di depan cermin ia memakai kemeja hitam dipadu celana jins belel berwarna biru tak lupa memakai gel pada rambutnya agar tertata rapih. Baru akan membuka pintu, pintunya lebih dulu terbuka dari luar. "Wangi banget. Abang mau kemana?" tanya Jeslyn penasaran jiwa kepo meronta-ronta. "Bocil dilarang kepo." "Dih, pelit. Abang mau kencan ya? Sama siapa? Emang punya pacar? Emang ada yang mau sama Abang," cerca Jeslyn dengan berbagai pertanyaan. "Ohw mau ketemu kak Helen, lupa aku." "Itu tau." "Kok mau sih kak Helen sama, abang. Padahal abang kan nyebelin." "Power off love." "Dih gaya," cibir Jeslyn. "Awas jangan cium-cium lagi tar ke gep orang. Hadeh gara-gara abang mata polosku tercemar, emang gimana, sih rasanya." "Jangan kenceng-kenceng ngomongnya. Ember banget, sih." Kaisar membungkam mulut Jeslyn dengan tangan bisa malu nanti kalau ketahuan orang lain. "Anak kecil dilarang kepo tidur sana udah malam juga. Heh sakit." Jeslyn mengigit tangan Kaisar mau tidak mau Kaisar melepas dan menurunkan tangannya. "Lagian aku dibungkam gini, aku kan masih mau ngomong. Udah kaya penculik," sungut Jeslyn kesal. "Masih jam delapan ya kali tidur, abang aja malah mau keluyuran. Gak adil namanya." "Kamu masih bocil jadi cukup anteng di rumah nonton film kartun aja. Udah, ahgt abang mau jalan bye." Kaisar datang lebih dulu duduk di taman sesuai yang direncanakan, hampir lima belas menit ia menunggu tetapi Helen belum datang juga. Sudah berusaha menghubungi tetapi nomornya malah gak aktif. Ia menatap langit malam yang terlihat mendung tak ada satu bintang pun yang muncul. Kaisar mengedarkan pandang menatap beberapa pasangan yang terlihat sedang berkencan lalu beralih ke arah jalan raya, seketika ia beranjak dari duduknya saat melihat orang yang ia tunggu akhirnya datang mengenakan dress di atas lutut bermotif bunga. Semakin lama semakin mendekat berdiri berhadapan sudut bibir Kaisar berkedut tersenyum simpul saat menatapnya. "Ayo, kita putus!" Ucapan Helen membuat Kaisar menganga bertepatan dengan suara petir yang menggelegar senyum di wajahnya mendadak hilang seketika menatap perempuan di depannya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN