Episode 17

1300 Kata
Helen dan Kaisar duduk lesehan makan pecel ayam di warung tenda biru pinggir jalan. Aneh banget emang permintaan Helen gak kaya biasanya tumben sekali ingin makan di tempat terbuka, makan makanan berat pula. Suasana cukup ramai banyak pengunjung yang datang bahkan sampai mengantri. Helen terlihat sangat lahap memakan makanan itu membuat Kaisar heran tak biasanya seperti ini. Bahkan sampai nambah dua porsi. "Laper banget?" "Engga, sih, cuma enak aja ayam sama sambelnya beda dari yang lain. Bikin pengen nambah terus." "Lagian pakai diet-diet segala. Jadi, jarang makan-makanan yang begini." "Gimana lagi, aku kan harus jaga berat badan, bang, " sahut Helen seraya menyuapkan makanan ke dalam mulut. "Habisin makannya jangan sampai sisa." "Siap." Helen mengacungkan ibu jarinya. "Ya udah nambah lagi kalau gitu." "Gak deh, ini aja udah cukup. Aku harus diet lagi besok. Abang kenapa, sih, kok liatin terus senyum-senyum pula, aneh." "Seneng aja liat kamu makan banyak." Helen tersipu mendengar ucapan rona merah terasa merambat membuat pipinya bersemu merah. "Kamu tau gak apa bedanya cincin sama kamu?" Helen meraih gelas berisi air jeruk hangat sebelum menjawab lalu mengelap bibirnya dengan tisue. "Jelas beda dong, abang. Aku manusia kalau cincin benda mati." "Salah, bukan itu jawabannya." "Terus apa yang bener?" "Mau tau, aja apa mau tau banget?" "Mau tau aja." "ishn. Dasar." Kaisar menarik hidung Helen, gemas. "Bedanya itu kalau cincin melekat di jari, kalau kamu melekat di hati aku." "Astaga gombal banget. Belajar di mana, sih. Siapa yang ngajarin? Andi ya pasti." "Gak dong bikin sendiri itu dari hati." "Awas ya kalau berani gombalin cewek lain, aku marah sama abang." "Kapan sih, aku deket sama cewek lain? Gak ada, baby cuma kamu satu-satunya yang ada di hati aku." "Iya itu menurut abang, tapi faktanya banyak yang suka sampai ngejar-ngejar." Mengingat itu Helen mendadak cemberut ia menggembungkan pipinya. "Udah jangan cemberut cepat tua nanti. Anggap mereka butiran debu." "Iya, tapi mereka suka kecentilian godain abang." "Ya udah besok aku kasih stempel dikening pakai tulisan hak paten milik Helen Kalingga seorang jangan berani mendekat pawangnya galak." Helen terbahak mendengar candaan Kaisar rasa capek dan risaunya terasa menguap seketika. Ia selalu merasa nyaman dan tenang saat berada di dekat Kaisar. "Ayo, bang pulang aku dah selesai, nih makannya." "Oke." Helen dan Kaisar beranjak dari duduknya membayar pesanan mereka, sebelum pulang lalu menuju mobil dan pulang ke rumah dengan kecepatan sedang. . Semalaman Helen susah tidur menunggu pagi jantungnya berdetak cepat tak beraturan, ia menyingkap selimut beringsut turun dari ranjang sesekali menguap dan meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku ia meraih tas chanel miliknya di lemari mengambil benda pipih itu menuju ke kamar mandi. Menyiapkan wadah kecil untuk menampung air seninya barulah Helen membuka plastik berwarna putih berlogo sensitif lalu memasukan ke dalam urine yang telah ia tampung. Berkali-kali ia menghembuskan napas untuk mengurai ketegangan, tapi nyatanya tidak bisa Helen semakin resah bahkan keringat dingin mulai bercucuran membasahi kening dan telapak tangannya yang gemetar. Helen baru sadar kalau sudah telat dua minggu sejak kejadian dimalam itu, ia memijit kepalanya yang mendadak pening dan perutnya bergolak saat banyak pikiran. Setelah menunggu beberapa menit Helen memberanikan diri untuk melihat hasil test itu, bibirnya menganga saat garis satu lurus merambat berubah menjadi dua warna merah terang. Kakinya terasa tak bertulang rasanya lemas seketika hingga tubuhnya luruh ke lantai, sepertinya jely. Matanya terasa memanas dan berkabut tanpa diminta air matanya jatuh seketika membasahi pipi ia menangis dalam diam. Helen pandangi benda pipih itu bagaimana caranya menyampaikan kabar kehamilannya pada Bakta dan Lusi? Ia mengusap perutnya yang masih rata mengusap penuh cinta. Tersenyum getir. Terdengar beberapa kali suara ketukan pintu di depan kamar Helen, ia yang sedang berada di dalam kamar mandi segera bangkit membukakan pintu dan buru-buru meletakkan test pack itu di meja rias. "Iya, bi ada apa?" tanya Helen pada Bibi siti asisten rumah tangganya seraya mengusap sisa air mata. "Mbak Helen kenapa, kok hidungnya merah? Kaya orang habis nangis." "Gak pa-pa, bi kelilipan aja tadi." Bi Siti hanya beroh ria. "Dicariin ibu Lusi mbak mau diajak jalan-jalan sekitar taman." "Tumben banget, bi. Biasanya sama Ayah olahraganya." "Pak Bakta lagi sibuk ngurus parpol kata Bu Lusi jadi gak bisa nemenin olahraga, udah semakin dekat sama hari pencoblosan soalnya," terang Bi Siti. "Ya udah kalau gitu, aku ganti baju dulu." "Baik mbak." Segera Helen berganti baju dengan baju khusus olahraga lalu turun menuruni anak tangga menemui Lusi, meski nyaris berkepala empat ia selalu rajin olahraga demi Kesehatan dan menjaga bentuk tubuhnya agar tetap langsing. Kadang aja kalau lagi jalan berdua Helen sama Lusi dikira adek kakak. Mereka hanya tersenyum saja saat ada yang menganggap seperti itu. "Kenapa muka kamu, kok kaya loyo gitu?" tanya Lusi pada Helen yang terlihat lemas. "Gak pa-pa, ma. Efek belum sarapan mungkin." "Kalau gitu kebetulan kita cari makanan disekitar taman aja. Gimana?" "Iya, ma boleh." "Gitu dong semangat mama jadi senang liatnya. Ayo, jalan." Helen hanya tersenyum tipis lalu berlari kecil menuju taman dekat rumah. Suasana nampak ramai banyak pengunjung yang berolahraga, bersepeda dan berselfie ria atau hanya sekedar duduk di sekitar taman sambil menikmati kuliner pagi yang tersedia. "Ma.... " "Ya, Len kenapa ngomong aja?" sahut Lusi sambil stretching dengan pandangan fokus ke depan. "Kalau aku nikah muda gimana, ma?" Mau tidak mau Lusi menghentikan gerakannya menatap Helen. "Hah? Nikah muda? Yakin kamu mau nikah muda. Nikah itu gak mudah Helen perlu banyak hal yang harus dipikirkan. Apalagi usia beliau kaya kamu masih labil banget. Kalau tiap hari berantem tiba-tiba cerai gimana? Jangan aneh-aneh ahgt. Lagian kamu mau nikah sama siapa? Setau mama kamu gak ada pacar? Sama Kaisar," tebak Lusi. Helen mengigit bawah bibir mendengar ucapan Lusi. "Helen cuma nanya aja, ma. Gak ada maksud pa-pa, kok." "Lagian pertanyaan kamu aneh, ada-ada aja deh. Fokus kuliah aja yang bener biar cepat lulus dan kejar impian kamu yang ingin jadi model internasional. Udah, ayo lari lagi nanti keburu panas gak enak udaranya." Setelah merasa cukup berolahraga Helen dan Lusi pulang ke rumahnya. Alangkah terkejutnya Helen melihat Bakta di kamarnya dengan sorot mata tajam dan memerah. Perasaanya menjadi tidak enak. "Ayah," lirihnya. "Ngapain ke kamar Helen, Yah? Ada yang bisa diban-tu?" ucap Helen terbata ia mulai merasa suhu ruangan terasa memanas saat melihat rahangnya yang terkatup rapat "Apa-apaan ini Helen?" Bakta menunjukkan test pack yang berada di tangannya dan membanting ke lantai. Niat Bakta sebenarnya tadi ingin mencari Helen untuk meminta tolong membantu berkampanye lagi. Berkat dia elektabilitas meningkat dikalangan anak muda. Kepopulerannya disosial media berdampak positif untuk bakta banyak followersnya yang ikut memilihnya sebagai kandidat calon anggota legislatif untuk pemilihan mendatang. "Test pack siapa ini?" Helen bergeming diam saja, suaranya seperti tercekat ditenggorokan. "Jawab Helen? Kamu punya mulutkan?" Geram Bakta, Helen semakin ketakutan melihat ekspresi wajah Bakta ia tak pernah melihat ayah tirinya semarah itu. Wajar memang marah jika tau anaknya hamil diluar nikah. "Kamu hamil?" Bakta semakin mendekat mencengkram lengan Helen hingga kencang. "Kalau kamu gak mau buka mulut, akan ayah cari sendiri orang itu dan menguburnya hidup!" ancam Bakta dengan sorot mata tajam. "Iy-a Ayah itu punya aku." "Kamu hamil?" Helen mengangguk lemah. "Astaga, kamu tau kan Ayah sedang mencalonkan diri menjadi anggota legislatif bisa-bisanya kamu membuat malu seperti ini. Dimana otak kamu Helen?" "Maaf, yah. Aku gak sengaja." "Gak sengaja kamu bilang? Mana ada kejadian seperti ini tak sengaja. Berapa usia kandungan kamu?" sarkas Bakta dengan urat-urat menonjol di sekitar leher dan tangan terkepal kuat. "Be-lum tau, yah." "Gugurkan kandang kamu!" "Tapi, yah. Dia janji mau nikahan aku yah dia pria yang bertanggung jawab," ucap Helen dengan bibir bergetar dan air mata yang menetes begitu saja membasahi pipi. "Kamu pikir dengan menikah semua masalah selesai, enggak Helen. Orang-orang pasti akan berpikir macam-macam karena kamu menikah mendadak dan terlalu dini. Jadi, Ayah minta gugurkan kandungan kamu secepatnya atau Ayah akan menceraikan mama kamu!" ancam Bakta sebelum keluar dari kamar Helen dan membanting pintu dengan kencang membuatnya terlonjak kaget.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN