"Baru sekali, ma makan begini. Mama ada-ada aja deh," sangkal Helen seraya meraih gelas di depannya lalu meletakkan gelas itu di meja menepuk-nepuk dadanya yang perih.
"Ya udah jangan kebanyakan makan mangganya nanti asam lambung naik lho. Coba mama cobain." Lusi mengambil satu potong kecil mangga itu lalu menyuapkan ke dalam mulu. "Astaga ini asem dan pedes banget, Helen. Udah buang aja gak bagus buat kesehatan."
"Enak gini, kok. Aku suka ma susah lho ini dapatnya."
"Ya udah terserah mama mau kasih kopi ini ke ayah."
Helen hanya mengangguk, melanjutkan makan mangga itu. Sesaat termenung saat mengingat ucapan Lusi, ia menunduk menatap perutnya yang rata.
"Apa mungkin aku hamil? Gak, gak mungkin aku cuma sekali kok. Cuma ingin makan mangga apa salahnya, sih. Apa yang perlu ditakutkan." Helen menampik pikiran itu menggelengkan kepalanya memakan kembali mangga itu hingga tandas.
Sesampainya di kampus Helen memasuki kelasnya menarik satu kursi menghempaskan pinggulnya menunggu dosen datang, tak lama anak-anak mulai memenuhi ruangan suasana yang tenang mendadak riuh. Saling bercengkrama, ngobrol, main HP bahkan ada beberapa mahasiswa bernyanyi di depan kelas seolah sedang melakukan konser tunggal. Sementara Helen kini tengah berbalas pesan dengan Kaisar. Kebetulan hari ini dia libur gak ada jadwal kuliah.
"Nanti pulangnya aku jemput."
"Oke." Balas Helen. "Eh, tapi aku ada pemotretan bang, pulang dari pemotretan aja gimana? Biar abang gak bolak-balik."
"Gitu, ya. Ya udah gak pa-pa, nanti ke tempat pemotretan sama siapa?"
"Sama supir. Abang lagi ngapain?"
"Mikirin kamu."
"Gombal." balas Helen dengan membubuhkan tiga emotikon menjulurkan lidah ada debar halus yang merasuk dalam d**a rasanya bahagia sekali, punya kekasih seperti Kaisar. Tak sadar ia mendekap ponselnya ke dalam d**a.
"Woi, gila ya? Senyum-senyum sendiri?" tegur Melda yang baru aja memasuki kelas dan duduk tepat di samping Helen.
"Apa sih, sirik aja. Kamu pakai parfum apa, sih, kok gak enak gini. Bikin mual aja." Helene menutup hidung ingin muntah.
"Ini parfum yang biasa aku pakai, kok. Enak wanginya, lagian tumben amat kamu protes." Melda menghidu tubuhnya sendiri. "Kaya orang hamil aja."
"Jauh-jauh sana, asli pusing banget kepala aku."Helen beranjak dari duduknya ingin toilet, perutnya terasa bergolak dan mual ingin rasanya mengeluarkan isi perutnya.
"Ish nyebelin. ya udah deh, aku pindah. Untung temen huh ... dasar." Melda masih menatap Helen dengan menggelengkan kepala hingga tubuhnya menghilang di balik tembok. "kenapa sih tuh anak gak biasanya mual-mual begitu. Biasanya aku parfum ini juga dia biasa aja, aneh."
"Aku kenapa, sih, kok jadi pusing gini? Ini gara-gara makan mangga tadi pagi kali, ya jadi bikin perut gak karuan," ucap Helen bermonolog setelah membersihkan mulutnya dengan tisue lalu membuang ke tong sampah dan merapihkan penampilannya. Ia merasa sedikit lemas perutnya terasa lapar lagi.
"Udah ke toiletnya?" tanya Melda saat melihat Helen kembali ke kelas.
"Udah. Eh, kok tumben dosen belum datang?"
"Tau nih."
"Ada cemilan, gak? Lapar aku tuh, mau ke kantin takut dosen datang. Tau sendiri Pak Aji kiler gitu."
"Ada gak, ya? Coba bentar aku lihat."
Melda mengambil tasnya yang berada di belakangnya membuka risliting itu merogoh isi di dalamnya.
"Ada nih, fit bar sama coklat mau."
"Gak pa-pa deh, buat ganjel perut. Makasih, Mel kamu emang terbaik."
"Ck! Lebay. Belum makan emang?"
"Udah, ini gara-gara mangga deh kayanya."
"Apa hubungannya sama mangga?" Kening Melda berkerut mendengar penjelasan Helen.
"Ya gitulah pagi tadi, aku makan mangga sama sambel."
"Ish, lagian aneh-aneh aja makan mangga pagi-pagi ya pantes sakit perut."
"Lagi pengen gimana dong."
"Bisa kali ntar siang makannya, gak harus pagi juga. Gak sabaran banget kaya orang nyidam aja." Helen tertegun mendengar ucapan Melda udah dua kali dua orang nyinggung masalah kehamilan gitu, ia jadi kepikiran. Diam-diam Helen mengigit bawah bibir. "Heh, bengong malah udah kaya patung pancoran."
"Eh, iya," ringisnya Helen kembali duduk mengingat kapan terakhir ia haid.
Semua mahasiswa kembali duduk ke tempatnya masing-masing saat melihat kedatangan Pak Aji suasana yang riuh mendadak hening fokus pada materi yang diberikan, tetapi tidak dengan Helen pikirannya mulai bercabang dan ingin segera memastikan kondisi dirinya.
.
Helen sudah mengganti baju bersiap untuk pemotretan tema kali ini adalah baju musim panas yang akan segera dirilis bulan depan ia menggunakan baju khas anak muda cropped top di padu rok pensil, bisa juga di padu dengan celana hot pants. Arya terlihat menggelengkan kepala saat melihat hasilnya lalu menatap Helen, melambaikan tangan ke arahnya untuk mendekat.
"Kenapa, Ar? Hasilnya jelek ya?"
"Gak juga, sih, tapi kayanya kamu harus diet deh. Lengan sama pipi kamu keliatan lebih gemukan sekarang soalnya, kurang bagus hasilnya, kurang proporsional gitu."
"Oh, oke. Besok aku diet deh. Emang, sih, akhir-akhir ini makannya gak dikontrol. Udah kelar kan photo shootsnya?"
"Udah kok."
"Kalau gitu, balik duluan ya."
"Sip," sahut Arya sambil mengacungkan ibu jarinya dan beralih membereskan kameranya memasukan ke dalam tas khusus.
"Abang," sapa Helen melambaikan tangan saat melihat Kaisar berdiri di samping pintu mobil, ia tersenyum kecil saat melihat Helen berlari kecil ke arahnya. "Kok tumben bawa mobil? Motornya kenapa?"
"Lagi dihukum gak boleh bawa motor." Helen terkekeh mendengar jawaban Kaisar. "Kok ketawa apanya yang lucu?"
"Dihukum kenapa?"
"Gara-gara jatuh kemarin." Helen menanggapi dengan beroh ria. "Ketawain apa barusan?
"Lucu aja dihukum bukannya bikin susah ini malah dikasih enak. Om Sam ada-ada, aja."
"Iya tetap, aja, lebih suka bawa motor bisa lebih cepat dan nyelip-nyelip gitu. Ya udah ayo pulang?" Kaisar membukakan pintu untuk Helen, setelah itu ia memutari depan mobil membuka pintu untuk dirinya sendiri.
"Abang boleh gak mampir dulu?"
"Kemana?"
"Aku pengen pecel ayam di tenda biru deket taman."
"Hah? Gak salah?" Kaisar menoleh ke arah Helen memastikan pendengarannya. "Beneran mau makan disitu?"
"Heumm." Helen mengangguk penuh dengan keyakinan.
"Kok tumben biasanya makan vegetarian. Apalagi udah malam begini biasanya paling anti makan berat di pinggir jalan pula, bukan kamu banget."
"Sekali-kali, bang. Besok mau diet soalnya sekarang puas-puasin makan berat dulu. Abang emang aku gendutan, ya?"
"Siapa yang bilang?"
"Arya tadi yang bilang katanya pipi aku mulai chubby gak bagus di kamera."
"Biar kamu gendut tetap muat kok di hati aku," ujar Kaisar menangkup wajah Helen yang memang terlihat lebih berisi
"Ish, abang gak mau. Pokoknya aku harus diet besok."
"Bagus kok begini juga, lebih imut dan gemesin." Melihat wajah Helen yang cemberut dan bibirnya yang manyun membuat Kaisar ingin menciumnya. Helen terperangah mendapat serangan mendadak itu, hingga kelopak matanya mengerjap beberapa kali setelah Kaisar melepas tautan di bibirnya.
"Abang ihgt cium-cium. Aku lagi bete tau."
"Emang kalau lagi bete gak boleh cium."
"Enggak. Mood aku jelek."
"Mau dapat, ya sensi banget dari tadi?"
"Mungkin," jawab Helen asal.
Jantungnya mendadak jadi berdebar tak karuan ia sudah membeli test pack dan akan memastikan besok pagi, katanya akan lebih akurat jika dilakukan pagi hari. Ia akan memberi tahu Kaisar hasilnya jika apa yang ditakutkan terjadi.
"Kok diam kenapa?" Helen hanya menggelang menatap lekat Kaisar sebelum menyuarakan isi hatinya.
"Abang."
"Heumm."
"Gak jadi deh."
"Kenapa? Mau ngomong apa? Bilang aja, aku pasti dengerin." Helen mengigit bawah bibir meremas ujung kemeja yang ia kenakan.
"Abang."
"Iya baby."
"Kalau terjadi sesuatu sama aku, abang gak akan pernah ninggalin aku kan? Abang mau tanggung jawab kan?"
Kaisar meraih jemari Helen menggenggamnya erat.
"Denger baik-baik, Helen. Mau kamu hamil atau enggak? Aku akan nikahan kamu sekarang juga kalau kamu minta. Dari awal aku udah bilang kan akan bertanggungjawab kita hadapi semua sama-sama." Helen mengangkat wajah melihat kesungguhan dari sorot mata pria di depannya. "Kamu hamil?"
"Enggak, aku cuma ingin memastikan kata-kata abang aja. Aku takut abang ninggalin aku, makasih abang." Helen langsung berhambur memeluk Kaisar.
"Oh kirain." Kaisar menghembuskan napas lega setelah mendengar jawaban Helen ia mengusap punggung belakangnya, nyaman.