Setelah pulang kuliah Kaisar diminta Cristal untuk segera menemuinya di ruang keluarga ada banyak hal yang ingin Cristal tanyakan pada anak pertamanya terutama soal tas itu. Sengaja Cristal mengakui kalau tas itu adalah miliknya takut Samudra tidak bisa mengontrol emosi, kalau sampai tau Kaisar membawa perempuan ke kamarnya dan Kaisar sendiri juga cenderung anak yang tidak mudah mengungkapkan isi hatinya, tau sendiri semakin Kaisar ditekan ia akan semakin menutup diri dan menyimpan semua sendiri rapat-rapat dan cara menegur seseorang yang paling baik adalah dengan bicara empat mata, bukan memarahinya di depan banyak orang karena hal itu justru akan mempermalukan dan menurunkan harga diri seseorang.
"Eh, mama mukanya kok kayanya serius banget, sih? Serem liatnya," seloroh Kaisar berdiri menjulang di depan Cristal mencium punggung tangannya.
"Duduk Kai ada yang mau mama tanyakan, tapi sebelum itu sudah makan belum?"
"Udah ma tadi makan di kantin kampus." Kaisar pun duduk di samping Cristal seraya memangku tasnya di pangkuan.
Tanpa banyak basa-basi Cristal menayangkan soal tas yang berada di kamar Kaisar.
"Mama mau tanya, tolong jawab dengan jujur ya. Kamu tau kan mama gak suka dibohongin dan gak pernah ngajarin anak-anak jadi pembohong."
Jantung Kaisar mulai mengencang berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia sudah bisa menebak arah pembicaraannya pasti gak jauh-jauh dari kejadian semalam. Kaisar menautkan tangannya di atas lutut sebagai tumpuan untuk mengurai ketegangan.
"Ini tas siapa, Kai yang ada di kamar kamu?" ucap Cristal menatap Kaisar menunjukkan tas itu tepat di depannya membuat Kaisar menjadi gugup bimbang antara bohong dan jujur."
"I-tu, it-u," jawab Kaisar terbata. "It-u tas Helen ma."
"Kok bisa ada di kamar kamu? Kalian ngapin di kamar, kalian gak berbuat aneh-aneh kan?" cerca Cristal tak sabar.
Ia takut melihat pergaulan anak jaman sekarang yang suka kelewat batas, gak cuma perempuan menjaga anak laki-laki juga sama beratnya takutnya sampai menghamili anak orang begitu juga sebaliknya.
"En-ggak, ma. Cuma ngobrol aja kok sama dikasih oleh-oleh dari Medan. Tadi tas Helen ketinggalan di kamar pas mau pulang. Sempat ke kamar sih tapi cuma bentar terus pulang, kok.
" Bener begitu?" tanya Cristal dengan menyipitkan mata belum sepenuhnya percaya.
"Beneran, ma cuma ngobrol?'' cium dikit, sama pelukan sih, tentu saja kata-kata itu hanya Kaisar ucapkan dalam hati. Mana mungkin cerita begitu bisa malu nanti.
"Ada hubungan apa, kamu sama Helen? Kayanya mama liat kalian makin deket."
"Hu-bungan? Gak ada, ma cuma temen. Cuma anggap Helen kaya adek, aja, kok." Cristal hanya beroh ria sambil manggut-manggut.
"mama gak larang kalian pacaran, kok, tapi ingat satu hal gak boleh kelewat batas. Mama percaya sama Kaisar pasti bisa jaga kepercayaan mama dan papa."
Mendengar ucapan Cristal membuat Kaisar menoleh ke arah mamanya yang kini tengah menatap dengan tatapan hangat dan teduh tak ada penghakiman untuknya, membuatnya merasa semakin bersalah, karena telah berani melewati batas. Ingin sekali Kaisar mengakui kesalahannya dan bersimpuh di depan Cristal untuk meminta maaf dan memohon pengampunan. Namun kata-kata itu seperti tercekat ditenggorokan lidahnya terasa kelu, ia hanya bisa menelan ludah bulat-bulat dan menyimpannya sendiri entah sampai kapan ia sendiri tak tau. Berharap semoga apa yang terjadi di malam itu tidak akan menimbulkan masalah dikemudian hari.
''Kamu punya adek perempuan, kamu gak mau kan terjadi sesuatu sama Jeje? Jadi, selalu jaga sikap dan berusahalah sebaik mungkin mengendalikan diri. Apalagi seusia kamu ini, sedang di fase penasaran dan ingin melakukan banyak hal yang belum pernah kamu coba. Karma itu ada dan bisa terjadi pada diri kita sendiri, biasa juga menimpa keluarga anggota yang lain. Akibat perbuatan kita. Tau kan maksud mama?" terang Cristal membuat Kaisar semakin merasa bersalah.
Detik ini juga Kaisar ingin sekali mengakui perbuatannya dan menikahi Helen, tapi ia juga tak bisa memutuskan semua sendiri ada banyak hal yang harus dipikirkan dan tak bisa membuat keputusan secara sepihak karena pernikahan itu menyangkut dua keluarga. Seandainya Helen setuju mungkin Kaisar tak akan mengalami hal serumit ini.
"Kok malah melamun?" tegur Cristal membuyarkan lamunan Kaisar menepuk bahunya pelan. "Mikirin apa?"
"Gak ada, ma lagi banyak tugas aja dari kampus, tapi seandainya Kaisar berbuat kesalahan dimaafin gak?"
"Heumm dimaafin gak, ya? Tergantung kesalahan apa dulu. Dimaafin, Kai semua orang berhak punya kesempatan kedua dan memperbaiki kesalahannya."
Kaisar sedikit lega mendengar jawaban Cristal ia langsung berhambur memeluk mamanya, karena baginya tempat nyaman bersandar dan berbagai cerita adalah orang tua. Yakin dan percaya tidak akan orang tua yang menjerumuskan.
"Cie peluk-peluk mama, biasanya paling gengsi."
"Mama emang terbaik, mama adalah mama terhebat di dunia ini." Cristal mengurai pelukan menatap Kaisar.
"Kalau kamu kaya gini, mama jadi curiga jangan-jangan kamu habis melakukan sesuatu, ya."
"Kok mama ngomongnya gitu," ucap Kaisar sedikit menegang menatap lekat Cristal apa mama sudah mulai curiga, ya?
Biasanya feeling seorang ibu itu kuat, tanpa anak-anaknya bercerita mereka akan tau sesuatu yang terjadi menimpa anaknya tanpa harus bercerita panjang lebar. Seketika wanita yang telah melahirkan Kaisar itu terbahak saat melihat ekspresi wajah Kaisar yang terlihat sendu dan gusar.
"Mama cuma becanda, Kai."
"Mama ihgt nyebelin banget. Kai dah over thinking lho ini, bisa-bisanya dibecandain."
"Ya kalau gak melakukan kesalahan seharusnya, sih, biasa aja."
Jleb!
Ucapan Cristal terasa menembus uluh hati, menohok sekali. Membuat Kaisar salah tingkah ia mulai mengedarkan pandangan tak berani menatap Cristal.
"Ya udah balikin, nih, tasnya sama Helen. Mama mau mandi dulu."
"Siap, ma 86!"
"Cie semangat banget yang mau ke rumah sebelah. Kalau ada rasa itu bilang, Kai jangan pendem sendiri. Tar jadi Cidah lho."
"Cidaha? Apa itu ma, Cidaha."
"Cinta dalam hati."
"Mama bisa, aja. Aku aja anak muda gak tau artinya apa, mama aku gaul sekali."
"Udah, ahgt mama mau mandi. Ingat, ya pesan mama jangan aneh-aneh kalau pacaran. Apalagi sampai hamilin anak orang, malu nanti jadi bahan gosip orang-orang nama baik keluarga jadi taruhannya." Cristal menjadi ucapannya seolah ingatannya terlempar pada kejadian beberapa tahun silam, ia menghela napas lalu meneruskan ucapannya. "Tapi, mama percaya, kok, anak mama gak bakal begitu," ucap Cristal menepuk pundak Kaisar lalu berlalu menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
Cristal tau betul rasanya diposisi itu, hamil diluar nikah, membesarkan anak seorang diri, menjadi bahan omongan tetangga caci maki, olokan dan hinaan kerap ia terima hampir tiap hari bahkan hampir diusir dari kontrakan karena dianggap akan membawa apes nantinya. Bahkan banyak orang yang menuduhnya menjadi sugar baby, simpanan om-om berduit, bersyukur semua itu sudah berlalu dan sekarang bisa menjalani kehidupan normal layaknya keluarga bahagia. Siapa sih yang mau ada diposisi Cristal, gak ada. Tapi semua adalah kecelakaan yang tak disengaja dan kisah kelam mereka cukup Cristal dan Samudra yang tau, eh pembaca juga tau ding. Anak-anak jangan sampai tahu, takut mereka sedih dan terluka.
Wajah Kaisar berubah murung setelah mendengar ucapan Cristal ucapannya terasa terngiang-ngiang di kepala rasanya bagai dihantam godam yang melulu lantahkan benteng pertahanan, ia menyandarkan tubuhnya ke belakang kursi setelah Cristal tak terlihat lagi memejamkan mata dan mengurut kepalanya yang terasa pening.
.
Dua minggu kemudian.
Helen terlihat duduk di meja makan sambil memakan mangga muda dicocol sambel ia terlihat lahap sekali, rasanya enak air liurnya terasa seperti akan menetes saat melihat buah yang masih hijau mengkel itu. Susah payah ia mencarinya buah itu, maklum lagi gak musim untung si bibi dapat di pasar tradisional. Lusi yang kebetulan melintas dari arah dapur dengan membawa kopi untuk Bakta merasa heran dengan sikap Helen gak biasanya dia makan mangga muda dipagi hari.
"Helen makan apa kamu?"
"Eh, mama. Makan mangga ma, mau?"
"Gak salah kamu makan itu? Ini masih pagi, Len. Nanti kamu sakit perut lho."
"Engga kok. Udah biasa, enak lho ma," ucap Helen sambil menyupakan kembali mangga itu ke mulut.
"Sejak kapan kamu suka mangga muda. Biasanya kamu sukanya kan buah yang udah mateng? Kaya orang hamil aja."
Deg!
Seketika jantung Helen berhenti berdetak mendengar ucapan Lusi, ia langsung terbatuk hingga hidungnya memerah rasa panas terasa membakar kerongkongan.
"Hati-hati dong makanya kesedak kan jadinya."