Episode 14

2097 Kata
"Mas, kok lama. Aku udah ngantuk nih. Ayo tidur besok harus pergi pagi-pagi kan?" seru Cristal berdiri diambang pintu dengan kepala menyembul. "Ngobrol apa kalian berdua kayanya seru banget?" imbuh Cristal menghampiri mereka. Samudra yang bersiap membuka pintu lemari akhirnya mengurungkan niat dan menutup pintu itu kembali menatap Cristal yang menggelayut di lengannya. "Kebetulan kamu di sini. Aku mau nanya sesuatu boleh?" tanya Samudra menatap Cristal lalu beralih pada Kaisar yang terlihat semakin risau bahkan sampai menundukkan wajah menekuri lantai rasanya tak sanggup lama-lama menatap Samudra yang terasa mengintimidasi. "Nanya aja, mas. Kok mukanya jadi pada tegang gini?" tanya Cristal penasaran. "Ada apa, sih, sebenarnya?" Cristal menatap Kaisar bergantian menunggu jawaban mereka. "Ini tas kamu bukan?" tanya Samudra pada Cristal. "Tas?" Cristal mengerutkan kening penuh tanya lalu Samudra mengosongkan tas berwarna hitam itu pada Cristal saat melihat ekspresi wajahnya yang terlihat bingung. cristal pun meraihnya lalu memerhatikan detail tas itu kini tatapannya teralih pada Kaisar yang menunduk dan memejamkan mata, seolah siap menerima eksekusi. "Ehmm... iya, benar ini tas aku. Tadi aku mau pakai tapi gak jadi." "Kok bisa ada di kamar Kaisar?" tanya Samudra tak begitu saja percaya ucapan Cristal. "Ketinggalan lupa balikin ketempatnya, ya udah sih cuma tas doang kenapa jadi ribet gini, sih." "Bukan gitu cuma, mas merasa gak pernah beliin tas model begini, ini lebih cocok buat anak muda. Modelnya juga bukan kamu banget." "A-ku beli pakai uang sendiri. Mas bilang apa tadi lebih cocok buat anak muda? Maksud, mas, apa? Aku sudah tua gitu maksudnya," sungut Cristal tak terima sambil berkacak pinggang. "Malam ini, mas tidur di luar." "Kok jadi mas yang kena?" "Iya, itu hukuman buat mas udah body shaming ngatain aku tua. Gak pantes emang pakai tas begini." "Pantes, kok, pantes tambah cantik kaya ibu negara." "Bohong! Aku gak percaya, pokoknya gak mau tau, malam ini mas tidur diluar." "Gak bisa gitu dong sayang masa aku tidur di luar yang bener, aja." "Kalau gitu besok aku mau ke Korea operasi plastik. Biar glowing, shining, semriwing. Gak usah pegang-pegang jauh-jauh sana," ujar Cristal saat Samudra berusaha meraih tangannya. lalu berlalu begitu saja meninggalkan kamar Kaisar dengan membawa tas itu, secepat kilat Samudra mengejarnya. Kaisar hanya mengedikan bahu melihat pertengkaran orang tuanya, sudah biasa melihat mereka begini bentar juga akur lagi, makin mesra yang ada. "Sayang tunggu! Dengerin penjelasan aku dulu. Maksud aku gak gitu. Ini cuma salah paham, gak enak lho tidur sendiri, gak ada yang meluk nanti, dingin," seru Samudra keluar dari kamar Kaisar. "Serah, mas, serah!" "Kenapa, sih, jadi ngomel-ngomel gini kurang jatah, ya atau lagi PMS." Sejujurnya Kaisar ingin tertawa geli melihat pertengkaran mereka, cuma mama emang yang bisa meredakan kemarahan papa, tahta tertinggi di rumah adalah mama membawa ketenangan dan kedamaian. Sebucin itu memang. Pernah suatu Kali Kaisar bertanya pada Samudra. Jika harus memilih antara anak dan Cristal siapa yang akan dipilih? Dengan tegas Samudra menjawab. "Mama kamu yang pasti." "Kok, mama? Emang gak sayang sama aku, sama Jeje." "Sayang dong, kalian kan anak-anak papa." "Terus kenapa pilih mama?" desak Kaisar tak sabar. "Ya, karena kalau gak ada mama, kalian gak bakal lahir ke dunia ini." "Tau deh, aku bingung penjelasan papa bikin pusing." Samudra hanya tersenyum simpul mengusap kepala Kaisar penuh kasih sayang. "Suatu saat juga pasti akan mengerti dengan sendirinya." Kaisar tak menanggapi, hanya menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal. Kali ini Kaisar harus berterimakasih pada mamanya, kalau gak ada mama entah nasib dia seperti apa? Meski lembut dan sabar Cristal juga tegas pada anak-anaknya. Menegur bila salah dan memberi hukuman agar bisa memberikan efek jera. Kaisar yakin besok pasti mama akan gantian yang akan menginterogasi. Sejenak Kaisar menghela napas, setelah papa keluar dari kamarnya. Buru-buru ia menutup pintu dan mengunci rapat-rapat. Ia bersandar di belakang pintu menekan d**a yang bergemuruh hebat, rasanya seperti naik rollercoaster, mendebarkan dan membuat kerja jantungnya berdetak dua kali lipat cepat seperti tengah bermarathon ria. "Helen," gumam Kaisar saat mengingatnya masih berada di dalam lemari. Ia langsung berderap ke arah lemari dan membukanya. "Astaga. Kamu gak pa-pa?" Kaisar terlihat cemas saat melihat Helen yang terlihat lemas dan berkeringat ia membantunya keluar dari lemari. "Maaf ya. Jadi gini kamu gak pa-pa." Kaisar memegang pundak Helen lalu merapikan anak rambut yang menjuntai ke belakang telinga. "Gak pa-pa, abang. Aku cuma haus aja sama susah napas." "Butuh napas buatan?" ujar Kaisar seraya mengedipkan sebelah mata. "Abang ish, sempat-sempatnya becanda." "Aku serius gak becanda katanya susah napas tadi." "Aku mau minum aja." Helen terlihat membungkuk perutnya terasa menegang membuat Kaisar semakin cemas saja. Sigap ia menggendong ala bridal style membawanya ke arah ranjang dan membaringkannya. "Tunggu sini, ya. Aku ambil minum bentar." Sebelum beranjak Helen mencengkram lengan Kaisar menatapnya lekat. "Kalau ada yang masuk lagi gimana, bang." "Bener juga, sih. Kalau gitu kamu sembunyi aja di bawah kolong ranjang, sampai aku kembali." Kali ini Helen mengangguk setuju rasa hausnya sudah tidak bisa tertolong lagi, rasanya seperti di gurun pasir. Bener saja setelah Kaisar pergi pintu kembali terbuka, Jeslyn datang berlari kecil meneriakkan nama Kaisar. Merangkak naik ke atas ranjang sambil melompat-lompat ke sana ke kamari. "Abang, Bang Kai, Abang di mana?" Mendengar suara Jeslyn yang melengking membuat Kaisar buru-buru naik ke atas setelah mengisi gelas sampai penuh. Takut Jeslyn menemukan Helen di kolong ranjang tau sendiri anak itu sukanya pecicilan. "Hadeh, ribet banget sih hari ini. Berasa buronan tadi papa sekarang Jeslyn, nanti siapa lagi coba. Bisa-bisa botak ini kepala," keluh Kaisar seraya menaiki anak tangga dengan langkah lebar. Baru akan masuk ke kamar ia melihat Samudra yang masih sibuk membujuk Cristal agar mau membukakan pintu. Gak nyangka mamanya ngambek beneran. "Serem juga, mama. Sampai gak ngijinin masuk kamar. Udahlah itu urusan mereka gak baik aku ikut campur." Kaisar langsung masuk ke dalam kamar yang kebetulan tidak dikunci. "Astaga, Jeje! Kamu ngapain lompat-lompat gitu. Ayo, turun bisa-bisa patah ranjang, abang." Ia menatap ke arah kolong di mana Helen bersembunyi bikin khawatir aja saat Helen menutup Kepala dan kuping, secepatnya Kaisar harus mencari akal agar Jeslyn keluar dari kamarnya dan mengantarkan Helen pulang. "Biar cepat tinggi abang kaya kak Helen," jawabannya sambil terus melompat-lompat seperti anak kelinci. "Jeje turun denger gak, sih, abang bilang apa?" "Iya, deh, iya dasar pelit." Jeslyn membanting diri ke ranjang sambil menjejakkan kaki, membuat kuping Helen terasa pengang ia menatap gelas berisi air putih yang dibawa Kaisar seketika Jeslyn bangkit dari tidurnya menyambar gelas di tangan Kaisar. "Abang itu minum buat aku? Tau aja kalau aku haus. Makasih abang." "Jangan ... a-ir itu bu-kan buat kamu." Terlambat Jeslyn sudah meminumnya lebih dulu hingga tandas. Kaisar hanya bisa menghela napas kasar ingin sekali ia menjitak kepala Jeslyn, tapi takut nangis nanti ngadu ke papa yang ada. "Ya, lord cobaan apalagi ini. Ngapain, sih, di sini balik ke kamar kamu sana. Udah malam juga jam segini masih berkeliaran besok kesiangan lho bangunnya." "Aku mau bobo di sini?" "Apa? Jangan sembarangan ya. Gak boleh enak aja, punya kamar sendiri juga." "Aku takut bobo sendiri, tadi kak Vincent ngajak nonton film horor soalnya," ucap Jeslyn seraya meremas piyama. Ia paling takut nonton film horor kebayang-bayang gitu mukanya yang penuh lumur darah dan luka-luka mengerikan. "Gak boleh Jeje, tidur sendiri aja. Biasanya juga tidur sendiri." "Aku takut abang, kalau nanti dibawa hantu terus lehernya dicekik mati penasaran gimana?" "Gak bakal! Hantu juga mikir kalau mau bawa kamu, hantunya pusing duluan yang ada liat manusia bawel gini. Udah sana tidur di kamar sendiri." "Aku takut, Abang." Jeslyn merengek menarik-narik baju Kaisar. "Ya udah tidur aja di kamar mama." "Gak mau mama sama papa lagi berantem." "Ya udah tidur di kamar pembantu aja kalau gak di post security yang penting jangan di sini." "Abang jahat! Berasa adek tiri kalau kaya gini ceritanya, Abang aja sering tidur di kamar, aku. Kalau gak Abang temenin aku, bobo di kamar sampai merem. Aku takut abang." "Astaga. Ya udah, iya, ayo buruan ke kamar kamu." "Gendong!" "Manja banget, sih, kaya gak punya kaki aja. Masih bisa jalan sendiri kan?" ketusnya. "Lemes abang, sepertinya aku terkena amnesia kurang darah gitu." "Anemia Jeje bukan amnesia. Amnesia itu lupa ingatan, ketahuan kalau sekolah nongkrongnya di toilet pasti." Jeslyn hanya berdecak mendengarnya. "Ayo, buruan sini abang gendong.'' " Nah gitu dong, dari tadi kek. Biar gak ada dream diantar kita." "Tau ahgt lama-lama abang, jual juga di toko pedia." "Istigi, jahatnya. Gak ada lho adek di dunia ini yang kaya aku . Cuma ada satu di muka bumi." "Gampang, tar mama sama papa suruh bikin lagi." "Bikinnya pakai apa, bang? Aku minta adek kok gak dikasih katanya pabriknya udah tutup. Aku mau punya adek buat temen aku di rumah soalnya Bang Kai nyebelin gak mau main sama, aku." Seketika Kaisar ingin tertawa mendengar jawaban polos dari Jeslyn. Kadang-kadang polosnya gak ketolong emang. "Ya kali abang main sama bocil. Udah buruan sini abang gendong cepat tidur." Jeslyn melompat ke punggung Kaisar. "Pegangan kamu mau jatuh." "Kalau jatuh paling ke bawah," sahut Jeslyn asal seraya menulis sesuatu di punggung Kaisar dengan jari telunjuk. "Kalau ke atas terbang namanya. Tangannya bisa diem, gak? Takut jatuh Jeje." "Iya deh, iya. Gak asyik banget, sih." Sesekali Jeslyn menguap kelopak matanya mulai terasa berat, ia menyandarkan kepalanya di punggung Kaisar sayup-sayup matanya mulai tertutup helaan napas halus terdengar pegangan di bahunya mulai mengendur pertanda Jeslyn sudah tertidur. "Cepat banget ini anak tidurnya, belum juga sampai kamar. Syukurlah setidaknya satu masalah sudah selesai." Kaisar membuka kamar Jeslyn berderap ke arah ranjang membaringkan tubuh mungilnya perlahan. Setelah memastikan Jeslyn tertidur lelap barulah Kaisar pergi tak lupa menarik selimut menutupi hingga d**a. Ia tersenyum kecil melihat adek satu-satunya yang terlelap. "Tidur yang nyenyak ya adek sayang," ucap Kaisar sebelum meninggalkan Jeslyn tak lupa mengacak rambutnya, gemas. Lalu Kaisar berjalan mengendap-ngendap keluar dari kamar Jeslyn. Tepat saat akan menutup pintu tak sengaja Kaisar melihat papa dan mamanya berciuman mesra bahkan langsung buru-buru menutup pintu. "Hadeh cobaan, apa lagi ini Tuhan jadi bikin pengen aja deh. Tuhkan apa aku bilang kalau habis berantem pasti jadi tambah mesra. Astaga ... Helen." "Helen, maaf ya lama." Kaisar melongok pada kolong ranjang setelah sampai di kamarnya tak lupa menutup pintu dan menguncinya. "Len .... " ulang Kaisar. Berkali-kali Kaisar memanggil Helen, tapi tak ada sahutan darinya. Ia berinisiatif masuk ke kolong ranjang. Alangkah terkejutnya Kaisar saat melihat Helen yang terlihat tertidur nyenyak di kolong sampai gak tega untuk membangunkannya. Tapi kasihan juga nanti kalau masuk angin gimana pelan tapi pasti akhirnya Helen terbangun, saking terkejutnya sampai kepalanya membentur ranjang saat berusaha menegakan kepala. "Aduh," ringisnya. "Kamu gak pa-pa? Mana yang sakit?" "Kepala aku, bang." Helen mengusap-usap kepalanya yang terasa berdenyut tiba-tiba rasa pusing menyerang semua terasa seperti berputar-putar. "Iya nanti diobati maaf, ya. Ayo, sini keluar udah aman." Kaisar dan Helen duduk di tepi ranjang setelah keluar dari kolong. "Ahgt kasihan jadi benjol gini kepalanya, tapi kamu gak amnesia kan? Masih ingat aku siapa?" "Aku cuma kejedot abang, bukan nabrak tiang yang terus hilang ingatan." Kaisar terkekeh mendengar ucapan Helen, ia mendekatkan wajahnya lalu meniup kepala Helen yang terbentur. "Abang gimana ini keluarnya?" "Tunggu bentar, ya, sampai semua aman." "Heumm. Gak enak ya kaya burunon gini." Helen menyandarkan bahunya pada Kaisar rasanya ngantuk sekali, sesekali ia menguap." "Ngantuk?" Helen mengangguk. "Tidurin dulu kalau gitu, nanti abang bangunin." "Gak usah, deh takut ketiduran." "Ya udah gimana kamu, aja." Kaisar menggenggam jemari Helen hingga saling bertautan lalu mencium punggung tangannya. "Sayang abang, jangan pernah tinggalin aku, ya?" "Selamanya aku cuma mau kamu," ujar Kaisar seraya menatap Helen lekat membuatnya tersenyum simpul memunculkan rona kemerahan pada wajah wanita di depannya, Kaisar beringsut mencium kening Helen. Suasana mendadak hening, sepertinya orang rumah sudah pada tidur Kaisar menjauhkan wajah menoleh pada jam yang menggantung di dinding menunjukkan pukul 23.25 wib. "Ayo, aku antar pulang sepertinya udan aman. Kamu ada kunci cadangan, kan?" "Ada kok." Kaisar dan Helen berjalan mengendap-ngendap persis seperti maling dengan hati-hati ia melangkah agar tak meninggalkan suara. "Kita lewat jendela, aja, ya takut ketahuan security di depan." "Iya, terserah gimana abang aja. Tapi, tas aku di mana, bang?" tanya Helen mencari-cari tasnya. Kaisar menepuk keningnya sendiri dengan menggunakan tangan saat mengingat tas Helen dibawa Cristal. "Aduh... tas kamu dibawa mama tadi, buat yakinin papa." "Terus gimana, bang?'' "Udah gak pa-pa biar abang yang urus nanti. Jangan khawatir. "Nanti kalau abang dimarahin dan dihukum gimana." "Gak pa-pa semua emang resiko yang harus kita ambil." "Maaf, ya gara-gara aku jadi ribet gini." "Gak ada gunanya saling menyalahkan lebih baik hadapi sama-sama." "Sweetnya." Mereka berdua keluar dari kamar Kaisar melalui jendela lalu menuruni tangga darurat yang terhubung ke rumah Helen. Setelah memastikan Helen masuk ke rumah dengan selamat barulah Kaisar pulang ke rumahnya sekaligus menghela napas lega, rasanya seperti ikut uji nyali menegangkan dan mendebarkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN