Episode 13

1434 Kata
Kaisar menjauhkan wajah saat pasokan udara kian menepis, degup jantungnya mulai menggila aliran darahnya mulai menggelegak hebat buru-buru ia menjauhkan wajah takut tak bisa mengontrol diri dan khilaf untuk ke dua kali. Masalah kemarin aja belum beres jangan sampai menambah masalah baru. Ia menatap bibir kemerahan yang membekak karena ulahnya menyentuh perlahan dengan jari telunjuk lalu memeluk Helen kembali. "Kangen kamu," ucap Kaisar seraya mengusap punggung belakang Helen. "Kangen abang juga." Perlahan Kaisar mengurai pelukan menatap Helen lekat masih gak percaya kalau yang di depannya adalah seseorang yang ia rindukan selama beberapa hari ini. "Kok tau aku di kamar?" "Iya tadi nanya bibi, katanya orang rumah lagi pada pergi cuma ada abang aja. Terus langung di suruh naik ke atas." Kaisar pun mengangguk-anggukan kepala mendengar penjelasan Helen. Udah beberapa kali sih masuk ke kamar Kaisar dan Jeslyn jadi sudah gak canggung lagi, kini tatapan Kaisar beralih pada perut Helen yang masih rata menatapnya tanpa kedip. Mengingat ucapan Andi tempo hari saat di kantin ia harus benar-benar memastikannya. "Abang ... lagi liatin apa, sih. Kok liatnya gitu banget." "Hah? Enggak, kok." Kaisar mengangkat wajah menatap Helen sekilas. "Boleh pegang perut kamu?" "Apa?" Helen terkesiap mendengar ucapan Kaisar air mata terasa mengembun dipelupuk mata ada rasa hangat menyusup dalam d**a. "Buat apa?" "Pengen pegang aja, gak ada maksud apa-apa kok." Cukup lama Helen menimbang sebelum akhirnya mengijinkan. "Iya boleh." Setelah mendapat persetujuan Kaisar langsung menyentuh perut Helen menyentuh dengan penuh kelembutan dan hati-hati, rasanya ada dorongan kuat yang membuatnya untuk melakukan hal itu. "Ayo, kita menikah?" Ucapan Kaisar membuat Helen mengerutkan kening, entah berapa kali Kaisar mengungkapkan hal itu. "Abang," lirihnya. "Apa? Masih gak mau? Coba jelasin kenapa gak mau diajak nikah. Kita udah terlalu jauh Helen, aku gak mau terus merasa bersalah seperti ini. Kamu takut aku gak bisa memberi nafkah atau apa? Coba jelasin biar aku bisa mengerti dan gak maksa terus.'' Helen menggeleng, untuk masalah nafkah jelas bukan. Semua orang juga tau kalau Kaisar salah satu anak pengusaha sukses di Indonesia dan akan menjadi pewarisnya nanti. Ia hanya belum siap menikah karena melihat ke dua orang tuanya yang bercerai dan sering mengalami tindakan kekerasan membuatnya merasa trauma takut gagal seperti mereka. Apalagi saat mengingat usianya yang masih muda dan labil. Takut gak bisa mengontrol emosi apalagi masih pacaran begini belum benar-benar tau sifat masing-masing. Meski ia tau kalau Kaisar tidak akan seperti papanya, tapi menghilangkan trauma tak semudah itu butuh waktu dan proses. "Kita masih terlalu muda, abang." "Ck! Muda apanya umur kita sudah legal untuk melakukan pernikahan. "Aku belum siap, bang." "Gak ada yang perlu kamu siapin. Semua aku yang nanggung dan kamu gak perlu nyiapin apapun," ucapnya lantang. "Abang, please!" Helen menghela napas dalam mengurai kecemasannya. "Lagian aku gak hamil. Gak ada yang perlu ditakutkan, apa sih yang abang takutin?" "Yakin?" ucap Kaisar dengan tatapan tajam seolah mampu melubangi . Ditatap seperti itu membuat nyali Helen menciut dengan susah payah menelan ludah gugup. "Kalau gini terus mending aku pulang aja, deh." Helen beranjak dari duduknya bersiap untuk pulang, sikap Helen sungguh membuat Kaisar frustasi ia menyugar rambut dari depan kebelakang lalu berlari mengejarnya. "Aku cuma mau bertanggung jawab Helen, aku sayang kamu. Aku gak mau sampai terjadi hal yang tak diinginkan dan bikin malu keluarga." "Aku tau abang orang yang bertanggung jawab makanya, aku rela menyerahkan sama abang, tapi bisa gak kita bahasa yang lain aja. Aku capek." Kaisar menghela napas berat lagi-lagi Helen menghindar dari pembahasan itu. Ia hanya bisa mengedikkan bahu lalu membisu dan terjebak dalam suasana yang canggung. "Ayo, aku antar pulang," ucap Kaisar mengurai kecanggungan dan berusaha mengerti keputusan Helen. "Abang marah? Abang ngusir aku?" "Enggak. Udah malam gak baik berduaan di kamar bisa-bisa aku khilaf lagi nanti." Helen tersenyum simpul mendengar candaan Kaisar. "Oke, ayo." Baru saja mereka akan membuka pintu, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki seperti menuju kamarnya dan bener saja tak lama pintunya diketuk dari luar. Suara beratnya terdengar khas tak perlu menebak siapa pemiliknya. "Kai. Kamu sudah tidur?" "Gawat, itu suara papa," bisik Kaisar panik. "Abang aku gimana?" "Sembunyi-sembunyi." "Sembunyi dimana bang?" Kaisar dan Helen terlihat panik ia mengedarkan pandang mencari tempat yang aman. "Kai, boleh papa masuk? Kamu belum tidur kan?" ulang Samudra sekali lagi. Helen dan Kaisar saling tatap apalagi saat melihat handel pintu mulai bergerak memutar. "Bentar, pa. Jangan buka dulu, Kaisar gak pakai baju," kilahnya kini tatapannya tertuju pada Helen menyuruhnya untuk bersembunyi di lemari baju. "Masuk lemari aja." "Tapi, bang." "Ayo Helen buruan, cepat masuk." Kaisar Membuka pintu lemari lalu mendorong bahu Helen pelan. "kamu gak mau ke gep dan langsung dinikahin sekarang kan? Kalau aku sih gak masalah, lebih cepat lebih baik malah." Suara ketokan pintu terdengar lagi membuat mereka semakin panik, tanpa pikir panjang Helen masuk ke dalam lemari setelah merasa aman Kaisar membukakan pintu untuk Samudra. "Lama banget. Ngapain aja sih kamu?" "Lagi gak pakai baju, pa tadi." "Aneh dingin-dingin gini gak pakai baju. Lagian papa juga sudah biasa lihat kamu telanjang. Lagian suhu dingin gini kok bisa keringat." "Gerah pa jadi buka baju. Habis olah raga juga barusan. Kok tumben papa pulangnya cepat kirain nginep di tempat om Leon." "Gak jadi papa harus keluar kota besok pagi." "Oh." Kaisar menatap lemari matanya menyipit saat melihat rok Helen terjepit di pintu. Jantungnya mendadak berdegup kencang keringat dingin terasa membanjiri, ia pun berjalan ke arah lemari untuk menutupi. "Kamu ngapain, Kai berdiri disitu?" tegur Samudra seraya mengedarkan pandangan ia merasa tingkah Kaisar sangat aneh dan mencurigakan. Tiba-tiba Samudra melihat tas wanita tergeletak di atas ranjang berwarna hitam dari brand louis vuitton. "Tas siapa ini?" "Ta-s?" Kaisar mengikuti arah pandang Samudra ia merutuki kecerobohannya cepat-cepat berpikir mencari jawaban logis. "Oh itu tas Jeje, pa." "Seingat papa, Jeje gak punya tas seperti ini. Tas ini terlalu dewasa buat dia." "Tas mama tadi ketinggalan di sini waktu mau pergi." "Jawaban kamu kok berubah-rubah gitu. Mencurigakan. Papa gak pernah beliin mama model begini." "Mungkin mama beli pakai uang mama sendiri tanpa bilang dulu sama papa." Kali ini jawaban Kaisar lebih masuk akal dan Samudra mengangguk tapi bukan berarti percaya begitu saja. "Oke kalau gitu nanti kita tanya ke mama biar jelas siapa pemiliknya." "A-pa? Tanya mama," sahut Kaisar terbata. "Heumm." Mendengar ucapan Kaisar membuat Samudra semakin curiga seperti ada yang berusaha disembunyikan. "Kamu lagi gak menyembunyikan sesuatu dari papa kan? Jangan-jangan kamu masukin perempuan ke kamar ini," tuduh Samudra penuh selidik saat mengamati tas yang berada di tangannya lalu menatap Kaisar yang terlihat gugup. "Hah? Gak lah ma-na mung-kin Kaisar berani bawa perempuan ke kamar. Kai cuma sendiri, pa. Kalau gak percaya cek aja seluruh ruangan ruangan ini." "Oke, kita buktikan kebenarannya. Kalau sampai ketahuan kamu bawa perempuan ke kamar, malam ini juga papa nikahin kamu dan siap-siap jadi office boy di kantor.'' " Hah... kok gitu, pa. Ya kali anak papa jadi office boy, apa kata orang nanti." "Papa gak peduli, Kai. Itu pelajaran buat kamu agar jadi pria yang bertanggung jawab dan memulai semua dari bawah. Oh iya satu lagi, biar lebih mandiri kamu akan papa carikan kontrak rumah buat tinggal kalian bersama nanti." Susah payah Kaisar menelan ludah saat mendengar ancaman Samudra. Ngeri juga kalau ketahuan, bagaimana hidupnya nanti. Astaga mengerikan. Samudra mengedarkan pandangan ke setiap penjuru ruang, lalu melangkahkan kaki menuju kamar mandi, balkon, sementara di dalam lemari Helen sudah mulai merasa kegerahan dan gelisah kakinya terasa kaku dan kesemutan ingin bergerak menarik roknya yang terjepit pintu, tetapi takut ketahuan. Perlahan ia menarik roknya hingga berhasil baru merasa lega hidungnya terasa gatal dan ingin bersin. Helen yang sudah tidak tahan lagi pun mengeluarkan suara bersin. "Hacih." Helen membekap bibirnya sendiri menampar pelan. "Suara apa itu?" tanya Samudra yang merasa mendengar sesuatu dari arah lemari. "Suara tikus mungkin, pa." "Gak mungkin di rumah ini gak ada tikus, ya. Jangan-jangan benar kecurigaan papa benar kalau kamu menyembunyikan sesuatu." "Astaga, papa gak percaya banget sama anak sendiri." "Ya terkadang kita memang harus curiga sama seseorang. Belum tentu orang yang kita percaya berkata jujur karena semua orang memiliki topeng masing-masing untuk menutupi sifat aslinya." "Papa ihgt, ngomongnya kok jadi ngaco kemana-mana. Ya udah cek aja kalau gak percaya." "Tentu saja." Tangan Samudra terulur bersiap membuka lemari membuat jantung Kaisar terasa berdegup kencang berkali-kali ia menghapus keringat dingin yang tiba-tiba membasahi tubuhnya terutama keningnya. Kaisar berusaha menghembuskan napas untuk mengurai kecemasannya sesekali pandangannya bertemu dengan Samudra menambah kadar kekhawatirannya takut ketahuan menyembunyikan Helen. Diam-diam ia mengigit bawah bibir. "Kenapa, Kai muka kamu kok tegang gitu?" Kaisar hanya menggeleng membuang pandangan. Waktu terasa lambat berjalan saat Samudra menarik gagang pintu lemari. Kaisar pasrah dengan apa yang akan terjadi jadi dan tak mungkin bisa mengelak. Ini adalah konsekuensi yang harus ia tanggung. Pasrah!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN