Episode 12

1183 Kata
Kaisar membuka pintu kamarnya, bersamaan dengan Jeslyn yang sama keluar dari kamarnya juga akan turun ke ruang makan untuk sarapan pagi. Kaisar berjalan mendahului dengan jalan sedikit pincang. Kening Jeslyn berkerut melihat cara jalan Kaisar setaunya kemarin baik-baik saja kenapa hari ini begini. "Abang! Kakinya kenapa?" kejar Jeslyn saat langkahnya sejajar. "Jatuh." "Oh ... perlu diamputasi gak?" "Ck! Astaga kamu ini bener-bener, ya. Gak ada empatinya." Tangannya terulur ingin menjitak kepala Jeslyn. "Canda abang, sini aku bantu turun." "Gak usah aku bisa sendiri. Tar sama kamu dijorogin lagi." "Ish gak segitunya, ya. Emang adek tiri apa. Beneran abang aku niat bantuin, kok." "Beneran?" tanya Kaisar tak yakin jarang-jarang adeknya pengertian gini soalnya. Kalau lagi baik biasanya ada maunya. "Ya udah kalau gitu bantu abang jalan." "Perlu kursi roda juga gak?" "Heh, abang cuma lecet bukan lumpuh. Gak segitunya, ya. Dasar bocah prik," Jeslyn nyengir mendengar ucapan Kaisar memamerkan barisan giginya yang putih bersih. "Sini aku bantu." "Heumm." Jeslyn memapah Kaisar sampai ruang makan, padahal sih, gak separah itu jalan sendiri juga bisa tapi gak pa-pa sekali-kali ngerjain mumpung adiknya lagi baik berbaik hati dan pengertian. Bahkan Jeslyn menarik kursi untuk Kaisar duduki. "Abang mau makan yang mana? Jeje ambilin." "Mau oatmeal deh." Sigap Jeslyn mengambilkan semangkuk oatmeal yang sudah terhidang di meja dengan tambahan s**u dan buah stroberi di atasnya menu favorit Kaisar emang. "Je tolong ambilin jus mangga sekalian, di dapur ya." Jeslyn tak protes berlari kecil menuju dapur mengambil jus di kulkas yang sudah disiapkan. "Ini jusnya." Jeslyn meletakkan gelas berisi jus di meja." "Makasih Jeje, bolah tuangin air putih gak?" "Abang ngerjain aku, ya? Dari tadi nyuruh-nyuruh terus," sungutnya sebal. "Enggak, kok, emang pengen jus sama air putih. Seret, Je makan tanpa air putih bagai makan sayur tanpa garam." "Hilih... ngeles aja. Ya udah nih, aku tuangin sekalian." Susah payah Kaisar menahan tawa karena berhasil mengerjai Jeslyn, polosnya gak ketolong ya kali cuma jatuh gitu doang, bukan sesuatu yang berarti balapan lagi hayok aja. "Makasih Jeje adek aku yang paling kyopta dan kyowo calon istrinya Jeon Jongkok." Mendengar jadi calon istri Jeon Jungkook membuat hati Jeslyn senang, mukanya yang kesel berubah ceria lagi. "Abang butuh apalagi sini aku bantuin." Detik ini juga tawa Kaisar pecah tak tahan dengan sikap polos Jeslyn yang seperti sudah bucin akut. Ia hanya menggelengkan kepala sambil meminum air putih segitu ngefansnya dia. Padahal Jungkook aja gak tau kalau dia hidup di dunia ini. Kamarnya penuh dengan gambar Jeon Jungkook bahkan segela printilan-printilanya dia beli dari kalendar, postcard, mini Photo sampai mini make-up miror dan masih banyak yang lainnya. Susah nyebutin satu persatu gak hapal juga nama benda-benda ajaib itu. Wajarlah Kaisar kan bukan fans boy. "Gak ada, udah cukup. Duduk gih senyum-senyum mulu kering itu gigi. Jangan lupa sarapan, kemarin abang nyoba pakai senyuman eh jam sepuluh udah laper." "Apaan, sih, bang garing deh." Jeslyn kembali ke tempat duduknya menunggu mama dan papanya turun. "Ya kali sarapan pakai senyuman butuh promag lama-lama nanti." "Nah gitu dong akur kan enak liatnya," ucap Cristal turun dari tangga bersama Samudra yang sudah berpakaian rapih bersiap ke kantor lalu bergabung bersama mereka sarapan pagi bersama. Mereka makan dalam keadaan hening tak ada yang membuka suara hanya terdengar sendok dan garpu yang saling berdenting. "Papa sama mama berangkat kerja dulu. Ingat ya yang akur jangan pada berantem," pesan Cristal saat berpamitan. "Oh iya satu lagi nanti malam mama dan papa ada urusan di tempat Om Leon kalian gak boleh kluyuran terutama Kaisar," sela Samudra memperingatkan. "Aku boleh ikut gak, Pa? Aku bosan di rumah mau main sama anaknya Om Leon." Cristal dan Samudra saling tatap mengangguk menyetujui "Boleh dong," ucap Cristal mengacak rambut Jeslyn. . Malam merangkak naik suasana rumah nampak sepi. Gak ada siapa-siapa hanya pembantu dan security yang di rumah. Udah kaya hati aja sepi ditinggal sang pujaan hati yang gak tau kapan kembali. Ditambah seharian ini Kaisar belum dapat kabar dari Helen. Ia menatap benda pipih yang berada dalam genggaman ingin telepon tetapi ragu. Terjebak rindu takut mengganggu, baru gak ketemu dua hari rasanya kangen banget. Gimana kalau gak ketemu seminggu? Gak bisa dibayangkan seperti apa rasanya. Ada rasa rindu yang membuncah dalam jiwa. Kalau rindu terus mending satu rumah aja biar bisa ketemu setiap waktu. "Sesibuk itu kah," gumam Kaisar menyingkap horden kamarnya menatap kamar sebelah yang gelap. Ia menghembuskan napas kembali menatap benda pipih di tangan. Menekan tombol lock screen yang berpendar hingga lambat laun layar kembali padam. Bosan, Kaisar memutuskan untuk mendengarkan musik saja ia menutup horden berderap ke arah ranjang. Menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang memutar lagu di playlist ponselnya, ia menggunakan headset agar tak mengganggu orang lain seraya memejamkan mata menikmati lagu-lagu yang diputar sambil ikut bernyanyi kecil. Namun tiba-tiba suara musik terdengar menjauh, headset dari kupingnya terlepas. Ia pikir sedang bermimpi saat melihat Helen duduk di depannya dengan senyum kecil yang tersungging di sudut bibirnya. Kaisar sampai harus mengucek mata untuk meyakinkan dirinya sendiri. "Aku lagi mimpi atau halusinasi, sih? Kenapa merindukan seseorang sampai begini. Gak ini gak mungkin. Ini pasti mimpi, astaga gini amat ya mending aku tidur, aja." Kaisar merubah posisi membaringkan tubuh membelakangi Helen. "Abang." Helen mengguncang bahu perlahan. "Abang gak mimpi ini beneran aku ada di sini. Coba cubit deh." "Kok kaya ada suara. Astaga! Sepertinya aku butuh psikiater." Helen terkekeh mendengar ucapan Kaisar ia pun menggelitik tubuhnya hingga menggelinjing geli. "Abang aku di sini. Nyebelin banget, sih, padahal aku kangen banget sama abang. Pulang ahgt kalau gitu." Sebelum Helen beranjak dari duduknya Kaisar menarik lengan Helen hingga terduduk kembali di tepi ranjang ia menatap lekat seolah meyakinkan diri sendiri. Kalau yang berada di depannya nyata bukan fatamorgana. "Ini beneran kamu. Aku lagi gak mimpikan?" ulang Kaisar sekali lagi. "Tapi masa iya ...." ucapan Kaisar menggantung begitu saja saat ia merasakan satu kecupan lembut di pipinya membuat ia terkesiap kaget lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Rasa panas terasa merambat di pipinya, sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman. Jantungnya mulai berdegup tak beraturan sekarang ia baru yakin jika yang di depannya memang Helan ia sedang tidak bermimpi atau halusinasi. "Kok bisa di sini, tadi aku liat kamar kamu masih gelap," imbuhnya. "Surprise. Seneng gak?" "Banget seneng." Kaisar langsung memeluk Helen meluapkan kerinduannya. "Kangen kamu. Kemana aja, sih, seharian gak ada kabar? Aku khawatir tau." "Maaf abang, aku lagi fokus banget bantuin ayah biar cepet kelar kerjaannya. Biar bisa pulang lebih dulu jadi gak sempet pegang ponsel." "Ya udah gak pa-pa yang penting kamu baik-baik aja, bisa liat kamu di depan aku udah lebih dari cukup. Tapi kalau bisa kabarin walaupun cuma sekali komunikasi itu penting. Aku kan gak tau kamu di sana gimana? Sama siapa dan ngelakuin apa aja. Kalau sampai ada apa-apa gimana? "Iya abang maaf, lain kali janji gak gitu lagi. Dimaafin gak?" "Maafin gak? Ya," ucap Kaisar pura-pura berpikir. "Cium dulu." "Mulai nakal abang, ihgt." Meski Helen protes tapi ia tak menolak memberikan ciuman hangat di bibir Kaisar saling melumat dan membelit mengungkapkan kerinduan dalam d**a yang tak bisa diucapkan lewat kata. Hingga mereka terbaring di ranjang ia menatap Helen lekat tanpa meraih tengkuk Helen memperdalam ciumannya hingga pasokan udara kian menipis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN