Malam semakin riuh suara knalpot motor terdengar saling bersahutan, mereka saling melempar pandangan di balik helm full face dengan sorot mata tajam saling mengintimidasi. Motor berjajar disisi kanan dan kiri memenuhi jalan. Riuh penonton saling bersorak mendukung tim masing-masing membuat suasana kian memanas. Seorang perempuan berdiri di tengah jalan dengan memegang bendera bersiap memberi aba-aba menatap para pembalap satu persatu.
"Siap! Ready ... go!"
Para pembalap langsung over take berlomba-lomba menjadi yang tercepat untuk segera mencapai garis finish, satu-satu persatu mulai bersenggolan bahkan nyaris terjatuh. Kaisar mencoba mencari cela untuk menyalip pembalap di depannya. Dari urutan keempat berhasil naik ke posisi dua dengan susah payah ia menyalip mereka bahkan beberapa pembalap kedapatan bermain curang. Dibalik helm matanya menyipit mengintai pergerakan lawan menghitung timing untuk bisa menyalip. Persaingan semakin sengit tak ada yang mau saling mengalah mempertahankan posisi masing-masing untuk meraih juara yang hanya tinggal satu kali putaran.
"Kaisar! Kaisar! Kaisar!" teriak mereka di pinggir jalanan.
Seketika lawan Kaisar bernama Rio menoleh ke arah belakang lewat kaca spion ia ingin memastikan keberadaan Kaisar yang dianggap lawan terberatnya ia tak ingin kehilangan kesempatan untuk menjadi juara. Rio kembali memacu kuda besinya dengan kecepatan tinggi begitu juga Kaisar melakukan hal yang sama.
Nyaris saja Kaisar menyalip Rio, tetapi penonton di pinggir jalan berteriak jika ada polisi datang membubarkan balapan. Bahkan ada beberapa yang tertangkap dan diamankan untuk dibawa ke kantor polisi.
"Ayo, Kai kabur," seru Andi di atas kuda besinya. Kaisar hanya mengangguk di balik helm meski dalam hati kesel juga nyaris saja menang menyalip Rio, polisi keburu datang.
Kaisar dan Andi berhasil meloloskan diri dari kejaran polisi mereka berseru kegirangan. Perasaannya pun sedikit membaik tidak terlalu galau lagi.
"Thanks, Ndi." Kaisar membuka kaca helemnya.
"Terima kasih buat apa?" jawab Andi saat mereka berhenti dipinggir jalan bernapas lega karena bisa lolos dari kejaran polisi.
"Terimakasih aja."
"Dasar aneh."
"Pulang kuy," ajak Kaisar mulai menekan gas dan rem bersiap memacu kuda besinya.
"Kuy."
"Balapan gimana? Belum puas, nih. Coba aja polisi tadi gak datang pasti aku menang."
"Percaya deh, yang kalah traktir seminggu di kantin."
"Siap."
"Jangan curang."
"Kamu yang suka curang."
Andi terbahak mendengar ucapan Kaisar mereka mulai aksi balapnya kembali rumah mereka kebetulan satu arah jadi memutuskan untuk balapan saja, biar lebih seru. Terkadang Andi memimpin balapan, begitu juga sebaliknya. Tinggal satu kali masuk belokan tiba-tiba dari arah berlawanan Kaisar melihat kucing yang melintas dari arah berlawanan ia langsung menekan rem mendadak hingga ban motornya berdecit dengan aspal. Keseimbangannya menjadi tidak stabil Kaisar pun terjatuh dari motor ninja kesayangannya.
Andi yang berada tepat di belakang Kaisar langsung berhenti mematikan mesin motornya menghampiri Kaisar membantunya berdiri dan memastikan keadaan temannya.
"Astaga, Kai. Kamu gak pa-pa?"
"Gak pa-pa, aman."
"Kok bisa gini? Ngelamun ya? Kalau ada masalah tuh cerita jangan dipendem sendiri kita temen,'kan?"
"Ada kucing lewat tadi. Serius. Pulang, yuk."
"Kamu bonceng aku aja. Motor kamu biar di derek."
"Lebay. Lagian udah deket gini. Heh, aku cuma lecet dong gak ada yang serius lukanya. Emang anak kemarin sore apa yang baru bisa naik motor. Gini doang mah kecil, aku masih bisa bawa motor sendiri.
"Ck. Dasar susah banget, sih dibilangin."
"Kita mau pulang atau baku hantam, nih?"
Cemas dengan kondisi Kaisar, Andi mengantarkan sampai ke rumahnya takut ada apa-apa di jalan setelah memastikan sampai rumah dengan selamat barulah Andi pulang ke rumahnya. Meski bagaimanapun Andi ada andil juga, coba gak ngasih tau ada balapan pasti Kaisar gak akan jatuh dari motor.
"Elah, sampai diantar segala. Kaya lagi pacaran aja," ucap Kaisar pada Andi setelah sampai di depan rumahnya.
"Ya lah daripada anaknya om Sam kenapa-kenapa. Bisa repot urusannya, masuk gih.''
" Thank Ndi."
"Heumm."
Kaisar memasuki gerbang rumahnya setelah pak security membukakan pintu untuknya. Ia berjalan sedikit pincang rasa perih terasa menjalar di sekitar lutut. Sakitnya sudah mulai terasa bahkan celana jins yang ia kenakan robek dibagian lutut dan mengeluarkan sedikit darah akibat tergores dengan aspal dan kerikil. Ia menyipitkan mata menatap benda bulat yang melingkar di pergelangan tangan. Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
"Mampus. Malam banget ini mama papa dah pada tidur belum ya?"
Kaisar memasuki rumah dengan kunci cadangan yang selalu ia bawa rumah nampak gelap, seperti tak ada tanda-tanda kehidupan. Baru akan menaiki anak tangga lampu tiba-tiba menyala Cristal sudah duduk di kursi ruang tamu sambil melipat tangan di depan d**a sedangkan Samudra berdiri di samping tembok saklar lampu sambil memasukkan tangan ke dalam saku celana. Mereka sengaja nunggu Kaisar pulang soalnya belakang tingkahnya aneh bikin kepikiran.
"Astaga, Kai, kamu kenapa? Lutut kamu.... " Cristal terlihat panik buru-buru beranjak dari duduknya menghampiri Kaisar. Ia menatap lutut Kaisar yang terluka, tadinya ingin ngomel melihat anak pertamanya terluka jadi gak tega.
"Gak pa-pa, kok, ma. Jatuh aja tadi menghindar dari kucing."
"Tetap aja mama khawatir." Cristal menatap luka dilutut Kaisar. "Ayo duduk mama obatin lukanya."
Suara batuk Samudra mengalikan atensi mereka, hingga menghentikan langkahnya mukanya sudah terlihat memerah rahangnya mengetat dan tatapan matanya menajam
"Dari mana aja, kamu, Kai jam segini baru pulang."
"Ak-u."
"Balapan lagi?" tuduh Samudra ia paling tidak suka melihat Kaisar balapan bukan apa-apa, takut kecelakaan. Apalagi balapan liar seperti ini gak ada saftyny sama sekali. Belum lagi kalau kena razia tertangkap polisi, mau ditaruh dimana mukanya nanti kalau sampai para relasinya tau anaknya masuk penjara gara-gara balap liar. "Mulai sekarang pulang pergi ke kampus diantar supir, gak ada lagi pulang malam. Motor papa sita.
"Tapi pa, Kaisar udah gede. Ya, masa diantar supir."
"Papa gak menerima protes, Kai! Atau hukuman papa tambah lebih berat lagi!"
Samudra meninggalkan Kaisar dan Cristal begitu saja setelah menyampaikan ucapannya tak menghiraukan panggilan Kaisar. Sesekali memang harus tegas pada anak-anaknya bukan kejam, tapi bukti perhatian orang tua yang mengkhawatirkan keselamatan anaknya.
"Pa ...." lirih Kaisar ingin protes tapi dihalangi oleh Cristal yang menggelengkan kepala.
"Ayo, Kay kita bersihkan luka kamu. Kali ini mama setuju sama Papa, kamu gak tau gimana cemasnya kita saat tau jam segini belum pulang. Seminggu yang lalu kamu juga gak pulang ke rumah kan?"
Kaisar menatap Cristal seraya menelan ludah bulat-bulat mengingatkan ia pada kejadian di Bandung bersama Helen beberapa waktu lalu. Bagaimana reaksi orang tuanya, ya jika tau apa yang telah diperbuat pasti kecewa banget.
"Ngi-nep, ma di te-mpat Andi," ucap Kaisar terbata.
"Kenapa gak ijin sama mama?"
"Gak sengaja ketiduran, ma. Tau-tau kebablasan sampai pagi." Cristal menatap penuh selidik.
"Kamu lagi gak bohongin mama kan?"
"Eng-ga, kok. Sama anak sendiri masa gak percaya, lagian kapan sih Kaisar pernah bohongin mama dan papa."
"Oke kali ini mama percaya. Awas ya kalau sampai ketahuan bohong mama kasih hukuman tambahan."
"Tega ihgt. Mama dah kaya papa, aja. Aduh ma lutut aku sakit, nih," ringis Kaisar berbohong agar Cristal tak memarahinya lagi.
Cristal menghela napas menatap lutut Kaisar. Sebenarnya masih ingin ngomel tapi liat Kaisar meringis gitu jadi gak tega rasa cemas lebih mendominasi takut lukanya infeksi.
"Ya udah duduk biar mama obati, habis itu langsung tidur. Lain kali gak boleh diulangin lagi, ya. Mama khawatir Kai, takut kamu kenapa-kenapa di jalan. Tolong jangan balapan lagi ya? Kamu gak mau kan jadi anak yatim."
"Mama... kok ngomongnya gitu, aku sedih nih." Kaisar langsung memeluk Cristal menyandarkan kepala di bahu mamanya.
"Mama bisa jantungan Kai, kalau kamu gini terus. Apa sih bagusnya balap liar gitu, kalau mau balapan mending di sirkuit sekalian."
"Maaf ma." Kaisar mengcium pipi Cristal sebagai tanda permohonan maafnya.
"Kamu ini, bikin mama gak tega ngomelin." Kaisar terkekeh mendengar ucapan Cristal. "Janji ya jangan balapan lagi? Sayang kan sama mama."
"Pilihan yang sulit."
"Mama marah kalau gitu."
"Iya ma, Kai janji gak balapan lagi."
"Nah gitu dong baru namanya anak mama."