Episode 10

1158 Kata
Kebiasaan Kaisar saat sedang banyak pikiran biasanya akan melampiaskan dengan berenang dan balapan. Cristal menghampiri Kaisar yang tengah duduk di kolam renang dengan tubuh basahnya dan membiarkan air mengalir begitu saja tanpa mengeringkan lebih dulu, ia duduk di tepi kolam sambil memasukan kakinya ke dalam air. "Kai," ucap Cristal berdiri di samping Kaisar. Mendengar namanya dipanggil Kaisar pun menoleh memberi senyum kecil. "Kok tumben renang?" "Lagi ingin aja, ma." "Beneran? Kamu lagi gak menyembunyikan sesuatu dari mama, 'kan?" tanya Cristal sambil menatap bola mata anak sulungnya mencari kejujuran di dalamnya. Ditatap seperti itu oleh Cristal buat gugup,aja, Kaisar menggeleng dan berusaha memberi senyum terbaiknya. "Mau rutin renang biar badannya bagus kaya atlit," kilahnya. "Ada-ada saja kamu. Kalau ada masalah cerita, ya, sama mama. Jangan pendem sendiri kita hadapi semua sama-sama." Sejenak Kaisar tertegun rasa bersalah semakin menghantui lalu tersenyum agar mamanya tidak kepikiran. "Jangan lama-lama renangnya muka kamu udah pucat." "Siap ma." "Oke kalau gitu mama masuk ke dalam dulu," pungkas Cristal. Setelah kepergian Cristal, Kaisar menceburkan diri ke dalam kolam berenang menggunakan gaya bebas. Nyaris tiap hari Kaisar menayangkan tanggal haid kekasihnya seperti hari ini saat mereka bertemu di taman kampus "Gimana, Len udah telat?" tanya Kaisar suara sepelan mungkin takut ada yang mendengar pembicaraannya. "Belum bang masih beberapa hari lagi." "Janji ya kalau sesuatu terjadi kamu harus bilang," ucap Kaisar sambil meremas jemari Helen. "Heumm. Pasti, Abang untuk beberapa hari maaf, ya, kayanya kita gak bisa ketemu." "Kenapa? Kamu sibuk? Ada pemotretan atau apa?" Helen menggeleng sebelum menjawab pertanyaan Kaisar. "Engga, tapi mau bantu ayah kampanyenya sebagai tim sukses siapa tau bisa menambah perolehan suara. Menggerakkan anak muda lumayan siapa tau bisa nambahin perolehan suara saat pemilu nanti." Kaisar hanya mengangguk saja. . Kaisar duduk seorang diri di kantin ditemani segelas es jeruk ia terus mengaduk-ngaduk isi di dalamnya tanpa minat, pikirannya mengembara sejak kejadian di Bandung Kaisar menjadi lebih pendiam dan banyak melamun, entah kenapa hidupnya jadi tidak tenang ada rasa bersalah yang menghantui karena sudah menyalahgunakan kepercayaan orang tua. Mereka pasti kecewa jika tau fakta yang sesungguhnya, karena dari dulu selalu menjadi anak kebanggaan dan berprestasi juga. Kaisar ingin segera menikahi Helen siapa tau dengan begitu rasa bersalahnya sedikit berkurang. "Bro." Suara Andi membuyarkan lamunan Kaisar ia menoleh menatapnya sekilas lalu pandangannya tertunduk pada gelas di depannya. "Kenapa, sih, tumben muka kamu lecek banget kaya baju lum disetrika. Ada masalah?" Kaisar hanya menggeleng gak mungkin kan dia cerita masalah sensitif seperti ini meskipun pada teman dekatnya sendiri. "Cerita kalau ada masalah jangan pendem sendiri. Kaya sama siapa, aja," tutur Andi merasa ada yang tidak beres dengan Kaisar. "Keliatan, ya?" "Iya gitu. Gak biasanya kamu pendiam begini soalnya, biasanya itu aktif banget kaya kelinci lari sana-lari sini. Susah ditemui apalagi kalau ke kantin biasanya rame-rame gak duduk sendiri kaya orang ilang." Sejenak Kaisar tertegun mendengar ucapan Andi ia melirik sepintas melalui ekor matanya. Lalu diam-diam menghembus napas seolah ada beban berat dipundak. Andi yang merasa haus ia menyambar minuman Kaisar tanpa permisi sudah biasa seperti ini jadi udah gak heran lagi join minuman berbagi sama temen yang lain. "Kamu pernah gak, sih, ONS sama orang atau sama pacar mungkin," ucap Kaisar tiba-tiba membuat Andi menyemburkan minumannya, syok tentu saja gak pernah Kaisar ngomong seperti ini soalnya mukanya kaya anak polos gitu. "Gak usah nyembur kaya dengar apa, aja," cibir Kaisar. "Pertanyaannya itu luar biasa, aneh aja dengar kamu nanya gini. Aku kira cupu ternyata suhu. Kenapa kamu habis ONS, ya." Kaisar langsung menoyor kepala Andi untuk menutupi kegugupan dan kebohongannya. "Udah jawab, aja, bacot bener deh." Andi malah terkekeh mendengar ucapan Kaisar. "Hati-hati lho anak orang bunting." "Hamil, Ndi dikata kucing bunting. Gimana pernah gak kaya gitu?" "Pernah ... sering juga." Mata Kaisar membeliak lebar mendengar ucapan Andi. Bisa-bisanya jawab sesantai itu tanpa rasa bersalah sadar gak, sih sama yang diomongin. "Gila loe, bisa-bisanya santai gini. Gak merasa bersalah atau gimana gitu?" "Biasa aja main aman lah. Awal-awal, sih, takut tapi makin lama biasa aja. Kaya kebutuhan gitu, pusing kalau gak tersalurkan. Kapan lagi mumpung sama-sama mau free pula, cukuplah kasih baso dan antar jemput kemampuan dia pergi." Sungguh Kaisar ingin mengumpat detik ini juga, dan memukul wajah Andi kalau bisa seenak jidat ngomong gitu tanpa disaring. ia mengatupkan rahang mendengar pernyataan Andi bisa-bisanya punya temen minus akhlak begini untung, aja, selama ini bisa jaga diri gak ketularan kelakuannya. Kaisar pikir Andi hanya sampai tahap ciuman ternyata sudah sejauh ini. Muka emang suka menipu, kalau liat Andi bener deh kaya tampang anak pendiam dan polos gitu wajahnya lumayan tampan, sih, keturunan Indonesia Arab. Berhidung mancung, kulit putih, alis hitam tebal dan banyak bulu-bulu halus disekitar rahang. "Ck." Hanya decakan yang keluar dari bibir Kaisar ia tak tau mengekspresikan perasaannya seperti apa haruskah menghakimi atau diam tak menanggapi, bukan ranahnya untuk ikut campur dan hanya bisa memberi pendapat jika diminta. Andi sudah cukup dewasa tau mana yang baik dan benar. "Ya habis gimana dia sasimo." "Apalagi sasimo? Bahasa kamu, Ndi aneh-aneh pusing dengernya." "Sana-sini mau, bego." "Jangan-jangan karyawan mechat." Kini mereka berdua justru terbahak dengan obrolan absurd sendiri yang gak jelas dan rundum gitu. "Terus ngapain masih bertahan kalau dia Sasimo? Parah kamu, Ndi. Makan hati tar yang ada." "Teman tapi mesra gitu, dia ada pacar tapi ya begitu deh diselingkuhin. Buat ungkapin rasa sakit hatinya dia main belakang juga kalau dia bisa kenapa aku engga gitu katanya." "Pelarian dong. Gak ngotak emang." "Gak pa-pa aku menang banyak. Dia dengan suka rela melemparkan diri ke aku. Makannya jangan pakai hati, biar gak sakit hati." "Bangke!" umpat Kaisar kesel sendiri sama temen yang gak ada akhlak satu ini. Bukan buaya lagi dia dah sekelas aligator. Bisa-bisanya perempuan dijadikan obyek meskipun sama-sama mau. Kaisar salah curhat deh nih, gak ramah bintang satu bisa-bisa tersesat curhat sama Andi. Ia walaupun sebagai teman dia adalah salah teman terbaiknya, tapi buat dijadikan pasangan gak rekomend. Jauhkan adik hamba dari cowok model Andi. "Eh, balik lagi kenapa tadi nanya gitu?" tanya Andi pada Kaisar. "Gak ada, cuma iseng nanya doang." Mata Andi menyipit menatap Kaisar penuh selidik. "Biasa, aja liatnya apaan sih." "Jangan-jangan kamu ya habis nanam benih. Ati-ati hamil anak orang, apalagi gak pakai pengaman jadi deh tuh. Nanya dulu makannya sama yang lebih pro, jangan main trabas,aja." Kaisar menelan ludah bulat-bulat mendadak tangannya jadi tremor. "Makanya lain kali ati-ati kalau mau kaya gitu jangan lupa pakai k****m. Pakai k****m, aja, kadang gak jamin aman biasa kebobolan juga. kalau males pakai itu sedia pil biar gak hamil. Sebrengsek-brengseknya cowok mana mau punya istri sasimo gitu. Pilih-pilih juga lah, nyari yang soleha juga pasti." "Masalahnya yang soleha itu mau gak sama cowok modelan kaya kamu." "Kalau gak mau aku DP duluan." "Tuhkan otak kamu, aja, gak bener gini ngarep spek bidadari. Aku rasa otak kamu kurang seons, benerin dulu tuh akhlak." Kaisar beranjak dari duduknya tapi omongan Andi seketika membuatnya menghentikan langkah. "Mau ada balapan mau ikut gak?" " Wah boleh tuh. kapan?" "Tar aku kabarin, sabtu sih kalo gak salah. "
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN