Episode 9

1701 Kata
Sinar mentari menerobos masuk melalui ventilasi udara, alis Kaisar berkerut menghalau sinar itu dengan tangan. Ia mulai terjaga dari tidurnya saat rasa dingin terasa menyapa kulit. Ia menggeliat ingin menarik selimut dan tidur lebih lama, tetapi gerakannya terasa terbatas saat ia merasakan ada seseorang yang tidur dalam dekapannya dan merasakan sensasi berbeda saat kulitnya saling bersentuhan, hangat dan menggelitik hingga menimbulkan gelenyar aneh. Kaisar terperanjat kaget saat menyadari tak sendiri di dalam kamar, ia pikir hanya sedang mimpi basah. Namun semua nyata adanya kalau ia benar-benar melakukan hubungan terlarang bersama kekasihnya semalam dan fakta yang tak bisa terelakan lagi adalah Helen tertidur dalam pelukannya tanpa sehelai benang pun sama seperti dirinya, tak sengaja selimut yang Helen kenakan tersingkap membuatnya tak bisa mengelak lagi. Terlihat dengan jelas sisa-sisa percintaan panas mereka. Saat Kaisar menatap tubuh Helen banyak tanda merah yang Kaisar tinggalkan dari leher, d**a, perut dan area lainnya. Tubuhnya pun terasa lengket aroma khas terasa menguar menembus indra penciuman sepertinya ia butuh mandi. Kaisar segera menarik selimut menutup tubuh Helen kembali takut tak bisa menahan diri lagi dan mengulang kesalahan yang sama. Adik kecilnya saja sudah mulai berontak cuaca di bandung memang mendukung apalagi saat pagi seperti ini setelah turun hujan hawa dingin semakin menembus tulang bawaannya ingin skidipapap. Oh tidak. Otakku mulai tercemar. Kaisar menepuk keningnya sendiri. Kaisar mengedarkan pandangan ke sekeliling menatap ruangan yang nampak berantakan baju, celana, bantal, segitiga bermuda yang robek dan bra yang teronggok di lantai tanpa daya. Kaisar menampar pipinya sendiri untuk memastikan. Tangannya terayun saat ia merasakan panas di pipi. Plak! "Sakit," ringis Kaisar. "Jadi ini bukan mimpi? Astaga apa yang aku lakukan Tuhan." Lamat-lamat ia mulai mengingat kejadian yang menimpa dirinya hingga bisa berada di ruangan asing bersama kekasihnya. Ia menghembuskan napas perlahan seraya memijit pelan pelipisnya yang mendadak pening, Kaisar mengutuk diri ada penyesalan yang singgah di hati. Kaisar menatap Helen yang masih tertidur lelap lalu mengecup keningnya penuh kasih sayang, menatap wanita yang masih setia memejamkan mata lalu mengusap punggung polos wanita yang berada di sampingnya. Menyesal pun tak berguna semuanya sudah terjadi dan yang pasti ia akan mempertanggung jawabkan perbuatannya. Kaisar berusaha bergerak ingin membersihkan diri, sebelum mengantar Helen pulang. Belum lagi orang tuanya pasti kebingungan sekarang mencari keberadaannya karena mendapati kamarnya kosong. Jarang sekali Kaisar menginap di tempat orang lain, sebisa mungkin pasti pulang ke rumah. Kaisar beringsut perlahan turun dari ranjang agar tidak menganggu tidur Helen, sekali lagi ia menoleh menatap Helen tak sengaja melihat noda merah yang menempel di sprei ada rasa haru dan sesal menjadi satu. Kaisar menghembuskan napas untuk melegakan hatinya yang berkecamuk dalam d**a lalu ia melangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah merasa cukup bersih ia keluar dari kamar mandi, Kaisar tertegun di ambang pintu dengan rambut setengah basah dan handuk yang menggantung di pinggang saat melihat Helen menangis tersedu-sedu. Gegas segera menghampirinya. "Helen." Mendengar suara Kaisar Helen menoleh dengan air mata yang semakin deras membanjiri membuat Kaisar semakin cemas, takut sesuatu terjadi padanya. "Abang." Helen langsung berhambur memeluk Kaisar dengan selimut yang masih melilit di tubuhnya. "Iya, aku di sini. Kenapa nangis? Ada masalah." Helen menggeleng masih dengan terisak. "Aku takut. Aku pikir abang pergi ninggalin aku gitu aja, setelah mendapat apa yang abang mau," ucapnya parau. "Engga, gak akan aku gak akan ninggalin kamu kok. Tenang, ya ada aku di sini. Mandi gih kita harus cepat pulang takut mama sama papa nyariin." Helen mengangguk lalu mengangkat wajah. "Abang janji kan gak akan pernah ninggalin aku?" ucapnya dengan mata sembab. "Janji. Aku akan nikahin kamu secepatnya." "Hah? Apa menikah?" "Iya. Sebagai bentuk tanggung jawab aku karena sudah berbuat melewati batas. Aku salah Helen, andai bisa lebih bisa menahan diri kita gak bakal seperti ini mengkhianati kepercayaan orang tua," sesal Kaisar. "Bukan salah, abang, aku yang mau dan menggoda lebih dulu." "Udah, gak usah saling menyalahkan kita berdua salah. Jadi, kita harus sama-sama tanggungjawab." "Abang." "Heumm." "Tapi aku bilang apa ke ayah sama mama. Mereka pasti kaget kalau tiba-tiba kita mau menikah." Kaisar termenung sejenak ada benarnya juga yang dikatakan Helen, harus jawab apa nanti. Gak mungkin bilang sudah unboxing lebih dulu kan, bisa digorok kepalanya nanti. "Kalau nikahnya nanti aja gimana? Kita masih kuliah abang. Apa kata orang nanti." "Terus kalau kamu hamil gimana? Kita gak pakai pengaman, Len. Apa saja bisa terjadi." Helen bergeming mendengar ucapan Kaisar seraya menggigit bawah bibir, ia tak pernah berpikir akan dampak ke depannya. Helen hanya ingin Kaisar tau kalau sangat menyayanginya dan rela melakukan apapun untuknya termasuk sesuatu yang paling berharga, karena bersama Kaisar Helen merasa nyaman, tenang dan terlindungi. "Kita cuma sekali, abang." "Iya, tetap aja beresiko.... " Helen meletakkan jari telunjuknya tepat di bibir Kaisar membuat ucapannya menggantung. "Kita pikirkan nanti, aja, abang. Aku lagi gak masa subur kok. Aku masih ingin kuliah dan mengejar cita-cita, bang. Belum siapa menikah." "Lebih baik kamu mandi dulu, aja, deh. Kita harus cepat pulang. Kita pikiran nanti di rumah." Helen pun mengangguk berjalan tertatih menuju kamar mandi dengan selimut yang masih melilit di tubuhnya terasa ada yang sakit di bawah inti tubuhnya, hingga membuatnya susah bergerak. semua tak lepas dari pengawasan Kaisar, ia yang melihat itu tak tega langsung menggendong Helen menuju kamar mandi. "Sakit." "Sedikit. " Maaf sudah bikin kamu begini." "Bukan salah abang." Kaisar terus menatap Helen wajahnya nampak pucat, tetapi tak mengurangi sedikit pun kadar cantiknya. "Bang." "Heumm." "I love you." Kaisar tersenyum tipis mendengar ucapan Helen jantungnya terasa jumpalitan di dalam sana. Seperti genderang yang mau perang. "Love you too. Makasih Len." "Makasih untuk?" "Makasih untuk yang semalam." Ucapan Kaisar membuat pipi Helen bersemu merah ia menenggelamkan wajahnya pada d**a bidang Kaisar, malu. Membuat Kaisar terkekeh geli akan sikapnya. "Mau dimandiin?" "Gak usah, bisa kok mandi sendiri." "Oke. Kalau gitu aku pesan makanan dan baju dulu buat kamu." Helen pun mengangguk tanpa banyak bertanya setelah Kaisar menurunkan dari gendongnya ia meneruskan mandi membersihkan diri setelah Kaisar keluar. . "Jeje panggil, abang coba dari tadi kok gak keluar-keluar bisanya paling cepat kalau soal makan," ucap Cristal seraya meletakan piring berisi nasi goreng di meja dengan tambahan telor mata sapi di atasnya. "Oke, ma." Jeslyn beranjak dari duduknya melangkahkan kaki menaiki anak tangga sambil bernyanyi kecil dengan langkah riang menuju kamar Kaisar. Perlahan ia mencoba mengetuk pintu beberapa kali, tetapi tak ada tanggapan. Tok, tok, tok. "Abang... bangun, bang dipanggil mama," seru Jeslyn dari balik pintu. "Abang! Ayo, sarapan udah ditungguin, nih. Astaga! Susah banget dibangunin, ini orang tidur atau pingsan, sih, dibangunin dari tadi gak bagun-bangun, abang!" gerutu Jeslyn sambil mendorong handel pintu yang ternyata gak dikunci. Kosong. Tak ada Kaisar di kamarnya, kamar pun tampak rapih tak ada tanda-tanda habis digunakan. "Kamarnya, kok, rapih biasanya paling berantakan kalau tidur kaya kapal perang. Abang ke mana, sih, apa di kamar mandi ya?" gumam Jeslyn lalu ia melangkahkan kaki menuju kamar mandi, tetapi tak ada juga. Nyaris setiap sudut ruangan sudah Jeslyn cari tapi tak menemukan sosok Kaisar. Ia pun memutuskan untuk turun ke lantai bawah mungkin kakaknya sedang pergi olahraga. "Mana abang kamu, Je?" tanya Samudra sambil menyesap jus alpukat setelah melihat Jeslyn turun. "Abang gak ada, pa. Kamarnya kosong." Alis Samudra berkerut, tak biasanya Kaisar seperti ini biasanya selalu menyempatkan diri untuk sarapan bareng keluarga. "Gak ada gimana?" "Lagi olahraga mungkin, pa. Gak ada di kamar soalnya," jawab Jeslyn sekenanya sambil menarik kursi. "Sayang, kamu tau di mana Kaisar?" tanya Samudra pada Cristal yang baru saja kembali dari arah dapur. "Bukannya di kamar masih tidur." "Gak ada kata Jeje kamarnya kosong." "Kemana itu anak? Ya udah aku liat dulu deh ke atas," sahut Cristal. "Gak usah sayang, biarin aja gak pa-pa mungkin Kaisar sudah bangun, lagi joging di taman atau kemana mungkin. Biasanya gitu kan kalau hari libur." "Iya sih." "Ya sudah makan aja dulu, nanti kita tanya anaknya kalau udah pulang." Motor melaju dengan kecepatan sedang, sesekali Kaisar menggenggam tangan Helen lalu mencium punggung tangannya. Jantungnya terus saja berdetak tak karuan apa yang harus ia katakan pada mama dan papanya nanti, jika ketahuan semalam tidak pulang ke rumah? Ahgt sudahlah pikirkan nanti saja, semoga mereka tidak menyadari kalau semalam Kaisar gak pulang. Kaisar menghentikan laju motornya tepat di depan rumah Helen, sejak di perjalanan mereka tak banyak bicara sibuk dengan pemikiran masing-masing. "Kok berhenti, bang?" tanya Helen masih setia bersandar pada punggung Kaisar sambil memeluk tubuhnya. "Udah sampai." "Hah udah sampai. Kok cepat? Ngebut, ya." "Perjalanan normal, kok, lebih lambat malah. Kamu kayanya pengen nempel terus." "Iya, gak mau pisah." "Ya udah kalau gitu nikah, aja. Biar kita gak terpisahkan lagi." "Tapi kita kan masih kuliah, bang." "Gak ada larangan, hamil sekalipun juga masih boleh kuliah." "Iya, sih, ya udah kalau gitu aku masuk dulu, bang." Helen turun dari motor sambil melepas helm di kepala lalu memberikan pada Kaisar. "Tunggu, Len. Biar aku antar sampai ke dalam buat jelasin ke orang tua kamu." "Ehmm... gak usah, bang. Antarnya sampai sini aja. Mama dan Ayah tau kok kalau aku ada pemotretan di Bandung." "Tapi, Len." Helen menggeleng. "Takut mereka curiga, Bang dan mereka tanya macam-macam." "Aku jadi merasa seperti pria b******k yang gak bertanggung jawab kalau kaya gini ceritanya," ucap Kaisar sambil menyugar rambut dari depan kebelakang. "Please, abang." "Oke aku pulang, kalau ada apa-apa tolong kabarin." "Makasih abang udah mau mengerti." Kaisar pun mengalah pergi meninggalkan Helen memacu kuda besinya pulang ke rumah dengan hati gundah. Rasa bersalah semakin mengakar dalam hati. Kaisar berjalan tergesa setelah memarkirkan motornya di garasi rumah ia langsung menuju kamar untuk mengurai kegundahan hatinya. Memikirkan bagaimana jika Helen nanti hamil apa, bagaimana tanggapan orang tuanya dan orang-orang nanti. Jika menghamili anak orang. Sungguh otak Kaisar seperti ingin meledak. "Kai," tegur Cristal. "Dari mana, kamu kok gak ikut sarapan tadi. Semalam tidur di mana?" tanya Cristal penasaran saat melihat Kaisar yang melintas. "Eh, mama. A-nu, abang... abang" Kaisar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal mencoba mencari alasan logis. "Abang main di tempat Andi semalam ada tugas yang harus dikerjakan besok ma, ngejar DL." "Ohw kenapa gak kasih kabar, Kai? ponselnya juga kenapa gak bisa dihubungi?" "Maaf, ma HPnya lowbat dari semalam," kilahnya berbohong. "Kalau gitu, Kai naik dulu ya ma ke atas?" "Lain kali jangan diulangi, ya. Kalau kemana-mana kasih kabar biar mama sama papa gak khawatir." "Maaf, ma. Lain kali Kai gak akan gini lagi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN