Episode 8

2391 Kata
Sudah dua hari Helen berada di Bandung untuk pemotretan untung weekend dan gak ada kuliah jadi ia bisa mengambil kerja sampingan yang Arya tawarkan. Tema pemotretan kali ini Helen mengenakan gaun malam berbahan sutra berwarna merah mengkilat dengan tali seperti spaghetti yang tersampir di bahu sebagai penyangga dengan model leher V hampir menampakkan sebagian dadanya yang membusung indah. Awalnya gak nyaman tapi, lama-lama mulai terbiasa. Pemotretan kali ini Helen berpasangan dengan Reza Hanggono model yang mulai naik daun. Pria berbadan kekar itu tersenyum tipis pada Helen yang ditanggapi dengan anggukan kepala untuk menyapanya. Ada beberapa sesi pemotretan yang dilakukan meski indoor tetap saja pakaian yang dikenakan Helen cukup sexy membuat para pria menelan ludah dan pose yang dilakukan terlihat begitu intim layaknya pasangan romantis. Tak sengaja pandang Helen bertubrukan dengan Kaisar, seketika membuat Helen menegang merasa tak enak hati melihat Kaisar di sudut ruangan dengan tangan terlipat di depan d**a dan sorot mata tajam, sampai-sampai ia harus mengulang beberapa pose. Takut Kaisar berpikir aneh-aneh padahal ia hanya berusaha bersikap profesional, aja. Ia tak menyangka Kaisar akan datang ke tempat pemotretan pasalnya gak ngabarin kalau kekasihnya itu akan menyusul ke Bandung. "Rileks Helen, ayo seperti tadi," ucap Reza yang berada di belakangnya bersiap memeluk sesuai arahan sang fotografer. "Hah, apa?" Helen menoleh hampir saja bibir mereka bersentuhan bahkan deru napasnya terasa menguar memenuhi indra penciuman Helen mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak. "Sorry." "It's oke." Helen mencoba untuk fokus kembali berusaha bersikap profesional ia mencuri pandang pada Kaisar yang terlihat kesal dengan rahang terkatup rapat. Apalagi saat Reza mengangkat dagu Helen hingga saling menatap lekat hidung mereka seperti nyaris bersentuhan. "Fokus Helen, kamu mau cepat selesai kan? Dia siapa? Pacar kamu?" Helen mengangguk sebagai tanggapan. "Oh ... harusnya dia paham kalau ini emang sudah jadi tuntutan profesi, pose seperti ini masih wajar. Belum ada apa-apanya jika dibandingkan foto untuk Victoria screat dan majalah playboy." Helen hanya mengigit bawah bibir tak memberi tanggapan, tanpa aba-aba Reza meletakkan tangannya di pinggang Helan memeluk dari belakang, meletakkan kepalanya di bahu Helen yang putih bersih. Membuatnya berjengit kaget, sepertinya pose seperti ini gak ada dalam breafing. Kaisar langsung keluar dari ruangan itu rasanya gak sanggup lagi melihat pose mereka. Ia mengumpat keras, seraya membanting pintu. Kilat lampu blitz mengabadikan gambar mereka, fotografer terlihat puas melihat hasil tangkapan lensa kameranya mereka terlihat natural dan berkemistri. "Oke. Pemotretan selesai, keren nih hasilnya," puji Arya mengacungkan jempolnya. "Seneng kalau punya model sama-sama pro gini gak ribet," puji Arya. Helen langsung menuju ruang ganti ingin segera menemui Kaisar, takut salah paham. "Helen tunggu." Mendengar namanya disebut ia pun menoleh. "Iya, kak kenapa?" Sebagai bentuk penghormatan Helen memanggil Reza dengan sebutan kak. "Kaku banget manggil, kak. Panggil Reza, aja umur kita gak beda jauh kok." "Iya, sih, tapi gak enak kak Reza kan lebih senior," ringis Helen. "Kak duluan, ya. Aku buru-buru nih." "Tunggu, Len." Reza menarik tangan Helen hingga gerakannya terhenti. "Ini buat kamu, aku suka liat kamu pakai gaun ini." "Apa ini, kak?" "Buka, aja." Helen pun membuka papar bag berwarna coklat itu, ia ternganga melihat isinya karena isi di dalamnya adalah gaun yang dikenakan tadi dan harganya lumayan mahal Helen merasa gak berhak mendapatkan gaun itu. "Duh maaf, kak. Aku gak bisa menerima pemberian kak Reza." "Masih aja manggil kak, Reza, Len,'' ucapnya penuh penekanan. " Kalau kamu gak mau menerima pemberianku, aku gak bakal lepasin." Mata Helen membola mendengar ucapan Reza ia bimbang harus menerima atau tidak. Ia mengembuskan napas sebelum akhirnya Helen menerima pemberian gaun dari Reza karena ia harus segera menghampiri Kaisar, takut semakin salah paham. "Makasih, kak. Duluan ya," pamit Helen berjalan tergesa. "Jangan lupa dipakai gaunnya buat acara malam amal nanti ya." Helen tak menggubris omongan Reza ia mendorong pintu mencari keberadaan Kaisar yang ternyata tak berada di luar. Helen berlari kecil menyusuri lorong mencari Kaisar. Ia menghembus napas lega saat melihat Kaisar duduk di undakan anak tangga dengan tangan terkepal kuat. "Abang," ucap Helen saat berdiri di depannya. "Abang kenapa keluar?" "Apa perlu dijawab," ketusnya ia melirik pada papar bag yang di bawa Helen. Tak sengaja Kaisar melihat Reza memberikannya pada Helen tadi, ia sempat masuk ke ruang itu kembali saat sudah berhasil memenangkan hatinya. Kaisar pikir terlalu kekanak-kanakan kalau sampai cemburu gak jelas, karena yang dilakukan adalah suatu bentuk profesionalisme, aja. Tapi saat kembali malah melihat Reza memberikan gaun itu membuat hatinya semakin meradang. Sialan memang. "Kamu terima pemberian dia?" imbuh Kaisar. "Enggak." Helen berusaha menyembunyikan papar bag itu di belakang punggungnya. Maksud hati biar Kaisar gak makin kesel, eh malah sebaliknya. "Percuma disembunyiin, aku dah liat semua." "In-i, aku mau balikin besok," ucap Helen terbata dengan tatapan sendu. "Kamu bisa kan nolak langsung tadi." "Maaf, abang." "Terserah!" Kaisar bangkit dari duduknya dengan langkah lebar menuju ke arah parkiran motor rencananya ingin membuat kejutan, eh malah terkejut duluan. Siapa yang gak kesel coba liat pacarnya mesra dengan pria lain. Udah belain jemput jauh-jauh mau ajak pulang bareng malah zonk, gagal semua rencana. Niat hati ingin ngajak Helen ke daerah puncak mumpung masih pukul 19. 30 wib, nikmatin malam mingguan, tapi hatinya sudah patah duluan. "Abang tunggu, aku bisa jelasin semuanya. Ini cuma salah paham," ucap Helen seraya menghadang jalan Kaisar dengan mata berkaca-kaca hatinya tak tenang jika berantem dengan Kaisar. "Minggir Helen, aku mau pulang." "Aku ikut." "Udahlah bukannya masih ada acara lagi besok sama si k*****t itu." Helen menggeleng. "Abang, please. Percaya sama aku, semua gak seperti yang abang liat. " Helen mendesah resah saat Kaisar hanya bergeming tak menanggapi. "oke kalau gitu aku balikin gaun ini sekarang. Abang gak boleh kemana-mana." Helen berlalu begitu saja membalik badan berniat mengembalikan gaun pemberian Reza. "Kenapa Len, kok balik lagi?" tanya Reza yang sedang duduk menunggu asistennya membereskan barang-barangnya. "Maaf kak, aku gak bisa menerima gaun ini. Aku harap kaka Reza gak tersinggung, ya," ucap Helen menyampaikan tujuannya menemui Reza. "Tapi, Len." Helen menggeleng tersenyum hangat lalu ia segera melangkahkan kakinya meninggalkan studio pemotretan. "Bocah banget, sih, gitu aja cemburu. Buat apa coba gaun gini. Padahal cantik banget pas dia pakai, ya sudahlah simpan aja siapa tau dia mau menerima suatu hari nanti." Kaisar masih setia nunggu Helen di parkiran motor, ya walaupun kesel tetap aja gak tega kalau liat dia sedih. Lemah emang, gimana lagi kalau udah terkena virus bucin akut. Ponselnya bergetar ada panggil masuk dari Helen mungkin dia bingung mencari di mana, karena Kaisar gak pamit kalau ke tempat parkir lebih dulu. "Heumm." "Abang di mana?" "Tempat parkir." "Tungguin jangan pergi." Ponsel dimatikan begitu saja oleh Helen setelah tau keberadaan Kaisar gegas langsung menghampiri. Keringat Helen bercucuran ia sampai berlari agar cepat sampai, namun ada kelegaan di hatinya saat melihat Kaisar masih menunggunya. Ia tak boleh buat salah paham, gak mau liat Kaisar ngambek hatinya jadi risau nanti gak bisa fokus ngapa-ngapain dia adalah moodbooster tersendiri dihidupnya. "Ngapain lari-lari." "Takut abang pergi." "Kalau jatuh gimana? Ceroboh." Kaisar menjentik kening Helen pelan. "Ada abang yang ngobatin." "Gak mau." "Jahat." Helen memajukan bibir hingga beberapa senti. "Udah dimaafin belum?" Kaisar mengedikan bahu. "Abang cemburu? Lucu banget kalau lagi ngambek gini, jadi pengen bawa ke KUA." "Ngeledek." "Maaf abang, aku cintanya sama abang gak ada yang lain. Aku harus apa biar percaya?" Kaisar menatap bola mata Helen ada ketulusan di sana membuatnya tak tega. "Bang." "Lain kali jangan gitu lagi, kamu mau gaun itu? Aku bisa beliin satu lusin kalau perlu." Helen hanya menggeleng. "Aku mau abang, aja. Abang... udah dong marahnya." Helen meraih tangan Kaisar menggenggam erat. "Heumm." "Peluk." "Ngelunjak." Tetap saja Kaisar memeluk Helen, setelah bertengkar rasa cintanya terasa semakin besar jadi berlipat-lipat. "Ayo, pulang?" "Ayo." Baru saja akan menaiki jok motor Helen teringat sesuatu ada barangnya yang ketinggalan di kamar hotel. "Abang tunggu bentar. Dompet aku ketinggalan di kamar." "Tuh kan pelupa, dasar. Kalau Mario yang suruh ambil gimana biar gak bolak-balik." Mario, asisten Helen tapi lebih suka dipanggil Merry paling kesel kalau ada yang manggil dia dengan sebutan Mario kaya rada ngondek gitu. "Kayanya mendung, nih. Kita harus cepat sampai rumah." Kaisar menatap langit yang nampak gelap tak ada satu bintang pun yang muncul. Apalagi jarak Bandung dan Jakarta bisa tiga jam kalau macet kalau perjalanan normal dua jam sampai sih. "Mario udah pulang ijin duluan tadi. Mamanya lagi sakit." "Ya udah ayo kita ambil, lain kali jangan teledor lagi." "Iya." Helen dan Kaisar jalan bersisian sambil bergandengan menuju kamar hotel dengan langkah riang ia menekan beberapa nomor lalu pintu terbuka Helen segera memasuki kamar itu disusul Kaisar di belakangnya. Untung kunci kamarnya belum dikembalikan ke pihak hotel masih ada jatah satu hari lagi menginap sebenarnya. Helen pikir akan pulang besok jika Kaisar tidak menjemput, mama dan ayahnya juga sudah tau kalau sedang ada pemotretan di daerah Bandung jadi tak cemas lagi, karena mereka percaya penuh pada Helen bisa menjaga diri baik-baik. Ia sering ditinggal sendiri di rumah jika Bakta sedang sibuk berkampanye ke luar kota bersama Lusi dan sampai sekarang bisa menjaga kepercayaan mereka. Kaisar menatap pemandangan di luar dengan memasukkan tangan ke dalam saku celana, jendela terlihat bergetar terkena angin, begitu juga dengan pohon-pohon bergerak meliuk, daun dan ranting pun berjatuhan tak lama hujan pun turun dengan derasnya membasahi bumi. "Yah kok hujan, sih," ucap Helen tiba-tiba menghampiri Kaisar yang masih setia menatap hujan. "Ketemu dompetnya?" "Udah, ini." Helen menunjukkan dompet berwarna cokelat itu tersenyum hangat. "Gimana kita pulangnya, bang?" "Tunggu rada, yah. Coba bawa mobil pasti gak gini ceritanya." "Gak pa-pa kok yang penting ada abang di samping, aku." "Dasar." Kaisar mengacak rambut Helen, gemas. Tiba-tiba terdengar petir menggelegar membuat Helen panik dan ketakutan, ia langsung berhambur memeluk Kaisar. "It's oke ada aku di sini. Jangan takut lagi. Ayo kita duduk gak baik di depan jendela kalau ada petir gini takut tersambar." Kaisar menggandeng Helen duduk di tepi ranjang mengusap punggungnya memberi ketenangan dan kehangatan. Hawa dingin semakin terasa Helen masih setia memeluk Kaisar makin mengeratkan hingga seperti tak ada sekat salain baju yang mereka kenakan, menenangkan seperti ada yang menjaga dan melindungi. Apalagi saat menghidu tubuh Kaisar aroma maskulin terasa menguar rasanya seperti candu ia memejamkan mata semakin mengeratkan pelukan. Hingga terjatuh di ranjang dan saling menatap tanpa kedip tangan Kaisar terulur menyentuh wajah Helen dan merapikan anak rambut yang berantakan menyampirkan hingga belakang telinga. Ia menatap bibir kemerahan itu mengecup singkat, sekarang sudah tidak kaku lagi udah sering soalnya dengan cepat ia belajar hanya perlu menggerakkan ya begitulah. "Tidur gih, aku jagain." Kaisar berusaha untuk duduk karena posisi mereka membuat jantung jumpalitan Kaisar laki-laki normal bisa khilaf nanti kalau terus seperti ini. "Sini aja." Helen menarik tangan Kaisar hingga terbaring kembali tepat di sampingnya. ''Dingin abang." "Pakai selimut." Kaisar menarik selimut berwarna putih itu menutupi tubuh Helen ia menggosok-gosokkan tangannya lalu menempelkan di pipi Helen yang merona. Gemas, Helen jadi ingi mencium Kaisar. Ia pun mendekatkan wajah hingga tak berjarak lalu menyapa lembut bibir Kaisar gayung pun bersambut, mereka saling membelit mengulum dan mengisap hingga terdengar desahan lembut dari bibir Helen membuat Kaisar semakin terbakar gairah dan bersemangat mengikuti instingnya sebagai pria dewasa. Tanpa sadar tangannya masuk ke dalam bluse yang Helen kenakan berusaha melepas kaitan bra sambil meremas lembut, beralih ke leher jenjang Helen meninggalkan tanda kepemilikan. Logika dan hatinya berperang saat melihat wajah Helen yang terpejam teringat akan nasehat orang tuanya kalau cinta itu dijaga bukan dirusak. Kaisar menghentikan aktivitas panasnya ia mengatur napas duduk di tepi ranjang mengusap kasar wajahnya. Kaisar merasa menjadi pria paling b******k sekali sudah berani menyentuh Helen sejauh ini, harusnya ia lebih bisa menahan diri bukan malah mencari kesempatan. Kaisar menoleh pada Helen yang masih diam terpaku dengan tatapan sayu ada tanda merah di d**a akibat perbuatannya. "Ma-af Helen gak seharusnya aku kaya gini," ucapnya dengan terbata saat melihat penampilan Helen yang kacau dan berantakan bluse yang Helen kenakan sudah setengah terbuka, untuk pertama kali Kaisar melihat penampilan wanita dewasa yang hampir telanjang membuat darahnya berdesir hebat. Kaisar segera menarik selimut untuk menutupi tubuh Helen takut tak bisa menahan diri. "Kenapa bang, apa aku tidak menarik?" ucap Helen dengan bibir gemetar ia menjadi negatif thinking, insecure pada diri sendiri ada rasa kehilangan saat Kaisar berhenti melakukannya membuat kepercayaan dirinya runtuh seketika. Ada rasa terhina yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. "Engga bukan itu kamu menarik sangat menarik sampai-sampai aku gak bisa menahan diri, tapi apa yang kita lakukan ini salah." "Tapi aku mau abang. Ini bukti cinta aku sama kamu." Helen merubah posisi dari berbaring menjadi duduk di pangkuan Kaisar tanpa membetulkan pakaiannya, membuat jakun Kaisar bergerak naik turun hingga susah menelan saliva menatap penampilan indah di depan mata. "Gak Helen, aku percaya sama perasaan cinta kamu gak perlu membuktikan apapun, apalagi sampai seperti ini," kekeh Kaisar. "Aku mau abang, aku cinta sama abang. Abang gak akan pernah kan ninggalin aku kan?" "Selamanya aku cinta sama kamu dan gak akan pernah ninggalin kamu." Jawaban Kaisar membuat Helen tersenyum senang ia kembali mencium Kaisar membantu menanggalkan bajunya satu persatu. Helen semakin berani menyentuh Kaisar dari leher, d**a mengikuti gerak lurusnya membuat Kaisar menggeram darahnya berdesir hebat. Disisa kesadarannya Kaisar masih berusaha menahan diri menggenggam tangan Helen untuk berhenti sebelum bergerak semakin jauh. "Gak ada pengaman Helen, kalau kamu hamil gimana?" "Aku percaya abang pasti akan tanggungjawab kalau ada apa-apa, abang bakal nikahin aku kan?" Tanpa kata Kaisar mengangguk penuh kepastian, mau hamil ataupun enggak Kaisar akan tetap menikahi Helen janjinya pada diri sendiri karena ia sudah salah papa selalu mengajarkan tanggungjawab pada setiap apa yang dilakukan. Secepatnya Kaisar akan menemui Bakta dan Lusi mereka karena mereka melakukan yang tidak seharusnya. Cairan bening keluar dari mata Helen setelah Kaisar berhasil menembus apa yang ia jaga selama ini. Kaisar ingin mencabutnya menghentikan aktivitasnya saat melihat wajah Helen meringis kesakitan. Ia tak ingin menyakiti. Ini pertama kali baginya hanya melakukan sesuai insting saja. "Sakit?" Helen mengangguk dengan keringat bercucuran padahal di luar hujan deras dan pendinginan pun menyala, tetapi rasanya semua itu tak berguna. "Aku gak salah masukin, kan?" Helen terkekeh sambil menahan sakit di inti tubuhnya. Bisa-bisanya Kaisar ngomong seperti itu disaat tegang begini. "Susah ya ternyata gak segampang kelihatannya." "Coba lagi." Mendengar ucapan Helen membuat Kaisar semakin bersemangat, akhirnya berhasil juga setelah Kaisar mencoba beberapa kali, ia pun tumbang setelah menuntaskan semua Kaisar menarik selimut menutupi tubuh polos mereka ia mengeratkan pelukan mencium kening Helen. "Abang janji kan gak akan ninggalin, aku?" Kaisar menggeleng meski ada penyesalan dalam hati ia sudah gagal menjaga kepercayaan orang tua. "Secepatnya aku akan nikahin kamu. Entah hamil atau enggak kita harus menikah."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN