Episode 7

2308 Kata
"Itu abang sama kak Helen lagi ngapain, sih, kok gitu?" gumam Jeslyn duduk di tepi ranjang sambil menyatukan jari jemarinya seperti soang. "Kalau di drakor yang aku tonton namanya, sih, ciuman. Ampun vakum cleanernya kaya oppa Jhi Chang Wook, oh my god. Ihgt gelay amat, iyuh." Jeslyn terus bermonolog jiwa ingin taunya meronta-ronta. Maklum, ya dia masih kelas tiga SMP belum begitu paham dengan sesuatu yang berbau delapan belas plus, sementara Kaisar berdiri di depan pintu kamar Jeslyn ingin mengetuk masih ragu. Bingung, gimana cara menjelaskan pada anak dibawah umur ia hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal tapi malu juga kalau sampai Jeslyn ember cerita ke mama dan papa ke gep gitu. Mau taruh di mana mukanya nanti, ia mengembuskan napas sebelum akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu ingin berbicara dan menjelaskan. Jangan ditanya malunya seperti apa ya walaupun sama adik sendiri tetap aja malu, gak enak hati. Tar kalau adiknya ikut-ikutan gimana, berasa ngasih contoh gak bener. "Jeje, buka pintunya dong? Abang mau ngomong," ucap Kaisar dari balik pintu sambil berusaha mendorong pintu yang ternyata dikunci. Serius Jeslyn masih syok baru pertama kali liat adegan seperti itu secara langsung, tangannya aja masih gemetar dan jantungnya berdetak tak karuan keringat dingin terasa membanjiri sambil menyeka keringat yang membasahi keningnya. Jeslyn menoleh ke arah pintu saat mendengar suara Kaisar, sambil menimbang-nimbang akan membukanya atau tidak. "Je ... buka pintunya, please! Abang janji kamu boleh minta apa, aja deh. Es krim, boba, chat time, boneka, seblak, korean food, terserah." "Dah biasa males," sahutnya dari dalam kamar. "Merchandise BTS." Mata Jeslyn berbinar mendengarnya ia tersenyum menyeringai otak culasnya bekerja. Kapan lagi Kaisar menawarkan seperti ini. Kebetulan dia lagi pengen datang ke konser BTS, udah minta ijin sama papa tapi gak dijinin. Siapa tau kalau ke konser sama abang dijinin, papanya itu posesif banget kemana-mana harus dianterin sama supir atau Kaisar. Padahal pergi sendiri juga berani kok berasa anak kecil aja. "Wah kalau ini bolehlah dibicarakan baik-baik. Hihihi." Mendengar tawarannya yang terakhir membuat Jeslyn tertarik ia pun turun dari ranjang melangkahkan kaki membuka pintu. "Hay, abang boleh masuk?" Hanya decakan yang keluar dari bibir Jeslyn sambil meliput tangan di depan d**a. "Biasanya juga langsung masuk." "Iya sih." Kaisar berasa salah tingkah biasanya mah merasa sok berkuasa mentang-mentang anak pertama, suka membully pula ia menoleh ke kiri dan ke kanan mengantisipasi keadaan takut ada yang mendengar pembicaraan mereka. Setelah merasa aman Kaisar pun langsung masuk duduk di tepi ranjang. "Duduk sini, abang mau ngomong." Kaisar menepuk sisi ranjang yang kosong. "Apa?" Jeslyn duduk di sebelah Kaisar sambil menggoyang-goyangkan kakinya yang menggantung. "Ehmm soal tadi jangan bilang siapa-siapa, ya." "Gak mau, aku mau kasih tau mama sama papa. Abang gitu sama kak Helen." "Heh jangan." "Biarin," sahutnya cuek. "Abang ngapain, sih, gitu-gitu emang gak geli, emang gak takut kan ciu ... itu." Mata Kaisar membulat sempurna mendengar ucapan Jeslyn yang tak disaring ia langsung membungkam bibirnya dengan tangan, serius deh nih anak kalau ngomong udah kaya petasan banting gak ada berhentinya, titik, koma diterabas aja. Jeslyn terus meronta ingin dilepas. "Jangan kenceng-kenceng ngomongnya," bisik Kaisar mulai panik. "Abang lepasin kalau, kamu ngomongnya gak kenceng lagi." Jeslyn mengangguk setuju, akhirnya ia bisa bernapas setelah Kaisar melepas tangannya dari bibir Jeslyn. "Huh akhirnya bisa bernapas lega. Abang, udah kaya penculik aja pakai acara dibungkam segala," decak Jeslyn dengan bibir mengerucut beberapa senti. "Lagian kamu ngomong udah kaya toa masjid kenceng banget, kalau didengar yang lain kan gimana?" "Makanya Abang jangan gitu, ngapain gitu-gitu segala .... " "Anak kecil mana paham, udah ahgt jangan bahas itu. Nanti kamu juga paham sendiri kalau udah gede, makanya kamu nonton Upin Ipan aja sama Marsha In teh Bear. Udah kita kembali ke BTS aja," potong Kaisar cepat sebelum omongan Jeslyn melebar kemana-mana. "Ahgt iya BTS." Mengingat BTS membuat mata Jeslyn berbinar dan tersenyum lebar apalagi sebentar lagi akan ada konser di Indonesia entah bulan apa yang jelas ikut masuk ke dalam list tour konser mereka. Ia harus memanfaatkan keadaan agar bisa datang ke konser itu kalau sama Abang pasti diijin sama papa. "Oke, aku gak akan bilang ke mama sama papa tapi ada syaratnya." "Apa syaratnya?" "Temenin aku dan beliin tiket konser BTS." "Ck. Pasti deh ujung-ujungnya gak jauh-jauh dari BTS." "Biarin, tadi kan Abang sendiri yang nawarin wle...." Jeslyn menjulurkan lidah meledek bikin Kaisar makin depresot aja menghadapi adik satu-satunya. "Kalau gak mau, gak pa-pa kok, bang. Paling aku aduin aja sama papa." "Dih sama aja gak asyik banget, sih ngancem gitu. Bangkrut abang nanti diporotin gini." "Bangkrut apaan cuma minta gitu dong, abang juga dikasih kartu kredit sama papa. Tar kalau habis tinggal minta lagi." "Gak semudah itu Emeralda. Ayo, dong kerja samanya kita kan kaka adik yang kompak." "Gak mau." "Duh punya adek satu, gini amat ya. Mama nyidam apa, sih dulu heran." "Di dunia ini gak ada yang gratis, man," Jeslyn terkekeh melihat wajah Kaisar yang ditekuk. "Gimana abang, deal?" Jeslyn menaik turunkan alisnya menatap Kaisar yang hanya bisa garuk-garuk kepala. "Matre banget, sih, sama kakak sendiri juga." "Kalau gak mau ya udah Jeje juga gak maksa kok. Papa ... Abang sama kak Helen. " Kaisar mengikuti arah pandang Jeslyn benar saja ada Samudra yang melintas baru pulang kerja. Samudra melangkahkan kaki memasuki kamar Jeslyn sambil melepas jas berwarna hitam itu dan meletakkan di kursi. Kaisar merutuk dalam hati bisa-bisanya lupa menutup pintu kira-kira papanya dengar gak; ya apa yang baru saja dibicarakan mendadak jantungnya tak aman takut diomelin. "Kenapa, Je? Abang sama Helen kenapa?" tanya Samudra penasaran berdiri di hadapan mereka menatap bergantian Jeslyn dan Kaisar yang sedang sibuk saling sikut. "Itu, pa, abang mau ngajak Jeslyn ke konser BTS sama Helen. Mau nonton rame-rame biar seru. Boleh kan, pa?" sela Kaisar cepat takut Jeslyn ember, bener-bener ini anak ancaman. Untung adek sendiri kalau bukan tenggelemin deh di sungai sss. "Bener gitu, Je?" tanya Samudra memastikan. Jeslyn mengangguk penuh keyakinan matanya berbinar penuh kecerian. "Iya, pa, aku mau diajak nonton konser BTS sama abang boleh kan?" "Yakin, Kai mau nonton BTS? Kamu kan gak suka." Kini pandangan Samudra teralih pada Kaisar yang terlihat gusar, gini amat ya rasanya menyembunyikan sesuatu. Gak ada bakat bohong emang. "Iya pa demi adik aku satu-satunya yang kyopta dan kyowo. Apapun abang lakuin demi Jeje asalkan bahagia." Tak ingin melewatkan kesempatan Kaisar mencubit pipi Jeslyn sedikit kenceng, modus terselebung untuk menjahili. "Sakit, abang. Nyubitnya gak kira-kira, nih," keluh Jeslyn mengusap pipinya yang terasa panas. "Masa sih sakit? Orang pelan gini, kok. Abang kan sayang sama Jeje." Kali ini Kaisar mengusap pipi Jeslyn penuh kelembutan. Ia hanya memutar bola mata malas. ''Papa boleh kan pergi ke konser BTS?" Jeslyn menarik-narik tangan Samudra memohon agar di beri ijin, karena dari tadi papanya diam aja. Udah lama banget Jeslyn ingin nonton konser BTS secara langsung. Bener-bener ya papanya itu posesif sekali, gak bakal ngijinin pergi kalo gak sama Kaisar atau sama mamanya atau supir yang mendampingi. Nyebelin banget gak, sih. Emang burung apa dikurung terus, Samudra tampak termenung memikirkan keputusan ia menatap lekat anak perempuannya. "Ayolah, pa, please. Kali ini aja kan ada Abang yang jagain." Bukan apa-apa Samudra khawatir, aja dengan pergaulan anak jaman sekarang. Apalagi dia anak perempuan dikeluarga satu-satunya kalau sampai terjebak pergaulan bebas gimana. Apalagi saat mengingat masa mudanya yang pernah kebelabasan meski semua hanya masa lalu dan sekarang sudah berubah, tapi tetap saja rasa cemas masih membayangi takut sesuatu yang buruk terjadi pada anak-anaknya. "Ada apa ini kok tumben rame-rame, ngumpul di sini?" tanya Cristal ikut bergabung dengan anak-anak dan suaminya. "Mama bantu, aku bujuk papa. Aku mau ke konser BTS bareng abang, ijinin ya ma," rengek Jeslyn. "Emang anak dibawah umur boleh datang ke sana?" "Boleh kalau ada orang dewasa yang damping." "Emang abang mau nemenin?" "Mau kok." "Beneran bang mau?" tanya Cristal memastikan sekali lagi yang ditanggapi dengan anggukan kepala oleh Kaisar. "Emang udah boleh ngadain konser kan lagi ada covid?" imbuh Cristal. "Udah diijinin sama pemerintah yang penting udah vaksin dan punya kartu BPJS," sambung Jeslyn penuh antusias. "Ya ampun paham banget, kamu," jawab Cristal tersenyum hangat seraya menangkup wajah Jeslyn. "Bantu ngomong dong, ma ke papa biar diijinin," rengeknya. "Mas ijinin, ya ada abang ini yang jagain," ucap Cristal pada Samudra yang masih bergeming. Samudra menghembus napas memandang bergantian Kaisar dan Jeslyn yang menatapnya penuh harap. "Ya udah boleh, tapi gak boleh jauh-jauh dari abang. Beli tiketnya vvip." "Yeay akhirnya nonton konser hip-hip hura ... makasih pa, makasih ma, lala, yeyeye Jeon Jungkook i'm cooming." Jeslyn berlonjak kegirangan di atas kasus membuat mereka menggelengkan kepala gitu tuh kalau keinginannya kesampean aura bahagianya terpancar nyata. Diam-diam Kaisar menghembus napas lega untung saja gak terbongkar "Ya udah kalau gitu mandi gih, mas. Dah aku siapin air hangat," tawar Cristal pada Samudra. "Ayo, bantu aku gosok punggung." "Apaan sih, mas ada anak-anak juga." Cristal mencubit pinggang Samudra hingga mengaduh lalu keluar dari kamar Jeslyn beriringan. Jeslyn dan Kaisar saling tatap memerhatikan tingkah orang tuanya yang selalu romantis. Bikin ngiri aja. . Terdengar gaduh di rumah Helen rupanya Surya nekat datang kesana memaksa Helen untuk menerima perjodohan itu dan ingin membawanya pergi ke Surabaya. "Pokoknya kamu harus ikut sama papa." Surya menarik-narik lengan Helen hingga merasakan sakit di pergelangan tangannya. "Aku gak mau pa." "Terserah kamu setuju atau engga, papa gak peduli. Papa tetap akan bawa kamu ke Surabaya," ucap Surya dengan sorot mata tajam. "Kalau papa terus memaksa, aku bakal teriak biar papa dihakimi masa." "Coba saja kalau berani, papa yakin gak akan ada yang menolong kamu. Semua orang tau kamu anak papa, kamu yang akan dicap sebagai anak durhaka karena sudah berani melawan orang tua." Mata Helen terlihat berkaca-kaca tak tau harus apa, Lusi sedang pergi berbelanja sedangkan Bakta baru berangkat ke kantor. Helen tak tau harus meminta tolong pada siapa? Suasana sangat sepi sekali tak ada seorang pun yang melintas. "Papa kenapa, sih, selalu egois, papa jahat. Lepas, pa, tolong," teriak Helen meminta tolong saat Surya berusaha menariknya memaksa masuk mobil. "Terserah kamu mau ngomong apa, papa gak peduli," sinisnya. "Tolong lepas, pa!" pekiknya Kekuatan Helen tak sebanding dengan Surya, ia berhasil memaksa Helen masuk ke dalam mobilnya lalu Surya menyusul masuk ke dalam menutup pintu dengan kencang. Baru saja akan tancap gas tiba-tiba mobil Bakta datang menghalangi jalannya dan memaksa Surya turun dari mobil. Mau tidak mau Surya pun turun saat Bakta terus memaksa bahkan berusaha membuka pintunya secara paksa dengan cara menggedor kaca jendela. Kebetulan ada dokumen Bakta yang ketinggalan jadi ia memutuskan untuk pulang mumpung belum jauh dari rumah, Eh, malah lihat Helen diseret-seret oleh Surya. "Sial! Kenapa harus datang sekarang, sih." Surya memukul stir kemudi lalu menoleh menatap tajam pada Helen. "Jangan berani keluar atau kamu tau akibatnya." ''Turun kamu, Surya hadapi saya. Mau bawa ke mana Helen?" geram Bakta dengan sikap Surya yang tiba-tiba datang dalam kehidupannya setelah sekian lama aman dan damai. "Pinggirin mobil kamu," berang Surya setelah keluar dari mobil ia menatap nyalang pada Bakta dengan rahang mengetat. "Tidak akan! Mau dibawa kemana, Helen?" "Bukan urusan kamu." "Jelas itu urusan saya, Helen anak aku sekarang." "Hanya ayah tiri," sindirnya. "Lebih baik ayah tiri dari pada orang tua yang tidak bertanggung jawab. Cepat pergi dari sini sebelum saya lapor polisi," ancam Bakta dengan gigi bergemelatuk dan menunjuk dengan jari telunjuk. "Saya tidak akan pergi sebelum Helen ikut dengan saya." "Langkahi dulu mayat saya." Tiba-tiba Surya mencengkram kerah Bakta dan melayangkan satu pukulan, Bakta yang tak siap terkesip terhuyung merasakan nyeri pada rahangnya lalu ia menegakkan tubuhnya membalas Surya. Helen yang melihat kejadian itu berusaha keluar dari mobil berteriak minta tolong. Kaisar yang tidak sengaja melintas langsung datang menghampiri saat mendengar keributan itu, ia memarkirkan motornya sembarang membantu Helen keluar dari mobil. "Kamu gak pa-pa?" tanya Kaisar cemas lalu memeluk sejenak hingga membuatnya merasa tenang, lalu menyembunyikan Helen dibalik punggungnya. Tanganya terlihat gemetar dan ingin menangis kenapa punya papa setega itu, tega mengorbankan anaknya demi kepentingan pribadi. "Kai tolong lapor polisi,'' ucap Bakta setelah berhasil mengunci pergerakan Surya. " Dia harus dipenjara karena sudah berani mengusik kenyamanan keluarga saya." "Baik, Om." "Ayah jangan lapor polisi. Tolong bebasin papa Surya, Helen gak mau papa dicap sebagai seorang narapidana," mohon Helen tak tega bagaimana pun Surya adalah papanya anak mana yang tega melihat orang tuanya di penjara. Nanti bagaimana nasib keluarganya yang sedang kesusahan telilit hutang. Melihat Helen yang terlihat sedih membuat Bakta tak tega, ia mendengkus kesal. Bisa-bisanya meminta Surya dilepaskan gitu aja padahal sudah jelas sering berbuat jahat pada Lusi dan Helen. "Yah, Helen mohon." "Baik kali ini, Ayah lepaskan demi kamu tapi kalau sampai Ayah tau orang ini berniat macam-macam dia akan tau akibatnya. Jangan harap akan lolos dengan mudah!" ancam Bakta seraya melepaskan Surya lalu mendorongnya hingga tersungkur ke tanah. "Pergi anda dari sini dan jangan pernah menampakkan batang hidung anda di hadapan kami lagi atau tau akibatnya. paham!" Surya mengusap rahangnya yang berdarah mendengar ancaman Bakta membuat ia bergidik ngeri, belum lagi Helen yang masih berusaha membelanya meski kerap berlaku jahat, ia tak menyangka Helen masih mencemaskannya padahal sering berbuat jahat dulu bahkan tega mengusirnya dari rumah. Surya pun akhirnya mengalah meninggalkan mereka dengan hati berkecamuk dan pening memikirkan nasib perusahaannya yang diambang kehancuran. Ia akan mencoba mencari jalan lain siapa tau bisa dapat pinjaman uang melunasi hutang-hutangnya. "Helen, kamu gak pa-pa?" tanya Bakta camas saat melihat pipi Helen yang memerah ada bekas tamparan di wajahnya. "Keterlaluan sekali Surya memperlakukan kamu seperti ini. Papa macam apa dia tega berbuat kasar begini pada anaknya. Kenapa, sih, kamu masih belain dia, manusia gak tau diri itu. Harusnya kamu biarkan saja membusuk dipenjara," geram Bakta menggebu. "Helen gak pa-pa, yah cuma luka ringan kok. Ayah sendiri juga memar. Ayo, yah, Helen obati." "Gak usah biar Ayah obati lukanya sendiri. Kamu kompres aja pipi kamu yang memar itu Ayah masuk dulu, ya. Ajak Kaisar masuk." "Ayo, Bang masuk." Kaisar bergeming menatap wajah Helen yang terlihat sendu sudut bibirnya terlihat robek sampai panggilan ke dua barulah Kaisar sadar dari lamunannya "Ahgt iya, ayo."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN