Episode 6

1492 Kata
"Selamat siang anak-anak," sapa Pak Joko dosen yang mengampuh mata kuliah ekonomi ia berjalan menuju kursinya berdiri tegap di samping meja. Para mahasiswa yang asyik dengan aktivitas masing-masing kembali ke tempat duduk setelah mendengar suara baritonnya yang menggelegar. Gak usah dibayangin wajah pak Joko seperti apa yang jelas sudah tua, beda gak kaya dosen-dosen dalam novel yang sering jadi rebutan para mahasiswa mungkin bentar lagi pensiun, tapi tetap kiler, galak gak ada obat. "Oke, hari ini kuis ya?" Suara para mahasiswa bergemuruh mengisi penjuru ruang, gak siap dapat kuis dadakan. ''Ish nyebelin banget nie dosen. Datang-datang ngasih kuis," oceha Melda teman satu kelas Helen. "Heh, anteng banget sih nyontek ya?" "Dih, nyontek beda soal. Makanya belajarlah jangan pacaran mulu." "Pusing kuliah nikah enak kali," ucap Melda dengan suara kencang membuat anak-anak menertawakan ucapannya. "Heran aku tuh orang pusing bukannya minum obat, malah pengen nikah," seloroh iwan yang duduk di depannya. "Kalau aku pusing mah pengennya kaya biar banyak duit, biar bisa healing." "Bawel deh, suka-suka aku lah mau nikah kek, apa kek kok situ yang ribet." "Iwan, Melda kalau kalian masih mau ribut pintu keluar terbuka lebar," sindir Pak Joko. "Jangan salahkan Bapak kalau kalian dapat nilai E." "Jangan dong, pak bisa-bisa jadi mahasiswa abadi nanti," sanggah Iwan tak terima. "Oke kuis kita mulai, siapa yang protes silahkan keluar." Kelas pun mendadak hening serem juga denger ancaman pak Joko daripada dapat nilai E mending nurut aja. Meski dalam hati kesel salah sendiri juga, sih belajar selalu pakai SKS sistem kebut semalam ada kuis mendadak kelimpungan. "Waktu kalian tiga puluh menit, selesai gak selesai harap dikumpulkan." Kelas mendadak riuh kembali para mahasiswa protes mendengar ucapan pak Joko yang tidak manusiawi, gila soal lima puluh dikasih waktu tiga puluh menit yang bener aja emang otak seencer Albert Einstein apa. "Semakin banyak protes waktu kalian akan semakin berkurang." Suasana mendadak hening fokus pada kuis masing-masing entah jawabannya bener atau engga yang penting kerjain aja dulu, siapa tau dapat nilai kompensasi waktu begitu lambat berjalan sibuk mencari contekan, tapi jangan panggil pak Joko jika tidak mengetahui aksi curang mereka. "Ketahuan dapat dinilai E." Para mahasiswa hanya bisa mendesah mendengar ucapannya pura-pura sibuk mencari jawaban padahal dalam hati ketar-ketir. Akhirnya mata kuliah pak Joko berakhir juga mereka menghembuskan napas lega Melda dan Helen memutuskan keluar dari kelas menuju kantin. "Lapar," keluh Melda sambil mengusap perutnya yang keroncongan. "Serius, ya, pak Joko bikin imun tubuh turun aja datang-datang ngasih kuis mana soal susah pula. Udah kaya ujian hidup." Helen hanya terkekeh geli melihat Melda yang terus mengomel. "Ini lagi ketawa mulu seneng ya liat orang susah." "Gak gitu, habis kamu ngoceh mulu-mulu kaya burung beo." "Dih nyebelin.'' Bibir Melda mengerucut hingga beberapa senti, lalu menyenggol bahu Helen saat melihat Kaisar berjalan menghampiri. ''Hubungan kalian gimana, sih, sebenarnya?" "Kepo." "Ya iyalah, habis gak jelas gitu." "Jelas kok." "Jelasin kalau gitu." "Ada deh." "Gitu ya main rahasia-rahasiaan sama aku sekarang." Helen mengedikan bahu lalu melambaikan tangan pada Kaisar tersenyum ceria. "Udah selesai kuliahnya?" tanya Kaisar saat berdiri berhadapan. "Udah." "Terus habis ini mau kemana?" "Kantin dulu, Bang. Gak pa-pa kan? Ada yang kelaparan soalnya. Helen melirik pada Melda. "Abang gimana udah selesai?" "Free, dosennya gak ada. Ya udah ke kantin dulu aja takut anak orang meninggoy." "Astaga jelek banget ngomongnya. Gak aku kasih restu sama Helen kalau gitu," sungut Melda kesal. "Restu temen sama kaya restu orang tua liat, aja, gak bakal beres kalau temennya gak kasih restu." "Canda elah, aku traktir deh." "Dari tadi kek, suka banget bikin anak orang kesel. Gak tau apa dari tadi lagi emosi jiwa! Beneran, ya, Bang traktir?" tanya Melda memastikan. "Heumm." "Oke kalau gitu, aku restuin." "Ck. Emang kamu mamanya." "Serah yang penting aku makan. Udah ahgt, aku jalan duluan berasa obat nyamuk di sini bikin jiwa jomlo meronta-ronta." "Baru putus beberapa hari dah kaya cacing kepanasan Mel," imbuh Helen. "Pantang bagi Melda buat jomlo, tenang aja aku udah dapat target baru. Pepet dikit kena deh," ucap Melda penuh rasa percaya diri sambil mengibaskan rambut lurus berwarna coklat itu yang dibiarkan terurai Helen dan Kaisar hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan Melda. Ia memang terkenal playgirl, tapi soal berteman ia adalah salah satu teman dan pendengar yang baik. "Kamu jangan ikutan-ikutan kaya dia ya." "Gak dong, aku cuma punya abang seorang." Kaisar mencubit pipi Helen, gemas. "Bagus." . Sore hari. Rumah nampak sepi, Kaisar yang baru saja pulang mengerjakan tugas mengedarkan pandangan mencari keberadaan Jeslyn ada yang kurang rasanya kalau sehari belum ketemu dan menggoda dia, biasanya sore begini Jeslyn lagi nyiram bunga kalau enggak nonton drakor di kamarnya. Kaisar berderap menuju kamarnya yang ternyata kosong. "Kemana itu anak?" Kaisar menutup kembali pintu kamar Jeslyn, bingung kemana lagi nyari adek satu-satunya itu. Kaisar merasa kerongkongannya kering sekali, ia pun memutuskan untuk ke dapur berderap menuruni anak tangga mengambil air dari dalam botol yang di letakan di kulkas lalu menuangkannya ke dalam gelas meminumnya hingga tandas. "Bik Jeje ke mana? Kok sepi," tanya Kaisar pada Bik Ida yang kebetulan melintas. "Oh Mbak Jeslyn. Ada di rumah Mbak Helen, mas tadi bilang mau main ke rumah sebelah katanya mau nonton drakor sama Mbak Helen." Kaisar pun mengangguk sebagai tanggapan sudut bibirnya tertarik ke atas. Alis Bik Ide berkerut menatap Kaisar dengan sorot mata penuh tanya lalu menggelengkan kepala. "Mas Kaisar aneh senyum-senyum sendiri," gumam Bik Ida yang memperhatikannya sejak tadi hingga Kaisar menghilang dibalik pintu utama. Kaisar langsung duduk di sofa begitu dipersilahkan masuk oleh tuan rumah, sudah biasa jadi gak canggung lagi ia mengedarkan pandangan mencari keberadaan Jeslyn. "Jeje mana, Len?" "Gak ada, Bang dari tadi aku sendirian di rumah." "Lah gimana, sih, tuh anak. Kata Bik Ida main ke sini kok malah gak ada terus dia ke mana dong." "Coba chat atau telepon Bang." "Ahgt iya bener juga, sampai lupa gak kepikiran." "Khawatir ya?" "Iya, walaupun nyebelin dia adek aku satu-satunya tanpa dia hidupku sepi gak ada yang bisa diajak gelud." "Abang bisa aja." "Bentar, ya telepon Jeje dulu. Mastiin keberadaannya kalau ilang repot gak ada gantinya." Helen pun terkekeh mendengar ucapan Kaisar. Ia merogoh ponsel yang berada di saku celana mendial nomor telepon Jeslyn tak lama sambung pun terhubung terdengar suara cempreng di ujung sana. "Di mana Je? Katanya di tempat Helen kok gak ada." "Di mini market." "Heh. Kok bisa nyasar ke sana. Ngapain?" "Beli es krim sama cemilan." "Lah bilangnya ke rumah sebelah gimana, sih." "Cemilan aku habis, gak ada stok buat nonton drakor nanti. Gak jadi ke tempat kak Helen." "Gimana sih, plin plan. Langsung pulang gak boleh mampir-mampir. Ijinnya ke mana perginya ke mana? Sama siapa?" "Sama supir .... " Kaisar langsung menutup sambung telepon begitu saja setelah memastikan keberadaan Jeslyn lalu meletakkan ponselnya di meja menyandarkan punggungnya pada sofa. "Ketemu? Di mana, bang?" tanya Helen tak kalah cemas. "Di minimarket." "Seneng, ya punya kakak kaya abang perhatian banget. Jadi, ngiri." "Ngapain ngiri kan, udah punya kamu sekarang. Kalau kita kakak adek gak bisa pacaran paling benar emang begini." "Aku juga gak bakal ada rasa, bang kalau kita kaka adek." "Kakak ketemu gede." "Gak ada istilah kaya gitu, pasti salah satu punya perasaan." "Untung kita gak kaya gitu, bisa-bisa terjebak friendzone." "Heumm ... aku ambil minum dulu, abang mau minum apa?" "Apa aja yang ada keluarin." "Ck. Rampok ya?" "Rampok hati kamu eak ...." "Gombal." Helen pun beranjak dari duduknya pergi ke dapur mengambil minuman dan cemilan. "Minum bang, serius banget nontonnya seru emang," ucap Helen duduk di samping Kaisar sambil meletakkan nampan di meja. "Ehmm ... biasa aja," jawab Kaisar sedikit gugup setelah menonton tayang di televisi. "Ganti aja kalau gak suka." "Kamu kalau mau nonton ini gak pa-pa, kok. Aku ngikut kamu aja yang penting ada kamu di samping aku udah lebih dari cukup." "Dih pinter gombal sekarang. Siapa yang ngajarin." "Gak ada. Emang dari dulu gini, kamu aja gak peka." "Iya deh. Ya udah lanjut nonton lagi tar debat mulu kita yang ada." "Oke. Jadwal pemotretan lagi kapan?" "Lusa." Kaisar pun tak banyak bertanya fokus pada layar televisi, Helen pun ikut menonton duduk di sampingnya. Kaisar meraih tangan Helen menggenggamnya erat menghantarkan kehangatan dan debar halus dalam d**a. Tayang film berganti skan romantis membuat mereka saling menoleh bahkan kening mereka saling berbenturan. "Aduh," ringis Helen. "Sakit?" tanya Kaisar saat Helen menyentuh keningnya dengan tangan. "Engga kok." "Mana liat?" Helen menurunkan tangannya berganti Kaisar meniup kening Helen. "Gimana sembuh belum sekarang?" "Udah," jawab Helen tersenyum tipis perlakuan manis Kaisar membuat wajah Helen merona. Jarak yang terlampau dekat membuat napas mereka saling beradu aroma mint terasa menguar dari bibir Kaisar apalagi saat ini ia memakan permen. Entah siapa yang memulai semua terjadi begitu saja bibir mereka saling menyatu dan membelit sampai suara Jeslyn menyudahi aktivitas mereka. "Oh my god, mama, papa tolong mata polos aku tercemar," pekik Jeslyn saat berdiri di ambang pintu buru-buru ia pulang ke rumahnya habis bingung mau ngapain, syok. Liat adegan live Abang dan Helen. "Abang gawat Jeje liat," ucap Helen gugup. "Bentar, ya, aku kejar Jeje dulu." Kaisar beranjak dari duduknya mengejar Jeslyn.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN