Kaisar menutup pintu kamar berdiri di baliknya dengan tersenyum lebar, tangannya terangkat menyentuh bibir yang terasa kebas, manis dan hangatnya bibir Helen masih terasa menempel ia berderap ke arah cermin seraya melempar asal tasnya ingin melihat bibirnya yang terasa bengkak.
"Duh, b**o banget sih. Payah," keluh Kaisar seraya menampar pelan bibirnya sendiri saat mengingat momen ciumannya tadi. "Mau taruh di mana mukaku gak berkesan banget, gak pro, first kiss pula. Huh ... masa iya aku harus nyari tutorialnya. Tapi, gak ada salahnya sih. Kali, gitu ya jadi pintar gak malu-maluin."
Kaisar meloncat ke arah ranjang sambil tengkurap ia merogoh ponsel di saku celana lalu jari jemarinya bergerak lincah di atas layar mencari tutorial cara berciuman, bahkan sampai menonton youtube maklum baru pertama kali pacaran gak ada sama sekali pengalaman, apalagi skin ship lawan jenis gitu. Ya, walaupun pernah nonton di televisi, video dan drama Korea yang gak sengaja ia lihat tapi rasanya tetap aja beda. Deg-degan gimana gitu, bikin jantung jumpalitan.
Pantes aja Andi suka cerita rasanya enak dan bikin penasaran. Sialan memang teman gak ada akhlak sukanya pamer keuwoan, untung Kaisar udah gak jomlo jadi gak ngiri sekarang. Kaisar menyugar rambut dari depan kebelakang, makin gelisah nonton video begini ia pun menutup ponselnya sebelum otaknya semakin tercemar dipikir-pikir ngapain amat nonton video gitu unfaedah. Emang dia pacaran buat owo-owoan apa? Engga, Kaisar sayang dan tulus sama Helen bukan napsu. Ingat banget pesan papa dan mamanya kalau cinta itu dijaga bukan dirusak. Apalagi sampai melebihi batas bisa habis dia, ingat karma punya adek perempuan kalau sampai kena Jeslyn gimana? Gak kebayang gimana hancur dan sedih perasaannya mencoreng nama baik keluarga. Ia meletakkan ponselnya di samping bantal kembali senyum-senyum sendiri sambil menatap plafon kamarnya dengan menjadikan tangan sebagai bantalan.
"Ahgt, sepertinya aku dah gak waras senyum-senyum sendiri gini. Tau gitu kenapa gak dari dulu aja dipacarin, untung aja belum terlambat kalau sampai dia dipacarin orang gimana. Sakit hati abang sebelum mekar, huh.... "
Helen keluar dari kamar mandi bertepatan dengan bunyi ponselnya yang berbunyi nyaring melangkahkan kaki meraih ponselnya yang tergeletak di meja rias, ia pikir Kaisar tapi ternyata dugaannya salah tertera id calling Surya memanggil dari tadi papanya terus menghubungi bahkan mengirim pesan untuk menyetujui perjodohan yang direncanakan, beserta ancaman agar menurut pada keinginannya.
Helen sama sekali tak berniat untuk mengangkatnya mendiamkan sampai suara itu berhenti sendiri, lagi-lagi ponselnya berbunyi ia pun menekan tombol reject agar tak mendengar suara itu lagi. Engga ngerti kenapa harus dia yang dijodohkan? Kenapa gak Elina aja sodara tirinya. Helen memutuskan keluar kamar untuk makan malam. Ayah Bakta dan mamanya sudah menunggu di bawah.
"Akhirnya turun juga, baru mau mama susulin," ucap Lusi pada Helen yang sedang menarik kursi lalu duduk.
"Mandi dulu, ma."
"Pantes lama."
Lusi mengambil nasi dan lauk untuk Bakta, hanya saat makan malam dan sarapan pagi mereka bisa berkumpul itu pun gak pasti. Helen hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa minat, ada kekhawatiran tersendiri takut Surya nekat melancarkan niatnya.
"Helen, kamu kenapa kok diam aja?" tegur Bakta-Ayah tirinya.
Helen mengangkat wajah menoleh ke arahnya memaksa tersenyum agar mereka tidak cemas. Ia bersyukur memiliki ayah tiri yang baik dan perhatian meski jarang ada waktu di rumah bahkan terkadang harus berpergian keluar negeri dan pelosok daerah untuk menjalankan tugas negara dan Helen mendengar juga katanya sang ayah akan mengajukan diri sebagai anggota DPR pasti kesibukannya akan semakin padat. Berkampanye kesana kemari mengambil hati rakyat dan segudang kesibukan lainnya, tapi bagi Helen mereka meluangkan waktu disela kesibukan berkumpul seperti ini baginya sudah lebih dari cukup setidaknya Bakta memperlakukan Lusi dengan baik tak pernah banyak menuntut.
"Eh, gak pa-pa yah.
"Kalau gitu habiskan makannya." Helen pun mengangguk dan melanjutkan sesi makannya meski tak berselera. "Kalau ada sesuatu cerita sama Ayah atau mama siapa tau bisa bantu, jangan dipendam sendiri."
Helen mengangguk sebagai tanggapan, bukan gak mau cerita tapi takut hubungan Ayah dan Mamanya jadi tidak harmonis, takut mama trauma bertemu Surya. Lebih baik ia pendem sendiri aja selama bisa menghadapi sendiri.
.
Pagi-pagi sekali Kaisar sudah bangun, bahkan bersiap berangkat ke kampus ia berdiri di depan cermin sambil menyisir rambut dan bernyanyi kecil. Hidupnya terasa lebih berwarna sekarang gak monoton lagi semenjak berpacaran dengan Helen ada saja hal seru yang kerap mereka lakukan bersama, tapi ya gitu harus menguatkan hati saat Helen menjalani pemotretan apalagi jika harus melihat pose sesi berpasangan dengan lawan jenis ingin sekali melarang. Tapi takut dikira mengekang dan posesif tak mendukung karirnya. Serba salah memang ia kadang gak percaya diri dengan dirinya, bayangkan saja model-model prianya memiliki tinggi semampai belum lagi bentuk badan mereka yang jelas terjaga dan terbentuk. Gak menutup kemungkinan bisa tergoda kan apalagi jika kerap bertemu hampir tiap hari. Kaisar menuruni tangga membuat Cristal dan Jeslyn heran tumben banget jam segini udah rapih, biasanya harus dibangunin dulu baru bangun.
"Ma, Abang makan di kampus aja ya."
"Kenapa gak makan bareng?" jawab Cristal.
"Abang buru-buru, ma. Ada kuliah pagi dosennya kiler."
"Kalau bawa bekel gimana?"
"Dih kaya anak TK aja, malu ma tar diketawain temen-temen."
"Pokoknya mama bawain bekel, tar kamu lupa lagi gak sarapan."
Pasrah. Gak tega Kaisar kalau bikin mamanya sedih, bersyukur harusnya tiap hari dimasakin dan diperhatikan disela kesibukannya yang masih mampu mengurus keluarga kecil dan bisnisnya. Heran Kaisar sama mamanya masih aja sibuk kerja emang uang dari papa masih kurang apa sampai tetap kerja gini. Ya, walaupun usaha sendiri bisa berangkat jam berapa aja ia mau, gak ada yang melarang dan ngomelin juga tapi tetap aja harus pinter-pinter bagi waktu. Belum lagi kalau ketemu klien yang ribet mau gak mau Cristal harus turun tangan.
Baru-baru ini Kaisar mendengar jika mamanya ingin membuka toko perhiasan dan mendisain sendiri pula, nambah-nambah kerjaan aja. Padahal usaha EO nya aja sudah banyak dikenal orang. Kalau dilarang papa pasti jawabannya bingung ngapain di rumah anak udah gede-gede soalnya. Mau nambah lagi gak mau, sebagai warganegara yang baik ia mematuhi aturan pemerintah yaitu cukup keluarga berencana aja dua anak cukup. Mau tidak mau Samudra mengijinkan asal tetap menomer satukan keluarga dan bisa membagi waktu ia gak mau anak-anaknya kurang kasih sayang.
Cristal beranjak dari duduknya mengambil kotak tupperware ke dapur. Mata Jeslyn menyipit menatap Kaisar yang kini masih berdiri di samping meja makan.
"Mencurigakan."
''Apaan, sih, gak percaya? Ayo, ikut abang ke kampus kalau gitu."
"Gak biasanya aja gitu udah rapih. Jangan-jangan .... "
"Anak kecil tau apa, sih." Jeslyn hanya mengedihkan bahu menyuapkan roti bakar ke dalam mulut berlapis selai kacang. Tangan Kaisar mengacak rambut Jeslyn, gemas.
"Abang," jerit Jeslyn kesal rambut yang sudah disisir rapih kini menjadi berantakan.
"Ehmm ...." Suara batuk Samudra membuat mereka terdiam melirik sekilas pada Samudra. "Abang, Jeje udah gede masih pada berantem aja," tegur Samudra yang sedari tadi diam menyimak obrolan mereka.
"Maaf pa," ringis mereka berdua bersamaan tak ingin melewatkan kesempatan Jeslyn menginjak kaki Kaisar membuatnya melotot tajam.
"Lama-lama mama kirim juga kalian ke Wakanda kalau berantem terus biar tau rasa," sela Cristal yang baru saja kembali dari dapur dengan membawa kotak tupperware.
"Jangan," jawab mereka serempak.
"Tuh kan kompak, jawabannya bisa barengan gitu." Kaisar dan Jeslyn saling melempar pandangan dengan aura permusuhan lalu saling membuang muka.
"Ya udah, Kai berangkat dulu kalau gitu, ma," ujar Kaisar sambil memasukkan kotak bekal ke dalam tas tak lupa menjabat tangan Cristal dan Samudra.
"Kok sama aku engga, Bang."
"Gak usah kamu masih bocil."
"Ish," cibir Jeslyn menarik kembali tangannya. "Abang banyak dosa lho sama aku."
"Dosa apa?"
"Sering nistain, aku."
"Ya udah sini tangannya. Maaf ya, adek sayang."
"Gak salah denger ini." Jeslyn memicingkan mata menatap Kaisar curiga.
"Takut di do'ain jelek nanti, doa orang ternistakan cepat terkabul soalnya."
"Ck! Dasar." Cristal dan Samudra hanya menggelengkan kepala melihat dua anaknya yang hobby berantem.
"Jangan lupa di makan, ya bekalnya," pesan Cristal pada Kaisar yang ditanggapi dengan jempol terangkat.