Kilat lampu blitz menyala dengan berbagai pose Helen bergaya di depan lensa kamera. Sesuai arahan sang fotografer ia mengikuti instruksinya
"Oke. Cukup sekian pemotretan hari ini." Fotografer itu tersenyum menyeringai dengan mengacungkan jempol nampak puas dengan hasil bidikannya. Ia menekan tombol dof preview melihat gambar-gambar yang akan di simpan.
"Gimana hasilnya?" Helen menghampiri Arya sang fotografer sambil membungkukkan badan di sampingnya.
"Bagus, kok, tinggal di asah aja kemampuannya biar makin terlatih."
"Ck. Jawaban yang gak memuaskan," cibir Helen dengan berkacak pinggang.
"Ya cukup bagus bagi pemula. Ada tawaran, nih, buat majalah tanda kutip."
Helen tau arah pembicaraan Arya, matanya melotot membulat sempurna mendengar penawaran Arya. Tanda kutip itu majalah dewasa maksud Arya, Helen sudah sering mendapat tawaran seperti itu tetapi selalu ia tolak, mau mati digantung sama Bakta-Papa tirinya. Helen harus menjaga nama baik keluarga, karena Bakta seorang politikus di negara ini yang memiliki jabatan penting dan ia juga sama sekali tak minat dengan tawaran Arya.
"Heh enak, aja. Sorry ya aku bukan model macam itu, sialan!" desis Helen tak suka. "Udahlah, aku mau pulang."
"Cuma nawarin, aja, siapa tau minat."
"Enggak akan. Mau kiamat sekalipun aku gak mau foto buat majalah kaya gitu."
"Tunggu, Len. Jangan marah dulu, anggap aja batu loncatan biar karir kamu makin cemerlang."
"Cemerlang Mbahmu. Aku, lebih suka menikmati proses dari bawah buat kepuncak dari pada harus dengan cara instan, gitu Ar."
"Ya udah, gak usah sewot aku cuma kasih saran aja, kok."
"Kasih saran, sih, kasih saran. Cuma sarannya menjerumuskan, sesat."
Helen pun meninggalkan Arya dengan hati jengkel, menuju ke ruang ganti. Memang ia model apaan buat majalah gitu, sialan. Bukan hal yang aneh di dunia modeling mereka memakai cara instan demi sebuah tawaran dan cuan, bahkan ada yang sampai melemparkan diri ke sang pemilik agensi demi mendapat kontrak eksklusif dan bayaran tinggi untuk majalah tertentu, agar bisa meraih kepopuleran.
Bahkan beberapa kali Helen mendapat tawaran untuk tidur bersama pemilik majalah dan fotografer dengan iming-iming kepopuleran. Siapa yang gak suka dengan dia, secara fisik gak usah ditanya Helen memiliki tinggi di atas rata-rata 180cm, berkulit putih bersih mulus nyaris tanpa cela, hidung mancung, bibir bervolume, alis tebal dan bulu mata lentik tubuh sintal berisi di beberapa bagian, memiliki lekukan bak gitar. Membuat para pria sering memandang lapar ke arahnya terutama pria mata keranjang.
Ia ingin menjadi seperti Mama-Lusi, menjadi seorang model yang berprestasi bukan karena sensasi atau dengan cara instan lainnya. Meski sekarang sudah tidak menekuni prosesi tersebut. Selain faktor usia Bakta-Papa tirinya melarang agar Lusi fokus pada keluarga. Lagian Helen jadi model bukan buat alasan ekonomi, kok, ia sedang mengasah bakat aja. Untuk masalah materi sudah lebih dari cukup bahkan lebih, bisa beli ini dan itu hanya dengan sekali tunjuk.
Sejak mamanya menikah dengan Bakta kehidupannya kembali membaik seperti semula, bahkan lebih dari sebelumnya. Roda memang berputar kadang di atas, kadang di bawah. Perpisahan Lusi dengan Surya membawa banyak dampak baik untuk hidupnya. Meski harus mengalami masa-masa sulit sebelumnya, tetapi masa sulit itu sudah terlewati. Kini ia memiliki seorang papa tiri yang baik penyayang dan tak pernah berbuat kasar. Eh, setelah sekian lama pergi Surya mulai mengusik hidup Helen kembali.
Gak mudah memang untuk menjadi seorang model yang populer, apalagi sampai kancah internasional butuh perjuangkan dan air mata. Banyak calon talent yang tertipu oleh agensi abal-abal dan justru masuk ke jurang prostitusi jika tak pandai menjaga diri. Belum lagi bagi hasil antar model dan agensi sungguh tidak seimbang hanya mendapat sekian persen dari yang seharusnya. Terkadang tidak sepadan dan tak seenak yang dibayangkan.
Apalagi jika mengikuti gaya hidup hedon bisa-bisa habis hanya untuk memenuhi sebuah gaya hidup. Dunia model tak seenak yang orang lain kira, banyak sisi gelapnya. Banyak batu terjal yang menghadang dan saingan rekan sesama model pun ketat, terkadang mereka saling menjatuhkan dengan cara licik lainnya demi sebuah tujuan.
Helen melambaikan tangan pada Kaisar yang menunggu di atas motor besarnya dengan tangan menyelip pada saku jaket denim yang ia kenakan. Rambut Helen yang tergerai berterbangan tertiup angin bak model iklan shampo.
"Udah lama?"
"Belum kok." Kaisar menyerahkan helm itu pada Helen. Ia menaiki kuda besi setelah memakai helemnya dengan tangan melingkar di pinggang Kaisar." Udah siap?" tanya Kaisar memastikan.
"Udah, ayo."
"Gimana pemotretan hari ini?"
"Alhamdulilah lancar, Bang."
"Apa? Gak kedengaran," seru Kaisar menatap Helen dari kaca spion tersenyum tipis ke arahnya.
"Lancar dong." Helen mendekatkan wajah pada telinga Kaisar agar bisa mendengar suaranya bersamaan angin yang menerbangkan tiap helai rambutnya menambah kadar cantiknya. Kaisar pun mengangguk sebagai tanggapan dan kembali fokus pada jalan, bisa bahaya kalau kelamaan nengok kebelakang bisa-bisa kecelakaan.
Kaisar menarik tangan Helen mengusap lembut lalu menyatukan jari jemari hingga saling mengisi ruas jemari. Rasa hangat terasa menyelinap dalam d**a dengan debar jantung yang kian tak menentu. Sesekali Kaisar mengusap lutut Helen saat berada di lampu merah. Lalu tanpa sengaja pandang mereka bertemu melalui kaca spion motor, saling melempar senyum. Kaisar suka mencuri pandang ke arah Helen, apalagi saat melihat rona kemerahan di wajahnya tersipu malu. Meski memiliki fasilitas mobil entah kenapa Kaisar lebih suka menggunakan motor, lebih efisien katanya males kena macet. Beda kalau pakai motor mudah untuk menyalip kendaraan lain.
"Mau mampir?"
"Ke mana?"
"Ke rumah."
"Eh, kirain. Iya, deh boleh."
"Mama masak enak."
"Tiap hari masakan tante Cristal selalu enak. Duh perasaan numpang makan mulu gak enak jadinya."
"Enakin, aja. Kalau gak enak kasih kucing." Sesekali Kaisar iseng menekan rem mendadak hingga mendapat protes dari Helen.
"Rese, banget sih." Helen menepuk bahu Kaisar gemas.
"Ada polisi tidur barusan, gak bilang-bilang."
"Gimana mau ngomong, kan gak punya mulut."
"Tau gak? Kalau polisi tidur itu aku yang nidurin."
"Dih gaje. Dah fokus ke jalan aja biar cepat sampai."
"Mana bisa fokus kalau ada kamu di belakang aku."
"Gombal mulu. Gak percaya, Abang mantannya banyak ya?"
"Kok tiba-tiba nanya gitu."
"Pengen nanya aja, cepat jawab Bang."
"Gak punya mantan. Baru pacaran sama kamu, aja."
"Bohong."
"Beneran Helen? Kan kamu tau sendiri mana ada, aku jalan sama cewek lain, selain kamu."
"Iya, sih. Kangen Bang," ucap Helen tiba-tiba menyandarkan kepalanya pada punggung belakang Kaisar dan semakin erat merengkuh pinggangnya menghidu dalam-dalam aroma tubuh Kaisar yang terasa menenangkan sambil memejamkan mata.
"Sama aku juga, kalau kangen mulu mending kita serumah aja, yuk?"
"Nikah dulu."
"Ayo, udah siap emang?"
"Belum sih."
"Dasar. Emang mau nyiapin apa? Kamu terima beres, aja. Aku yang siapin semua."
"Dih masih kemudaan. Masih di bawah umur."
"Usia dua puluh dua, udah legal kok buat menikah."
"Mau kuliah dulu, ngejar karir baru nikah."
" Kelamaan keburu tua, karatan ntar."
"Apaanya yang karatan?"
"Anunya."
"Anu itu apa Bang?"
"Ada deh."
"Ambigu ish."
"Gak penting juga. Gak usah dipikirin."
Motor berhenti tepat di depan rumah, sigap pak security membukakan gerbang untuk Kaisar agar tak perlu repot-repot turun, motor meluncur pelan menuju garasi. Kaisar membantu Helen membukakan Helem untuknya setelah menghentikan laju motor.
"Makasih, Bang."
"Heumm," jawab Kaisar dengan senyum tipis di wajah. Manis. "Langsung aja, ya?"
"Langsung ke mana, Bang?" tanya Helen dengan alis berkerut menatap Kaisar."
"Penghulu."
"Hah?" Bibir Helen membeo mendengar ucapan Kaisar dengan kelopak mata mengerjap beberapa kali.
"Asli, muka kamu lucu banget kalau lagi cengo gini. Langsung makan maksudnya. Ayo, aja, kalau mau ke penghulu sekarang juga."
"Ngebet banget, sih, Bang."
"Biar gak ada pria lain yang berani deketin, kamu." Hanya decakan yang Helen beri.
Bik Inah menyiapkan makan siang untuk Kaisar dan Helen tau banget dia kebiasaan anak pertama Kaisar yang selalu makan setelah pulang kuliah. Setelah menyelesaikan makan siang Kaisar membawa Helen menuju ruang tamu, duduk di sofa panjang berwarna hitam. Rumah terlihat sepi. Biasa jam segini Cristal dan Samudra masih berada di kantor. Kalau Jeslyn jangan ditanya entah itu anak ke mana, tidur siang sepertinya atau lagi nonton drama Korea.
"Sepi, Bang. Pada ke mana?" ujar Helen seraya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruang.
"Biasa. Masih pada di kantor."
"Kalau Jeje?"
"Ada kali di atas."
"Kok gak meyakinkan gitu."
"Ya, gitu kaya gak tau kebiasaannya aja.''
Mereka duduk bersebelahan, sedikit canggung baru ke rumah lagi setelah jadian. Helen mengambil bantal untuk menutupi rasa gugupnya.
"Panggil Jeje, Bang."
"Buat apa? Ganggu tar."
"Dih. Biar rame kalau ada dia kan seru."
"Gak ahgt males, aku kan mau berduaan sama kamu." Mendengar ucapan Kaisar membuat wajah Helen tiba-tiba terasa memanas rona merah menjalar pada wajah yang putih bersih. "Muka, kamu kenapa? Kok merah gitu kepanasan ya gara-gara naik motor."
"Enggak kok." Reflek Helen menyentuh wajahnya sendiri mengipasinya siapa tau dengan begtu rona merah di wajahnya bisa pudar.
"Ya udah deh, mulai besok kalau jemput kamu naik mobil aja."
"Eh, gak usah naik motor aja. Aku suka kok."
"Enggak ahgt takut muka kamu kebakar matahari."
"Kan ada skincare anti UV," seloroh Helen mengurai kegugupan.
Kaisar menatap lekat Helen membuatnya menjadi salah tingkah ditatap lekat siintens itu.
"Ada apa, sih, Bang liatin mulu." Kaisar meraih jemari Helen mengusap pelan punggung tangannya ia ingin mengungkapkan keberatannya pada Helen yang selama ini ia pendam. Bukan mau ngatur, engga sama sekali tapi kurang suka aja jika Helen jadi model.
"Helen." Suara lembut Kaisar membuat bulu kuduk Helen meremang, ia menoleh menatap Kaisar yang menatapnya tanpa kedip. "Kamu mau banget jadi model?"
"Iya, Bang soalnya itu cita-cita dari kecil. Aku ingin seperti Mama. Kenapa Bang kok tiba-tiba nanya gitu."
"Bisa gak cari profesi lain, aja." Helen mengigit bibir mendengar ucapan Kaisar, hanya geleng yang ia beri.
"Kenapa memangnya? Abang gak suka ya."
"Bukan gak suka, sih, tapi gak rela aja wajah cantik kamu jadi konsumsi publik. Belum lagi liat tatapan mereka ingin kutonjok satu-satu. Sialan!"
"Ya udah besok aku pakai ember buat nutupin muka."
"Serius Helen."
"Iya, Abang aku serius pengen jadi model. Dukung aku, ya?" Kaisar tak menanggapi membuang muka ke arah area halaman menatap air hujan yang turun dan langsung melepas genggaman tangannya pada jemari Helen. "Bang .... "
Helen menggoncang bahu Kaisar pelan, ia tau kalau Kaisar sudah diam begini pasti sedang kesal. Dia pria yang lembut saat marah pada seseorang tak pernah berbuat kasar, tapi hanya mendiamkannya yang justru membuat Helen salah tingkah. Serius deh mending diomelin, aja dari pada didiemin begini. Gak tau gimana caranya buat mencairkan suasana yang mendadak beku. Lama terdiam dalam keheningan hingga suara petir terdengar menggelegar di telinga. Reflek Helen menutup kuping sejak dulu ia takut suara keras efek, Surya yang membuatnya trauma karena saat marah tak segan membanting benda-benda di sekitar hingga menimbulkan bunyi nyaring memekakkan telinga.
"Helen, kamu gak pa-pa?"
Reflek Kaisar meraih tubuh Helen yang mulai pucat memeluknya erat seraya menutup kupingnya, terlihat tangan Helen gemetar setelah mendengar suara petir itu disertai hujan turun yang semakin deras membasahi bumi. Kaisar tau sekali jika Helen trauma mendengar suara-suara yang keras. Sekesal apapun Kaisar pada Helen ia akan tetap peduli dan berusaha menjaganya. Memang sih dari tadi udah mendung untung saja sudah sampai di rumah. Coba masih di jalan bisa kebasahan terjebak hujan. Maklum bulan Februari puncaknya musim hujan kalau kata kang berita di televisi mah. Makanya hujan bisa datang kapan aja sewaktu-waktu.
"E-ngga, kok engga pa-pa."
"Gak pa-pa gimana, kamu gemetar gini. Tenang, ya ada aku di sini." Kaisar menatap lekat wajah Helen yang masih terlihat gemetar, tapi tidak seperti sebelumnya sudah lebih tenang sekarang. Suara petir pun tidak sekeras sebelumnya.
"Udah gak ada petir kayanya," sela Helen mencoba mengurai pelukan setelah merasa tak ada petir lagi.
"Tapi, aku masih mau dipeluk."
"Modus."
"Sekali-sekali," ujar Kaisar dengan menarik sudut bibirnya.
"Malu, Bang takut ada Jeje."
"Tenang, aja, dia gak bakal keluar kalau dah jadi tim rebahan apalagi liat BTS. Ada gempa juga bakal anteng, aja di kamar."
"Dih adek sendiri digituin. Takut ada Bik Inah juga gimana?"
"Iya deh." Kaisar menurut mengurai pelukan itu ia mengambil churros yang terhidang di meja lalu menyuapkan ke dalam mulut. "Aaa.... '' Helen menggeleng saat Kaisar ingin menyuapi. "kenapa? Takut gendut."
"Engga kok."
"Ya udah kalau gitu, makan dong."
"Aku ambil sendiri, aja deh." Helen akhirnya mengambil churros itu mencocolkan dengan saos coklat.
"Nah gitu dong makan jangan takut gendut."
"Abang, sih, enak makan banyak gak gendut. Kalau aku timbangan langsung geser ke kanan."
"Perasaan kamu, aja. Badan ramping gini gemuk dari mana. Dah gak usah bahas berat badan, sensi kamu ke aku tar. Ngomel-ngomel jatuhnya."
Helen terkekeh mendengar ucapan Kaisar, karena ia sangat menjaga bentuk badannya ditambah profesinya yang menjadi seorang model harus sangat memperhatikan berat badannya, tapi sesekali ia ngemil juga kok dan makan apa aja yang ia mau. Kaisar memerhatikan Helen yang sedang memakan churros, ia tersenyum simpul saat melihat lelehan coklat yang menempel di sudut bibir Helen. Kaisar berinisiatif membersihkannya dengan jari telunjuk. Gerak reflek Kaisar membuat Helen tertetegun ia menghentikan kunyahannya hingga bibirnya sedikit terbuka.
"Ada coklat di bibir kamu," ucap Kaisar menunjukkan coklat itu di depan Helen, ia jadi malu. "Bentar masih ada lagi."
"Maaf berantakan ya makannya."
"Dah biasa."
"Dih," cibir Helen seraya memutar bola mata. "Aku bersihin sendiri, aja," ucap Helen salah tingkah mendapat perlakuan lembut dari Kaisar, reflek Kaisar menggenggam tangan Helen. Tanda tak menerima penolakan efek tindakan Kaisar bikin jantung Helen jumpalitan.
Kaisar menatap lekat wajah Helen tanpa kedip bibir kemerahan yang sedikit terbuka itu membuat Kaisar gagal fokus, tanpa sadar jarak mereka kian menipis sesuatu yang lembab dan hangat kini saling menempel bergerak kaku, karena ini pertama kali bagi keduanya. Namun efeknya sungguh luar biasa. Membuat kerja jantung semakin menggila.
"Sorry," ringis Kaisar salah tingkah sudah berani mencium Helen tanpa ijin ia menggaruk tengkuk yang tak gatal.
"Aku juga."
"Hujan udah reda kayanya. Ayo, aku antar pulang."
"Pulang sendiri aja."
"Aku antar pokoknya."
"Cuma lima langkah, Bang."
"Pokoknya harus antar rumah dengan selamat."
Helen akhirnya mengalah mengedikan bahu, mengikuti kemauan Kaisar. Percuma menolak, Kaisar tipe keras kepala mereka berjalan bersisian menuju rumah Helen, sesekali tangan mereka saling bersentuhan menimbulkan getar dalam d**a. Ingin, sih, menggandeng tangan Helen tapi takut ada Jeslyn dia rese, tar ngadu yang ada. Belum waktunya Samudra dan Cristal tau tentang status mereka.
"Sampai deh, makasih Bang dah nganterin," ucap Helen saat berada di depan rumahnya.
"Heumm, masuk gih. Aku pulang, ya."
"Oke." Jawab Helen malu-malu, apa lagi saat mengingat kejadian tadi seperti ada kembang api yang meletup-letup di dalam sana. Baru akan membuka handel pintu, Helen menoleh menatap Kaisar yang masih belum beranjak dari tempatnya. "Kok masih di situ?"
"Mastiin kamu masuk."
"Astaga, gak usah aman kok."
"Ya udah deh, aku pulang. Berat banget kayanya mau pulang."
"Lebay ihh. Besok juga ketemu lagi."
"Iya, sih. Aku pulang jangan lupa cuci muka, kaki, istirahat deh."
"Iya Abang."
Kaisar pun melangkah kan kaki, berderap menuju pintu gerbang langkahnya terhenti saat Helen memanggilnya.
"Abang." Ia berlari kecil menghampiri Kaisar dan tindakannya yang tiba-tiba membuat mata Kaisar membulat sempurna, Helen berjinjit meraih tengkuk Kaisar menyapa lembut bibirnya. Meski terlihat kaku dan gugup lama-lama bisa juga mengikuti insting, seperti ada cubitan kecil di bibir bawah Kaisar. Belum sempat membalas Helen sudah menjauh buru-buru masuk ke dalam rumah, malu dengan wajah menunduk tersipu malu.