Akhirnya Helen mengikuti keinginan Surya untuk berbicara empat mata di depan kampus, mata Helen membeliak lebar mendengar rencana Surya. Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba Surya datang ingin menjodohkan dengan anak relasinya. Apa beliau sudah gila?
''Kenapa Helen, Pa?'' tanya Helen penasaran menatap Surya yang kini melepas kacamata hitam membingkai wajahnya.
''Karena kamu anak tertua Papa, kamu mau' kan bantu Papa?'' Helen menggeleng kuat.
''Konyol,'' desis Helen tak percaya dengan rencana yang Surya buat. ''Sekian lama tidak bertemu tiba-tiba Papa mengatur hidup Helen? Kemana saja Papa selama ini? Maaf, Pa, Helen gak bisa. Kalau gak ada yang dibicarakan lagi Helen pamit.'' Helen memutar badan bersiap meninggalkan Surya.
''Tunggu Len.'' Helen menghentikan langkah menunggu Surya berbicara sebagai bentuk rasa hormatnya pada orang tua.
''Gak harus menikah sekarang Helen, tunangan dulu aja cukup untuk mengikat sebagai tanda kesepakatan. Perusahaan Papa bisa hancur kalau tidak mendapat aliran dana segar. Jadi, Papa mohon tolong bantu Papa sekali ini aja.''
Lagi-lagi Helen menggeleng bisa-bisanya Papa datang tiba-tiba langsung berniat menjodohkan tanpa memberi waktu berpikir dan membicarakan dengan Mama. Apakah menikah sebercanda itu? Menikah bukan hal mudah untuknya, bukan hanya untuk setahun dua tahun. Kalau bisa cukup sekali seumur hidup, Helen gak ingin rumah tangganya kelak seperti ke dua orang tuanya yang gagal berakhir dengan perceraian. Butuh waktu untuk menyiapkan segalanya, terutama kesiapan lahir batin. Memilih skin care aja gak bisa asal apalagi pasangan.
Hanya untuk kepentingan bisnis Surya rela mengorbankan anaknya. Rela jauh-jauh dari Surabaya menuju Jakarta. Menanyakan kesehatannya pun engga. Hello kemana, aja selama? Apa ia lupa dengan trauma yang diakibatkan keegoisan mereka. Apa kabar dengan sikapnya dulu yang kerap memperlakukan dengan tidak baik. Apa masih pantas disebut Papa yang telah tega menelantarkan anak dan istrinya sekian lama dan tiba-tiba sekarang datang saat butuh pertolongan, sepertinya binatang lebih memiliki rasa terima kasih ketimbang papanya sendiri.
''Maaf Helen gak bisa nolong, Papa.
Baru beberapa langkah Helen melangkahkan kaki, Surya meraih tangan Helen memaksanya untuk ikut ke mobil. Menyeret paksa berniat membawa pergi ke Surabaya di mana ia tinggal saat ini.
''Ikut Papa, Helen.''
''Helen gak mau, Pa,'' ujarnya berkelit mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Surya yang berusaha menariknya ke dalam mobil.
''Dasar pembangkang sama kaya Mama kamu.'' Mendengar hal itu daada Helen terasa sesak teringat masalalu bagaimana Papa yang sering berbuat kasar, ringan tangan sesuka hati. Apa yang menjadi keinginannya mutlak haru diikuti.
''Len!'' teriak Kaisar. Membuat dua orang itu menoleh, Kaisar berlari menghampiri mereka dengan menggendong tas ransel dipunggung. ''Di cari dosen cepat ya di tunggu sekarang.''
Mendengar hal itu mau tidak mau Surya melepas cengkraman tangannya di lengan Helen, takut aksinya dilihat banyak orang. Surya menatap tajam ke arah Kaisar yang sudah berani mengacaukan rencananya. Baru beberapa langkah, Helen membalik badan menoleh ke arah Surya yang masih setia pada posisinya.
''Sebentar Bang, Helen mau ngomong sama Papa,'' ujarnya pada Kaisar.
''Kamu pasti berubah pikiran dan mau menuruti permintaan Papa, 'kan? Kamu emang anak yang baik,'' ucap Surya penuh percaya diri dengan mengulas senyum tipis.
''Kenalin Pa, ini Kaisar pacar Helen. Jadi, sampai kapanpun Helen gak mau dijodoh-jodohin apalagi sama orang yang gak dikenal, ''pungkas Helen sebelum meninggal Surya. ''Ayo, Bang kita pergi.''
Helen meninggalkan Surya begitu saja dengan menggandeng lengan Kaisar berjalan beriringan menuju area kampus.
''Alhamdulilah untung Abang cepat datang.'' Helen mengembuskan napas lega. ''Gak tau deh nasibku gimana? Kalau gak ada Abang. Pasti Papa akan tetap memaksa buat bawa aku pergi.''
''Itu Papa, kamu?'' tanya Kaisar penasaran hanya anggukan yang Helen beri.
Kaisar tau, sih, tentang keadaan keluarga Helen tapi baru sekali ini ia bertemu dengan Papa kandung Helen. Sebenarnya Kaisar ingin bertanya lebih lanjut, tapi melihat wajah Helen sepertinya bukan waktu yang tepat. Mungkin lain kali akan menanyakan lebih lanjut.
''Eh, tapi beneran aku dipanggil dosen.'' Helen mengangkat wajah menatap Kaisar
''Engga, cuma akal-akalan aku aja.''
''Thing smart, Bang,'' puji Helen.
''Ya dong pacar siapa dulu.'' Helen terkekeh mendengar ucapan Kaisar. ''Aku dari tadi cari kamu gak ada, katanya nunggu di bawah pohon eh ternyata zonk. Mana gak ngabarin lagi.''
''Maaf, '' cicit Helen. ''Ya gitulah Bang, Papa tiba-tiba datang maksa bicara.''
''Ada masalah?'' Helen mengedikan bahu.
''Gak penting Bang gak usah bahas lagi, bikin badmood.''
''Kalau mau cerita aku siap dengerin kok. Kapan pun, kamu butuh aku selalu ada buat kamu.''
''Makasih, Abang.''
''Kalau gitu senyum dong, biar tambah cantiknya.''
''Jadi, aku gak cantik nih?''
''Cantik.''
''Bilang cantiknya kaya gak ikhlas,'' cibir Helen. Kaisar mengacak rambut Helen gemas.
''Mau langsung pulang atau mampir?''
''Pulang aja deh.''
''Masih bete?''
''Dikit.''
''Kalau makan es krim dulu gimana?''
''Hayuk gaskeun.''
''Dasar!''
***
Kaisar memarkir motor besarnya di garasi setelah mengantar Helen pulang ke rumah, ia tak henti hentinya mengumbar senyum. Berjalan dengan hati riang memasuki rumah memainkan anak kunci motor melempar ke atas lalu menangkap, sesekali ia bernyanyi mendendangkan lagu sesuai dengan perasaannya saat ini yang terlihat sedang berbunga-bunga. Ada Jeslyn duduk di teras seraya membaca novel, ia menggeleng kepala melihat tingkah kakaknya yang seperti orang kurang waras.
''Bang Kai!''
''Please deh, ya kalau manggil nama yang bener dikit dong. Lama-lama aku hiih kamu.''
''Abang gila, ya?''
''Enak, aja ngatain Abang gila. Emang mau punya kakak gila?'' Kaisar berdiri di sebelah Jeslyn memerhatikan sang adik yang sibuk dengan novelnya.'' Baca apa, sih, kaya gini? Gak banget deh. Masih kecil juga baca kecil romance, tar dewasa sebelum waktunya lho.'' Kaisar mengambil novel dalam genggaman Jeslyn membolak-balik asal halaman.
''Lagian dari tadi senyum-senyum gak jelas. Serem, ish liatnya takut kerasukan.''
''Kerasukan gundulmu.''
''Gundul, gundul aku punya rambut Abang. Gak gundul, dipikir tuyul.''
''Bisa jadi.''
''Ck. Enak aja, Abang kakaknya tuyul berarti.''
''Kamu aja yang jadi tuyul, ganteng gini mana cocok jadi tuyul.'' Jeslyn memutar bola mata jengah.
''Ganteng dari Hongkong, narsis,'' cibir Jeslyn. ''Katanya ganteng, tapi masih jomlo.''
''Abang udah gak jomlo lagi dong.''
''Masa? Emang siapa pacarnya?'' tanya Jeslyn penasaran. ''Emang ada cewek yang mau sama Abang?''
''Sekate-kate, nih, anak. Ya, jelas banyak yang antri lah, kamu gak tau kalau Abang ini kualitas bibit unggul siapa dulu Papanya Samudra Rahadian, sekali kedip cewek langsung tertarik.''
''Kurang-kurangin Abang narsisnya, gak banget deh. Emang Abang doang yang kualitas bibit unggul, aku juga wle.'' Jeslyn menjulurkan lidah meledek. ''Sini balikin novelnya ganggu, aja, deh. Pergi sana Abang bau.''
''Ambil nih kalau bisa.'' Kaisar berlari masuk ke dalam rumah membawa novel milik Jeslyn terjadilah aksi saling mengejar mengitari ruang tamu. Bahkan Kaisar sampai menaiki kursi lalu melompatinya.
Cristal yang melihat hal itu hanya bisa menggelengkan kepala tiada hari mereka saling berantem, gak ada yang mau mengalah satu dengan lainnya. Persis seperti Tom and Jerry, anak dua aja ribut gini gimana kalau dulu jadi bikin kesebelasan? Bisa mati muda kayanya.
''Udah-udah kalian ini berantem mulu kerjaannya. Balikin Abang novelnya.''
''Jeslyn, Ma yang mulai duluan.''
''Ck, kok, aku? Jelas-jelas Abang yang ngajak ribut duluan. Mama novel aku, kepala aku digetok tadi liat nih, mah kepalaku benjol,'' rengek Jeslyn menarik-narik lengan Cristal.
''Balikin Abang,'' pinta Cristal.''Udah gede juga berantem mulu, malu diliat tetangga.''
Kaisar turun dari kursi membalikkan novel milik Jeslyn. Kalau ibu ratu sudah bertitah ia bisa apa. ''Dasar, tukang ngadu. Nih aku balikin. Jelek.''
''Mama ....''
''Udah-udah lanjutin baca novelnya.''
''Liat aja, aku aduin sama Papa nanti,'' sungut Jeslyn kesal. Gak afdol sepertinya buat Kaisar kalau belum mengganggu adik satu-satunya yang mudah dikerjain.
''Ck. Dasar tukang ngadu.''
''Abang, Jeje!''
''Iya, Ma peace!''
***