Bab 14. Membuat Kesepakatan

1168 Kata
Sebuah alamat telah Zoey dapatkan. Charlie memintanya Zoey untuk menemuinya setelah jam makan siang nanti. Dia masih memiliki waktu beberapa jam untuk meyakinkan pada diri sendiri bahwa pilihannya tidaklah salah meskipun dia harus mengorbankan satu ginjalnya. Zoey berada di dalam kamar. Hari ini, ibunya akan mengajaknya pergi karena besok ayahnya akan dijemput oleh pihak kepolisian. Perusahaan mereka akan disita, begitu juga dengan rumah mereka oleh karena itu mereka tidak lagi memiliki tempat untuk tinggal. Ibunya sudah menangis semalaman tapi tidak ada yang dapat mereka ubah selain pasrah dengan nasib yang mereka dapatkan. Zoey mengambil tasnya dan memilih keluar. Dia akan menenangkan kedua orang tuanya dan meyakinkan mereka jika mereka akan mendapatkan bantuan. “Zoey, kau sudah siap rupanya,” ucap ibunya. Dia tidak ingin pergi. Dia justru berharap waktu terhenti sehingga mereka tidak perlu pergi ke manapun dan tidak berpisah. “Mom, aku mau pergi sebentar.” “Kau mau pergi ke mana, Zoey? Kalian berdua sudah harus pergi, jadi bergegaslah,” ucap ayahnya. “Kita tidak akan pergi kemanapun, Dad. Percayalah padaku!” “Zoey, jangan terlalu banyak berharap. Segeralah pergi dengan ibumu supaya kalian segera mendapatkan tempat tinggal yang nyaman. Kau tahu kita tidak memiliki jalan, jadi jangan menunda lagi!” “Sahabatku benar-benar akan membantu, Dad. Kenapa kau tidak percaya?” “Bagaimana kami bisa percaya? Semua orang menjauhi kita lalu bagaimana mungkin seorang sahabat lama yang baru kau temui tiba-tiba ingin membantu dirimu. Bukankah semua itu terdengar seperti sebuah omong kosong?” “Tidak ada yang mustahil, Dad. Aku akan pergi untuk menemuinya. Jika memang dia tidak jadi membantu aku, maka aku akan pergi dengan Mommy.” “Baiklah jika memang itu yang kau inginkan. Kami tidak akan mencegah kau berusaha tapi setelah ini, kau harus pergi dengan ibumu jika bantuan yang kau maksudkan tidak kau dapatkan!” “Aku berjanji akan melakukannya,” Zoey menghampiri ibunya, lalu memberikan usapan lembut di punggungnya. “Mommy tidak perlu khawatir, semua pasti akan baik-baik saja,” dia berusaha menghibur ibunya untuk tidak khawatir. Senyuman tipis menghiasi wajah ibunya tapi tidak ada semangat sama sekali yang terlihat. Ibunya justru terlihat sedih karena dia tak sanggup menghadapi kenyataan yang ada. Zoey memeluk ibunya, dia kembali menenangkan walaupun ucapannya seperti sebuah hiburan palsu di telinga kedua orang tuanya. Zoey menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya dan ketika jam makan siang sudah hampir tiba, dia pun pergi untuk menemui Charlie Jackson. Pria itu telah menunggunya dengan surat perjanjian yang akan mereka sepakati. Dia akan memastikan jika Zoey pasti menerima apa pun isi perjanjian yang telah dia buat. Lagi pula mereka berdua saling mengambil keuntungan jadi tidak ada yang rugi dengan isi perjanjian itu. Zoey diantar oleh sekretarisnya. Wanita itu menatapnya dengan tajam begitu juga dengan yang dia lakukan. Setelah dilihat baik-baik rupanya wanita itu cukup cantik tapi kecantikan yang dia miliki dengan sebandint dengan kecantikan Angela. Zoey menghampiri, dia dipersilakan untuk duduk di sebuah kursi yang ada di hadapan Charlie. Tatapannya pun tak lepas dari pria itu. Melihat rupanya membuatnya benci karena pria itulah yang telah merenggut keperawanannya. Jika dia tidak dengan butuh bantuan Charlie Jackson, maka dia tidak akan menemui pria itu. "Aku kira kau tidak jadi datang, Nona Madison?" Tanya Charlie basa-basi. "Jangan berbasa-basi, Tuan Jackson. Seharusnya kau sudah tahu apa tujuanku datang." "Hng, rupanya kau tidak suka berbasa-basi. Itu bagus, memang lebih baik kita langsung pada intinya!" "Tawaran yang kau berikan itu, apakah hanya perlu aku bayar dengan satu ginjalku saja?" "Ya, aku memang hanya menginginkan ginjalmu. Aku akan membantumu menuntaskan masalah asalkan kau menyepakati apa yang aku inginkan!" Charlie mendorong kertas perjanjian yang telah dia buat, "Pelajari itu dan tanda tangani jika kau tidak keberatan dengan isinya!" Sebuah pulpen dia letakkan di atas kertas itu. "Kau memiliki keinginan, lalu bagaimana denganku? Aku juga memiliki keinginan, apa aku tidak boleh menuliskan keinginanku?" "Semua keinginanmu ada di sana, Zoey. Bacalah terlebih dahulu!" Zoey memandanginya lalu membaca isi perjanjian itu. Semuanya memang sudah tertera di sana, semua keinginannya pun telah dibuat oleh Charlie. Pria itu akan membantunya membebaskan ayahnya dari penjara dan dia juga akan membantu Zoey membalas dendam pada suaminya serta mencari orang yang telah menghancurkan perusahaan ayahnya meski dia tahu siapa pelakunya. Mereka berdua akan terikat kontrak pernikahan selama Angela mengalami koma dan setelah Angela sadar, Zoey harus memberikan ginjalnya dan dia tidak boleh menolak. Mereka akan berpisah setelah itu dan dia akan memberikan kompensasi lain berupa sejumlah uang untuk Zoey karena dia menginginkan Zoey pergi yang jauh supaya mereka berdua tidak bertemu lagi. Mereka berdua akan tinggal bersama dan mereka akan terlibat kontak fisik jika memang diperlukan. Zoey pun tidak boleh menolak jika Charlie menginginkan tubuhnya. Dia harus melakukan perannya selayaknya sebagai seorang istri dan hubungan mereka pun tidak perlu dirahasiakan tapi jika Zoey ingin merahasiakannya, dia tidak keberatan sama sekali. Pernikahan mereka berdua tidak akan dirayakan. Pernikahan mereka akan tercatat di catatan sipil tapi mereka tidak akan mengucapkan janji suci di depan altar karena Charlie hanya ingin melakukan hal itu dengan Angela saja. Satu-satunya wanita yang dia inginkan untuk menjadi pendamping hidupnya sampai maut memisahkan hanyalah Angela saja. Mengikat Zoey di mata hukum hanya sebagai formalitas karena bukan wanita itu yang dia inginkan. Zoey memandanginya kembali, setelah membaca isi perjanjian itu. Dia tampak keberatan dengan satu poin yang tertera di surat perjanjian itu. Kenapa mereka harus melakukan kontak fisik? Tidak seharusnya mereka melakukan hal itu karena pernikahan mereka hanyalah pernikahan palsu. "Kenapa? Apa ada poin yang membuatmu keberatan?" "Tentu saja. Kenapa kita harus melakukan hubungan badan?" Jujur dia tidak suka dengan poin itu. "Itu adalah kebutuhan yang harus disalurkan. Kau yang ingin menjadi istriku jadi berperanlah selayaknya seorang Istri. Bukankah sudah tertulis di sana?" "Tapi hubungan kita hanya sementara lalu untuk apa kita melakukan kontak fisik?" "Aku tidak suka tawar-menawar. Apa yang telah aku tulis di sana maka tidak akan bisa diubah. Jika kau keberatan, maka lupakan. Aku tidak rugi apa pun karena aku bisa menemukan ginjal lainnya!" Zoey menggigit bibirnya dengan kuat. Keraguan begitu besar dia rasakan. Dia sangat ingin menolak tapi dia benar-benar tak dapat melakukannya karena dia sudah berada di jalan buntu. Dengan tangan yang gemetar, Zoey mengambil pulpen yang ada di atas meja. Dia meyakinkan pada diri sendiri di dalam hati jika semua akan berakhir baik. "Baiklah. Hanya kontak fisik saja dan asal kau tahu, aku tidak ingin mengandung bayimu!" "Aku juga tidak karena yang pantas melahirkan keturunanku bukanlah dirimu!" "Baiklah!" Tanpa ragu, Zoey menandatanginya. "Aku setuju!" Pulpen diletakkan dengan kasar di atas meja, "Besok, aku harap tidak ada polisi yang menangkap ayahku dan tidak ada yang mengusir kami!" Dia harap pria itu menepati janji. "Itu perkata mudah," Charlie mengambil surat perjanjian itu, "Mulai besok kau harus tinggal bersama denganku supaya kau tidak lari!" Dia harus waspada karena bisa saja wanita itu melarikan diri. "Kau tidak perlu khawatir. Aku akan datang lagi besok!" Zoey beranjak dari tempat duduk lalu melangkah pergi. Charlie tidak mencegah, dia memandangi surat perjanjian itu dan tampak puas. Masalah hubungan mereka, dia akan menjelaskan pada ayah dan ibunya nanti. Mereka pasti mengerti apalagi dia melakukannya untuk Angela.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN