Lagi-lagi tatapan iri itu di tujukan kepada Retha. Sepanjang perjalanannya menuju kelas, sepanjang itu juga Farrel menggenggam tangannya erat. Jangan lupakan senyum cerah yang tecetak di bibir cowok itu, senyum yang sangat limited edition karena Farrel memang jarang tersenyum. Retha berjalan dengan ragu dan sedikit menundukan kepalanya. Sungguh, ini seperti bukan seorang Aretha Maharani. Seorang Aretha Maharani, akan selalu percaya diri. Berjalan dengan kepala tegak dan selalu membalas orang-orang yang menatapnya dengan tatapan tajam. Namun, berbeda dengan dirinya yang sekarang. Yang lebih memilih menundukan kepala dan berjalan kurang percaya diri di koridor sekolah. Padahal, dengan menjadi pacar Farrel, ia tidak perlu begini. Siapa juga yang berani mengganggu dirinya, selama Farrel ad

