Ini adalah hari terakhir untuk Retha, Farrel, Samudra dan Valerie berada di Bali. Nanti siang, mereka akan kembali ke Jakarta.
Saat ini, Retha sedang mengemasi barang-barangnya. Begitu juga dengan Valerie, mereka bedua sedang asik mengemasi barang masing-masing. Sambil bercerita tentang cowok mereka masing-masing.
"Tha, barang-barang di toilet, udah belom?" tanya Valerie sembari melipat pakaiannya.
Retha menepuk jidatnya. "Astaga, gue lupa. Untung lo ingetin, Val."
Retha segera meninggalkan pekerjaannya, berjalan menuju toilet dan mengambil dua tas kecil miliknya dan Valerie yang berisi peralatan kebersihan tubuh.
Selesai, Retha kembali menemui Valerie dan memberikan tas kecil yang berwarna ungu. "Nih, punya lo.
"Hampir aja ketinggalan." ucap Valerie sembari menerima tas miliknya.
"Keasyikan jalan-jalan, sih." sahut Retha datar.
"Dih, lo juga keles."
"Gue jalan-jalan cuman sehari. Sisanya gue sama Farrel sakit." Retha memberengut. "Nggak kayak lo, tiap menit nempel mulu."
"Idih," Valerie terkekeh. "Nggak tau diri dasar."
Dering ponsel Retha menjadi penengah perdebatan Valerie dan dirinya. Segera Retha mengambil ponselnya yang terletak di nakas, saat hendak menggeser icon hijau di layar dahi Retha mengernyit karena nama Samudra yang terpampang di layar.
Lantas, Retha membawa ponselnya yang terus membunyikan ringtone as if it's your last itu menemui Valerie.
"Ini Sam ngapain nelfon gue?" tanya Retha seraya menunjukan ponselnya yang masih berbunyi ke depan wajah Valerie. "Angkat, nggak?"
Valerie menghendikan bahunya. "Angkat aja, keburu mati."
Retha mengangguk, saat hendak menggeser layarnya telfon itu sudah terputus karena terlalu lama tidak di angkat.
"Yah, mati."
"Lo sih, kelamaan." ucap Valerie
Beberapa detik kemudian, Samudra kembali menelfon. Tentu saja Retha langsung mengangkatnya, takut kalau akan mati lagi.
"Ya, Sam?" sahut Retha.
"Telfon balik, pulsa gue abis."
Dan, Samudra memutuskan sepihak telfonnya.
"Apa katanya?" tanya Valerie yang sudah penasaran.
"Pacar lo nggak pernah punya pulsa ya, Val?" tanya Retha kesal.
Mendengar pertanyaan Retha, membuat Valerie terkekeh. "Ada, kok. Dia cuman mau gunain pulsanya buat nelfon gue."
"Duit banyak, kalo abis tinggal beli lagi. Apa susahnya?" Retha tidak habis pikir.
Lagi, Valerie terkekeh geli. "Udah, sana telfon balik. Samudra cuman mau telfon orang kalo bener-bener penting."
"Minjem hape lo, sini." Retha menyodorkan tangannya.
"Hape gue?" tanya Valerie. "Buat apa?"
Retha memutar bola matanya malas. "Buat nelfon yayang ocean. Vale."
"Kok pake hape gue? Kan hape lo ada."
"Gue nggak punya pulsa, Val."
"Hape bagus, pulsa nggak punya." cibir Valerie.
"Biarin, yang penting kuota gue banyak. 60 Giga Byte, buat streaming weekly idol." ucap Retha berbangga diri.
Valerie memutar bola matanya malas. Enggan melanjutkan debatnya dan Retha, akhirnya ia mengeluarkan ponselnya yang sama persis dengan milik Retha.
"Nih," Valerie menyodorkan benda pipih berwarna rosegold itu kepada Retha.
Retha menerimanya, lantas ia membuka kunci ponsel itu menggunakan sidik jarinya yang sudah di tambahkan ke finger pint detection.
Retha membuka kontak telfon Valerie. Mengetikan nama Samudra, namun tidak membuahkan hasil.
"Kok nggak ada nomor Samudra, Val?"
"Ada, kok." sahut Valerie. "Namanya baby ocean."
Retha mengangguk, lantas mengetikan 'baby ocean' seperti kata Valerie tadi. Dan, ketemu.
Retha segera memencet ikon hijau untuk menyambungkan telfon dengan Samudra. Retha menempelkan benda pipih itu ke telinganya. Dan, setelah nada kedua Samudra mengangkat telfonnya.
"Matiin aja, by. Biar aku yang telfon, nanti pulsa kamu abis."
Dan, Samudra kembali memutuskan telfonnya.
Detik itu juga, rasanya Retha ingin melemparkan ponsel Valerie ke wajah Samudra.
"Cowok lo ngeselin banget sih, Val!" gerutu Retha yang hanya di tanggapi kekehan oleh Valerie.
Kemudian, Samudra kembali menelfon dan langsung di angkat oleh Retha.
"Hallo, by. Kenapa?" ucap Samudra setengah berbisik.
"Ba, by, ba, by. Retha nih, lo nelfon gue mau apa?" sahut Retha yang sudah kesal.
"elah, lu lama banget sih. Timbang ngangkat telfon doang, waktu gue nggak banyak." ucap Samudra berbisik.
Lihat kan? Samudra memang ngeselin. Padahal, daritadi sebenarnya Samudra lah yang sudah mengulur waktu. Kalau saja cowok itu mau merelakan pulsanya, pasti tidak serumit ini.
Retha mengernyitkan alisnya. "Kenapa lo ngomong pake acara bisik-bisik gini, sih? Kenapa waktu lo nggak banyak? Lo mau mati, Sam?"
Mendengar itu, Valerie langsung merebut ponsel miliknya.
"Ocean?! Kamu kenapa? Kamu dimana? Kenapa kata Retha kamu ngomongnya bisik-bisik? Kamu beneran mau mati, Ocean?" cerocos Valerie panjang lebar.
"Siapa yang mau mati, sih?!" Samudra menggeram namun masih berbisik. "Ribet banget ngomong di telfon, aku ke kamar kalian aja."
"Yaudah."
Lagi, Samudra memutuskan telfonnya.
"Ya Allah, lo bedua couple terngeselin yang belum pernah gue temui." Retha menggeleng-gelengkan kepalanya.