23

874 Kata
Sudah tiga jam berlalu, dan Retha masih membuka matanya lebar-lebar. Jantungnya semakin lama semakin berpacu dengan cepat, Retha bisa mati kalau terus berpacu jantung seperti ini. Jangan tanya siapa yang sudah membuatnya seperti ini. Di jadikan guling oleh Farrel lah penyebabnya. Retha tidak dapat bergerak, karena pelukan cowok itu begitu erat. Sampai, Retha ragu apakah Farrel benar-benar terlelap atau tidak. Namun, mendengar deru nafas teratur dan diamnya cowok itu dari tadi membuat Retha yakin kalau Farrel benar-benar terlelap. Retha bisa merasakan suhu tubuh Farrel yang tidak normal. Tadi, tubuhnya sangat panas. Dan, sekarang Retha merasakan dingin dari tangan Farrel yang berada di punggungnya. Melihat Farrel dari jarak sedekat ini, mampu membungkam mulut Retha untuk tiga jam lamanya. Di lihatnya wajah cowok itu. Mata yang selalu menatapnya tajam, saat di awal pertemuan. Bibir yang biasanya berwarna cerah tanpa di beri apapun, kini berwarna pucat. Hidung mancung yang sempurna, seperti perosotan anak TK. Dan, astaga! Kenapa alis cowok ini sangat sempurna?! Melengkung tegas bagaikan merk sebuah sepatu. Belum lagi warnanya, tebal sekali. Sebagai wanita, Retha merasa iri dengan kesempurnaan Farrel. Bahkan, ia harus menyisir alisnya yang kurang tebal menggunakan maskara agar terlihat natural. Retha menyentuh wajah Farrel dengan telunjuknya. Di sentuhnya alis Farrel yang konon begitu sempurna, lalu turun ke hidungnya yang bagaikan perosotan, dan terakhir ke bibirnya yang berwarna pucat. Tidak pernah sebelumnya Retha memikirkan kejadian ini. Dahulu, ia hanya menganggap Farrel sebagai teman sekelasnya. Bahkan, Retha tidak tahu apakah Farrel juga mengetahuinya. Mengingat cowok itu kurang peduli dengan sekitarnya dan masuk kelas pada jam terakhir saja. Namun, kini cowok itu ada di sini. Di hadapannya, sedang tertidur dalam damai. Bukan hanya di sini, bahkan cowok itu juga ada di hatinya. Iya, dihatinya. Retha sampai malu memikirkannya. "Puas, ngeliatin aku?" ucap Farrel sembari tersenyum tipis. Cowok itu bahkan masih menutup matanya. Retha tersentak kaget. Ia kepergok sedang mengagumi Farrel, but how? Dari tadi Farrel terus menutup matanya seakan-akan sedang tertidur, bahkan Retha tidak mengucapkan satu katapun untuk memuji cowok itu. Namun, mengapa Farrel bisa tahu? "Ka-kamu nggak tidur?" tanya Retha yang sudah salah tingkah. Akhirnya, Farrel membuka matanya. Ditatapnya Retha yang juga sedang menatapnya dengan tatapan kaget, Farrel tersenyum. "Gimana aku bisa tidur, kalau dari tadi aku denger suara jantung kamu yang udah kayak suara marching band." Farrel terkekeh. Jadi, Farrel tau kalau jantung Retha daritadi berdetak tidak karuan? "Kamu denger?" tanya Retha dan dijawab anggukan oleh Farrel. Semburat rona merah muncul di pipi Retha. Ia ketahuan. "Jadi, kamu tiga jam tutup mata doang?" Tanpa dosa, Farrel mengangguk setelahnya terkekeh. Membuat Retha kesal, karena merasa sudah di permainkan. Ia dari tadi sangat berhati-hati dalam bergerak. Takut kalau membangunkan Farrel dan bisa membuat kepalanya pusing. Namun, cowok ini dengan santainya berakting seakan-akan sedang terlelap dan terkekeh tanpa dosa. Akhirnya, Retha melepaskan diri dengan paksa. Tidak perlu berhati-hati seperti tadi, setelahnya ia beranjak pergi dari kasur. "Mau kemana?" tanya Farrel yang terus memerhatikan gadisnya itu. Retha menatap Farrel dengan kesal. "Kamar." "Ini udah di kamar." ucap Farrel dan semakin sukses membuat Retha bad mood. "Waktu aku denger kamu sakit, aku langsung lari kayak orang gila ke sini. Aku lega waktu tau kondisi kamu nggak seburuk yang Valerie bilang. Sekarang, aku nyesel udah khawatirin kamu sampe segininya." ucap Retha kesal. Farrel beranjak dari kasur, hendak berdiri menghampiri Retha dan bertanya baik-baik. Apa yang membuat gadis itu marah seperti ini. "Kamu kenapa?" tanya Farrel bingung. "Aku suruh makan nggak mau, minum obat juga nggak mau. Kamu malah jadiin aku guling selama tiga jam, dan aku nurut. Karena, aku pikir kamu beneran tidur." Retha menatap Farrel tajam. "Kan aku udah bilang, aku nggak bisa tidur." "Kenapa kamu nggak buka mata dan lepasin aku?" tanya Retha kesal. "Ya, karena aku nggak mau lepasin kamu." Kalau saja sedang tidak dalam keadaan kesal, pasti Retha sudah salah tingkah dan tersenyum tidak jelas karena mendengar perkataan Farrel barusan. "Udah, lah. Terserah kamu." Retha membalikan tubuhnya, hendak berjalan ke arah pintu dan segera keluar dari kamar ini. Farrel yang tidak mengerti mengapa cewek itu marah, langsung mengejar dan menghentikannya. Walaupun badannya masih terasa sakit, namun ia tetap mengejar Retha. Retha membuka pintu dan melangkahkan kakinya ke luar. Namun, baru selangkah ia sudah tertarik ke dalam kamar lagi. Jangan tanya siapa yang baru saja menarik Retha. Farrel memegangi kedua pundak gadis itu. "Kenapa marah?" Tidak menjawab, Retha membuang wajahnya ke samping. Membuat Farrel bertamah bingung. Gini nih, ribetnya punya cewek. Kalau ngambek harus di rayu, kalau ditanya diem aja. Ntar, ujung-ujungnya bilang nggak papa atau terserah. Batin Farrel. "Re," panggil Farrel dengan penuh kesabaran. "Kamu kenapa, sayang?" Retha masih melihat ke arah samping. "Nggak papa." Tuhkan, bener! Farrel menghela nafasnya berat. Mengingat lagi kejadian beberapa menit yang lalu, dan mencoba mencari-cari apa yang membuat gadisnya ini marah. "Kalo nggak papa, kenapa marah?" tanya Farrel lagi. "Ya, nggak papa." jawab Retha ketus. Ya Tuhan, tolong Farrel. Setelah berpikir keras, akhirnya Farrel menemukan jawaban. "Aku bukannya pura-pura tidur," jelas Farrel dan sukses membuat Retha menoleh. "Aku juga bukan nggak bisa tidur." "Terus?" "Aku pengen ngerasain peluk kamu lama-lama," ucap Farrel jujur. "Sekarang aku ketagihan, pengen peluk lagi." "Kenapa harus pura-pura tidur, sih?" tanya Retha kesal. "Kalau kamu tau aku nggak tidur, pasti kamu minta lepasin." Farrel menatap Retha lekat-lekat. "Kan udah aku bilang, aku nggak mau lepasin kamu."y
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN