Samudra, cowok itu tidak berhenti mengoceh memarahi Farrel. Bagaimana tidak? Acaranya dengan Valerie harus tertunda, karena sepupunya itu sakit.
Sehabis jalan-jalan dengan Retha, tiba-tiba tubuh Farrel merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Mungkin Farrel kelelahan.
Bayangkan, sebelum berangkat ke Bali, cowok itu sempat saja ikut balapan. Sampai di Bali, ia menemani Retha yang sakit dan tidur dengan posisi yang tidak nyaman. Belum sampai di situ saja, ia seharian berjalan kaki dengan Retha sampai lupa makan.
Dan, jadilah sekarang ia tunbang.
Kalau kemarin saat Retha sakit ia menyuruh Valerie tetap melakukan aktivitasnya, berbeda dengan Farrel. Cowok itu menahan Samudra agar tidak pergi, dengan selalu mengatakan 'kalo gue kejang-kejang, lo nggak ada gimana?'.
Samudra kesal, tapi benar juga. Kalau Farrel kenapa-kenapa dan ia tidak ada, nanti siapa orang yang bisa Samudra jadikan bank berjalan saat uang jajannya di potong?
"Di gebukin sepuluh orang, lo masih berdiri tegak. Giliran di terpa angin Bali, tumbang." cibir Samudra. "Dasar lemah, dasar payah."
"Berisik!" kesal Farrel.
Omelan Samudra terhenti, saat pintu mereka terketuk. Astaga, pasti itu cleaning service lagi. Kenapa sih, kamar mereka hampir lima kali dalam sehari di datangi cleaning service?
Ada yang mengaku ingin membersihkan, ada yang modus bilang salah kamar, ada yang bohong bilang mereka yang manggil. Dan, masih banyak lagi.
Samudra lalu berjalan menuju pintu, bersiap hendak menyemprot orang itu. Kesal rasanya, ingin Samudra lempar dari rooftop hotel ini.
"Apa lagi?!" gertaknya saat pintu terbuka.
"Kamu berani marah sama aku?"
Mampus, tenyata ibu negara!
Samudra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aku kirain cleaning service."
Mata Valerie melotot tajam. "Kamu anggap aku cleaning service?!"
"Eh?" bingung Samudra. "Bukan, bukan gitu sayang..."
"Nggak usah panggil sayang, Samudra!"
Kalau sudah memanggil nama 'Samudra' berarti Valerie benar-benar marah. Butuh waktu seharian untuk menjinakkannya kembali.
"Farrel lagi sakit," ucap Samudra. Tidak tau apa tujuannya mengatakan itu.
Raut wajah Valerie yang marah tadi, berubah menjadi cerah seketika begitu mendengar berita itu. "Beneran?"
Samudra menganguk, menatap Valerie aneh. "Kenapa?"
"Ikut aku," Valerie langsung menarik Samudra keluar dari kamarnya.
"Kemana?" tanya Samudra. "Farrel nggak bisa di tinggal sendirian."
"Siapa bilang dia ditinggal sendirian, sih?"
Alis Samudra terangkat satu. "Terus?"
"Ikut aja."
*****
"Kenapa kamu nggak bilang, sih?" geram Retha
Sudah semenjak satu jam yang lalu, Retha terus mengomel. Saat ia tahu Farrel sedang sakit, Retha langsung merasa tidak enak karena kemarin sudah mengajak cowok itu seharian jalan-jalan tanpa ingat makan.
Tadi, Valerie langsung menemuinya dengan wajahnya yang amat sangat serius. Retha langsung panik kelimpungan karena Valerie memberitahunya Farrel sakit dan harus masuk UGD.
Panik, Retha langsung berlari ke kamar Farrel. Retha dengan mudahnya masuk karena pintu kamar itu yang tidak tertutup sempurna.
Dan, saat itu juga rasanya Retha ingin melempar Valerie dari rooftop rumah sakit karena telah menipunya.
Lihat saja, Retha akan membalasnya.
Farrel memang sakit. Namun, tidak separah apa yang Valerie katakan. Tidak perlu UGD atau rumah sakit. Cukup Farrel beristirahat dan minum obat, pasti akan sembuh.
Kepala Farrel yang terasa sakit, semakin sakit saja rasanya. Omelan Retha seperti deretan gerbong sebuah kereta, panjang.
Farrel memijit pelipisnya. "Iya, maaf."
Retha menggelengkan kepalanya. Gadis itu mengambil sebuah handuk kecil dan semangkuk air hangat. Retha mencelupkan handuk itu kedalam mangkuk berisi air hangat, memerasnya dan menempelkannya pada dahi Farrel.
Farrel memejamkan matanya. Wajahnya pucat pasi, bahkan bibirnya yang biasanya berwarna cerah kini redup.
"Liburan kok malah sakit, sih." Retha menghela nafasnya.
"Kamu juga kemaren sakit." sahut Farrel.
Kamu, satu kata yang masih sangat asing untuk Retha ucapkan dan dengar. Biasanya ia dan Farrel menggunakan gue-elo.
Namun, semenjak kejadian kemarin sepertinya mereka akan menggunakan aku-kamu seterusnya.
Apakah kalian tahu? Hubungan mereka sudah resmi. Baca baik-baik, re-s-mi.
Te amo
Dua kata yang selalu terngiang-ngiang di otak Retha. Bahkan gadis itu tersenyum seperti orang kurang waras seharian, terbangun di pagi hari sembari bersenandung kecil.
Dua kata itu pula, yang menjadi jawaban atas semua yang terjadi pada Retha selama ini.
Terus tersenyum saat mengingat Farrel. Nyaman berada bersama Farrel. Jantung yang selalu berpacu cepat karena ulah Farrel. Ingin selalu bersama Farrel. Dan, semua hal yang menyangkut Farrel di dalamnya membuat Retha senang. Ini yang dinamakan jatuh cinta, kan?
Bahkan, kakek Retha sendiri yang memintanya untuk bertahan bersama Farrel. Meskipun Retha di suruh untuk merubah sifat cowok itu.
Seulas senyum merekah tercetak di bibir Retha. Beginikah rasanya, dicintai, mencintai dan memiliki orang yang kita inginkan? Retha merasa hidupnya hampir akan sempurna.
Hidupnya hanya akan sempurna, kalau Bundanya sudah sadar dari tidur panjangnya. Disaat hari itu akan tiba, Retha akan menjadi orang yang paling beruntung.
Retha terngat sesuatu. Ia berjalan mengambil semangkuk bubur ayam yang tadi ia beli di restoran bawah.
"Ayo makan," Retha menyendokan bubur ayam itu dan berniat ingin menyuapi Farrel.
Farrel menggelengkan kepalanya. "Nggak mau."
"Harus mau." paksa Retha.
Lagi, Farrel menggeleng. Ia melirik bubur ayam itu tanpa minat. "Nggak suka."
"Terus, kamu mau makan apa?" tanya Retha penuh kesabaran.
"Nggak mau makan apa-apa." jawab Farrel enteng.
"Kalau nggak makan, nggak bisa minum obat. Farrel."
"Yaudah, nggak usah minum obat." ucap Farrel. "Lagian, kamu kemaren juga sakit. Nggak minum obat, cuman megangin tangan aku semalaman, sembuh."
Mengingat itu lagi, pipi Retha kembali memanas. Cowok di hadapannya ini sangat keras kepala. Bahkan, disaat ia sedang sakit masih bisa membuatnya salah tingkah.
"Itu beda lagi, Farrel!"
"Sama aja."
Retha menghela nafasnya berat. "Kalau nggak makan, gimana bisa minum obat? Kalau nggak minum obat, gimana bisa sembuh? Kalau nggak sembuh, gimana bisa pulang?"
"Aku tau satu obat yang nggak perlu makan dulu." ucap Farrel datar.
Alis Retha terangkat satu. "Apa?"
Farres tersenyum tipis, lalu ia menarik Retha naik ke atas kasur. Memeluk gadis itu erat, dan memejamkan matanya.
"Ini obatnya."