Beach walk, menjadi tempat tujuan terakhir Retha dan Farrel. Setelah puas berjalan-jalan dari pagi sampai petang, keduanya bahkan lupa belum makan.
Mereka berjalan berdampingan, dengan tangan Farrel yang menggenggam erat tangan Retha. Iya, mereka bergandengan.
Entah sejak kapan dan siapa yang memulai duluan, mereka menikmati saja.
Mata Retha tertuju pada salah satu store terkenal satu dunia, apa lagi kalau bukan Victoria Secret. Surganya para wanita, dengan barang-barang berharga fantastis di sana.
Tanpa sadar, Retha menarik Farrel masuk ke dalam store itu. Cowok itu menurut saja, tidak protes karena melihat mata Retha yang berbinar.
"Akhirnya!" pekik Retha senang saat melihat menara parfum Victoria Secret.
Retha sampai melepaskan genggamannya pada Farrel. Gadis itu meraih sebotol parfum yang berbentuk seperti hati, berwarna pink muda.
Retha mengambil kertas teaser yang tersedia, menyemprotkan sedikit parfum itu disana dan mencium baunya.
"Nah, bener!" lagi, ia berucap girang.
Farrel tidak tahu mengapa Retha bisa sesenang itu hanya karena sebuah parfum. Padahal, di Jakarta pun juga ada store Victoria Secret.
"Mba," panggil Farrel pada salah satu pegawai di sana.
Pegawai wanita itu segera menemui Farrel, ia nampak tertegun memerhatikan wajah Farrel yang tampan.
"Iya, mas?" responnya singkat. Matanya terus menatap Farrel seraya tersenyum ramah.
Ganjen.
"Saya mau parfum yang lagi di pegang cewek itu," Farrel menunjuk ke arah Retha. "Sepuluh botol."
Wanita itu nampak terkejut, setelahnya terkekeh. "Mas ini bercanda, ya?"
Farrel menaikkan sebelah alisnya. Bingung, kenapa ia di anggap bercanda?
"Saya nggak bercanda." tegas Farrel.
"Itu parfum buat cewek, Mas. Baunya juga cewek banget, harganya satu juta lima ratus per botol." jelas pegawai wanita itu. "Mas yakin, sepuluh botol?"
Farrel menautkan dua alisnya. "Ya, terus? Salah ya, kalau saya mau beliin buat pacar saya?"
"Oh?" kejut Kasir itu. "Buat pacar, ya? Kirain buat Mas." ia terkekeh.
Farrel memutar bola matanya malas. "Udah sana, buruan. Mau, saya protes karena pelayanan mba kurang memuaskan?" ancam Farrel.
Pegawai itu kicep. Mengangguk dan akhirnya menuruti permintaan Farrel.
Farrel menghampiri Retha. "Mau beli itu?" tanyanya.
Retha menoleh, ia tersenyum seraya mengangguk. "Ini parfum kesukaan nyokap gue. Udah lama gue nyari ini, selalu kehabisan. Gue seneng, ternyata stok disini banyak."
Farrel mengangguk mengerti. "Yuk, ke kasir."
"Ngapain?" tanya Retha bingung. "Yang ini teaser, Rel. Minta ambilin sama mba-nya dulu yang baru, baru kita ke kasir." jelasnya seraya terkekeh.
Farrel mengambil botol kaca berisi parfum itu dari tangan Retha, di taruhnya kembali ke tempat semula. Lalu, tangannya bergerak meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya.
"Ayo." ucap Farrel seraya menarik Retha menuju kasir.
"Ayo kemana, Farrel?" tanya Retha bingung.
"Ke kasir." jawab Farrel datar.
Retha mengerutkan dahinya. "Kan tadi belum ngomong sama mba nya?"
"Udah, diem."
Retha semakin bingung. Farrel menariknya ke kasir, padahal mereka belum memesan pada pegawai di sana.
"Mba, yang tadi." ucap Farrel pada pegawai Wanita yang ia temui tadi.
Wanita itu mengangguk, dan mengeluarkan sebuah paper bag besar. Berlogo VS, yang berisi sepuluh parfum di dalamnya.
"Totalnya lima belas juta rupiah, Mas. Mau cash atau debit?"
Tidak menjawab, Farrel merogoh saku celananya di bagian belakang. Mengambil dompet kulit yang sudah menjadi kepunyaannya dua tahun lalu.
Farrel membuka dompet itu, dapat terlihat dengan jelas barisan lembar uang berwarna merah di dalamnya. Siapa saja pasti akan meneguk salivanya jika melihat isi dompet Farrel sekarang.
Diambilnya sebuah kartu yang di selipkan di deretan kartu. Farrel menyerahkan kartu bertulisan gold itu kepada sang kasir.
Retha ternganga. Sulit untuk mengantup mulutnya, astaga itu kah isi dompet anak SMA? Bahkan isi dompet Retha tidak sampai separuhnya.
Namun, hal itu rasanya dianggap wajar. Farrel Manggala Wdyatmaja, cucu satu-satunya dari Romi Wdyatmaja pengusaha terkenal se Indonesia dan terkaya nomor satu.
Wajar, kan?
"Nih," Farrel menyodorkan paper bag itu pada Retha. "Isinya parfum yang tadi."
Retha tidak langsung mengambil paper bag itu. Ia masih tidak percaya. Lima belas juta, Farrel habiskan dalam hitungan menit. Dan, itu hanya untuk dirinya?
"Rel, gue bayar sendiri aja," tolak Retha.
Farrel mendengus kesal. "Gue nggak suka di tolak. Terima aja, apa susahnya, sih?"
"Tapi,--"
"Udah," potong Farrel cepat. "Ambil." titah Farrel yang mulai tidak sabaran.
Retha menurut saja. Malu kalau terus berdebat, daritadi ia dan Farrel menjadi objek tontonan. Nanti saja debatnya, saat sudah keluar dari sini.
Akhirnya, mereka berdua pergi dari tempat itu. Retha yang masih bingung, sedangkan Farrel tersenyum cerah. Bahagia rasanya.
*****
Sebuah restoran cepat saji, menjadi pilihan Farrel dan Retha kali ini. Sehabis kejadian beli parfum seharga motor, jadilah Retha ingin meneraktir Farrel. Walaupun tidak sebanding.
"Inget, ya. Aku yang bayar." ucap Retha mengingatkan. Ini sudah yang ke sepuluh kalinya gadis itu berucap.
Farrel memutar bola matanya malas. "Iyaiya."
Mereka berdua mengantri di salah satu dari lima baris antrian. Tentu saja memilih antrian yang paling pendek, agar bisa cepat memesan dan makan.
Setengah jam mengantri, akhirnya tiba giliran mereka. Retha menyebutkan beberapa makanan yang ia pilih, dan saat ia menanyakan Farrel ingin apa, cowok itu menjawab 'samain aja'.
Setelah membayar, mereka mencari tempat duduk yang kosong sembari membawa nomor atrian. Cukup lama menunggu, akhirnya makanan pesanan mereka datang.
Dua buah burger deluxe, dua buah mocca float, dan dua buah rice box. Cukup untuk mengganjal perut setelah lelah seharian jalan-jalan.
Retha dan Farrel makan dalam diam. Yang satu menikmati, yang satu memikirkan satu hal yang sangat mengganggu pikirannya daritadi.
Retha menyesap mocca float-nya, kemudian menatap Farrel yang sepertinya juga baru selesai menyantap makanannya.
"Sampe Jakarta, gue ganti, ya?" ucap Retha membuka percakapan.
Farrel mendongakan kepalanya. "Apaan yang di ganti?"
Retha menunjuk paper bag yang terletak di sampingnya dengan dagu.
"Jangan," ujar Farrel melarang. "Itu hadiah."
Alis Retha terangkat satu. "Hadiah?"
Farrel mengangguk. "Hadiah jadian kita, monthsarry."
Retha terdiam. Jadi, sudah satu bulan semenjak kejadian itu dan Farrel masih menganggapnya nyata.
Apa hanya Retha di sini yang tidak menganggap Farrel itu pacarnya? Lagian, siapasih yang mau di tembak dengan cara tidak lazim?
"Re," panggil Farrel.
Retha menatap Farrel. "Kenapa?"
"Te Amo."