20

982 Kata
Butiran-butiran air yang mengalir dari shower, jatuh tepat membasahi tubuh kekar seorang cowok yang berdiri tepat di bawahnya. Farrel, cowok itu sudah berdiri di sana hampir setengah jam. Entah apa yang sedang di pikirkannya, yang jelas ia sudah cukup lama berdiam disitu. Pintu kamar mandi terketuk dengan tidak sabar. Farrel yakin, itu pasti Samudra. Siapa lagi? Penghuni kamar ini hanya mereka berdua. "Rel!" teriak Samudra seraya nenggedor-gedor pintu. "buruan, elah. Gue mules!" Farrel bergeming. Masih sibuk dengan pikirannya, tidak tau kapan akan berakhir. Tidak ada niat pula untuk ia beranjak dari posisinya sekarang. Tidak menutup kemungkinan kalau Farrel akan jatuh sakit. Mengingat cowok itu sudah hampir satu jam berdiri di bawah guyuran air dingin, tanpa bergerak. Samudra kesal. Ia memegangi perutnya yang sudah tidak dapat berkrompromi lagi. "Rel! Di ujung tanduk ini!" teriaknya lagi. Masih sama, Farrel bergeming. Mau tidak mau, Samudra harus mendobrak pintu itu atau ia menumpang di kamar Valerie. Tapi, tengsin dong. Tidak tahan, Samudra mencoba membuka kenop pintu dan terbuka. Farrel tidak mengunci pintunya. Segera Samudra masuk, mengecek keadaan sepupunya yang sedari tadi tidak menjawabnya, takut kalau terjadi apa-apa. Bisa saja Farrel bunuh diri, atau pingsan. Dan, mata Samudra menangkap siluet seorang cowok di balik tirai. Samudra menyibak tirai itu. Mendapati Farrel yang berdiri diam di bawah guyuran shower, bahkan masih menggunakan pakaiannya dengan lengkap. "Rel!" sentak Samudra. "Lo kenapa? Abis di perkosa sama Retha?" Farrel menoleh dan menatap Samudra tajam. Membuat Samudra jadi kicep, mingkem. Takut salah ngomong dan di terkam oleh Farrel. Namun, bibir Samudra rasanya gatal. Hendak berucap nakal, menggoda Farrel dan membuatnya kesal. "Di sinetron yang gue tonton, kalo bediri diem di bawah shower gini pasti abis di apa-apain." celoteh Samudra. Lagi, Farrel menoleh. Kali ini ia menatap tajam Samudra, lebih tajam dari biasanya. Samudra merasakan hawa ngeri. Tatapan Farrel begitu menusuk tajam, astaga. Itu hanya sebuah tatapan, mengapa bisa semengerikan itu? "Ampun, Rel." ciut Samudra. Semenakutkan apapun Samudra, kalau sudah di hadapkan dengan Farrel atau Valerie sudah dapat di pastikan sang anjing liar akan berubah menjadi kucing persia. Farrel bergerak menjauh. Dengan tubuhnya yang basah kuyup, apa lagi ia masih memakai bajunya dengan lengkap. Semakin dingin saja hawa yang ia rasakan. Farrel mengambil handuk yang tersedia di kamar VIP itu. Melepaskan semua pakaiannya dan memakai handuk itu sebagai pengganti bajunya yang basah. Setelahnya, Farrel melenggang keluar. Meninggalkan Samudra yang akhirnya bisa melepaskan semua beban yang sudah ia tahan dari tadi. Menyelesaikan panggilan alam yang tertunda. Kaki Farrel membawanya melangkah menuju kopernya. Mengambil dalaman dan satu stel pakaian santai. Ini masih pagi, jadi Farrel memakai pakaian santai saja. Mungkin nanti siang ia akan berjalan-jalan, itu juga kalau ada yang mau menemaninya. Selesai berpakaian, Farrel hendak bersantai di pinggir jendela. Duduk manis seraya melihat pemandangan pagi di kota Bali. Hotel ini memiliki letak yang sangat strategis. Apa lagi kamar VIP yang mereka tempati mengarah langsung ke arah pantai kuta. Tidak perlu repot-repot pergi ke pantai untuk sekedar melihat sunset ataupun sunrise. Cukup berdiri di sini, di balik jendela yang mengarah langsung ke pantai kuta. Ah, nikmatnya. Suasana pagi Farrel yang damai tiba-tiba terusik karena ketukan pintu yang tidak sabaran. Farrel mendengus kesal, baru saja ia ingin melupakan sejenak beban di pikirannya. Ada saja yang mengganggunya. Dengan malas, Farrel berjalan ke arah pintu. Tangan Farrel bergerak menarik pintu itu ke belakang. Di tatapnya orang yang sedang berdiri di hadapannya saat ini. "Morning!" sapa Retha girang. Penampilan Gadis itu sudah berubah 180 derajat. Sangat berbeda jauh dari penampilannya tadi malam. Tadi malam, penampilannya sangat urakan. Matanya berair dan bibirnya pucat. Sekarang, wajah gadis itu sudah kembali cerah. Tidak terlihat sepucat tadi malam, bahkan sekarang warna bibirnya pink merona. Benda itu yang kemaren Farrel sentuh dengan bibirnya, kan? Kenapa rasanya gemas melihat benda itu lagi? Rasanya ingin sekali lagi Farrel menyosor bibir Retha yang berwarna pink natural itu. "Farrel?" panggil Retha seraya melambaikan tangannya di depan wajah cowok itu. Farrel terkesiap dari lamunannya. "Ya?" "Kok bengong?" tanya Retha. "Lo cantik, sih." jawab Farrel asal. Lagi, sudah kesekian ribu kalinya candaan Farrel itu berhasil membuat pipi Retha bersemu merah. Kenapa sih, cowok ini hoby sekali membuatnya nge-fly? "Apaan, sih!" sanggah Retha salah tingkah. Melihat Retha yang salah tingkah karena godaannya, membuat Farrel gemas dan ingin menggodanya sekali lagi. "Ngapain ke sini?" tanya Farrel. "Kangen?" "Enggak, ih!" kilah Retha. "pede banget." cibirnya. "Terus? Mau apa? Mau minta cium, kayak kemaren? Sini, sini," Farrel bergerak hendak mendekati gadis itu, namun Retha buru-buru menjauh darinya. "Farrel, ih!" kesalnya. "Gue mau ngajak jalan-jalan." "Retha, ih!" ucap Farrel mengikuti nada bicara gadis itu. "Gue mau ngajak cium-ciuman." Lagi, pipi Retha merona merah. LAGI. Tuhan, kapan ini akan berakhir? Retha bisa-bisa baper beneran kalau terus-terusan di perlakukan seperti ini. Enggan bertambah salah tingkah dan membuatnya lelah, akhirnya Retha memilih pergi. Menjauh dari sana, dari Farrel. Daripada terus-terusan baper. Tanpa sepatah kata, Retha berjalan meninggalkan Farrel. Kesal rasanya, tapi ada senangnya juga. Iya, Retha tau kalau Farrel cuman bercanda. Tetap saja, jantungnya berdetak cepat, pipinya selalu memerah. Hanya karena godaan dan candaan cowok itu. Tunggu, Retha tidak sedang jatuh cinta, kan? Retha berjalan sembari memikirkan hal itu. Sampai ia tidak sadar, kalau sekarang Farrel juga turut berjalan di sampingnya. "Farrel, kalo gue baper gimana?!" kesalnya. Sepertinya Retha tidak sadar kalau Farrel sedang berjalan di sampingnya dan mendengarkan perkataan gadis itu. Farrel terkekeh. Retha sangat menggemaskan. Pipi gadis itu memerah hanya karena candaannya. Farrel suka melihat itu, apa lagi sikap Retha saat salah tingkah. Lihat saja sekarang. Entah kemana gadis itu melangkahkan kakinya, kamarnya sudah jauh terlewati. Ia masih saja mengoceh tidak jelas dan tidak sadar kalau ada Farrel di sampingnya. Sedahsyat itukah efek dari godaan Farrel? Hingga membuat Retha yang super duper judes dapat bertingkah seperti ini? "Gue kan baperan, ntar siapa yang tanggung jawab?!" lagi, gadis itu mendumel. Farrel terkekeh. Sudah cukup ia mendengarkan celotehan Retha yang berputar-putar. Farrel semakin mendekatkan dirinya, dan merangkul gadis itu. "Sini," Farrel menarik Retha kedalam rangkulannya. "Gue tanggung jawab."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN