5

1566 Kata
Bel tanda pelajaran berakhir sudah dibunyikan. Para murid bergegas merapikan alat tulis dan memasukkan ke dalam tas masing-masing. Dan, segera bergerak pulang. Seperti biasa, Retha memakai hoodie dark grey kesayangannya. Setelah itu, gadis itu bersiap beranjak pergi untuk pulang. Karena, sepertinya pak Bono---supir pribadinya sudah menunggu di depan. Saat Retha melangkahkan kakinya, tangannya dicekal oleh seseorang. Retha menolehkan kepalanya ke belakang, dan melihat Farrel sedang menahan pergelangan tangannya. "Apa, sih? Lepasin, gue mau pulang!" ketus Retha seraya berusaha melepaskan tangannya. Bukannya melepaskan tangan Retha, Farrel malah menarik gadis itu mendekatinya. Retha yang belum siap ditarik itu, hampir saja terjungkal ke belakang kalau saja Farrel tidak sigap menangkapnya. "Lebay amat, ditarik doang sampe mau jatoh. Atau lo emang sengaja ya, biar gue tangkep?"  "Gila!" gerutu Retha. Ia segera berdiri dengan benar, melepaskan dirinya dari rengkuhan hangat Farrel dengan posisi tangannya yang masih Farrel genggam. "Woi! Buruan lo semua keluar kelas!" teriak Farrel pada sisa murid yang berada di kelasnya.  "Emm, Tha. Gue sama Deva duluan, ya?" ujar Valerie dengan raut wajah tidak nyaman. Sejujurnya ia dan Deva enggan meninggalkan Retha duluan, namun karena ancaman Farrel, mereka jadi ciut. "Eh, Vale, Deva! Kok gue ditinggal, woi!" teriakan dan panggilan Retha tidak digubris oleh kedua sahabatnya, bahkan mereka semakin mempercepat jalan mereka. Sekarang, hanya ada Retha dan Farrel di kelas ini. Retha sudah mulai tidak nyaman hanya berdua dengan Farrel. "Lepasin, gue mau pulang!" ucap Retha seraya memberontak meminta di lepaskan. "Lo pilih malu seumur hidup, atau nunggu sampe di luar bener-bener kosong?"  Retha menaikkan sebelah alisnya, "Maksud lo apaan? Gue nggak ngerti."  "Rok lo. Udah kayak bendera Jepang." Farrel menunjuk bagian belakang rok Retha dengan dagu. Retha membelalakan matanya, gadis itu segera memutar tubuhnya, melihat rok bagian belakangnya dan seketika pipinya memerah menahan malu. "Masih mau keluar?" tanya Farrel. Retha kalah. Okelah, kali ini Farrel menang. Retha memilih menuruti Farrel untuk menunggu sampai sepi. Sebenarnya bisa saja Retha menutupi noda merah itu memakai jaketnya, tapi, Retha terlalu sibuk untuk sekedar mencuci jaket dan roknya sekaligus. "Tunggu di sini," kata Farrel. Lalu, cowok itu melenggang keluar kelasnya entah kemana. Retha menghendikan bahunya tidak peduli, cewek itu kemudian mengeluarkan ponselnya. Benda pipih berukuran 5inchi itu berwarna jet black, berlambangkan buah yang di gigit. Ah iya, itu adalah seri ke tujuh plus ponselnya. Retha membuka aplikasi instagramnya, menstalker i********: Manuel Rios Fernandez idolanya.  "Ya Allah, matanya ijo bener." gumam Retha tanpa sadar. "Mirip gue." Retha mendongakan kepalanya, menatap Farrel yang sudah kembali. Entah kapan datangnya, Retha tidak peduli. "Mumpung mood gue lagi bagus karena abis stalker my baby Manu, lo nggak bakalan gue omelin," Retha tersenyum sembari memandangi layar ponselnya. "Lo orang kaya, ya," komentar Farrel saat melihat ponsel keluaran terbaru milik Retha. "Biasa aja. Keluarga gue nggak sekaya keluarga lo," balas Retha datar tanpa memalingkan wajahnya dari layar ponselnya. "Sampe lo punya supir pribadi."  Kali ini ucapan Farrel berhasil membuat Retha mengalihkan pandangannya ke arah Farrel. "Darimana lo tau gue punya supir pribadi?" tanya Retha curiga. "Tadi supir lo di luar, nanyain gue kenal sama lo apa enggak. Gue bilang kenal, terus itu supir lo gue suruh pulang. Gue bilang, lo balik sama gue." Hampir saja Retha tidak bisa mengantup mulutnya. Dengan santainya Farrel menyuruh pak Bono pulang, sedangkan dari tadi ia sudah tidak sabaran untuk pulang. "Lo gila, ya?!" geram Retha seraya menunjuk Farrel tepat di depan wajahnya. "Kan gue udah bilang, lo pulang sama gue. Biar enak ntar malem gue jemputnya." kata Farrel enteng. "GUE NGGAK BISA PULANG NAIK MOTOR LO, FARREL!" teriak Retha frustasi. Betapa menjengkelkannya Farrel. Sudah tau Retha bocor, masih saja memaksa untuk pulang dengannya naik motor. Di mana sih otak cowok itu, batin Retha. "Yang bilang naik motor, siapa?" tanya Farrel. "Ya lo emang naik motor, kan?" "Sok tau," kata Farrel seraya menoyor kepala Retha. "Woi! Nggak sopan!" tegur Retha karena tidak terima Farrel menoyor kepalanya. "Ck. Yaudah, koridor udah sepi. Yuk cabut," ajak Farrel ingin meraih tangan Retha namun segera di tepis oleh gadis itu. "Nggak ada acara pegang-pegangan!" bentak Retha. "Elah, galak bener."  "Cepetan, pulang!"  Retha berjalan duluan meninggalkan Farrel. Cowok itu mendengus sebal, kemudian mengikuti Retha dari belakang. Farrel mati-matian hendak tertawa, karena ada bendera Jepang di hadapannya. Namun, niat itu ia urungkan. Karena sama saja artinya ia menghina Retha dengan menertawakan hal itu. Retha sudah berada di luar kelas, hendak membelokkan dirinya ke kanan ke arah parkiran motor, namun Farrel dengan cepat memutar langkahnya ke kiri. "Lo ngapain, sih? Parkiran motor itu di sana!" kesal Retha seraya menunjuk ke arah parkiran motor. "Masalahnya, gue nggak bawa motor. Lo marah-marah mulu elah, cepet tua ntar."  "Nggak bawa motor? Terus kita naik apa? Ngesot?" Tidak menjawab, Farrel menarik Retha. Gadis itu hendak melawan tapi tidak bisa, ia melangkahkan kakinya mengikuti ke arah Farrel menariknya. Sampai akhirnya mereka tiba di depan sebuah mobil mewah berwarna hitam metalic. Retha sempat ternganga melihat mobil itu, namun segera ia netralkan agar tidak terlihat kampungan. "Masuk." perintah Farrel. Retha menurut saja, gadis itu membuka pintu mobil dan segera menduduki dirinya di jok sebelah supir yang sudah di lapisi plastik.  Mobil berkapasitas dua penumpang ini sangat elegan, bahkan Farrel mendeco bagian dalam mobil ini juga. Kulit jok ia ganti berwarna hitam sama seperti warna mobilnya. Sepertinya cowok tampan ini sangat menyukai warna hitam. Mulai dari jaketnya, mobilnya, sampai interior kamar dan mobilnya juga hitam. Seperti dunianya, hitam. "Rumah lo, di mana?" tanya Farrel saat mobilnya mulai melaju meninggalkan sekolah. "Komplek meranti A, rumah gue warna abu-abu." jawab Retha singkat. Farrel mengangguk mengerti, dan segera melajukan mobilnya ke alamat rumah Retha. Tidak tanggung-tanggung, Farrel membawa mobilnya dengan kecepatan 100km/jam. Cukup untuk membuat Retha memacu jantungnya, gadis itu bahkan tiada hentinya memukul lengan Farrel agar cowok itu memelankan mobilnya. Namun, Farrel tidak mengindahkan teriakan dan ringisan ketakutan Retha. Cowok itu malah semakin suka mengerjai gadis itu. Memang, tujuan utama Farrel adalah menyiksa Retha secara perlahan, membuat gadis itu sadar kalau ia tidak pantas untuk membenci Farrel. Lima menit, waktu yang Farrel tempuh untuk sampai ke rumah Retha. Ia memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah besar bergaya eropa itu, seperti kata Retha, rumahnya bercat abu-abu. "Udah sampe." ucap Farrel seraya menengok ke samping. Ia terkejut melihat ekspresi wajah Retha, gadis itu sangat tegang. Dengan tangannya yang mencengkram erat jok yang ia duduki. "Oi, lo kenapa?" tanya Farrel. Membuat Retha tersadar, gadis itu menatap Farrel dengan kesal. Tanpa sepatah kata apapun, Retha keluar dari mobil Farrel. Dan berlari masuk ke dalam rumahnya. "Makasih, kek." gerutu Farrel. Cowok itu kemudian melajukan kembali mobilnya pulang ke rumah. *** Setelah selesai mandi dan membereskan kamarnya, Retha berjalan menuju kamar yang terletak di samping kamarnya. "Bunda!" sapa Retha riang. Ia menutup pintu dan berjalan ke arah kasur tempat bunda-nya berbaring. "Bunda, Retha mau curhat.." Tidak ada jawaban. "Bunda, tadi di sekolah ada cowok gila. Namanya Farrel, itu loh yang Retha bilang dia itu biang masalah. Bunda inget, kan? Tadi, Retha nekat tidur di bilik kamarnya. Eh, dia malah marah-marah. Paksa Retha jadi pacarnya, terus hari ini rasanya Retha sial bangettt! Masa, tadi Retha bocor, Bunn. Dia ngeliat, ya ampun! Retha malu banget, Bundaaaa. Terus, dia juga ngajak Retha ke pesta. Sebenarnya Retha nggak mau, tapi pesta itu pesta Vanesha dan Vanilla. Itu loh, anaknya om Rey sama tante Nesya. Sahabatnya Bunda.." Selalu saja seperti ini, Bundanya tidak akan pernah menjawab sepanjang apapun Retha berbicara. Gadis berusia 17 tahun itu hanya bisa sabar. Sepanjang apapun Retha berbicara, Bundanya tidak akan menjawab. Hanya keheningan yang ada, dan suara mesin EKG yang menggambarkan detak jantung Bundanya yang menyahut semua curahan hatinya. Tasya, Bunda Retha. Ia koma sudah hampir satu tahun, akibat di tabrak lari. Setahun sudah Retha tidak pernah mendengar suara cerewet Bundanya, Retha merindukan Bunda. Pintu kamar Tasya terbuka, menampilkan sosok seorang lelaki dengan setelan jas kerjanya. Lelaki itu berjalan menghampiri Retha dan Tasya. Itu adalah Rio, ayah Retha.  "Retha sudah makan, nak?" tanya Rio lembut, seraya mengusap puncak kepala Retha dengan sayang. Retha mengangguk. "Sudah, Ayah?" tanyanya dan dijawab anggukan oleh Rio. "Kamu nanti malem datang ke acara sepupu kamu, kan?"  Ah, iya. Bukan cuma teman, mereka juga sepupu. Rey dan Rio bersepupu, itu artinya Retha dan Vanesha, Valina adalah sepupu dua kali. "Dateng, Yah. Sama temen." jawab Retha pelan. "Sama siapa?" tanya Rio penasaran. "Pacar, ya?" "Ayah apaan sih. Retha nggak punya pacar!" ujarnya seraya mencebikkan bibirnya kedepan. Rio terkekeh pelan. "Nggak siap-siap kamu, Nak?" Retha menggeleng pelan. "Enggak ah, Yah. Nanti aja. Retha masih mau di sini, sama Bunda."  "Retha siap-siap aja. Biar Ayah yang jagain Bunda, ya?" "Yah, Bunda kapan ya bangun?" tanya Retha seraya menatap nanar ke arah Bundanya. Ia sangat merindukan sosok penyayang sang Bunda. Rio merangkul anak semata wayangnya. Lelaki itu memberikan pelukan hangatnya. "Ayah juga nggak tau, nak. Kita doakan supaya Bunda cepat sadar dan bisa kumpul sama kita lagi, ya." Retha memeluk Ayahnya dengan erat. "Retha benci sama orang yang udah tabrak Bunda dan biarin Bunda menderita di pinggir jalan!" "Retha, kamu nggak boleh begitu. Allah aja maha pemaaf, masa kamu sebagai umatnya menjadi sosok pendendam?" nasehat Rio. Retha melepaskan pelukannya, gadis itu berdiri dan bersiap hendak pergi. "Retha mau siap-siap." ujarnya dan segera pergi meninggalkan Rio. Rio menatap punggung putrinya yang kian menjauh. Kemudian, ia mengalihkan pandangannya ke arah Tasya yang masih setia memejamkan matanya dengan berbagai alat yang menempel pada tubunya, serta alat bantu nafas yang melekat di hidung dan mulutnya. "Kamu kapan bangun, sayang? Sudah setahun." ucap Rio tak kuasa menahan sedihnya. ------------------------------------------------------------------ Instagram Cantikazhr Farrelmw
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN