6

1624 Kata
Farrel bergaya tidak seperti biasanya. Jika biasanya cowok itu berpenampilan urakan, kali ini ia memakai kemeja hitam yang berwarna senada dengan jeans yang ia kenakan. Semua stuff yang Farrel gunakan berwarna hitam. Mulai dari baju, celana sampai jam tangan. Menambah kesan elegan, dan cowok itu semakin terlihat tampan. Jika biasanya cowok itu keluar untuk balapan atau ke club, malam ini berbeda. Farrel segera melangkahkan kakinya keluar kamar, Berjalan menuju garasi tempat mobil kesayangannya terparkir. Tepat di samping mobil Farrel, ada sebuah mobil yang sama persis dengan miliknya. Hanya berbeda warna saja, mobil itu berwarna putih tulang. Itu adalah mobil kesayangan Farrel, dulu. Farrel langsung masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin dan melajukannya menuju rumah Retha. Seperti biasa, cowok itu tidak pernah berkendara dengan santai. Tidak jarang pengendara lain mengumpat kasar karena hampir tertabrak oleh Farrel. Namun, Farrel tidak mengindahkan semua itu. Ia seakan tidak perduli, toh ini adalah hidupnya, untuk apa mendengarkan ocehan orang lain? Tidak berguna. Lima menit, hanya butuh lima menit untuk Farrel sampai dengan selamat di depan rumah tempat ia tadi sore mengantar Retha. Farrel lupa, ia tidak memiliki satu pun sosial media milik Retha. Lalu, bagaimana cara Farrel memberi tahu Retha kalau ia sudah berada tepat di depan rumahnya sekarang? Ketukan tepat di kaca mobilnya, membuat Farrel sedikit terperanjak. Ia menurunkan kaca mobilnya dan menatap aneh seorang satpam yang juga sedang menatapnya. "Mas, nyari siapa?" tanya Satpam itu penuh selidik. "Saya pacarnya Retha," jawab Farrel datar. Walaupun sedikit terkejut, satpam itu segera menyuruh mobil Farrel untuk segera masuk ke halaman rumah Retha. Tentu saja dengan senang hati Farrel melajukan mobilnya ke sana. Dengan penuh keberanian, Farrel turun dan memencet bel rumah Retha. Selang beberapa detik kemudian, seorang lelaki dewasa yang Farrel yakini adalah Ayah Retha -karena wajahnya yang mirip dengan Retha- membukakan pintu untuknya. "Malam, om," sapa Farrel ramah. Ah, ini cuman drama untuk memuluskan niatnya. "Malam, temennya Retha ya?" tanya Rio sama ramahnya.  "Bukan, Om," Farrel menggelengkan kepalanya, "Pacar." "Ke sini mau jemput Retha?" Farrel mengangguk mengiyakan, "Iya, Om. Saya mau jemput Retha buat ke pesta ulang tahun temen." "Iya, silahkan. Retha sudah siap dari tadi, kok. Masuk dulu," ajak Rio. "Eh, nggak usah om. Saya nunggu di mobil aja," tolak Farrel secara halus. "Ah, jangan dong. Masuk aja, ayo," kata Rio memaksa. Bahkan lelaki itu memaksa Farrel untuk masuk ke dalam rumahnya. Mau tidak mau, Farrel menurut saja. Baru dua langkah Farrel memasuki rumah megah ini, ternyata Retha sudah berjalan ke arah mereka. "Nah, itu Retha," ujar Rio seraya menunjuk putrinya yang mengenakan dress hitam se lutut lengan pendek. "Baru aja Ayah mau ajak pacar kamu nunggu di dalem." ujar Rio. Retha mengernyitkan dahinya, "Pacar?" "Iya, ini pacar kamu katanya." "Em, yaudah, Om. Kita berangkat dulu, ya? Yuk, Tha," ajak Farrel. Cowok itu segera menggamit tangan Retha, menariknya untuk cepat masuk ke mobil. Untuk menghindari pertanyaan Ayah Retha lebih banyak. "Eh? Ayah, Assalamualaikum!" teriak Retha seraya berjalan di seret oleh Farrel. Farrel membuka pintu mobilnya, dan mendorong masuk Retha ke dalamnya. Cewek itu menggeram kesal karena Farrel memperlakukannya dengan kasar. "Kasar banget sih?! Nggak bisa lembutan dikit?!" protes Retha saat Farrel sudah masuk dan duduk di jok supir. "Berisik banget, sih. Gue nggak suka diprotes," balas Farrel ketus. "Lo cewek gue. Jadi, lo harus tau apa yang gue suka dan gue nggak suka." cetusnya final. "Eh, lo inget ya. Gue nggak pernah bilang 'iya', gue NOLAK lo kalo lo lupa." ucap Retha dengan menekan kata Iya dan Nolak. "Gue nggak nerima penolakan, kalo lo lupa."  Farrel menyunggingkan senyum tipisnya saat melihat Retha yang sudah kehabisan kata-kata untuk melawannya. Cowok itu hendak melajukan mobilnya, namun Retha langsung bersuara. "Kalo lo ngebut, gue loncat," ucapnya dengan nada serius, mengancam dan menatap Farrel dengan tajam. Seakan-akan perkataanya bukan omong kosong. Tidak menjawab, Farrel melajukan mobil sport miliknya. Walaupun ia tidak mengiyakan perkataan Retha, namun cowok itu menuruti keinginan gadis itu untuk tidak ngebut. Detak jantung Retha yang sedari tadi berdegub tidak karuan, mulai menemukan titik normalnya. Pasalnya, ia daritadi gugup kalau Farrel akan mengemudi seperti tadi sore. Menegangkan, menakutkan, ingin mati. Itu yang dirasakan Retha. Rasanya ia sedang berada di sirkuit bersama Valentino Rossi, Marc Marquez dan George Lorenzo untuk balapan. Lebay memang, tapi Retha memang tidak pernah memacu adrenaline seperti itu. Paling bantar, ia hanya mengendarai sepeda motornya dalam kecepatan 60km/jam. "Muka lo biasa aja. Nggak usah tegang," tegur Farrel memecah keheningan. Wajah tegang Retha seketika berubah, semakin ditekuk membuat Farrel ingin tertawa melihat wajah Retha yang lucu. Kalau diperhatikan, pakaian mereka malam ini nampak serasi. Mathcing gitu, kayak Couple shirt. Tapi ini versi elite, jas dengan gaun yang dipakai mereka sangat pas. Padahal mereka tidak janjian, jodoh kayaknya. Ha ha ha "Gue nggak bisa lama di pesta itu." Farrel melirik Retha dari sudut matanya, "Kenapa?" "Cewek nggak baik pulang malem-malem," jawab Retha tanpa melihat ke arah Farrel. "Yaudah, balik subuh aja. Gimana?" tawar Farrel diiringi cengiran kecil. "Lo kira gue cewek apaan?!" Marah Retha. Cewek itu bahkan memukul keras lengan Farrel, membuat Farrel meringis sakit. "Gue ngomong nyantai, kok lo pake acara mukul? Mau gue bales?" tantang Farrel. Retha berdecak, "Preman sekolah, dipukul cewek kok ngaduh. Pengen bales lagi, cemen." remehnya. "Gue nggak bales mukul. Pake cara lain," ujar Farrel dengan senyuman nakalnya. Alis Retha terangkat satu. Ia menangkap aura tidak menyenangkan dari Farrel, "Pake apa?"  "Aturan main sama gue, pukul satu kali, gue bales cium dua kali. Pukul dua kali, gue bales cium empat kali. Gitu seterusnya." "Lo gila? Udah setres, m***m lagi! Demi apapun, lo--" tangan Retha terangkat ke udara, bersiap melayangkan satu pukulan pada Farrel. Namun, cowok itu langsung mencegahnya. "Ingat, satu pukul dua cium." Kurang ajar. Retha mengeretakan rahangnya. Ia begitu dongkol dengan Farrel. Cowok ini, sesuai dengan julukannya. Prince of trouble, Retha selalu terkena masalah seharian ini. Rasanya ingin sekali Retha melempar higheels yang ia sedang ia gunakan ke kepala Farrel, biar cowok itu sadar, ada pencerahan. Siapa tau setelah kepalanya digetok pakai heels 10cm milik Retha, bisa langsung normal. "Udah sampe. Mau turun, atau ngedumel nggak jelas?" tanya Farrel dengan nada mencibir. Retha tidak menjawab, gadis itu langsung turun tanpa menunggu Farrel. Biar saja, toh Retha tidak ingin dekat-dekat dengan Farrel di pesta ini. Cukup masalah hari ini dan cukup hanya datang bersama, Retha tidak sanggup kalau sampai harus masuk bersama dengan Farrel juga. Bukan karena malu, bukan. Farrel cukup tampan, bahkan sangat tampan untuk dijadikan gandengan. Sayang, Retha hanya tidak ingin ada 'masalah' yang timbul kalau ia bersama dengan 'pangeran masalah'. Retha berjalan duluan, masuk ke dalam kerumunan para tamu undangan sesaat setelah ia menunjukan undangan miliknya. Meninggalkan Farrel berdua dengan mobilnya. Mata Retha meneliti setiap sudut Garden Party ini. Ia mencari-cari sekiranya orang yang ia kenal, namun daritadi ia hanya melihat sekumpulan cowok blasteran, cewek ke bule bulean, dan sejenisnya. Padahal, isi pesta ini juga sebagian dari keluarganya. Namun, ia merasa asing. Keakrabannya hanya dengan Valerie saja, selebihnya, Retha kurang kenal. "Tha!" Retha langsung memutar tubuhnya sembilan puluh derajat ke belakang, tepat saat ia mendengar teriakan Valerie menyerukan namanya. Ia melihat sahabatnya itu sedang bersama dengan kekasihnya, Retha meringis kesal. Samudra sepupunya Farrel, niatnya menjauhi Farrel di pesta ini bisa gagal. Karena Retha pasti akan selalu bersama Valerie di pesta ini, di mana ada Valerie pasti ada Samudra, kalau ada Samudra pasti Farrel nyamperin Samudra. Huh. "Lo sama siapa?" tanya Valerie seraya melirik ke samping kiri dan kanan Retha. Kosong, tidak ada siapa-siapa. "Sama Farrel." Bukan Retha yang menjawab. Itu Samudra yang nyeletuk dengan santai tanpa dosa. Valerie tersenyum penuh arti pada Retha, "Ekhem, tumben diizinin sama cowok?"  Retha memutar bola matanya malas. Malas untuk membahas Farrel, rasanya moodnya jadi buruk. Sebenarnya memang mood Retha sudah buruk daritadi. "Lo bedua bisa misah nggak? Gue berasa jadi obat nyamuk," ketus Retha. Samudra menggeleng-gelengkan kepalanya. "No, I never leave my sweetheart." katanya seraya menatap Valerie gemas. "Ocean, ih!!" Valerie menangkup kedua pipinya yang merona. "Jadi makin sayang sama My Sweet Badboy, unch!"  "Aku lebih makin sayang sama My sweet Girl." "Enggak. Aku yang paling paling lebih sayang." "Aku yang paling paling paling lebihhhhhhhhhhhhhhhh sayang Valerie." "Aku yang---" "JIJIK!" selak Retha menghentikan drama korea live di hadapannya. Gadis itu menatap tajam dua mahkluk yang dahulunya sangat sulit bersatu itu. "Dasar jomblo, iri aja," sewot Samudra. "Udah Ocean, nggak boleh hina orang." tegur Valerie lembut. Tentu saja Samudra menurut dengan senang hati, apapun yang Valerie minta, akan Samudra turuti sekalipun nyawa, insyaalah Samudra tidak berani. "Val, yang ultah mana nih?"  Valerie menggeleng tanda tidak tahu, "Enggak tau, Tha. Mungkin sengaja ngumpet dulu." Retha hanya mengangguk-anggukan saja kepalanya. Haus, Retha berjalan menuju meja yang diatasnya tersedia berbagai makanan dan minum. Retha mengambil gelas yang berisikan minuman berwarna merah. Mungkin sirup pikirnya, gadis itu hendak meminumnya, namun gelas itu tiba-tiba terjatuh dari genggamannya. Bukan, bukan Retha yang menjatuhkannya, ada seseorang yang mendorong tangan Retha tadi. Dan, orang itu adalah.. "Gila ya lo?" Itu Farrel. Retha menarik nafasnya panjang, menghembuskannya kasar. Lalu, menatap Farrel dengan amarahnya yang membuncah. "Masalah lo apa?" tanyanya dengan suara rendah. "Lo sinting, itu masalah gue." jawab Farrel datar. Sabar Retha sabar, ini Farrel, Troublemaker. Kerjaannya emang bikin masalah, jangan emosi, santai. "Apa yang bikin lo ngatain gue sinting?"  "Lo mau mabuk? Lo barusan ngambil segelas gede wine, gila. Bisa minum juga ya, lo." Dahi Retha mengernyit, "Wine? Itu sirup Farrel!" Farrel terkekeh mendengar protesan Retha. Cowok itu memutar tubuh Retha ke belakang, menatap meja tempat Retha mengambil minuman tadi, dan mengarahkan kepala gadis itu ke sebuah kertas. "Baca," perintah Farrel tepat di telinga Retha. Membuat gadis itu merinding mendengar suara Farrel begitu dekat. "Wine," eja Retha. "Pinter," komentar Farrel. Cowok itu kemudian memutar lagi tubuh Retha. "Masih mau minum? Atau masih mau bilang itu sirup?" tanya Farrel dan dijawab gelengan kikuk oleh Retha. "Pinter," Farrel  menepuk-nepuk puncak kepala Retha. --------------------------------------------------------------------- Instagram Cantikazhr Farrelmw
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN