10. Badai

1106 Kata
Chapter 10 Badai Bianca dan Evander keluar dari toko bunga lalu masuk ke dalam mobil, mereka menuju China Crown di Salamaca. Sementara hujan mulai membasahi jalanan dan gedung kota Madrid, Evander memeriksa perkiraan cuaca di layar yang terdapat di dasbor mobilnya. “Akan ada badai,” kata Evander. “Semoga tidak terjadi,” sahut Bianca. “Cuaca tidak menentu sekarang.” “Benar.” “Aku benci hujan.” “Karena memengaruhi jadwal penerbangan?” “Ya, salah satunya,” jawab Evander, “bagaimana denganmu?” “Aku menyukainya. Mendengarkan rintik hujan seperti mendengarkan alunan musik klasik, ada kedamaian di sana.” Evander tersenyum mendengar alasan Bianca. “Kau masih suka musik klasik?” “Kukira kau melupakannya.” Tidak ada yang dilupakan Evander, bahkan ciuman pertama mereka di perpustakaan pun Evander masih jelas mengingatnya. Itu adalah ciuman pertama Evander, juga Bianca. Mereka melakukannya di lorong perpustakaan, di antara jejeran rak-rak buku dan bersembunyi dari banyaknya orang di perpustakaan. Ketika tiba di China Crown, Evander mengambil payung yang ada di mobilnya lalu membukakan pintu untuk Bianca dan mereka memasuki China Crown dengan bernaung di bawah satu payung. Evander merasakan sesuatu yang terulang lagi, dulu mereka juga pernah berjalan di bawah satu payung bersama saat pulang sekolah menuju rumahnya untuk belajar bersama. Kenangan-kenangan seperti itu muncul kembali ke permukaan bak jamur yang tumbuh di musim hujan dan Evander diam-diam menyunggingkan senyumnya. Setelah melepaskan mantel hangatnya dan meletakkannya di tempatnya Evander membawa Bianca ke tempat yang menurutnya strategis. “Di sini ada berbagai macam teh, kau harus mencobanya,” kata Evander. Bianca mengamati tempat yang bernuansa China klasik lalu mengangguk-angguk kecil. “Kau sering ke sini?” “Tidak, ini pertama kali,” jawab Evander seraya menarik sebuah bangku untuk Bianca. “Jadi, dari mana kau bisa tahu di sini tersedia berbagai macam teh?” “Aku meminta sekretarisku mencari tempat yang unik dan tentu saja menyenangkan untuk minum teh,” jawab Evander seraya menarik bangku di sebelah Bianca lalu duduk. "Dan ini salah satu rekomendasinya, ada berbagai tempat bernuansa klasik. Tapi, kurasa ini layak dicoba terlebih dahulu." Bianca tersenyum. “Apa ini juga salah satu cara kau meminta maaf?” “Anggap saja begitu.” Seorang pelayan datang membawakan buku menu makanan yang lumayan tebal. Bianca membaca keseluruhan menu di sana dan ketika tiba di bagian minuman ia berhenti. Ada puluhan macam teh yang ditawarkan di sana dan yang paling memukau adalah teh Longjing yang harganya cukup fantastis untuk sebuah teh. “Kau mau mencicipi itu?” tanya Evander karena jemari Bianca berhenti di tulisan teh Longjing. “Harganya tidak masuk akal.” Bianca menggeleng. “Kurasa aku ingin mencicipi teh ini saja,” ucapnya sembari menunjuk tulisan teh Huansan Maofeng. “Kurasa kita harus mencicipi teh Longjing karena belum tentu ada waktu lain kali mencicipinya, bukan?” kata Evander seraya menaikkan sebelah alisnya. Bianca tersenyum simpul. “Kalau begitu, terima kasih untuk teh mahalnya.” “Anggap ini salah satu upayaku untuk mendapatkan maafmu,” kata Evander. Setelah memesan dua macam teh dan beberapa macam hidangan berat dan pencuci mulut, Evander menyandarkan punggungnya di sandaran bangku. “Omong-omong, dari mana kau mendapatkan ide untuk membuka toko bunga?” tanya Evander. “Aku bekerja paruh waktu saat menjadi mahasiswi dan aku merasakan ketertarikan untuk membuka bisnisku sendiri,” jawab Bianca dengan santai, tidak lagi judes seperti biasanya. "Kau sepertinya sangat menikmati peranmu sebagai penjual bunga." "Pekerjaan apa pun harus dinikmati dan dilakukan dengan sepenuh hati karena di luar sana ada banyak sekali orang yamg mungkin menginginkan pekerjaan atau posisi kita, bukan?" "Aku suka mendengar petuahmu ini," kata Evander sembari tersenyum. “Valentine sebentar lagi, pasti akan ada banyak pesanan bunga, ‘kan?” “Ya, begitulah.” “Kenapa kau tidak memulai usahamu di Barcelona?" “Kau tahu ‘kan betapa disiplinnya ayahku?” Evander mengangguk. “Ketika aku mengatakan rencanaku membuka toko bunga dia tidak suka bahkan menentangku. Jadi, kupikir lebih baik jika aku membuka toko bungaku di sini.” “Kau benar-benar pemberani.” “Lagi pula tinggal di sini lebih menyenangkan dari pada tinggal di Barcelona,” kata Bianca sambil mendorong rambutnya ke belakang telinganya. Evander yang berada di samping Bianca dapat menyaksikan dari samping kulit mulus wajah Bianca. Ia berdehem. “Omong-omong, kapan terakhir kau mengunjungi Barcelona?” “Natal tahun lalu.” Bianca tersenyum lalu mendorong rambutnya yang tergerai di pundaknya ke belakang. “Itu pun aku tiba di sana hampir tengah malam setelah Natal berlangsung. Aku sedang memerlukan banyak dana untuk pengembangan kebun bunga kecilku sehingga aku tidak bisa mengambil libur terlalu lama.” Bianca benar-benar wanita yang tangguh dan pekerja keras, Evander semakin kagum pada mantan kekasihnya itu. Tiba-tiba kilat menyambar di langit lalu terdengar suara petir yang cukup nyaring. Bianca menatap ke luar dan berkata, “Semoga tidak ada badai.” Evander memeriksa ponselnya dan melihat perkiraan cuaca. “Kuharap juga begitu.” Seorang pelayan datang menghidangkan teh untuk mereka, Evander memesan dua macam teh untuk mereka. Ia menuangkan teh dari teko berukuran kecil ke dua gelas berukuran mini yang terbuat dari keramik khas China. “Minumlah selagi hangat,” ucap Evander sambil meletakkan gelas mini ke depan Bianca. “Terima kasih.” Bianca mengangkat gelasnya, Evander juga mengangkat gelas kecilnya lalu mereka bersulang. “Bagaimana teh Longjing ini?” tanya Evander. “Selama hidup aku hanya tahu teh biasa dan beberapa teh bunga, dengan harganya yang lumayan aku tidak berani bilang kalau teh ini mengecewakan. Ini benar-benar menakjubkan, aku suka aroma dan rasanya,” jawab Bianca. Evander tersenyum lalu menuangkan teh Huansan Maofeng ke dalam cangkir baru kemudian memberikannya pada Bianca. “Coba yang ini.” Bianca menerimanya dari tangan Evander, dihirupnya aroma teh itu. “Aromanya tidak sekuat teh Longjing.” Evander menuangkan teh Huansan Maofeng ke dalam cangkir lalu menghirup aromanya, benar kata Bianca kalau aromanya tidak sekuat teh Longjing. Di luar hujan semakin deras, angin bertiup kencang dan di televisi badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengumumkan agar masyarakat tidak keluar rumah. “Sepertinya kita terjebak di sini,” ucap Evander. Bianca menghela napas berat. “Apa yang kau khawatirkan?” “Kebun bungaku.” Evander meletakkan telapak tangannya di atas telapak tangan Bianca yang berada di atas meja. “Semoga badai tidak sampai di kebun bungamu.” Keresahan terlihat di mata Bianca. Ia menatap Evander dengan tatapan gamang. “Aku tidak memperhitungkan akan adanya badai saat membangunnya.” Keheningan menyeruak memisahkan keduanya, hanya ada suara hujan bercampur angin ribut di luar yang sangat kencang. Bahkan ketika pelayan menghidangkan makanan yang mereka pesan, Bianca terlihat enggan mencicipinya. “Setelah badai reda, kita akan melihatnya. Sekarang kau isi perutmu dulu, oke?” kata Evander dengan lembut. Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN