Chapter 9
Berdamai
Gawat, batin Lisa. Ia baru saja tiba di kantor dan kepala divisi memberitahu kalau dirinya dipanggil CEO. Evander memanggilnya pasti bukan masalah pekerjaan, tetapi pasti ada hubungannya dengan Bianca dan ketika memasuki ruangan Evander yang dilihat Evander sedang menekan pelipisnya seolah sedang berpikir keras.
"Kau memanggilku, Sir?" tanya Lisa mencoba berhati-hati.
"Duduklah," kata Evander.
Ragu-ragu Lisa duduk di kursi seberang meja kerja Evander. "Apa ada yang salah dengan pekerjaanku?" tanya Lisa mencoba bersikap senormal mungkin sebagai seorang karyawan.
"Valentine sebentar lagi," kata Evander lalu menjeda ucapannya beberapa saat dan menatap Lisa dengan serius. "Temanku mengundangku ke pesta valentine-nya."
Lisa tidak berani menebak apa kalimat selanjutnya yang akan diucapkan Evander. "Dan?"
"Aku ingin mengajak Bianca menghadiri pesta di malam Valentine."
Lisa ingin tertawa keras-keras mendengar apa yang dituturkan Evander, terdengar kekanakan sekali. Hanya ingin mengajak Bianca menghadiri pesta Valentine saja Evander sampai memanggilnya secara pribadi.
Lisa berdehem. "Lalu, di mana masalahnya?"
"Dia tidak bersedia."
"Apa pesta itu sangat penting?"
Ilona mengumpulkan teman-teman kuliah mereka dan bermaksud mengadakan pesta Valentine, jika dirinya tidak menampakkan batang hidungnya di pesta itu bersama Bianca rasanya terdengar kurang meyakinkan kalau Bianca adalah kekasihnya. Evander sangat membutuhkan sandiwara itu demi lepas dari Ilona yang terobsesi padanya.
"Ya. Aku harus menghadiri pesta Valentine itu."
"Setiap Valentine tiba, toko bunga akan kebanjiran pesanan, kurasa wajar jika Bianca menolak ajakanmu. Dia juga hanya memiliki satu karyawan, dia pasti kelelahan di malam Valentine," ujar Lisa.
"Bagaimana jika kutambahkan satu karyawan, aku yang akan menggajinya."
Lisa justru bersedekap sembari tersenyum dan menatap Evander. "Katakan saja padaku jika kau sebenarnya masih menyukai Bianca."
"Aku memanggilmu ke sini bukan untuk membahas perasaan," kata Evander sembari membalas tatapan Lisa.
"Begini, Evan... kurasa bukan masalah aku memanggil namamu karena kita hanya berdua."
Evander mengangguk.
"Tidak semua masalah bisa kau selesaikan dengan uang."
"Aku hanya berniat membantunya."
Lisa menggelengkan kepalanya. "Aku mengenal Bianca lebih baik darimu. Kami berteman lebih dari lima tahun, kami berdua adalah teman sekamar di asrama. Dia tidak akan begitu saja menerima bantuanmu apa lagi jelas kau memiliki niat lain dari kebaikanmu."
"Jadi?"
"Valentine masih satu minggu lagi, jika kau bisa meluluhkan hatinya, aku jamin kau tidak perlu membujuknya untuk pergi ke pesta itu."
"Bagaimana caranya?"
"Kau ini, apa kau tidak memiliki pengalaman berpacaran?"
Evander menatap Lisa dengan serius. "Dia tidak pernah bersikap ramah padaku."
"Itu karena kau memiliki kesalahan fatal di masa lalu. Benar, 'kan?"
"Dia menceritakannya padamu?"
Lisa mengedikkan bahunya. "Pertama kau harus minta maaf padanya."
"Tapi, Bianca bilang sudah melupakannya."
"Kau yakin? Jika dia sudah melupakannya, kenapa dia masih bersikap antipati terhadap dirimu? Dia bahkan tidak pernah berpacaran dengan pria mana pun selain dirimu." Alis Lisa terangkat. "Minta maaflah dan dekati dia perlahan, hilangkan traumanya."
"Trauma?" tanya Evander dengan alisberkerut cukup dalam.
"Kau meninggalkannya, membuangnya begitu saja itu sudah cukup membuatnya terluka," ujar Lisa seraya menatap Evander dengan serius. "Asal kau tahu ia tidak pernah berpacaran dengan siapa pun selain dirimu, bahkan Bianca tidak pernah berteman dengan pria mana pun. Kalau bukan trauma, lantas apa namanya?"
Evander menatap Lisa dengan serius, ia tidak menyangka dengan apa yang barusan Lisa katakan. "Kau tidak sedang membual, kan?"
"Apa keuntunganku membual?" tanya Lisa tampak tidak senang, "aku sudah terlalu banyak merepotkannya. Aku ingin melihat Bianca membuka hatinya untuk pria dan jika kau ingin mendekatinya lagi, kuperingatkan agar kau tidak mengecewakan untuk kedua kalinya."
"Aku tidak akan mengecewakannya lagi," kata Evander
Lisa menatap Evander lekat-lekat. "Jadi, benar kau masih menyukainya?"
Evander tersenyum dan mengedikkan bahunya bersamaan. "Sudah kubilang kalau aku tidak ingin membahas perasaan. Bisakah kau membantuku?"
Lisa menatap Evander dengan serius. "Aku tidak bisa membantumu meskipun kau adalah bosku."
"Kenapa?"
"Aku takut kau mengecewakanya lagi."
***
Pukul lima sore, kedua pegawainya sudah pulang. Hanya tinggak Bianca sendirian di toko bunganya dan sedang mencatat penjualan tokonya saat terdengar suara pintu tokonya digeser.
"Maaf, kami sudah tutup," kata Bianca tanpa mengalihkan pandangannya dari iPad di mejanya.
"Mau kutraktir minum teh?"
Bianca mengalihkan pandangannya dan mendapati Evander berjalan menuju ke arahnya yang berdiri di meja kasir. Pria itu masih mengenakan setelan jas lengkap, hanya dasinya sudah dilepas. Mata birunya menatap Bianca dengan lembut dan Bianca hampir saja meleleh karena tatapan lembut itu jika tidak segera menyadari jika pria di depannya adalah Evander, orang yang pernah mengecewakannya dan sekarang datang sesuka hatinya ke dalam kehidupannya lagi dengan niat yang Bianca tebak hanya akan menguntungkan Evander.
Bianca mendengus pelan. "Sudah kukatakan jika malam Valentine...."
"Aku tidak datang untuk itu."
Bianca kembali mendengus pelan. "Sebaiknya kita akhiri sandiwara palsu ini. Lagi pula Ilona tidak datang setiap hari mencarimu."
"Dia beberapa kali datang ke kantorku, bahkan sekarang ayahnya menawarkan untuk menanam saham perusahaan kami."
Bianca terlihat kesal lalu matanya kembali pada iPad-nya. "Apa susahnya mengatakan pada Ilona kalau kau tidak tertarik padanya."
"Aku sudah mengatakannya berulang kali."
Pandangan Bianca kembali tertuju pada Evander. "Kurasa kesalahanmu terlalu fatal."
"Saat itu aku sudah mengakhiri hubungan kami yang tidak sehat, tetapi dia tidak terima."
"Kurasa kaulah yang toxic," ejek Bianca.
"Aku tidak bisa menuruti semua maunya dan aku juga tidak bisa jika harus dikendalikan olehnya. Aku seorang pria, tidak masuk akal jika aku harus tunduk pada seorang wanita."
"Well, jalan satu-satunya kurasa kau tidak perlu datang ke pesta Valentine itu. Lagu pula kita sudah dewasa, bukan remaja yang harus merayakan Valentine dengan pesta yang meriah."
"Yeah, kurasa kau benar."
"Jadi, semua sudah beres, bukan?" tanya Bianca sambil menatap Evander.
Evander mengangguk. "Tapi, sandiwara cinta ini... aku masih butuh bantuanmu, Bi."
"Bukan masalah. Tetapi, ingat rules yang kubuat."
"Aku mengingatnya dan aku sebenarnya datang untuk minta maaf padamu," kata Evander lambat-lambat.
"Maaf untuk apa?" tanya Bianca dengan alis berkerut.
"Aku dulu menghilang begitu saja darimu, aku tahu hal itu pasti melukaimu."
Bianca menatap Evander, mencari ketulusan di mata pria itu dan tiba-tiba jantungnya terasa mencelus hingga ke lutut. Debaran aneh itu membuat darah yang mengaliri nadinya seperti menghangat, dan Bianca benci perasaan seperti itu.
"Kau mau, 'kan memaafkan aku?" tanya Evander.
Bianca tersenyum manis dan Evander bersumpah jika senyum Bianca sangat menawan hingga dirinya seolah tersihir oleh senyum itu.
"Biar kupikirkan," ucap Bianca.
"Bi, aku serius. Aku akan melakukan apa saja asalkan kau memaafkanku."
Bianca menyeringai lalu berkata, "Aku ingin melihat usahamu."