Chapter 8
Pacar Palsu
“Astaga....” Bianca menggelengkan kepalanya karena Evander pagi-pagi sekali sudah berada di depan toko bunganya. Bahkan toko bunganya belum buka.
“Aku hanya kebetulan lewat dan aku ingin melihat-lihat toko bungamu,” kata Evander.
Bianca sanksi dengan ucapan Evander, bagaimanapun pria yang sedang ia hadapi adalah Evander yang dikenalnya sebagai pria licik jika menyangkut keuntungannya pribadi. Evander pasti memiliki tujuan lain padanya, entah itu ada hubungannya dengan Ilona atau tujuan lain, tetapi yang jelas kali ini Bianca bersumpah tidak akan terjebak dalam permainan Evander.
Hanya katak bodoh yang terjatuh pada lubang yang sama dua kali dan Bianca tidak ingin menjadi kataka bodoh itu, ia harus lebih waspada terhadap Evander.
Bianca tidak menggubrisnya, ia memasukkan kunci pada lubang kunci tokonya lalu memutarnya dan membuka pintu tokonya. Tidak lama Evander menyusulnya dan pria itu membawa boneka di tangannya.
“Kuharap kau menyukainya,” ucap Evander seraya memberikan boneka di tangannya kepada Bianca.
Bianca tersenyum dan mengedikkan bahunya bersamaan. “Aku bukan remaja lagi, tapi baiklah. Karena kau sudah membelinya, aku akan menerimanya karena aku menghargai," katanya dengan nada malas.
“Aku tidak tahu apa yang kau sukai sekarang. Jadi, kupikir kau masih menyukai boneka.”
Bianca mengamati boneka Teddy Bear seukuran bayi, sebenarnya ia masih suka boneka Teddy, hanya saja dengan usianya sekarang dan kesibukannya, ia tidak lagi ingin mengoleksi boneka Teddy atau pernak pernik lucu lain.
“Aku yakin kau ke sini bukan hanya ingin memberikan aku boneka ini, ‘kan?” tanya Bianca dengan tatapan lurus menatap Evander.
Evander berdehem. “Bisakah kita bicara serius sebentar?”
“Bisakah sehari saja kau tidak datang padaku dan mencoba memanfaatkan aku?” tanya Bianca sinis.
“Bi, aku benar-benar butuh pertolonganmu," kata evander dengan tatapan memohon.
Bianca terkekeh seraya menunjuk dirinya. “Apa aku tidak salah dengar?”
“Kau satu-satunya teman perempuanku di Madrid," jawab Evander tegas.
Evander berkata jujur, satu-satunya teman wanitanya kini di Madrid hanya Bianca dan hanya pada Bianca, ia bisa meminta tolong karena Ilona tadi malam mengirimnya pesan mengatakan jika wanita itu tidak percaya jika Bianca adalah kekasihnya. Ilona juga mengatakan jika akan mengejar Evander sampai Evander kembali bersedia menjadi kekasihnya dan Evander tidak ingin direpotkan oleh Ilona.
Evander tahu benar seperti apa Ilona, wanita itu tidak akan berhenti sampai mendapatkan apa yang dia inginkan. Evander tidak mungkin menghindar seperti dulu menghilang ke Barcelona karena kini ia memiliki tanggung jawab yang besar terhadap perusahaan di Madrid hingga satu-satunya jalan menurutnya adalah menjadikan Bianca sebagai kekasih palsunya.
“Dan?” Alis Bianca terangkat.
“Sandiwara kita tadi malam, aku ingin kita melanjutkannya.”
Bianca ternganga. “What the hell! Tidak mungkin!” ucapnya cepat.
“Bi, aku serius.”
“Kau gila!”
“Ilona. Dia terobsesi denganku dan aku....”
"Itu bukan urusanku," kata Bianca tegas.
Evander menatap Bianca penuh harap. "Bi, kumohon."
Bianca merasakan jantungnya berdesir saat mendapati tatapan Evander yang begitu memohon padanya dan ia benci tatapan seperti itu. Tatapan siapa pun yang mencoba memohon padanya karena ia akan luluh dengan tatatapan seperti itu, apa lagi pria yang menatapnya seperti itu adalah Evander, pria yang pernah ada di dalam hatinya dan pernah menghancurkan hatinya .
“Kau sudah memiliki pacar," dengus Bianca kesal. Kesal karena Evander berusaha memanfaatkannya lagi, juga kesal karena pria itu memiliki pacar.
Sial, batin Evander. Ia harus terus membuat kebohongan. “Pacarku di Barcelona.”
“Ya Tuhan,” erang Bianca, "kau bisa minta tolong temanmu yang lain.”
“Itu tidak masuk akal, Bi.”
“Memang. Tapi, aku tidak bisa.”
“Kau bisa, Bi. Dan hanya kau yang bisa.”
Bianca tertawa mengejak lalu berkata, "Baiklah, tapi aku mengajuakan tiga syarat."
"Apa pun itu."
"Satu, tidak ada sentuhan fisik," kata Bianca serius dan memasang tampang galak.
Evander mengangguk. "Baiklah."
"Dua, kau tidak boleh mengaturku."
"Oke. Dan?"
"Yang ketiga akan kupikirkan nanti."
***
“Kau punya pacar baru?” tanya Vanya yang langsung menelepon Evander begitu Evander mengunggah story di media sosialnya. Padahal Evander hanya mengunggah boneka yang sedang didekap Bianca.
“Dia putri Mr. Stanton. Ingat?” tanya Evander kepada Vanya karena ia pernah menceritakan pada Vanya jika ia pernah mengencani putri Mr. Stanton saat kelas tiga sekolah menengah atas.
“Dia tidak menyebalkan seperti ayahnya, ‘kan?”
Evander tertawa mendengarnya. “Dia gadis yang paling tulus yang pernah aku kenal.”
“Sejak kapan kalian pacaran?”
“Kami tidak pacaran," jawab Evander.
“Kau naksir dia, ‘kan?”
“Ada sedikit masalah dan aku harus berpura-pura memiliki pacar,” terang Evander.
“Dan dia mau?” tanya Vanya, “tidak, tidak. Pasti kau memaksa menggunakan trik seperti kakakmu. Jangan bilang kau mengancamnya dan....”
“Aku tidak menggunakan trik apa pun, dia memang berhati sangat tulus," potong Evander.
“Dari tadi kau memujinya, aku yakin kau memang naksir dia, ‘kan?”
Sebenarnya tidak juga, kekaguman terhadap Bianca memang ada karena Bianca menolong Lisa dengan sangat tulus bahkan mengsampingkan dendamnya pada Evander. Awal ia mencari Bianca juga karena ingin membuat perhitungan dengan Bianca yang berani-beraninya menamparnya di hari pertama mereka bertemu lagi lalu ia ingin sedikit memberikan pelajaran pada Bianca dengan cara mendekatinya lagi, sekaligus ingin tahu seperti apa Bianca sekarang.
Apakah wanita itu masih lugu seperti Bianca yang ia kenal beberapa tahun yang lalu di sekolah menengah atas atau sudah lebih matang?
“Jadi, kau menelepon hanya untuk menginterogasi aku?” tanya Evander.
“Tentu saja tidak,” kata Vanya.
“Kakakmu sudah bilang, ‘kan kalau aku mau magang di kantormu?”
“Kenapa tidak magang di kantor di Barcelona saja?”
“Aku ingin suasana baru.”
“Baiklah.”
“Dan aku ingin melihat Nona Stanton-mu itu.”
"Well," kata Evander, tetapi belum sempat ia membalas ucapan Vanya bel pintu tempat tinggalnya berbunyi.
Evander menutup panggilan dan berjalan menuju pintu, ia terkejut mendapati wanita yang berdiri di depan pintu yang ia lihat dari lubang intip. Wanita itu adalah Isabel Benito, temannya, sekaligus teman tidurnya.
Ragu-ragu evander membuka pintu lalu berkata, "Hai," sapanya kepada Isabel.
"Aku kebetulan lewat jadi...."
"Masuklah," kata Evander.
Isabel masuk ke dalam rumah dan meletakkan tasnya di atas meja. "Apa aku mengganggumu?"
Evander memasukkan ponsel ke sakunya lalu berkata, "Tidak juga. Mau minum sesuatu?"
"Apa kau memiliki anggur yang bagus?"
Evander mengangguk dan melangkah menuju mini barnya, tetapi tiba-tiba Isabel memeluknya dari belakang.
"Aku merindukanmu," kata Isabel.
Evander mematung sejenak. "Isabel," kata Evander pelan.
"Aku tidak ingin mendengar apa pun," kata Isabel lirih.
Susasanya begitu canggung hingga Evander tidak bisa berbuat apa-apa, ia bahkan tidak tahu harus berkata apa.
"Aku tidak melarangmu memiliki kekasih, tapi bisakah kita tetap seperti dulu?"
Bersambung.....