Chapter 7
Mencium Bianca
"Kau tidak perlu pergi jika tidak ingin pergi, abaikan saja ancamannya," kata Lisa ketika Bianca sedang bersiap untuk pergi menemani Evander bertemu client.
Dulu ketika menjadi mahasiswa di Complutense University of Madrid, Bianca dan Lisa adalah teman satu kamar di asrama. Bahkan ketika mereka sudah lulus pun pada akhirnya mereka masih memutuskan untuk tinggal berdekatan hingga Lisa menikah dan memutuskan tinggal di apartemen suaminya. Lalu ketika suami Lisa meninggal, Lisa kembali memutuskan untuk menyewa apartemen di gedung di mana Bianca tinggal agar mereka dapat kembali berdekatan.
Bianca awalnya sangsi terhadap pertemanannya dengan Lisa, ia sedikit trauma. Takut akan dimanfaatkan sepeti apa yang Evander pernah lakukan padanya dulu. Tetapi, seiring berjalannya waktu Lisa tidak pernah memanfaatkannya.
Jika Lisa memanfaatkannya saat ingin bekerja di Binter Canarias itu pengecualian, Bianca memaklumi karena keadaan Lisa yang sedang kurang beruntung dan anggap saja itu adalah salah satu bentuk pengorbanan dalam pertemanan mereka.
Bianca menatap gaun yang dikenakannya, gaun itu diantarkan sekretaris Evander khusus untuk ia kenakan malam ini.
"Aku akan menemui Evander hari Senin dan membicarakan ini, oke? Dia memintamu menjadi temannya, bukan menuruti semua keinginannya. Ini sudah keterlaluan!" oceh Lisa. "Kita tidak bisa tinggal diam."
Evander selalu mengancamnya menggunakan Lisa dan jika Lisa melakukan rencananya, Bianca khawatir Evander tidak segan-segan memecat Lisa.
Bianca berpikir sejenak, ia tidak ingin Lisa terlibat dalam urusannya dengan Evander lalu berkata, "Malam ini akan kuselesaikan semua antara aku dan Evander."
"Kau sudah melupakan perbuatannya padamu? Syukurlah."
"Anggap saja begitu."
"Memang seharusnya begitu, 'kan?" kata Lisa dan Bianca hanya mengedikkan bahunya. Lisa menatap Bianca dengan lembut. "Bi, maafkan aku."
"Hai, untuk apa kau minta maaf?"
"Kau mengalami kesulitan karena aku."
"Memang, tapi sudahlah. Jangan dipikirkan lagi," kata Bianca lalu memeluk Lisa. "Anggap saja ini demi Agusto."
"Terima kasih, Bi," kata Lisa. "Bagaimana kalau kubantu kau menata rambut?"
Bianca tersenyum dan mengangguk lalu keduanya berbincang-bincang sembari Lisa menata rambut panjang Bianca, sementara Bianca mengaplikasikan riasan di wajahnya.
***
Evander keluar dari sebuah Maybach berwarna hitam dan berdiri di samping mobilnya, dilihatnya Bianca berjalan menuju ke arahnya mengenakan gaun yang dibelinya. Wanita itu terlihat sangat luwes mengenakan gaun berwarna biru tua tanpa lengan dengan gaya scoop neck setinggi lutut, mempertontonkan kakinya yang jenjang mengenakan sepatu tinggi berwarna hitam sementara rambutnya dikuncir ekor kuda tinggi sehingga lehernya terekspos.
Sialan. Sejak kapan Bianca seseksi itu? Evander mengumpat di dalam benaknya dan pandangannya tertuju pada keseluruhan diri Bianca yang semakin dekat padanya.
"Maaf, membuatmu menunggu," kata Bianca.
"Bukan masalah," kata Evander seraya membukakan pintu mobil untuk Bianca.
Di perjalanan baik Evander maupun Bianca sama-sama hanya diam, tidak ada satu pun di antara mereka mencoba membuka percakapan. Keduanya membisu dalam pikiran masing-masing.
Bianca sebenarnya ingin membicarakan apa yang ada di pikirannya yaitu ingin menyudahi perang dinginnya dengan Evander dan menjalin pertemanan normal tanpa ancaman-ancaman Evander kepadanya, tetapi ia bingung harus dari mana memulainya.
Sementara Evander berulang kali melirik Bianca yang duduk dan terlihat tegang, wajah cantiknya datar tanpa ekspresi membuat Evander ingin sekali menceritakan sesuatu yang lucu agar wanita itu tersenyum. Tetapi, Evander yakin jika wanita yang selalu bersikap dingin padanya itu tidak akan tertarik.
Evander lalu berpikir untuk memuji gaun yang dikenakan Bianca sangat cocok di tubuhnya, tetapi Evander tidak yakin Bianca akan senang mendengar pujiannya. Ia mungkin akan dianggap membual atau beromong kosong. Jadi, Evander memilih tetap diam hingga mereka tiba di sebuah restoran yang ada di salah satu pusat perbelanjaan di Madrid.
Evander keluar dari mobil dan berniat membukakan pintu mobil untuk Bianca, tetapi Bianca tidak menunggu Evander membukakan pintu mobil untuknya, dan ketika Evander memberikan sikunya kepada Bianca bermaksud agar Bianca menggandengnya, Bianca tidak mengindahkannya. Evander lalu mengambil paksa tangan Bianca dan menggandengkannya ke lengannya lalu menahannya agar Bianca tidak melepaskan tangannya.
Langkah Bianca terhenti ketika memasuki restoran dia mendapati Ilona duduk di meja sendirian dan ketika pandangan Ilona tertuju pada mereka berdua wajah wanita itu langsung masam.
Sialan, batin Bianca. "Jadi itu client yang kau maksud?" tanya Bianca ketus setengah berbisik kepada Evander.
"Kau harus menolongku malam ini."
"Jadi, kau perlu bantuanku?"
"Ya."
"Ini tidak gratis," bisik Bianca.
"Aku tahu."
Baru saja Bianca ingin mengakhiri perang dinginnya dengan Evander, tetapi nyatanya Evander justru ingin memanfaatkannya kembali. Jadi, Bianca tidak ingin dimanfaatkan lagi oleh Evander sehingga pertolongannya kali ini akan ia jadikan alat transaksi untuk mengakhiri utangnya kepada Evander.
"Maaf, Ilona," kata Evander sambil mendekat kepada Ilona. "Kami terlambat."
"Aku mengundangmu, tidak termasuk dia," kata Ilona sinis seraya melirik Bianca yang bergelayut di lengan Evander.
"Kau tidak bilang kalau aku tidak boleh membawa pacarku," kata Evander sembari mengelus tangan Bianca dan menatap Bianca, sementara Bianca berpura-pura tersenyum manis."
"Apa? Pacar?" tanya Ilona dengan ekspresi terkejut. "Kapan kalian jadian?"
"Kemarin," jawab Evander.
"Barusan," jawab Bianca bersamaan dengan Evander. "Oh, maksudku kemarin," ralat Bianca sambil tersenyum lebar yang dibuat-buat.
Evander berdehem. "Sebenarnya saat di Four Season itu, kami sedang membicarakan hubungan serius kami dan kau datang. Ya begitulah."
Ilona bangkit dari duduknya. "Hentikan omong kosong ini!"
"Apa maksudmu?" tanya Evander.
"Kalian berbohong!"
"Kami memang baru kemarin jadian, bukan begitu, mi amor?" tanya Evander kemudian meraih dagu Bianca dan mendaratkan kecupan di bibir Binaca.
Bianca tergagap, hampir saja ia mendorong Evander yang menciumnya begitu saja dan itu tidak ada dalam pemikiran Bianca sama sekali.
Kurang ajar, batin Bianca dan pipinya memerah semerah tomat.
"Kau malu, Sayang? Pipimu merah, tapi kau sangat cantik. Demi Tuhan," kata Evander kepada Bianca dengan lembut.
"Omong kosong yang konyol!" geram Ilona lalu wanita itu pergi.
Setelah memastikan Ilona menjauh Bianca melepaskan tangannya dari lengan Evander dan melotot kepada pria itu lalu berkata, "Kau seharusnya tidak menciumku sembarangan!"
Evander tersenyum penuh kemenangan. "Duduklah."
Sebenarnya Bianca ingin pergi, jengkel karena Evander menciumnya sembarangan, tetapi teringat masih memiliki misi yang harus diselesaikan. Jadi, ia memilih patuh dan duduk di seberang Evander.
"Karena aku sudah menolongmu, kurasa utangku padamu sudah lunas dan kita tidak lagi ada urusan di masa depan," kata Bianca dengan nada datar.
Evander menatap lekat-lekat Bianca. Sialan, bibir yang barusan ia kecup itu lembut dan kenyal, Evander ingin sekali lagi mengecupnya atau jika mungkin mencumbuinya.
"Baiklah," kata Bianca lagi. "Kuanggap kau setuju."
"Namun, aku ingin tetap berteman denganmu," kata Evander tanpa melepaskan pandangannya dari Bianca.
"Bukan masalah, tetapi bukan berarti aku harus menuruti semua keinginanmu karena utang di antara kita sudah impas."
Bersambung....
Jangan lupa komentar dan kasih bintang!