Ya, kalau tak lupa saja baru disisir—yang jadi masalahnya, Auva ini tipe orang yang pelupa. "Yah, masa dikit sih? Dibanyakin lagi nggak bisa?" tanya Auva tidak terima karena sahabat malah pelit membagi-bagikan makanan percobaannya itu. "Nggak bisa, Va." Auva dilarang-larang semakin senewen alias menjadi-jadi—memang apa alasan Aurel bersikukuh tidak ingin membagi kue buatannya? "Kenapa lo nggak mau kasih ih?" Aurel menghela napas panjang. Bagaimana cara dirinya untuk bisa menjelaskannya? Harus banget melaporkan rencana ke musuh berkedok teman saat taruhan? "Ya, pokoknya nggak boleh aja!" Aurel langsung berseru sewot. Auva hanya dapat melengos, memperhatikannya yang tengah membungkus itu dengan kotakan berbahan kertas dalam satu menit, piawai. Sebenarnya mengapa dari kemarin tingkah c

