Bab.6 Hasrat Seksual

1299 Kata
  Gerald sama sekali tidak merasa malu. Dia bahkan memandangi tubuh Lovena secara terang-terangan. Bibir seksinya membentuk sebuah seringai yang misterius.   Dia tidak menghalangi kepergian Lovena. Sebaliknya, dia bangkit perlahan dengan suasana hati yang sangat baik.   "Ahmed, kamu boleh masuk sekarang!"   Ahmed adalah asisten pribadi Gerald. Sejak beberapa waktu lalu, dia telah membawa segerombolan anak buah untuk berjaga di luar ruangan agar tidak ada yang mengganggu aktivitas tuannya di dalam sana.   Ahmed membawa baju ganti di tangannya, menundukkan kepalanya dan berdiri di sisi lain dengan pandangan yang tertuju ke lantai.   Memikirkan Lovena yang baru saja keluar dari ruangan dengan tergesa-gesa dan sambil menangis, dia pun bertanya, "Pak Gerald, bagaimana kita akan mengurus wanita yang tadi?"   "Aku menginginkan dia. Selidiki latar belakangnya. Pekerjaan di sini tidak cocok untuknya, segera pecat dia," ucap Gerald dengan tegas dan arogan.   Meskipun Ahmed sudah terbiasa dengan cara kerja Gerald, dia masih bertanya dengan ragu, "Bagaimana jika kita tanyakan dulu pendapat nona itu sebelum memutuskan…”   Gerald menghentikan gerakan mengancingkan lengan bajunya, dia menoleh dan menatap Ahmed dengan tatapan dingin, "Kamu sedang memerintah aku?"   "Saya tidak berani. Saya akan segera melaksanakannya," Ahmed bergegas keluar ruangan sambil mengeluh dalam hati.   Pantas saja jika Gerald tidak memiliki pendamping meski pria itu memiliki segala kesuksesan dan reputasi. Kelajangan selama bertahun-tahun ini adalah pilihannya sendiri.   Dengan sikap dominannya, tidak heran semua wanita ketakutan dan kabur.   Di ruang karyawan, Lovena begitu marah hingga kepalanya serasa akan berasap.   Dia melihat pantulan dirinya pada cermin. Sudut bibirnya terluka dan lehernya penuh dengan memar berwarna ungu dan merah. Dia tidak berani melihat ke bawah lehernya. Salah satu kancing bajunya robek, sepertinya percuma menyembunyikan kekacauan itu di balik pakaiannya.   Dia lebih marah lagi terhadap dirinya sendiri, kenapa dia tidak bisa lebih keras kepala sedikit?   Meski dia tidak terlalu mengingat jelas kejadian tadi malam, tetapi sepertinya dia setengah bersedia dan setengah menolak untuk tidur dengan pria itu.   Kedua alisnya terangkat saat dia mengingat kembali kejadian semalam.   Tak peduli seberapa besar rasa rindunya pada seorang pria, Lovena tidak mungkin akan melakukan hubungan badan dengan sembarangan pria untuk memuaskan hasrat seksualnya.   Samar-samar dia ingat pria itu sempat memaksanya minum segelas anggur, kemudian Lovena mulai merasa pusing. Mungkinkah ada sesuatu di dalam minuman itu?   Tebakan Lovena benar. Mien pasti telah memasukkan sesuatu pada anggur yang dibawanya. Namun, mengingat pelanggannya adalah Gerald Syahrir yang dikenal kejam, maka Mien berhati-hati agar tidak memasukkan dosis yang berlebihan.   Jika yang meminumnya adalah Gerald, maka hanya gairahnya yang akan sedikit meningkat. Berbeda lagi ceritanya jika yang meminumnya adalah orang bodoh dalam hal percintaan seperti Lovena.   Seorang wanita yang berusia 25 tahun dapat diibaratkan seperti buah yang telah matang pada musimnya dan siap untuk dinikmati. Jika dia ditempatkan dalam satu ruangan bersama pria yang menggoda seperti Gerald, maka Lovena akan kewalahan menahan hasrat dalam dirinya.   Lovena yang tidak mengetahui fakta ini, dia kira Gerald yang telah memasukkan obat ke dalam minumannya. Dia pun semakin merasa kesal.   Dia mengepalkan tangannya dengan erat. Dia sangat ingin kembali ke ruangan itu dan menusuk tubuh pria itu sampai berlubang-lubang.   Tepat ketika Lovena benar-benar kesal, sebuah suara penuh kecemasan terdengar dari pintu. "Lovena, ke mana saja kamu semalaman? Kenapa tidak membawa ponselmu? Aku mencarimu ke mana-mana dan tidak menemukanmu!"   Marisa memasuki ruangan dengan diiringi oleh suara ketukan sepatu hak tingginya. Dia menghela napas lega ketika dia melihat Lovena duduk di sana.   Merisa telah mencari Lovena sepanjang malam. Saat ini, di bawah matanya masih tampak lingkaran hitam. Melihat Lovena yang duduk di sini seolah tidak terjadi apa-apa, Merisa pun jadi kesal.   Sebelum sempat Merisa menarik napas lega, dia sudah menarik kembali napasnya.   Dia melihat jejak di bibir dan leher Lovena, serta wajah pucatnya yang sudah hampir terlihat transparan itu. Mata Merisa terbelalak tidak percaya. Api amarah membara di dadanya. “Lovena, siapa orang br*ngsek yang melakukan ini padamu? Katakan padaku, aku akan membunuhnya sekarang juga!"   Melihat wajah marah sahabatnya, Lovena yang sedari tadi berusaha untuk tampak kuat pun seketika meneteskan air matanya. Dia memeluk Merisa dan mulai menangis. "Aku juga tidak tahu apa yang telah terjadi, aku pergi mengantarkan anggur, lalu... lalu, aku tak tahu kenapa aku…."   Setelah mendengar hal itu, mata besar Merisa tampak menyemburkan api amarah, "Br*ngsek! Siapa yang berani mengganggu sahabatku? Jangan khawatir, kita akan lapor polisi. Dia tak akan bisa kabur begitu saja!"   Bekerja di tempat seperti ini, terjadi hal seperti bukanlah hal yang bisa dihindari. Hal seperti ini bukannya tidak pernah terjadi, tapi kebanyakan diselesaikan secara pribadi dengan uang dan berbagai cara lainnya.   Merisa diam-diam menyalahkan dirinya sendiri. Tidak seharusnya dia menyetujui Lovena bekerja di sini.   Merisa sangat khawatir pada sahabatnya hingga dia segera mengeluarkan ponsel dan lapor polisi tanpa pikir panjang.   Setelah selesai lapor polisi, Merisa mengeluarkan sebungkus rokok dan mulai menghisapnya. Lovena juga ingin mengambil sebatang. Tapi, begitu tangan kecilnya hendak meraih rokok tersebut, Merisa menepuk tangannya dengan kasar.   "Jangan pernah berpikir untuk menyentuhnya jika kau tak punya temperamen seperti itu!"   Lovena menatap Merisa dengan sedih, "..."   Merisa berpura-pura seperti tidak melihat ekspresi Lovena. Dia menyelipkan rokok itu di antara bibirnya dan menyampirkan rambut keritingnya yang berwarna coklat kemerahan ke belakang. Dia bersikap layaknya kakak perempuan dan bertanya, "Apa pria itu masih di sini? Dia di ruangan yang mana? Aku tidak bisa berlama-lama menunggu. Aku akan membunuhnya sekarang juga!"   Lovena adalah orang yang lemah lembut, sedangkan Merisa biasanya meledak-ledak. Dia tidak peduli harus berhadapan dengan siapa. Selama ada orang yang berani mengganggu Lovena, dia pasti akan menghajar mereka..   Lovena juga sedang ingin membuat perhitungan dengan pria itu. Jika dia masih Lovena yang dulu, dia pasti akan ragu untuk mengambil tindakan itu. Tapi sekarang dia saja sudah bukan wanita suci, untuk apa memedulikan begitu banyak hal?   Lovena yang sekarang tidak akan peduli dengan konsekuensi atau apa pun. Wajah kecilnya diwarnai dengan kemarahan akibat marah, menunjukkan warna merah jambu yang cantik.   Dia menyeret Merisa bersamanya, bergegas keluar ruangan seraya menggertakkan giginya. "Pria itu di ruangan 308! Kemarin malam, cuma dia satu-satunya lelaki yang ada di ruangan itu!"   Merisa yang pada awalnya keluar dengan Lovena penuh emosi, seketika terkejut hingga tubuhnya terhuyung dan nyaris menabrak tembok ketika mendengar nomor kamar itu, "Kamu bilang ruangan nomor 308? Suite eksklusif VVIP?"   Bukankah ruangan itu khusus untuk Gerald Syahrir, sang raja iblis Kota Bantaram? Apakah jangan-jangan .…   "Astaga! Lovena, kita sedang dalam masalah besar!"   Lovena menghentikan langkahnya dan menatap Merisa dengan bingung.   Berdasarkan pemahaman Lovena terhadap Merisa, sahabatnya adalah orang yang paling tidak toleran terhadap kejahatan. Lovena tidak menyangka kalau sahabatnya juga bisa merasa takut. Apa pria itu memang begitu hebat?   “Lovena, bantu aku berdiri dulu. Kakiku tiba-tiba lemas,” kata Merisa dengan lemas.   Alasan kenapa Merisa begitu ketakutan pada Gerald adalah karena dia pernah menyaksikan sendiri dengan kedua matanya bagaimana cara Gerald memperlakukan orang-orang yang bekerja sama untuk menjebaknya.   Bayangan korban menyedihkan dengan sekujur tubuh berlumuran darah kembali muncul di benak Merisa. Kejadian itu membuat Merisa mengalami mimpi buruk selama sebulan penuh, bahkan saat ini dia masih trauma akibat kejadian itu.   Sudut bibir Lovena berkedut, dia membantu Merisa berdiri dan membawanya ke sebuah kursi yang ada di sisi mereka. Melihat ekspresi tertekan Merisa dan wajahnya yang pucat pasi, jantung Lovena seketika berdegup kencang.   Kelihatannya pria yang tadi malam itu adalah orang yang tidak boleh disinggung. Tapi, perbuatan pria itu terhadapnya sangat tidak termaafkan.   Lovena tidak boleh melibatkan sahabatnya dalam masalah ini, dia berkata, “Merisa, kamu duduk di sini dulu. Aku keluar sebentar.”   Lovena ingin mencari pria itu dan membuat kesepakatan dengannya. Merisa segera tahu apa bahwa Lovena ingin mencari Gerald sendirian.   Merisa menahan lengan Lovena dan berkata, "Jangan pergi! Lovena, tunggu aku sebentar. Aku hanya perlu mengatur napasku.”   “Merisa, kamu duduk di sini saja. Aku tak ingin melibatkanmu dalam masalahku…”   “Lovena!” Ucapan Lovena membuatnya sedikit kesal. Lovena bukan lawan sebanding untuk Gerald. Saat ini, bahkan kedatangan polisi pun tidak ada gunanya.   Ketika keduanya sedang berdebat, terdengar suara yang aneh dari pintu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN