Bab.5 Tamu Yang Paling Dihormati

1302 Kata
  Lovena tidak merasa keberatan. Dia menerima anggur dengan tenang, lalu melangkah dengan sepatu hak tinggi lima sentimeternya dan berjalan menuju ruangan nomor 308.   Dia tidak memperhatikan senyum licik di wajah Mien.   Ruangan nomor 308 adalah ruangan VVIP eksklusif, pelanggan yang sedang duduk di sana adalah pria paling dihormati di kota ini. Hanya saja, pria terhormat ini dikenal memiliki watak yang buruk dan saat ini suasana hatinya sedang buruk. Dia telah berturut-turut mengusir tiga orang gadis pelayan yang mengantarkan anggur ke sana.   Ketika nanti Lovena diusir dari sana, Mien akan mencari kesempatan untuk memecat Lovena.   Lovena seakan tidak menyadari apa pun. Dia berdiri di depan pintu ruangan nomor 308 dan mengetuk pintu, "Saya pelayan yang kemari untuk mengantarkan anggur pesanan Anda. Permisi, saya akan masuk."   Setelah memperkenalkan diri, Lovena pun membuka pintu.   Dibandingkan dengan kebisingan yang terdengar di ruangan lain, ruangan ini cenderung hening. Keheningan yang sungguh membuat orang merasa janggal.   Kedua alis Lovena mengernyit ragu. Tatapannya menyapu ke sekeliling ruangan. Akhirnya, dia menoleh dan mendapati seorang pria yang sedang duduk di sofa dekat pintu.   Alis Lovena tiba-tiba berkedut.   Pria itu memejamkan kedua matanya, sosoknya yang tinggi dan ramping tengah bersandar malas di sofa beludru. Dia mengenakan jaket berwarna hitam. Tubuhnya tinggi, tegap, dan memesona. Pria itu memiliki penampilan yang bermartabat, rambut hitamnya disisir ke belakang dan memperlihatkan wajahnya yang tampan dan khas.   Kulitnya jauh lebih putih daripada wanita, kontras dengan alisnya yang tebal. Hidung mancung dan bibir berwarna cerinya sedang terkatup rapat..   Orang ini sekilas terlihat seperti orang yang sulit dihadapi.   Lovena melihat anggur di tangannya dan mengumpulkan keberanian untuk berjalan mendekat. Pintu di belakangnya tertutup secara otomatis dan menimbulkan suara yang keras.   Pria yang beberapa saat lalu yang masih memejamkan mata, tiba-tiba mengerutkan alisnya. Perlahan tapi pasti, dia membuka kedua matanya dan menatap Lovena.   Kedua matanya memerah, tetapi tatapannya sangat dingin, bagaikan seekor singa yang bangun dari lelapnya. Auranya terasa unik seperti aura yang dimiliki seorang raja. Pria terlihat seperti seorang bangsawan yang arogan, sedangkan Lovena adalah mangsa kecil yang tertangkap oleh matanya.   Tatapan tajamnya membuat Lovena terpaku, dia hampir saja menjatuhkan anggur mahal dari tangannya.   Keringat dingin mulai bercucuran. Lovena menenangkan dirinya dan mengumpulkan keberanian sebelum dia berjalan ke arah pria itu. Jarak di antara mereka berdua pun semakin menipis.   Seragam pelayan bar dibuat secara khusus, desainnya agak terbuka seperti yang dapat dibayangkan.   Lovena membungkuk, dadanya yang menggoda pun terlihat. Dari tempat Gerald duduk, dia dapat melihat semuanya dengan jelas. Namun, Lovena sama sekali tidak menyadari hal itu.   Aroma melati samar-samar tercium ke hidungnya, ini bukanlah aroma parfum yang Gerald benci.   Gerald terus memperhatikan gerakan Lovena dan mencibir dalam hati. Wanita ini jelas lebih pintar dari wanita-wanita sebelumnya. Dia bahkan tahu bagaimana harus bersikap sesuai keinginan Gerald.   Bahkan, wanita ini tampak seperti ketakutan padanya? Tapi, entah wanita ini benar-benar takut atau hanya pura-pura, Gerald sama sekali tidak tahu.   Gerald bahkan sudah mulai menerka-nerka bagaimana wanita ini akan berpura-pura terjatuh ke pelukannya?   Hari ini, Gerald menghadiri sebuah pesta jamuan. Siapa sangka, anggur di sana tidak bersih dan ada orang yang menaruh obat dalam minumannya. Hal ini mengingatkannya pada malam penuh kekacauan yang terjadi lima tahun lalu. Hatinya terasa tidak nyaman dan ingin segera menemukan seseorang sebagai pelampiasan amarahnya.   Jika wanita ini dapat memuaskannya, Gerald bisa mengabulkan keinginan wanita ini. Setidaknya untuk saat ini, wanita ini membuat Gerald merasa tertarik.   Lovena berusaha mengabaikan tatapan pria itu. Dia hanya menatap ke depan, menahan tangannya agar tidak gemetaran. Dengan hati-hati, dia meletakkan botol anggur emas di atas meja dan berkata dengan lembut, "Tuan, ini anggur pesanan Anda!"   Tatapan tajam pria itu tertuju padanya, tetapi Lovena tidak berbicara. Jantung Lovena seolah akan melompat keluar dari tenggorokannya. Dia hanya ingin pergi sesegera mungkin dari tempat itu.   Lovena bahkan tidak berani meminta uang tip. Dia buru-buru meletakkan anggur dan bersiap untuk kabur. Dia membungkuk hormat dan berkata, "Tuan, saya sudah meletakkan anggur Anda di atas meja. Saya tidak akan mengganggu istirahat Anda lagi."   Setelah itu, Lovena berbalik dan bersiap untuk pergi.   Sebuah kilatan tajam terlintas di mata Gerald, dengan gerakan cepat dia meraih pergelangan tangan Lovena.   Sebuah pergerakan yang besar membuat tubuh Lovena terlempar ke sofa.   Lovena tertegun untuk beberapa detik sebelum dia mulai merasa panik. Saat dia ingin bangun, pria itu menekan tangan dan kakinya dengan paksa.   "Bermain tarik ulur? Bagus sekali! Kamu telah berhasil membuatku tidak merasa jijik. Jadi, tak peduli apa pun tujuanmu, aku akan mewujudkannya untukmu!”   Mata Lovena terbelalak kaget. Wajah pucatnya memerah karena marah. "Lepaskan saya! Saya bukan wanita penghibur! Anda tidak boleh... Um...."   Ucapan selanjutnya tidak sempat terucapkan karena pria itu membungkamnya dengan ciuman.   Lovena kembali membelalakkan matanya, berjuang mati-matian melepaskan diri dari pria itu. Hingga akhirnya Lovena menggigit bibir pria itu.   “Duh!” Gerald menyipitkan matanya, tatapannya sangat tajam dan berbahaya.   Awalnya dia hanya ingin menguji wanita itu, dia tidak benar-benar ingin melakukan apa pun padanya, tetapi sekarang dia terangsang olehnya.   Kucing liar kecil ini membuat Gerald ingin menaklukkannya.   Pria yang tahun ini berusia 28 tahun itu sudah tidak ingat berapa banyak wanita yang pernah bermain-main bersamanya selama ini.   Gerald bisa memiliki wanita manapun yang dia inginkan, tetapi dia sama tidak tertarik pada wanita.   Bahkan Gerald sendiri merasa ada yang tidak beres pada dirinya. Tapi itu bukan berarti dia tidak mampu melakukan hal semacam itu, peristiwa lima tahun lalu sudah menjadi saksi bisu.   Hanya saja setelah malam itu, dia tidak lagi tertarik pada yang namanya wanita. Dia bahkan merasa jijik begitu melihat mereka.   Tapi wanita yang sedang dia cium saat ini, tubuhnya memancarkan aroma yang semanis apel dan entah kenapa membuat Gerald sangat menyukainya.   Keesokan paginya.   Sinar mentari keemasan masuk ke dalam ruangan melalui celah-celah tirai bergaya Eropa yang mewah.   Lovena baru saja terbangun dari mimpi buruknya. Dia membuka matanya dalam keadaan linglung. Untuk sesaat, dia kebingungan dan tidak tahu di mana dirinya berada.   Gila, bagaimana bisa dia memimpikan seorang pria melakukan hal seperti itu padanya?!   Tekstur otot-otot pria itu terasa sangat nyata, rasanya seperti sutra saat disentuh. Napasnya begitu panas hingga seperti membakar kulit Lovena. Butiran keringat yang menetes dari wajah tampan pria itu, ekspresi saat dia menggigit bibirnya ketika meringis seakan merasakan sakit dan nikmat, luar biasa seksi!   Astaga! Ini sangat konyol!   Lovena tiba-tiba bergidik dan terduduk, tetapi kamar yang tampak di hadapannya jelas bukan kamar tidurnya.   Seluruh tubuhnya terasa remuk. Kemudian Lovena menundukkan kepalanya dan mendapati dirinya terbaring telanjang di sofa dengan lengan kekar yang melingkari pinggangnya.   Pria itu tampak kelelahan, sedang tidur nyenyak sambil memeluknya.   Tubuh Lovena gemetaran karena marah, kejadian tadi malam kembali membanjiri pikirannya.   Semua itu sama sekali bukan halusinasi belaka, itu benar-benar terjadi.   Lovena tidak akan pernah mengira hal seperti ini akan terjadi. Dia kira dirinya tidak akan bisa dimanfaatkan orang lain, tetapi d******i dan rasa tidak tahu malu pria ini sungguh membuat orang takjub.   Air mata mulai membasahi pelupuk mata Lovena.   Lovena ingin lapor polisi! Dia ingin pria ini dihukum sebagaimana mestinya.   Lovena mendorong tangan pria itu dan bergegas mengenakan kembali pakaiannya. Saat melihat jejak di sekujur tubuhnya, wajahnya memerah, pucat, dan kembali memerah. Jika membunuh bukanlah perbuatan yang melanggar hukum, Lovena benar-benar akan mencekik pria yang tidur dengan nyenyak di sampingnya ini sampai mati!   Saat Lovena mendorong lengannya menjauh, Gerald telah terbangun. Tetapi dikarenakan tidurnya yang begitu nyenyak, dia enggan membuka matanya.   Sudah lama sekali dia tidak tidur senyenyak ini.   Dibesarkan sebagai pewaris keluarga sejak kecil, hari-harinya selalu penuh tekanan. Dia perlahan mulai terbiasa untuk tidak mudah tertidur. Dia tidak menyangka dirinya bisa tidur di sofa sederhana sembari memeluk wanita ini tadi malam, bahkan dia bermimpi indah sepanjang malam!   Sungguh luar biasa!   Gerald meletakkan tangannya di belakang kepalanya. Dia memandang wajah Lovena yang kesal dan sedang mengenakan pakaiannya dengan tergesa-gesa. Dia merasa wanita itu lumayan imut.   Tubuh wanita itu dipenuhi oleh jejak kegilaan yang dia buat tadi malam. Ketika memikirkan tubuh lembut wanita itu, perut bagian bawahnya menegang lagi dan gairahnya sekali lagi bangkit.   Bagus! Wanita ini, dia menginginkannya!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN