"Maaf..." Gio semakin khawatir, badannya bergetar. Ketakutan tiba-tiba menyerangnya dengan hebat. "Maksud dokter apa? Istri dan calon anak saya baik-baik saja kan?" Tanya Gio. Ia memegang tangan dokter itu untuk menguatkan dirinya. Tubuhnya bagaikan jelly, lemas. Air matanya sudah berlinang, tidak kuat untuk mendengar penjelasan dokter selanjutnya. Bahkan ia sampai mengaku pada dokter itu kalau Andira adalah istrinya. "Maafkan saya. Istri bapak bisa kami selamatkan, tapi tidak dengan kandungannya. Maafkan kami sekali lagi, ibu Andira keguguran" Sontak tubuh Gio ambruk. Bak petir di siang bolong, kabar yang mengejutkan ini membuatnya tidak bisa berkata-kata apapun lagi. Bukan hanya tentang ia saja yang sedih, namun pasti Andira juga lebih sedih, bahkan Kartika jika ia tahu tentang in

