Bagai tersambar petir, itulah kata yang bisa mendeskripsikan keterkejutan Andira ketika mendengar kabar kehamilannya dari pria yang sayangnya telah menghamilinya. Dengan senyuman yang sayangnya terlihat tampan dari seorang Gio Franskov Bardanly, siapa sangka Andira juga jatuh pada senyuman itu, namun juga benci melihatnya tersenyum dengan tenang. Hanya air matanya lah yang bisa memberontak. Dia tak sanggup berkata-kata yang ujung-ujungnya membuatnya lelah semata. "Kamu tidak berbohong kan?" Tanya Andira dan di balas anggukan oleh Gio. Sekali lagi, Andira harus menelan pil pahit. "Mana mungkin itu bisa terjadi?" Tanya Andira terdengar konyol sampai-sampai Gio tertawa keras mendengarnya, ia juga bahkan sampai mengeluarkan air mata. "Kenapa kamu bisa menanyakan hal itu. Bukankah kit

