Jam sudah menunjukkan angka lima, sore sudah semakin meredup. Ginggi menatap lalu lalang manusia yang berada di bawah kantornya di lantai paling tinggi di hotel paling mewah se-ibu kota. Ia menghela nafasnya, satu lagi hari yang membosankan sudah ia lalui begitu saja tanpa kesan. “Bos, saya permisi pulang. Atau ada yang harus saya lakukan untuk anda lagi saat ini?” tanya si Ali. Ginggi menatap si Ali lalu menggeleng ‘Tidak ada, kau boleh pulang sekarang. Sampaikan salamku kepada ayahmu.” Sahut Ginggi. “Iya, Bos. Permisi kalau begitu.” Pamit si Ali sambil membereskan barang-barangnya lalu berpamitan pula kepada Silvi, si Bram dan ketiga orang gadis pembantai yang menjadi pengawal pribadi sekarang ini. Si Ali adalah satu-satunya orang yang mendapatkan jam kerja normal di ruangan kerja Gi

