bc

Ginggi Si Bromocorah Terakhir

book_age16+
236
IKUTI
1.4K
BACA
revenge
second chance
others
tragedy
lighthearted
kicking
icy
weak to strong
like
intro-logo
Uraian

Balas dendam itu bernama Ginggi, ia adalah sang Bromocorah, penguasa dunia hitam dimana para preman dan penjahat menjadi anak buahnya. Kini ia sedang menanti eksekusi mati karena semua kejahatannya. Namun, banyak orang terutama mereka yang miskin menuntut agar Ginggi dibebaskan karena bagi mereka Ginggi adalah pahlawan, sungguh aneh. Keanehan tersebut membawa Renata, seorang jurnalis sekaligus tunangan Baskoro seorang polisi yang menangkap Ginggi, untuk membuat biografi atas permintaan Ginggi. Renata kemudian mendengarkan kisah hidup Ginggi, asal muasal dan kenapa kemudian ia memilih balas dendam sebagai jalan hidupnya. Semua hal yang telah ia lakukan untuk membantu masyarakat yang lemah. Renata kemudian memahami alasan semua yang dilakukan oleh Ginggi dalam hidupnya, juga alasan kenapa Ginggi memintanya secara khusus untuk menuliskan biografi tersebut. Apakah alasan khusus itu? Dan apakah Ginggi bisa lolos dari jeratan hukum yang hendak menggantungnya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Renata dan Baskoro
Jari jemari Renata berhenti mengetik, setelah berkutat dengan laptop selama beberapa jam, gadis bermata kucing itu berhasil menyelesaikan feature news tentang semakin kontrasnya kehidupan sosial ekonomi ibu kota. Rencananya feature itu akan melengkapi liputan yang ditayangkan oleh televisi tempatnya bekerja nanti malam. Renata merentangkan tangan sambil menghela nafas panjang, urat tipis hijau kentara di wajahnya yang seputih salju, kemudian meminum kopi yang berada di meja, sudah dingin tapi tak apa ia terbiasa dengan itu. Mejanya berantakan khas para jurnalis yang dikejar deadline, lembaran hasil riset selama hampir seminggu ini berceceran di sebelah pulpen, stabilo, dan segala macam alat tulis lain miliknya. “Renata, ikut aku!” Gunawan sang redaktur mendadak muncul menjulurkan kepala dari balik sketsel meja. “Ada apa?” Renata menatap sang redaktur, matanya menyipit penasaran. Gunawan mengibaskan tangan “Pokoknya ikut saja dulu!” perintahnya, membalikkan badan dan melangkah kembali kedalam ruangannya. Renata bangkit, melemaskan tubuh sesaat dan menyambar smartphonenya. Agak malas ia berjalan menuju ruangan sang redaktur, sepertinya ada berita yang lebih penting atau tugas jurnalistik lain yang harus ia kerjakan. Padahal feature news yang ia selesaikan barusan masih harus diedit. Beberapa orang rekannya bertanya dengan tatapan ingin tahu, Renata mengendikkan bahu. Mengetuk pintu ruangan yang sengaja dibiarkan terbuka, sang redaktur yang kini sudah duduk di kursi kebesarannya sambil menatap layar laptop memberikan isyarat agar ia duduk di kursi depan mejanya. Renata menghempaskan tubuh di kursi, “Ada apa, Bos?” “Kau tahu soal kasus pembunuhan lima perwira menengah polisi dan satu korban perwira tinggi yang koma?” Gunawan balik bertanya, ia menggeserkan laptop dan menatap Renata. Renata mengangguk, “Iya, mereka dibunuh dengan cara yang sangat kejam dan sadis oleh Ginggi si Bromocorah yang kabarnya juga menguasai seluruh dunia hitam di negara ini. Bukannya ia sudah ditangkap dan akan menjalani vonis mati setelah diadili oleh pengadilan beberapa waktu lalu?” Renata mengernyit. Tentu saja Renata tahu, bagaimana tidak? Selain beritanya sudah tersebar dimana-mana pun karena tunangannya Baskoro-lah yang telah menangkap Ginggi saat beraksi. Perwira tinggi polisi yang sedang koma itu tak lain adalah ayahnya Baskoro, calon mertuanya. Seharusnya Gunawan pun telah mengetahui berita tersebut, Renata menduga bahwa pertanyaan itu sekedar menguji pengetahuan dirinya belaka. Sang redaktur mengacungkan jempol “Ia memang telah mengakui semua perbuatannya dan kemungkinan akan menghadapi vonis mati tersebut tanpa mengajukan banding atau pengajuan kembali. Tapi, ia memiliki syarat agar ia diberi kesempatan untuk menuturkan semua kisahnya pada seorang jurnalis, ia ingin dibuatkan sebuah biografi dalam bentuk video dan buku. Aparat setuju, dan coba kau tebak siapa jurnalis yang beruntung itu?” Renata mengendikkan bahu “Salah seorang jurnalis senior kita?” terkanya. Gunawan menggeleng “Bukan, Ginggi si Bromocorah itu memang memilih biro kita dan secara khusus meminta agar kau yang menuliskan kisahnya.” menunjuk wajah Renata dengan telunjuk. “Aku? Tapi kenapa harus aku? Aku bukan jurnalis kriminalitas. Pilih saja si Roy, dia ahli dan berpengalaman dalam membuat news soal kriminalitas.” Renata agak gelagapan, ia enggan berurusan dengan Bos dunia hitam tersebut. Gunawan menghela nafas dan menggeleng sesaat “Ginggi tidak mau kalau bukan kau yang mewawancarainya. Aku tidak tahu kenapa tapi sepertinya ia memiliki alasan khusus. Ayolah Renata, ini adalah kesempatan untukmu, membuat biografi itu piece of cake. Kalau kau berhasil menguak kisah dari Bromocorah terakhir itu, popularitas dan promosi kerja akan kau dapatkan. Selain itu, kau mungkin akan tahu kenapa penjahat tengik seperti dia malah dianggap pahlawan oleh sebagian masyarakat.” Bujuknya setengah memohon. “Entahlah, aku tidak yakin mau melakukannya.” Renata tetap bergeming dengan pendiriannya, ia mengecek aplikasi perpesanan di smartphonenya, ada beberapa pesan chatting yang dikirimkan oleh Baskoro. Malam nanti selepas pulang kerja tunangannya tersebut mengajak bertemu dan makan malam di sebuah restoran. Baskoro telah sekalian meng-share location restoran yang dimaksud. “Ayolah ini demi biro kita dan loyalitas dirimu sebagai karyawan. Jurnalis yang baik tidak akan membiarkan berita lewat begitu saja, apalagi ini berita besar, terbesar di abad ini!” Jelas sang Redaktur berapi-api, ia mengepalkan kedua tangannya tanda semangat. Renata memalingkan wajah dari layar smartphone dan menatap tajam Gunawan “Aku tidak akan melakukannya, apalagi dengan omong kosong idealisme yang kau gaungkan. Kalaupun mau maka aku butuh alasan yang kongkret!” Gunawan diam sejenak, ia sudah menduga kalau gadis di depannya memang keras kepala dan agak sulit dibujuk. Renata adalah adik kelasnya dulu sewaktu kuliah, bahkan Renata berhasil melampauinya sebagai lulusan terbaik kampus mereka yang memiliki predikat sebagai universitas terbaik se-asia tenggara. Gunawan pun kenal baik tabiat keras dan bagaimana realistisnya gadis itu. ‘What’s in it for me?’ adalah motto hidup Renata, Gunawan paham itu. Ia juga tahu Renata bisa bekerja secara maksimal dan diandalkan tapi tentu saja jika ia merasa kalau hal itu benar-benar worth it. Dengan motivasi yang tepat, gadis di depannya ini bahkan bersedia menjalankan tugas jurnalistiknya di medan perang sekalipun. Hanya sedikit orang yang bisa tahan dengan kekeraskepalaan Renata, Gunawan adalah satu diantara yang sedikit itu. “Promosi menjadi chief editor dan kenaikan gaji dua kali lipat kalau kau mau melakukannya.” Tawar sang redaktur tanpa basa-basi lagi. Renata tersenyum senang, “Tiga kali lipat dan bonus cuti seminggu setelah aku beres mewancarainya.” Ujarnya menyibak poni lalu mengirim balasan chatting Baskoro ‘oke’. “Itu berlebihan Renata!” Gunawan menggeleng. “Kalau kau tidak mau ya sudah, kita tokh hanya akan kehilangan wawancara dengan berita terbesar abad ini.” Renata membalikkan kata-kata Gunawan sebelumnya dan sengaja menekankan kata terbesar abad ini-nya, ia bahkan membuat isyarat dua tanda petik dengan tangannya. “Ah kau ini, baiklah. Deal!” Sang Redaktur menjulurkan tangan, ia tak mau kehilangan berita sebesar itu apalagi ini adalah sebuah berita ekslusif yang jelas akan diperebutkan oleh biro berita lain karena bisa dipastikan setelah menayangkan wawancara bersama Ginggi rating mereka akan melesat. Iklan akan berdatangan yang berarti kas perusahaan bakal terisi pundi-pundi dan bukan mustahil mereka bisa melakukan rencana ekspansi lebih cepat, harga yang lebih dari pantas bila dibandingkan dengan kenaikan gaji satu orang wartawannya saja. Renata memasukkan smartphone kedalam saku dan menyambut uluran tangan bosnya sembari tersenyum sumringah. “Siapa kameramen yang akan menemaniku?” lanjut Renata. “Tidak ada, hanya kau seorang saja. Gunakan saja camcorder dan alat perekam standar, tapi jangan khawatir pihak lapas sudah menjamin penuh keamanan untukmu. Mereka sudah menyiapkan petugas khusus yang akan berada dalam satu ruangan tempat kau mewawancara Ginggi, selain itu beberapa kamera cctv sudah tersedia.” Jelas Gunawan mencoba menenangkan. Renata terdiam sejenak, ia menimbang-nimbang situasi yang mungkin akan ia hadapi. Sepertinya tidak akan ada masalah, lagipula pengamanan super ketat memang telah diberlakukan di lapas tempat menahan si Bromocorah itu. “Baiklah, jam berapa aku harus datang?” “Besok jam sepuluh pagi di lapas tengah kota, jangan terlambat!” Perintah Gunawan sang Redaktur menatap tajam. “Siap Bos!” Renata menghormat ala tentara, bangkit dan berjalan kembali ke meja kerjanya sambil bersenandung kecil. Selain membayangkan kenaikan gaji nantinya, ia juga sebenarnya penasaran kenapa Ginggi si Bromocorah meminta dirinya sebagai pewawancara, darimana pula bos dunia hitam itu tahu tentang dirinya? * Renata berjalan tergesa-gesa, melirik jam yang melingkar di tangan, sudah jam 20.45 ia benar-benar terlambat, mempercepat langkahnya. Jalanan ibukota yang macet bukanlah salah satu penyebab utama, penyebab sebenarnya adalah ia terlalu asyik mencari berita dan menggali informasi mengenai latar belakang kehidupan Ginggi si Bromocorah, tapi ia tak menemukan apa-apa. Seolah orang tersebut tak pernah ada sebelumnya dan muncul begitu saja entah darimana. Beberapa puluh meter lagi ia akan sampai. “Maaf aku terlambat.” Renata membuka jaket dan tas, meletakkannya di kursi sebelahnya. Baskoro sedang asyik menatap layar gadgetnya, mencoba mengusir rasa bosan karena menunggu. Restoran yang dipilih oleh Baskoro berada di sudut selatan kota, cukup ramai oleh pengunjung yang ingin bersantap. Namun sang tunangan telah memesan tempat yang lebih sepi di lantai dua, sebuah balkon dengan pemandangan kota, privasi mereka yang makan terjaga karena jarak antar meja cukup renggang. Rangkaian lampion menjadi hiasan penerang, membuat keunikan tersendiri apalagi dengan kelam malam membuat suasana romantis. Alunan live music menjadi hiburan di sebuah pojok. “Kebiasaan!” Komentar Baskoro sedikit menyeringai, memalingkan wajah dari smartphone dan mulai menikmati wajah cantik sang jurnalis yang baru datang, tunangannya selalu bisa membuatnya kagum terpesona setiap waktu. “Kenapa? Apa ada yang aneh dengan wajahku?” Renata mengusap-usap pipi dan dahinya, merogoh kaca kecil dari sela tasnya lalu bercermin, tidak ada apapun kecuali sedikit keringat bercampur debu dan wajah lelahnya, ia mengembalikan kaca kecil kedalam tas. Mengambil tisu basah yang ia simpan di kantong lain dalam tas, lalu mengusap wajahnya dengan tisu basah tersebut. Baskoro menggeleng “Tidak, kau cantik dan selalu terlihat cantik, tak peduli sedang letih atau bahkan belum mandi sekalipun.” “Gombal! Kau sudah makan?” tanya Renata, menghempaskan tubuh di kursi. Meremas bekas tisu basah itu dan menaruhnya di meja, nanti setelah makan ia akan membuangnya ke tempat sampah . “Hanya cemilan kecil. Aku pikir makanan disini lebih enak kalau disantap bersamamu.” Tukas Baskoro menunjuk keripik kentang yang tinggal bungkusnya saja di atas meja. “Mbak!” Renata melambaikan tangan memanggil seorang pelayan yang siaga tak jauh dari meja mereka. Si Mbak pelayan berjalan menghampiri, ramah tersenyum “Selamat malam Kak. Ada yang bisa dibantu?” “Minta daftar menunya!” Ucap Renata. “Silakan.” Si Mbak pelayan menyerahkan daftar menu yang sebelumnya ia kepit di lengan. Renata menerima daftar menu tersebut dan mulai membuka halaman demi halaman, matanya bergerak-gerak lincah mengamati foto makanan yang bisa menarik minatnya. Setelah beberapa saat ia membolak-balik daftar menu tersebut ia tak menemukan makanan yang membuat nafsu makannya terbit, menghela nafas. “Mie goreng seafood ekstra pedas sama orange juice satu! Kau mau apa?” Renata menatap tunangannya. Baskoro mengulum senyum, kebiasaan Renata selalu terjebak dalam paradox of choice dan akhirnya memilih menu sederhana seperti mie atau nasi goreng “Saya minta chicken cordon bleu sama iced lemon tea.” “Saya ulangi pesanannya, satu mie goreng seafood ekstra pedas dan chicken cordon bleu, minumnya orange juice dan iced lemon tea?” Si Mbak pelayan mengecek tulisannya. “Iya.” Renata mengangguk. “Mohon ditunggu.” Sahut si Mbak pelayan dan kemudian berlalu menuju dapur untuk menyerahkan pesanan pada koki. “Tumben kau tidak memakai seragam?” Renata mengamati penampilan Baskoro yang berbeda dari biasanya, kalung dari tali dengan liontin kayu yang biasa disembunyikan dari balik seragam lelaki itu kini terlihat menggantung bebas. Baskoro tersenyum “Aku dibebastugaskan selama dua minggu ini.” “Kenapa?” “Komandan memberikan cuti khusus padaku, omong kosong! Aku tahu ia sengaja menjauhkanku dari kasus Ginggi si Bromocorah! Ia pasti tak mau aku melihat proses eksekusi dari dekat, padahal aku sudah gemas ingin melihat b******n itu mati!” Geram Baskoro. Renata menghela nafas, ia mempertimbangkan apa ia akan memberitahu Baskoro atau tidak tentang tugasnya mewawancarai Ginggi. Tapi, melihat begitu emosionalnya Baskoro ia menahan semua kata dan mungkin akan memberitahu setelah tugasnya selesai atau waktunya telah tepat. “Tapi aku cukup senang, setidaknya aku bisa menemani Mama menjaga Papa di rumah sakit beberapa hari ini.” Baskoro melanjutkan, suaranya terdengar jauh lebih tenang. “Itu bagus, bagaimana kondisi Mama dan Papa?” “Papa masih koma, belum ada tanda-tanda ia akan sadar tapi kondisi fisiknya berangsur pulih. Mama cukup tegar tapi aku tahu hatinya pasti sangat bersedih.” Timpal Baskoro. “Aku turut berduka, mudah-mudahan Papa akan segera sadar dari komanya. Mungkin besok sore aku akan mampir ke rumah sakit.” Renata mendadak kurang enak dengan tema pembicaraan mereka. “Mama akan senang kalau kau mampir, ia sudah menganggapmu sebagai anaknya sendiri. Kupikir selama ini Mama memang menginginkan anak perempuan, sayang hanya aku saja anak mereka satu-satunya.” Baskoro tersenyum. “Tapi kau pasti menjadi anak kebanggaan mereka.” “Entahlah, aku hanya berharap waktu itu bisa datang ke rumah lebih awal dan mencegah tragedi yang menimpa Papa. Aku bukan anak yang bisa diandalkan.” Baskoro mendesah. “Itu bukan kesalahanmu, kau sudah berusaha sekuat yang kau bisa. Semuanya salah Ginggi si Bromocorah itu.” Hibur Renata. “Mungkin begitu, tapi aku masih tidak paham kenapa banyak orang yang berpikir dia adalah seorang pahlawan. Memuakkan! Puluhan sampai ratusan orang hampir setiap hari berdemo menuntut agar Ginggi si b******n itu dibebaskan. Apa mereka tidak tahu kalau orang itu penjahat besar yang berbahaya?” Suara Baskoro kembali meninggi, ia memang sangat marah dengan kejadian yang menimpa sang Papa dan itu semua salah Ginggi si Bromocorah. Renata terdiam, memang aneh. Untuk sebagian orang Ginggi si Bromocorah terkenal dengan reputasinya selaku penguasa dunia hitam, perdagangan obat terlarang, penjualan senjata ilegal, perang antar geng, money laundry, pembunuhan yang dilakukan oleh anak buahnya, pemalakan dan segala jenis kejahatan yang terjadi selalu bisa dikaitkan dengannya, tapi tak pernah ada cukup bukti untuk memenjarakannya. Tidak sampai Baskoro menangkapnya basah. Namun, sebagian masyarakat terutama mereka yang miskin, menganggap Ginggi adalah pahlawan. Simbol pemberontakan pada sistem yang b****k dimana hukum bagaikan pisau bermata satu yang tajam ke bawah sementara untuk para pejabat dan orang kaya berlaku tumpul. “Ada satu hal yang sebenarnya tak ku mengerti.” Baskoro kembali melanjutkan obrolan setelah mengatur emosinya. “Apa itu?” Renata menatap Baskoro serius. “Waktu itu, saat aku dan beberapa petugas lain masuk kedalam rumah. Aku melihat si Bromocorah Ginggi begitu buas tengah memukuli Papa dengan stik golf, Papa sudah tak berdaya dan terkapar di lantai. Darah berceceran hampir merata di ruang tamu, saat itu aku sangat marah dan tanpa pikir panjang menerkam b******n itu. Ginggi awalnya melakukan perlawanan dan entah kenapa saat mata kami bertemu, ia tiba-tiba berhenti melawan. Melemparkan stik golf dan pasrah menerima bogem-bogem mentah yang ku arahkan padanya. Dua orang petugas lain akhirnya menarik ku agar tidak meneruskan tindakanku yang bisa membuatnya terbunuh. Itu memang yang ada di benakku, aku ingin membunuh Ginggi karena sudah membunuh Papa.” Baskoro mengatupkan rahangnya berusaha menahan emosi, menghelahembuskan nafas, ia memegang erat liontin kayu yang tergantung di kalung lehernya. Sejak kecil, setiap ia melihat dan memegang liontin sederhana itu entah kenapa ia selalu merasa lebih tenang dan damai. Renata tidak berkomentar, sejak tragedi berdarah itu terjadi baru kali inilah Baskoro mau bercerita banyak. Tapi dengan demikian Renata mendapatkan informasi langsung dari tunangannya ini. “Seorang rekanku berteriak kalau Papa masih hidup meski kritis. Kesadaranku kembali dan menyuruh mereka memanggil ambulans, menolong nyawa Papa jauh lebih penting. Anehnya, si Bromocorah Ginggi terus saja menatapku nyaris tak berkedip.” Suara Baskoro terdengar lebih tenang. “Lalu apa yang kemudian terjadi?” Renata penasaran. “Tiba-tiba saja selusinan lebih anak buah Ginggi berdatangan dengan senjata lengkap, mereka mengepung kami. Aku dan beberapa petugas lain bukan tandingan mereka, selain kalah jumlah merekapun dilengkapi senjata yang jauh lebih kuat. Dan disitulah keanehan lainnya, Bromocorah itu malah memerintahkan anak buahnya untuk menyerah dan pergi. Ia sendiri membiarkan dirinya untuk ditangkap.” Tutur Baskoro. Itu adalah sebuah misteri lainnya dan Renata yakin Ginggi si Bromocorah kejam itu memang memiliki alasan. Tak mungkin kalau orang berdarah dingin yang kabarnya bisa membunuh tanpa perlu tahu siapa korbannya itu tiba-tiba menyerah begitu saja, tentu ada sebabnya. Renata akan mencoba mengoreknya pada si Bromocorah Ginggi itu langsung, ia akan menyelipkan pertanyaan itu dalam daftarnya. “Maaf, aku menjejalimu dengan cerita buruk. Seharusnya kita menikmati makan malam ini dengan tenang.” Baskoro menghela nafas, merasa bersalah karena telah merusak suasana dengan ceritanya. “Tidak apa-apa Bas, aku justru senang akhirnya kamu mau bercerita, berbagi bebanmu denganku. Setidaknya dengan bercerita kau tidak perlu terlalu sesak menyimpan semuanya sendiri.” Renata menggenggam tangan tunangannya. “Terima kasih, kurasa aku tidak salah pilih calon istri.” Baskoro menatap wajah Renata, tersenyum dan mengeratkan genggamannya. Renata mengangguk, justru ia harus berterima kasih karena Baskoro secara tidak sengaja telah memberikan informasi yang penting untuknya dalam menjalankan tugasnya besok. Kini Renata memiliki secuil gambaran tentang Ginggi, ada rahasia yang membuatnya menyerahkan diri nyaris tanpa perlawanan. Apakah Bromocorah sadis itu pada akhirnya bertobat dan memilih untuk mengakhiri hidupnya di tiang gantungan sebagai bentuk pertobatannya? Bagaimanapun, pada akhirnya hukum dan keadilan memang akan ditegakkan. *** 

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.7K
bc

Marriage Aggreement

read
87.3K
bc

Scandal Para Ipar

read
708.6K
bc

JANUARI

read
50.0K
bc

Pengacara Itu Mantan Suamiku

read
3.7K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
42.4K
bc

Kali kedua

read
219.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook