Renata membuka pintu taksi online yang ia tumpangi, mengenakan ransel berisi camcorder dan keperluan wawancara lain yang tadi ia taruh di samping kursi kemudian membuka payung kecilnya. Untunglah ia ingat untuk membawa payung sebab ramalan cuaca semalam ternyata tidak keliru, pagi ini gerimis memeluk erat hampir rata di setiap penjuru kota. Dan ia pun bersyukur karena memutuskan memakai celana jeans serta sneaker agar memudahkannya berjalan, tidak mengindahkan anjuran si Popi rekannya untuk memakai rok sepan dan blus senada yang minggu lalu ia beli di marketplace.
“Sudah saya bayar lewat aplikasi ya Pak!” Renata berujar.
Sopir taksi online itu mengecek aplikasinya memastikan “Iya Mbak, terima kasih sudah mengunakan jasa kami.” Tersenyum senang karena sang penumpang telah melebihkan ongkosnya buat tips.
“Sama-sama.” Renata mengangguk, turun sambil memakai payung dan menutup pintu taksi online tersebut dari luar, aroma petrichor menyergap hidungnya, sejenak menghirup dalam-dalam wangi khas yang ia sukai sejak kecil itu. Membayangkan kalau saja ia sedang bebas tugas, menikmati gerimis dan aromanya dengan ditemani secangkir kopi panas dan beberapa cemilan pasti akan sangat sempurna.
Renata mengenyahkan lamunan dan meneruskan langkah kaki menembus gerimis yang perlahan menderas, anehnya di halaman lapas pusat kota ini ratusan orang dengan membawa spanduk, poster dan karton berisi tuntutan agar aparat membebaskan Ginggi masih berkerumun. Meski diantaranya ada juga yang berteduh, tapi mereka seakan tidak terpengaruh dengan jutaan tetes hujan yang terjun bebas menghantam bumi.
Barikade penjaga berseragam lengkap dengan tameng dan baju anti huru-hara tebal berbaris rapat berusaha menghalangi para demonstran agar tidak merangsek masuk kedalam lapas. Mereka pun sama tidak pedulinya dengan hujan yang turun, semuanya demi mengemban tugas negara.
Beberapa wartawan dari media lain dengan jas hujan dan payung terkembang terlihat sedang meliput dan berharap ada berita panas hari ini, semakin mendekati hari eksekusi, berita tentang Ginggi si Bromocorah semakin gencar diberitakan. Dan semakin banyak pula orang yang ikut berdemo agar ia dibebaskan, aneh memang.
“Renata? Apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau reporter feature?” tanya seorang wartawati kriminalitas dari TV sebelah yang menghampirinya, ia mengenakan jas hujan lucu warna pink bermotif hello kitty.
“Hai Melly, aku dapat tugas khusus.” Jawab Renata.
“Jangan katakan kalau kau yang akan membuat biografi Ginggi itu?” selidiknya, rumor memang telah tersebar kalau Ginggi telah meminta seorang wartawan untuk membuatkannya sebuah biografi.
Renata mengangguk.
“Astaga Renata! Kau benar-benar beruntung. Aku saja yang sudah mengikuti sepak terjang si Bromocorah itu sejak tujuh tahun tidak mendapat kesempatan itu. Apa yang kau lakukan sehingga dapat previlage tersebut?” tanya Melly menatap takjub.
“Aku tidak tahu, Gunawan tiba-tiba saja menyuruhku mewawancarainya kemarin sore.” Jawab Renata.
“Kau beruntung. Semua wartawan di sini pasti iri kalau tahu. Baiklah kudoakan semoga tugasmu berjalan lancar. Kapan-kapan kita hangout lagi, aku tahu coffeeshop yang baru buka di sudut kota. Kau pasti akan menyukainya.”
“Baiklah, hubungi aku lagi nanti. Bye Melly!” Pamit Renata.
“Bye!” Melly melambaikan tangannya, menatap Renata ia juga sedikit iri.
Setelah berdesakan dengan para demonstran dan terciprat air dari genangan yang tak sengaja ia injak, Renata berhasil sampai ke depan barikade aparat, berteriak menyampaikan maksudnya sambil memperlihatkan id card wartawannya pada komandan lapangan yang kemudian membukakan jalan untuknya.
Renata dikawal komandan tersebut masuk ke pelataran lapas, yang kemudian menyuruhnya menunggu sambil ia melapor pada kepala sipir lapas. Agak lama Renata menunggu sampai aparat itu kembali bersama dengan seorang sipir.
Sipir itu bertubuh kurus dan agak tinggi, rambutnya tersisir rapi klimis berminyak dan memakai kacamata minus tipis.
“Mbak Renata?” Sipir itu bertanya, memastikan. Mengamati gadis yang berdiri di depannya dari ujung kaki ke kepala lalu tersenyum.
“Betul, Pak.”
“Perkenalkan, saya Rafi. Saya sipir pengawas Pak Ginggi.” Ia mengulurkan tangan.
Renata bersalaman dengan Rafi, sipir pengawas yang usia mereka tampaknya tak jauh berbeda dan dari intonasi suara ketika menyebut nama Ginggi sepertinya sipir ini cenderung menghormati Ginggi. Aneh ada hubungan apa mereka?
“Mari ikut saya!” ajaknya melangkah menuju pintu di sebelah gerbang besi.
Rafi mengetuk dengan ketukan tertentu dan sebuah lubang pengintip terbuka, sipir lain membuka pintu dari dalam setelah mengenali siapa yang mengetuk.
“Maaf tolong letakkan smartphone dan barang-barang anda di nampan ini dan kesediaan anda melewati metal detector.” Ujar Rafi menunjuk ke arah metal detector.
Renata meletakkan payung yang masih basah dan mencucurkan sedikit air, smartphone dan dompetnya di nampan yang disediakan. Kemudian ia berjalan melewati metal detector dan kubus inframerah.
Seorang petugas lain memeriksa tas ranselnya mencari barang atau benda yang tidak seharusnya dan bisa berbahaya, sementara operator mesin pemindai itu mengacungkan jempol ke arah Rafi sebagai tanda semuanya aman.
“Terima kasih, maaf kalau anda merasa kurang nyaman tapi ini adalah prosedur standar kami.” Jelas Rafi.
“Tidak masalah.” Timpal Renata, mengambil kembali barang-barangnya dari nampan dan mengenakan lagi ransel yang disodorkan oleh seorang petugas.
Rafi dan Renata kemudian melangkah melewati lorong yang di kiri kanannya terdapat ruangan-ruangan yang dipakai untuk memenjarakan para tahanan baru, semacam ruang adaptasi dan pembiasaan.
“Kalau boleh saya tahu, apa anda memiliki hubungan tertentu dengan Ginggi?” Renata tak mampu membendung pertanyaan yang menggelitik hatinya.
Rafi menghentikan langkahnya, celingukan sesaat memastikan tidak ada orang lain di lorong, lalu tertawa kecil sambil menatap Renata “Sepertinya saya memang tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari seorang reporter seperti anda.”
“Jadi, anda memang memiliki hubungan dengan Ginggi?” Renata sumringah, dugaannya tepat.
“Sebenarnya, saya bisa jadi sipir seperti sekarang ini berkat bantuan Pak Ginggi, memang tidak secara langsung. Tapi bagi saya dia adalah orang baik, seperti juga anggapan kebanyakan orang yang berdemo di luar.”
“Maksud anda bagaimana?” Renata menatap Rafi penasaran.
“Saya ini berasal dari keluarga miskin yang jangankan untuk bersekolah, untuk makan sehari-hari saja terkadang kami harus cukup puas dengan meminum segelas air untuk mengganjal perut. Ayah saya hanya seorang pemulung barang bekas, penghasilannya kecil dan tidak menentu. Saya sempat putus sekolah sewaktu SD karena harus membantu ayah mengumpulkan kardus bekas, botol bekas dan sejenisnya. Sampai suatu hari saat saya sedang memulung, seorang lelaki bertanya ‘Nak, kenapa kamu memulung? Bukankah seharusnya kamu sekolah?’ saya jawab saya sudah gak sekolah karena harus membantu ayah. Lelaki itu bertanya lagi ‘Ayahmu dimana?’ Saya lalu menunjuk ayah yang berada di seberang jalan sedang mengaduk sebuah tempat sampah. Lelaki itu kemudian mendekati ayah, mereka berbincang cukup lama. Lelaki itu kemudian pergi, ayah mendatangi saya sambil berlinang air mata dan sambil memeluk saya ia berucap ‘esok pagi kamu kembali ke sekolah nak!’ saya tak mengerti waktu itu, tapi merasa senang karena akan bersekolah lagi.”
“Lalu apa yang terjadi kemudian? Apakah lelaki itu Ginggi?”
Rafi menggeleng “Bukan, lelaki itu bukan Pak Ginggi. Dia adalah Pak Sastro, seorang pengurus yayasan yang kemudian memberikan beasiswa untuk saya dari SD sampai kuliah dan akhirnya saya menjadi sipir seperti sekarang ini. Setelah lulus dan bekerja saya jarang bertemu beliau, tapi beberapa hari kemarin saya bertemu lagi dengan beliau di sini, Pak Sastro sedang menjenguk Pak Ginggi. Dan untuk pertamakalinya saya mengetahui kalau pemilik yayasan itu adalah Pak Ginggi. Yayasan yang dikelola oleh Pak Sastro itu memberikan beasiswa untuk ratusan bahkan mungkin ribuan anak yang tak beruntung seperti saya. Semua itu berkat Pak Ginggi.”
“Tapi itu tidak mengubah fakta kalau Ginggi adalah seorang penjahat besar.” Sahut Renata.
“Benar. Tapi membantu sesama manusia yang sedang kesusahan bukanlah sebuah kejahatan, bukan?” Rafi menyeringai.
Renata tidak menjawab, menurutnya meskipun digunakan untuk kebaikan, uang panas kejahatan tetaplah uang haram.
“Kita sudah tiba, silakan masuk!” Rafi memutar tuas sebuah pintu.
Renata masuk kedalam ruangan tersebut, beberapa petugas bersenjata lengkap dengan helm dan rompi anti peluru berjaga di setiap sudutnya memastikan semua aman terkendali. CCTV terpasang di tiap sudut langit-langit.
Di tengah ruangan tersebut ada sebuah meja dengan dua kursi yang diletakkan berhadapan. Di salah satu kursi itu duduk bertopang dagu seorang lelaki separuh baya, wajahnya terlihat keras dan banyak bekas luka. Sebuah codet besar bahkan melintang dari dahi kiri ke mata terus sampai ke pipinya. Di lengan kirinya sebuah tato bergambar harimau berkepala dua dengan loreng berwarna ungu tercetak, satu kepala harimau itu sedang menggigit ular yang besar dan kepala lainnya terlihat sedang mengaum. Lelaki itu tertunduk menatap meja kosong seperti sedang berpikir atau tengah melamun. Ia bahkan tidak menyadari kedatangan Renata bersama dengan Rafi.
“Pak Ginggi, ini Renata wartawan yang anda tunggu.” Rafi menegur halus setelah berada dekat dengan orang tersebut.
Ginggi menoleh ke arah Renata, tersenyum.
Rafi mengangguk dan dengan isyarat tangan mempersilakan Renata untuk duduk di kursi yang berhadapan dengan Ginggi. Rafi kemudian menjauh dan duduk di kursi lain yang berada di salah satu sudut ruangan tersebut, mengawasi.
Renata lalu duduk di kursi, menyiapkan dua alat perekam serta sebuah video camcorder dari ranselnya dan untuk jaga-jaga ia pun memfungsikan smartphone-nya sebagai alat perekam cadangan. Ia meletakkan semua di atas meja.
Ginggi mengamati wajah Renata secara seksama dengan mata elangnya.
“Sepertinya semua alat sudah siap. Kita bisa mulai wawancaranya?” tanya Renata setelah mengecek dan memastikan semua alat perekamnya menyala dan berfungsi, ia menatap Ginggi.
“Kau gadis yang cantik.” Suara Ginggi yang berat dan parau memuji Renata.
“Kalau kau hendak menggodaku, lebih baik kita urungkan saja wawancara ini!” Renata mengancam, ia bangkit dari kursinya.
“Tidak tidak, aku minta maaf. Kita akan melanjutkan wawancara ini, kau juga tentu penasaran kenapa aku meminta dirimu untuk mewawancaraiku bukan?” cegah Ginggi, pandangan tajam dan suaranya yang mencengkeram tak berpengaruh pada gadis jurnalis ini.
Renata mengurungkan niatnya untuk pergi, ia kembali duduk. Salah satu alasan ia mau datang hari ini adalah mencari tahu jawaban kenapa Ginggi memilihnya sebagai pewawancara.
Ginggi tersenyum. Gadis yang keras dan mandiri, dari pengalaman ia bisa menilai kalau gadis di hadapannya ini tentu pernah mengalami kegetiran dalam hidup dan pada akhirnya mampu berdiri menjadi lebih kuat seperti sekarang. Gadis ini memang sangat pantas.
Renata menatap Ginggi tajam, “Jadi, kenapa kau memintaku untuk mewawancarai dan menulis kisah hidupmu? Sebelum ini kita belum pernah bertemu bukan?”
“Aku akan mengatakan alasannya setelah kau mendengar seluruh kisah hidupku. Kalau kau bersedia untuk sabar mendengar, aku yakinkan padamu. Cerita ini meski nampak tidak berkaitan tapi pada akhirnya kunci atas semuanya akan jelas dan membutuhkan peran dirimu.”
Renata menghela nafas, Ginggi masih berteka-teki “Baiklah akan aku dengarkan kisahmu. Sekarang kita mulai saja!”
Ginggi kembali bertopang dagu dan mulai menerawang “Kisah ini dimulai 27 tahun lalu, di sebuah kota kecil di ujung timur pulau. Kau mungkin tidak percaya kalau pada waktu itu aku hanyalah seorang lelaki yang lemah tak berdaya, hanya seorang pedagang kaki lima bertubuh kerempeng dan rapuh.”
***