27 tahun lalu di sebuah kota kecil di ujung timur pulau.
Sanin bersiul-siul sambil membersihkan gerobak martabak manis miliknya yang terparkir di halaman rumah kontrakan, berkali-kali ia menyapukan lap basah lalu memerasnya kedalam ember. Meski sudah mulai reyot tapi gerobaknya harus selalu bersih dan tampak kinclong agar tetap bisa menarik perhatian pembeli.
Matahari baru saja muncul dari timur tapi ia sudah sibuk, bangun pagi dan sembahyang. Jangan tidur lagi karena kata guru ngajinya dulu rezeki bisa dipatok ayam, prinsip sederhana yang ia pegang setiap hari. Ia harus bersemangat mencari rezeki, terutama dengan kehadiran Rizky anak pertamanya yang baru berusia tiga bulan, buah pernikahan dengan istri tercintanya Dewi.
“Mas, tepung dan gula untuk bikin adonan sudah hampir habis. Jangan lupa beli lagi di grosir.” Dewi muncul dari balik pintu.
Sesaat Sanin menghentikan kegiatannya dan memandang sang istri tersenyum, “Iya Dek, nanti setelah beres bersihin gerobak Mas rencananya mau ke pasar. Kamu mau nitip apa? Nanti Mas belikan sekalian di pasar.”
Dewi mengingat-ingat sejenak, “Popok satu pak, s**u formula merek biasa sama belanja sayuran dan bumbunya buat makan kita ya Mas.”
“Oke.” Sanin mengacungkan jempolnya “Buat kamu mau Mas belikan apa?”
“Gak usah Mas, itu aja cukup.” Dewi menggeleng sambil berbalik masuk kedalam rumah karena mendengar Rizky menangis.
Sanin beruntung mendapatkan istri seperti Dewi yang tak banyak menuntut dan selalu merasa cukup dengan kehidupan sederhana mereka. Tapi sebagai seorang suami ia selalu mencoba untuk meraba apa keinginan sang istri, tak jarang memang sang istri memiliki keinginan meski sepele seperti ingin makan rujak cingur yang berada dekat perempatan panti asuhan mereka dulu, atau makan jadah tempe dagangannya Mbok Sum di pasar.
Sanin dan Dewi, anak sebatang kara yang dititipkan di sebuah panti asuhan di sudut kota. Kedua panti asuhan mereka berada bersebelahan karena pemilik yayasannya adalah orang yang sama, kebijakan panti memisahkan antara anak panti yang laki-laki dan perempuan tapi terkadang mereka dipertemukan dalam beberapa kegiatan akbar. Sanin dan Dewi yang beranjak dewasa pun mulai mengenal satu sama lain karena sering bertemu dalam acara pengajian panti tersebut.
Mereka tumbuh bersama dan berbagi nasib yang serupa. Sama-sama tak mengenal siapa orang tua masing-masing dan menjalani kehidupan yang tak mudah, namun mereka bersyukur sekarang karena mereka memiliki satu sama lain dan dengan kehadiran Rizky sang buah hati, lengkap sudah kebahagiaan mereka.
Sanin membuang air sisa membersihkan gerobak ke parit kecil depan rumah kontrakan, membawa lap dan embernya ke toilet untuk dicuci. Ia lalu mandi dan berganti baju bersiap untuk pergi belanja ke pasar.
“Mas, sarapan dulu! Adek sudah memasak nasi goreng. Sudah Adek siapkan di meja depan.” Dewi mengingatkan sang suami, ia menggendong Rizky.
“Iya Dek, terima kasih. Kamu sudah makan?”
Dewi menggeleng “Belum, Mas duluan aja. Adek makan sebentar lagi kalau Rizky udah tidur.”
Sanin mendekati Dewi, menatap sang buah hati yang juga menatap ke arahnya sambil mengemut jempolnya.
“Matanya mirip sama kamu Dek. Ia pasti jadi anak yang baik dan Saleh.” Sanin mencium Rizky yang menggeliat karena geli terkena kumis dan janggut tipis sang ayah.
“Mudah-mudahan Mas, yang pasti ia akan lebih beruntung dari kita sebab ia mengenal siapa kedua orang tuanya. Tidak seperti kita.” Dewi tergetar.
Sanin mengusap pipi sang istri dengan lembut “Yang penting kita memiliki satu sama lain dan itu sudah lebih dari cukup Dek.”
Sanin tahu istrinya masih penasaran dengan alasan kenapa ia dibuang ke panti asuhan dan bahkan kemudian ketika mereka beranjak dewasa ia mengetahui kalau ayahnya masih hidup, tapi sang ayah tetap tidak mau mengakuinya sebagai anak saat mereka mendatanginya. Bahkan saat Sanin memintanya sebagai wali nikah, sang ayah menolak meski sudah berkali-kali dibujuk. Akhirnya mereka menikah dengan wali hakim disaksikan pengurus dan penghuni panti.
Sanin yang kala itu sudah keluar panti dan mandiri dengan berjualan martabak kemudian memboyong sang istri ke rumah kontrakannya. Dibantu sang istri, perlahan usaha Sanin mulai menampakkan hasil. Istrinya yang memang berbakat memasaklah yang telah menyempurnakan rasa adonan martabak sang suami hingga pelanggan mereka terus bertambah dari hari ke hari, mereka bahkan melakukan inovasi dengan menyediakan berbagai toping martabak.
Di tahun kedua pernikahannya barulah kebahagiaan mereka terasa semakin lengkap dengan Dewi yang mengandung. Mereka kemudian pindah ke rumah kontrakan yang lebih luas dan lebih nyaman, semata demi menyambut kehadiran sang jabang bayi.
Sanin menyelesaikan makannya dengan cepat, nasi goreng buatan istrinya memang enak, jauh lebih enak dari nasi goreng buatan istri penjaga pantinya dulu. Beres makan ia segera mencuci piringnya, ia tak mau terlalu merepotkan sang istri yang sudah kewalahan mengurus rumah tangga dan anak mereka.
“Dek, Mas ke pasar dulu ya. Hati-hati di rumah.” Pamit Sanin pada sang istri.
“Mas juga hati-hati di jalan!” Ingat Dewi sambil mencium tangan suaminya. Rizky sang buah hati akhirnya tertidur dan sudah ia baringkan di kasur.
“Iya, kamu jangan lupa sarapan ya Dek.”
Dewi mengangguk.
Sanin mengeluarkan motor bebek miliknya yang terparkir di sebelah gerobak martabak, memakai helm kemudian menyalakan mesinnya dan berlalu setelah melambaikan tangan pada sang istri.
Matahari hangat terasa di kulit sepanjang perjalanan. Sanin terus bersyukur dengan hidupnya saat ini. Dulu ia selalu merasa kalau Tuhan tidak adil, hidup ini penuh sesak dan kesengsaraan yang dihiasi dengan makian dan hinaan hampir setiap hari dari orang lain karena ia hanyalah seorang anak panti yang tak tahu siapa orang tuanya. Tapi kemudian semua berubah, ia mulai memahami kalau dunia memang berputar dan kebahagian itu pun memeluk dirinya. Pertemuannya dengan Dewi, pernikahan mereka dan kini kehadiran sang buah hati Rizky. Lengkap sudah kebahagiaan dalam hidupnya.
Sanin memarkirkan motor di parkiran grosir milik Koh Chen langganannya, tepat di sebelah mobil patroli polisi. Ia kemudian menuju toko kelontong dan sayur yang berada di dalam pasar dan membeli popok, s**u serta belanjaan lain titipan Dewi terlebih dahulu. Aktivitas pasar sangat ramai, orang-orang sibuk dengan kegiatan jual beli, maklum pasar ini adalah satu-satunya di kota paling timur pulau ini.
Beres dari toko kelontong dan sayur ia kembali ke parkiran dan menggantungkan belanjaannya di boncengan depan motor. Sanin kemudian melangkahkan kaki masuk kedalam grosir milik Koh Chen. Dua orang polisi sedang duduk dan berbincang dengan istri Koh Chen di sudut grosir, mereka sejenak berhenti berbincang dan menatap Sanin saat ia masuk. Sanin tersenyum dan mengangguk ke arah mereka, mereka membalas anggukannya.
“Haiya Sanin, mau beli terigu hah?” Sapa Koh Chen, suaranya yang khas melengking ramah terdengar.
“Iya Koh, sama gula sekalian. Eh wajah Koh kenapa?” tanya Sanin, terkejut melihat wajah Koh Chen yang lebam-lebam kebiruan.
“Ini hah, Oe jatuh dari tangga tadi pagi. Gak usah dipikir, Oe baik-baik aja hah.” Koh Chen mengibaskan tangan.
Sanin manggut-manggut, “Terigu satu karung yang 25 kg Koh sama gula sepuluh kilo aja.”
Koh Chen melirik ke arah para Polisi sesaat, menelan ludahnya.
“Sanin, hari ini Oe kasih yu tepung terigu yang 50 kg sama itu gula satu karung 25 kg. Gimana?” tawarnya.
“Enggak Koh, uang saya cuma cukup beli seperti biasa aja.” Tolak Sanin, menggeleng.
“Tenang aja, Oe percaya sama yu orang. Oe kasih pinjaman anggap aja hadiah buat bayi yu yang baru lahir, Oe kasihan yu bolak-balik aja tiap minggu, yu boleh bayar setengahnya saja itu tepung terigu sama gula dan setengahnya lagi nanti saja. Harga normal gak Oe lebihin lah, cincay-cincay.” Koh Chen agak memaksa, dengan punggung tangan ia mengusap pelipisnya yang entah kenapa mendadak berkeringat dingin.
Sanin berpikir sejenak, saat ini jualannya memang sedang ramai, pelanggan martabaknya cenderung bertambah dari hari ke hari. Menambah jumlah produksi sepertinya ide yang bagus.
“Baiklah Koh, kalau Koh percaya sama saya, saya ambil.” Sanin mengangguk.
“Bagus hah. Bambaaang...!” Koh Chen berteriak memanggil salah satu pegawainya.
“Iya Koh?” Bambang bergegas mendekati sang majikan.
“Yu orang bantu bawa tepung terigu yang 50 kg sama gula pasir 25 kg buat si Sanin ini hah!” perintah Koh Chen.
“Yang mana Koh?” tanya Bambang.
“Itu yang ada di pojok hah sudah ada satu yang oe pisahin tinggal angkut saja, yu udah kerja lama tapi masih gak ngerti-ngerti juga?! Pusing hah Oe punya pegawe macam yu!” Koh Chen menepuk dahinya.
“Ini uangnya Koh, sisanya nanti saya bayar.” Sanin mengulurkan sejumlah uang dari dompetnya.
“Oe terima hah, makasih. Yu gak usah pusing segera bayar sisanya, cincay-cincay.” Koh Chen menerima uang dari Sanin dan memasukkannya kedalam laci meja.
“Terima kasih Koh.” Pamit Sanin, sekali lagi mengangguk ke arah istri Koh Chen dan para polisi, mereka pun kembali membalas anggukannya.
“Motornya yang mana Mas?” tanya Bambang, lelaki itu kuat memanggul karung tepung terigu 50 kg dan gula 25 kg sekaligus padahal tinggi mereka sepantaran tapi memang tubuh Bambang jauh lebih kekar dibandingkan Sanin.
Sanin berjalan cepat mendahului Bambang menuju parkiran motor.
“Yang ini Mas.” Sanin menunjukkan motornya pada Bambang.
Bambang menurunkan kedua karung yang ia panggul dan menaruhnya di jok belakang motor Sanin, tak lupa mengikatnya dengan kencang memakai benang rafia yang ia rogoh dari saku celana agar tak terjatuh.
Sanin memberikan lembaran uang seribu rupiah pada Bambang sebagai tips. “Makasih Mas.”
“Sama-sama.” Bambang mengangguk, segera menyumpalkan uang tips panggul tersebut kedalam saku celananya sebelum ketahuan sama kuli panggul lain dan berbalik masuk kembali ke grosir.
Sanin menyalakan motor, tak lama ia sudah kembali melaju menuju rumahnya.
Rizky memang membawa rezeki, sudah bertahun-tahun Sanin menjadi pelanggan Koh Chen tapi baru sekarang ia dipercaya sama si Engkoh. Padahal biasanya Koh Chen sangat pelit kurang seratus atau dua ratus rupiah pun ia bisa sangat cerewet, tapi ternyata hari ini ia bisa juga bersikap sangat baik.
Sanin melajukan motornya dengan kecepatan sedang, menikmati indahnya pemandangan sepanjang jalan. Kota kecil ini sedang berbenah dan mengadakan pembangunan fisik dimana-mana. Banyak gedung dan perkantoran muncul hampir di setiap sudutnya, kabarnya pusat perbelanjaan besar pun akan didirikan di tengah kota. Namun pasar tradisional masih hanya ada satu, padahal pasar yang sekarang kurang kondusif, sudah terlalu berjubel baik pedagang maupun pembelinya.
Dari kaca spionnya, Sanin melihat beberapa mobil polisi berjalan beriringan sekitar 100-200 meter di belakangnya. Anehnya mereka tidak menyusul dirinya dan seperti menyesuaikan dengan kecepatannya. Mungkin mereka sedang berpatroli rutin dan melihat-lihat situasi jadi tidak terburu-buru, pikir Sanin.
Seperempat jam kemudian Sanin sampai di kontrakannya, berusaha memanggul satu persatu karung di jok belakang motornya dengan kepayahan. Tadi ia melihat Bambang sepertinya enteng saja memanggul keduanya sekaligus, tapi saat ia melakukannya ternyata tidak semudah yang terlihat.
Akhirnya Sanin hanya menyeret karung-karung itu satu demi satu dan meletakkannya di dapur.
“Ini Mas!” Dewi menyodorkan segelas air pada sang suami yang terlihat kepayahan, keringat bercucuran dari dahi dan pelipisnya.
Sanin duduk berselonjor di lantai dan meminum air tersebut “Terima kasih Dek. Rizky mana?”
“Masih tidur, biasa kata orang kalau bayi seharian tidur dan baru bangun nanti malam.”
“Ngajak kamu buat begadang nanti ya Dek, hehehe...” Sanin terkekeh mencoba berkelakar, seperti biasa Dewi hanya tersenyum tipis.
Sanin paham kalau sang istri memang sangat susah untuk tertawa, setelah semua kegetiran yang ia alami maka adalah sebuah keajaiban kalau Dewi masih bisa tersenyum. Sejak akad nikah terjadi, Sanin bersumpah untuk membahagiakan sang istri dan mengubah senyum tipisnya menjadi tawa lepas lagi seperti saat mereka remaja.
“Tumben Mas beli tepung yang 50 kilogram. Apa kita punya uang lebih?” Dewi menatap suaminya, setahu dia keuntungan jualan mereka meski meningkat tapi belum berlebih dan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, bayar kontrakan tiap bulannya serta menyisihkan sedikit untuk tabungan.
“Tadi Mas dikasih pinjaman sama Koh Chen, dia bilang Mas boleh ngambil dulu biar gak bolak-balik tiap minggu. Lagipula sepertinya kita memang harus menambah jumlah produksi, belakangan pelanggan kita juga bertambah dan sering gak kebagian.”
“Mudah-mudahan saja usaha kita juga semakin maju ya Mas agar bisa secepatnya membayar ke Koh Chen. O iya belanjaan yang lainnya mana Mas?” tanya Dewi.
“Masih di motor, dikaitkan di boncengan depan.” Ujar Sanin, ia hendak berdiri.
“Biar Adek yang ngambil, Mas istirahat aja.” Dewi segera keluar mengambil sisa belanjaan sang suami.
Tak lama ia sudah kembali sambil menenteng beberapa keresek belanjaan Sanin.
“Mas ayamnya mau Adek masakin jadi apa? Opor atau disemur?”
“Digoreng pakai tepung aja Dek.” Sahut Sanin, selain tidak terlalu ribet memasaknya, ayam goreng tepung adalah makanan kesukaan sang istri.
Dewi meletakkan keresek belanjaan di meja dapur dan mulai meracik bumbu untuk memasak, Sanin beranjak mendekati sang istri sambil tersenyum penuh makna.
Tiba-tiba, ‘Brughk…!!!’ pintu kontrakan mereka ada yang mendobrak.
“Jangan bergerak! Angkat tangan ke atas!” perintah beberapa orang aparat berseragam lengkap dengan rompi anti peluru dan senapan teracung ke arah Sanin dan istrinya yang serempak mengangkat kedua tangan.
“Ada apa ini?” Sanin bertanya dengan suara bergetar karena kaget.
“Mas, apa yang terjadi?” Dewi menatap sang suami tak mengerti.
Sanin balas menatap dan berusaha menenangkan istrinya “Tenang saja Dek, ini pasti hanya salah paham.”
“Diam!” seru seorang diantara mereka sambil menghantamkan popor senjatanya ke wajah Sanin.
“Mas Sanin!” Dewi memekik melihat suaminya terkapar dengan mulut berdarah.
“Hahaha, dasar payah dasar lemah! Berdiri kau!” terbahak lelaki yang memukul Sanin memerintah.
Dengan kepala berkunang-kunang Sanin bangkit kembali, ia mengelap darah yang menetes di bibir, ”Apa salah saya? Saya hanya penjual martabak?”
Seorang diantara mereka, pemimpinnya, menghampiri dan memegang bahu orang yang memukul Sanin “Sabar Briptu Kuncoro, cek barang bukti!” perintahnya.
“Siap Pak!” ujarnya menghormat dan kemudian menghampiri karung terigu milik Sanin, dengan sangkurnya ia merobek karung tersebut, membuat isinya berhamburan kemana-mana.
Menyusul kemudian beberapa orang wartawan berdatangan dan segera mengambil foto tanpa izin.
Cahaya flash kamera menyambar ke segala penjuru kontrakan, membutakan mata Sanin dan Dewi untuk sesaat yang tak sempat menghindar dan menutup matanya.
“Baiklah pemirsa, seperti yang sedang anda saksikan saat ini. Operasi penggerebekan bandar n*****a yang meresahkan masyarakat telah berhasil dengan baik. Komandan apa yang ingin anda sampaikan pada para penonton?” tanya seorang reporter wanita antusias, ini adalah pertamakalinya ia ikut dalam operasi penggerebekan.
Sang komandan tersenyum sambil membuka topi dan menggamitnya di ketiak.
“Bagaimanapun rapinya sebuah kejahatan disembunyikan, keadilan akan bisa mengendusnya dan kemudian menindak. Waspadalah karena kita tak pernah tahu bagaimana penjahat akan mengambil rupanya. Saat ini kita telah membongkar kedok seorang bandar n*****a yang menyamar sebagai tukang martabak. Terlihat tidak berbahaya tapi merusak generasi muda dengan n*****a yang ia edarkan. Waspadalah! Jaga diri anda dan keluarga dari kejahatan terselubung orang-orang di sekitar anda!”
“Baik terima kasih Komandan.”
“Pak barang bukti sudah dikonfirmasi! Positif, sabu seberat lebih dari sepuluh kilo!” sela Briptu Kuncoro yang tadi memukul wajah Sanin dengan popor senjatanya.
Sang kameramen sumringah dan segera mengarahkan kameranya menyorot bungkusan keresek hitam yang dipegang oleh Briptu Kuncoro di dekat kantong terigu yang telah tercerai-berai isinya.
“Bohong! Itu fitnah!” teriak Sanin kalap, meski tak begitu mengerti apa yang sedang terjadi tapi ia tahu resiko memiliki barang haram apalagi sebanyak itu, hukumannya bakal berat.
“Diam kau!” Seru seorang aparat lain, pria yang bertubuh kekar sambil memukul perut Sanin.
Sanin terjengkang, tapi entah bagaimana ia mampu menerima pukulan tersebut meski sakit ia rasakan di tubuhnya. Kepayahan ia berdiri kembali.
Sang aparat bertubuh kekar jadi geram, mendekati Sanin dan mengepalkan tangannya sampai otot-ototnya mengeras, buku tangannya memutih. Ia kembali menghantamkan kepalannya, kali ini tepat mengarah ke ulu hati Sanin.
Pukulan itu sangat kuat, Sanin tak berkutik dan seketika hilang kesadarannya, ia jatuh terkulai ke lantai.
“Mas Sanin…!” Teriak Dewi spontan melihat sang suami yang dipukul dan jatuh tak berdaya. Ia hendak menghampiri sang suami namun urung karena seorang aparat lain menodongkan pistol tepat ke dahinya.
“Bawa dia ke kantor dan jangan lupa barang buktinya juga!” perintah sang Komandan sambil menunjuk Sanin yang masih pingsan.
“Siap Pak!” hampir berbarengan Briptu Kuncoro yang sedang memegang keresek sabu dan pria yang bertubuh kekar menjawab.
Pria bertubuh kekar itu dengan enteng memanggul tubuh Sanin yang kerempeng dan membawanya kedalam mobil patroli yang terparkir beberapa puluh meter dari mulut gang.
Para wartawan terus mengambil gambar, mereka bahkan mulai mewawancarai para tetangga sekitar yang mulai bermunculan dan berkerumun penasaran karena keributan tersebut.
“Saya gak menyangka, si Mas Sanin itu padahal ramah dan suka membantu, suka bergaul juga dan gak pernah absen kalau ronda.” Ucap bapak tetangga sebelah yang masih memakai kaos oblong dan bersarung, agak sangsi.
“Iya, tapi saya sudah curiga kalau mereka adalah pasangan yang aneh. Istrinya jarang keluar rumah dan hampir gak pernah senyum, pasti untuk menyembunyikan kegiatan mereka.” Tambah seorang ibu gemuk berdaster, ia menggenggam spatula, melupakan ikan yang sedang digoreng dan beberapa detik lagi bakalan gosong, saat ini ada bahan gosip yang jauh lebih panas dan terutama dirinya bakalan masuk TV.
***