Rekayasa BAP

2096 Kata
Sanin menggeliat, aneh kenapa tubuhnya terasa sangat kaku dan sakit, kedua tangannya sulit untuk ia rentangkan. “Dek…” ujar Sanin lirih, tak ada jawaban dari sang istri, tidak seperti biasanya. Setiap ia bangun dari tidur sang istri tercinta biasanya sudah lebih dulu terbangun dan menunggu ia menyapa sebelum membuatkan secangkir kopi panas. Ia membuka mata perlahan mencari keberadaan sang istri, mengerjap-ngerjap kemudian pandangannya yang membaur mulai fokus, ia sedang tidur di lantai? Sanin bangun kepayahan lantas duduk bersila, mulai mengamati sekitar dan dirinya sendiri. Tangannya diborgol dan ia berada dalam sebuah kamar berjeruji. Kesadarannya mulai pulih, rupanya para polisi itu telah membawanya ke kantor mereka dan kemudian menjebloskannya kedalam sel tahanan. Hanya ada ia seorang dalam sel tahanan berukuran 3x4 meter tersebut. “Lihat siapa yang bangun? Nyenyak tidurnya putri? Hahaha…” Pongah Briptu Kuncoro yang bertugas mengawasi terbahak meledek Sanin dari balik jeruji. “Aku akan memberi tahu Komandan, kau jaga dia dan jangan lakukan hal bodoh!” sahut Briptu Agus, petugas lain yang duduk di meja jaga mendelik memperingatkan temannya yang kadang suka sembrono. Lalu ia beranjak ke sayap lain gedung tempat ruangan komandannya berada. Sanin berdiri “Lepaskan! Lepaskan saya! Saya tidak bersalah!” pekiknya. “Diam kau! Tidak bersalah? Itu semua yang dikatakan oleh para penjahat ketika ketahuan dan tertangkap!” Dengus Briptu Kuncoro muak. “Itu fitnah! Sumpah demi Tuhan benda itu bukan punya saya!” Sanin masih mencoba menjelaskan. Wajah Briptu Kuncoro langsung merah padam, ia tak mampu lagi membendung amarahnya. Gembong n*****a seperti ini telah merusak generasi muda dan terutama keponakannya yang masih sekolah di sebuah SMA kini telah menjadi seorang pecandu gara-gara orang seperti dia, dan ia masih merasa suci?! Berani bersumpah atas nama Tuhan segala, kurang ajar! Briptu Kuncoro meraih beberapa anak kunci yang tergantung di sabuknya,  bergemerincing karena ia menariknya secepat mungkin lalu membuka pintu sel dan kemudian masuk menghampiri Sanin yang kembali ciut nyalinya. “Gara-gara orang sepertimu!” Briptu Kuncoro menunjuk wajah Sanin berang, menggeretakkan gigi, nafasnya memburu cepat. “A-apa maksudmu?” Sanin mengkerut takut sekaligus tak mengerti, ia mundur dan terpojok di sebuah sisi sel, celingukan ke kiri dan kanan berusaha mencari celah tapi percuma ia sudah tersudutkan, punggungnya bahkan sudah menekan jeruji. Briptu Kuncoro terus mendekati Sanin bak harimau dengan cakar dan taring runcingnya siap menerkam kancil yang lemah tak berdaya dan terpojokkan, tak memiliki kekuatan untuk melawan dan pasrah menerima nasibnya dimangsa begitu saja. “Keponakanku! Remaja yang polos itu…!” Briptu Kuncoro kini dikuasai amarah yang memuncak sampai ubun-ubun, mengeraskan rahang, mengepalkan kedua tangan, ototnya menegang dan menonjol maksimal lalu ‘Bughk…! Bughk…! Bughk…!’ bertubi-tubi memukuli Sanin seolah samsak tinju yang biasa ia pakai saat latihan di pusat kebugaran.  “Aduh! Aduh! Ampun! Ampun!” Sanin mengaduh dan meminta ampun. Sanin yang kerempeng dan tak pernah berkelahi seumur hidupnya meski berusaha menghindar tapi tak mampu membendung keberingasan sang Briptu, tinju dan bogem mentah mendarat mulus di setiap bagian tubuh Sanin yang menjadi incaran Briptu Kuncoro. Mendengar jerit kesakitan Sanin, Briptu Kuncoro malah semakin beringas melancarkan pukulan demi pukulan, dalam relungnya tergambar jelas wajah sang keponakan yang menderita karena hampir setiap hari sakau meski sudah mencoba direhabilitasi selama berbulan-bulan. “Hentikan! Apa yang kau lakukan?! Apa kau hendak membunuh tahanan kita?” suara sang  komandan menggelegar begitu masuk kedalam ruangan membuat sang Briptu menghentikan pukulannya. Seorang aparat bertubuh kekar yang mengawal sang komandan merangsek masuk dalam sel tahanan segera menelikung tangan rekannya dan menjauhkannya dari Sanin. “Maaf komandan saya terbawa emosi.” Jelas Briptu Kuncoro seketika berubah sikap, tak lagi beringas. “Sudah kukatakan jangan berbuat bodoh, kalau ada apa-apa bisa hancur semuanya!” Briptu Agus yang tadi ikut berjaga mendengus. “Cek kondisi tahanan!” perintah sang Komandan. Briptu Agus bergegas menghampiri Sanin yang meringkuk tergolek tak berdaya di sudut sel tahanan. Sanin merintih menahan sakit yang terasa di sekujur tubuh, kedua tangan memegangi wajah yang bengkak-bengkak kebiruan, bibirnya sobek berdarah. “Sepertinya hanya luka ringan saja, Komandan!” lapor Briptu Agus yang berjongkok memeriksa Sanin. Sang Komandan berpikir sejenak, “Obati dan setelah itu bawa dia ke ruanganku!” perintahnya sambil berbalik hendak melangkah ke kantornya kembali. “Siap, Pak!” serempak para aparat disana menjawab. “Dan kamu Kuncoro! Kalau kau melakukan tindakan diluar prosedur lagi, kupastikan karirmu sebagai anggota kepolisian akan tamat, kau mengerti?!” Ancam sang Komandan menatap tajam ke arah Briptu Kuncoro. “Mengerti, Komandan!” Jawab Briptu Kuncoro. Pria kekar melepaskan sang kawan dari telikungan tangannya. Briptu Kuncoro menyeka keringat di dahi dan melemaskan tubuhnya, ia sebenarnya merasa lelah juga setelah meluapkan semua amarahnya kepada Sanin. Briptu Agus membantu Sanin untuk bangun, ia melepaskan borgolnya. “Kau bisa berjalan?” tanyanya sambil memegang pundak Sanin. Sanin mundur berusaha menjauh dari sang aparat, ia takut. “Tenang, aku hanya mencoba menolong. Lukamu itu harus diobati, ayo!” ucap Briptu Agus ramah tersenyum menatap mata Sanin, ia mencoba meyakinkan Sanin kalau ia berniat baik. Sanin menurut, tak menolak dipapah oleh sang aparat. Briptu Agus tidak merasa perlu untuk memborgol Sanin, lelaki kerempeng itu tak mungkin melarikan diri, jika ia memang berniat kabur maka mudah saja bagi sang Briptu untuk meringkus dan melumpuhkannya. Mereka masuk ke sebuah ruangan berukuran 4x6 meter, aroma disinfektan tercium. Sebuah ranjang kecil dengan seprei putih bersih, kotak P3K dan sebuah wastafel terlihat ada disana. Sanin didudukkan di ranjang kecil tersebut sementara Briptu Agus segera meraih kotak P3K. Dengan cekatan Briptu Agus membersihkan luka-luka di sekujur tubuh Sanin dengan alkohol 70% yang diteteskan ke kapas dan kemudian mengoleskan obat luka, sebagian ia tutupi dengan kain kasa berperekat. “Terima kasih, Pak.” Sanin terbata mengucapkan terima kasih. “Sama-sama. Ayo kita harus menemui Komandan di ruangannya!”  Briptu Agus menepuk bahu Sanin. Sanin turun dari ranjang dan berjalan di sebelah Briptu Agus. Briptu Agus mengetuk pintu ruangan sang Komandan, mereka masuk setelah dipersilakan. Dua orang ajudan dengan sikap sempurna berdiri di belakang sang Komandan. Saat itu Sanin tidak mengenali bahwa kedua ajudan itu adalah petugas polisi yang sama dengan yang berbincang dengan istri Koh Chen. “Bagaimana keadaanmu?” Sang Komandan tersenyum ramah dan dengan isyarat tangannya menyuruh Sanin untuk duduk di kursi depan mejanya. Sanin duduk “Sudah lebih baik berkat Bapak ini.” Menunjuk Briptu Agus. “Kerja yang bagus Briptu.” Puji sang Komandan. “Terima kasih, Pak!” jawab Briptu Agus, ia segera berdiri di dekat pintu, berjaga. “Kamu tentu lapar, ini ada nasi bungkus. Makan dulu!” suruh sang Komandan sambil menggeserkan nasi bungkus yang sudah tersaji di piring dan air teh dalam plastik di mejanya kepada Sanin. Sanin memang merasa lapar, ia melewatkan makan siang padahal rencananya ia akan makan ayam goreng tepung buatan sang istri dan sekarang sepertinya hari sudah sangat sore, perutnya keroncongan. Ia membuka bungkusan nasi tersebut, sekerat rendang dan beberapa lauk lain serta daun singkong rebus tak lupa sambal ijo-nya, membangkitkan selera. Sanin menyantap nasi bungkus tersebut dengan lahap, selain karena rasa lapar pun karena lauk dan nasinya memang benar-benar lezat. Dalam sekejap Sanin menghabiskan nasi bungkus tersebut, ia meraih bungkusan berisi air teh menggigit ujung plastik kemudian meminumnya sampai ludes. “Kamu mau tambah?” tanya Sang Komandan. Sanin menggeleng “Tidak terima kasih, sudah cukup, Pak.” “Jadi begini Samin.” Sang Komandan berujar. “Sanin, Pak. Nama saya Sanin.” Ralat Sanin. “Baiklah Sam-nin, Sanin, begini. Kamu harus tahu situasi yang sedang kamu hadapi sekarang ini sangat serius. Sabu seberat 15 kilogram itu ancaman hukumannya adalah mati atau penjara seumur hidup minimalnya.” Jelas sang Komandan menatap Sanin tajam. “Tapi itu bukan milik saya. Saya tidak tahu, sumpah Pak! Saya benar-benar tidak tahu.” Sanin berusaha menjelaskan sekaligus membela dirinya. “Pengadilan tidak akan menerima penjelasan seperti itu, Sanin. Sesuai bukti-bukti yang ada, terlebih dengan adanya para wartawan yang ikut terlibat meliput. Bisa kupastikan kalau palu hakim akan memvonis dirimu bersalah dan memberikan hukuman mati.” Tutur Sang Komandan. Sanin tercengang, Ma-mati? Ia tahu sejak kecil kalau setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Tapi ia tidak menyangka kalau hidupnya akan berakhir secepat ini. Tidak, ia tidak ingin mati terlebih dulu. Sanin ingin melihat Rizky tumbuh menjadi pemuda dan bahkan ia ingin menyaksikan sang anak melewati setiap tahap penting kehidupannya, masuk sekolah, disunat, bekerja dan mengenalkan seorang gadis yang baik sebagai calon istri, datang bersama Dewi sebagai orang tua yang bahagia pada saat Rizky menikah kelak, kemudian menggendong cucunya. Ia juga masih ingin menghabiskan masa tua bersama istrinya Dewi. “Tapi, kalau kamu mau bekerjasama dengan kami. Kami mungkin bisa melakukan sesuatu untuk membantumu.” Lanjut Sang Komandan. “Bagaimana, Pak?” Sanin menatap sang Komandan penasaran. “Dengar Sanin. Aku terbiasa menilai orang, dan sejauh ini penilaianku tidak pernah salah. Kau ini orang yang baik, aku percaya itu.” “Terima kasih, Pak.” “Kami punya rencana. Begini, kasusmu ini masih menjadi wewenang kami sebelum minggu depan akan dilimpahkan ke kepolisian daerah lalu ke pusat. Dalam tenggang waktu ini kalau kau mau mengikuti apa yang kami suruh maka bisa dipastikan kau hanya akan dipenjara selama enam bulan saja. Bagaimana?” Sanin terdiam, ia tidak bersalah dan ingin segera pulang bertemu istri dan anaknya. Tapi sang Komandan benar, barang haram itu diketemukan di rumahnya, entah siapa yang telah menaruhnya disitu. Ia tidak punya pilihan, daripada dihukum mati maka lebih baik ia patuh dan mengikuti rencana sang Komandan, meski ia harus dihukum enam bulan penjara tapi itu jauh lebih baik. “Tapi, bagaimana dengan istri dan anak saya, Pak?” “Untuk istri dan anak kamu, tenang saja. Selama kamu menjalani masa tahanan selama enam bulan, kami akan menanggung biaya hidup mereka. Saya dan tim saya akan menyisihkan sebagian gaji kami setiap bulannya dan akan kami berikan kepada istrimu. Bagaimana kamu sudah mengerti dan setuju?” Sanin berpikir sejenak, sang Komandan ini orang yang sangat baik. Ia akhirnya mengangguk. “Bagus, kamu hanya tinggal menandatangani BAP ini.” Sang Komandan menyodorkan sebuah map berisi Berkas Acara Pemeriksaan berikut dengan pulpennya. Sanin menerima pulpen dan map tersebut “Saya harus tanda tangan di sebelah mana, Pak?” “Di sebelah sini, jangan lupa tuliskan nama lengkap kamu.” Sang Komandan menunjuk. Tangan kurus Sanin tergetar membubuhkan tanda tangan, ia tidak membaca isi BAP-nya sama sekali. “Bagus, sekarang kamu bisa istrirahat dulu. Briptu Agus!” Sang Komandan berseru. “Siap, Pak!” Briptu Agus yang berjaga di depan pintu segera menyahut. “Tolong antar Sanin kembali ke dalam selnya.” “Siap, Pak!” Briptu Agus kembali mengawal Sanin. “Jangan khawatir Sanin, semuanya akan baik-baik saja.” Ujar Sang Komandan. “Terima kasih Pak.” Sanin mengangguk dan berlalu dikawal Briptu Agus. Sang Komandan menyerahkan map BAP yang telah ditandatangani oleh Sanin kepada seorang ajudannya yang segera mengamankannya. Sore nanti ia akan membuat laporan dan menembuskannya pada kejaksaan agar diprioritaskan untuk diproses, tak lupa menyelipkan sebuah amplop agar urusannya lancar. “Pria yang polos, ini sangat sempurna dia bahkan tidak membaca isi BAP yang kita buat. Dia memang orang yang sangat pas dan tepat. Kalian telah bekerja dengan baik.” Ucapnya. “Semua berkat instruksi anda, Komandan!” Kedua ajudannya menjawab hampir serempak. Sumringah karena promosi jabatan telah dalam genggaman tangan, masa depan yang cerah semakin terbuka di depan mereka. * Maka Sanin kemudian menjalani proses pengadilan dengan sangat cepat, ia mengikuti instruksi dan apa saja yang disuruh oleh sang Komandan polisi itu tanpa protes. Pengadilan akhirnya memvonis Sanin 20 tahun penjara dan menempatkannya di penjara dengan keamanan maksimum di sebuah pulau yang terisolasi. Tepat sebelum Sanin dibawa oleh petugas pemasyarakatan sang Komandan bersama ajudannya mendatangi Sanin dan berkata “Tenang saja, enam bulan lagi kami akan datang membebaskanmu.” Sanin mengangguk dan berterima kasih, ia percaya sang Komandan dan anak buahnya akan menepati janji mereka. Petugas lembaga pemasyarakatan datang dan segera menyeret Sanin. Bak pesakitan sejati, Sanin dikenakan jaket berpengekang dan topeng besi, lalu dengan kasar didorong masuk kedalam mobil tahanan dimana empat orang petugas bersenjata lengkap sudah siap mengawal. Ia diperlakukan sebagai penjahat yang berbahaya, lebih berbahaya daripada seorang pembunuh ataupun teroris yang melakukan pengeboman. Istrinya Dewi dan anaknya Rizky serta orang-orang yang ia kenal tidak ada yang mengunjunginya selama dipenjara di kantor polisi dan juga proses persidangan. Sang Komandan yang berbaik hati menjelaskan kalau mereka memang tidak diizinkan untuk berkunjung. Selain karena bisa membuat mental mereka terpuruk juga karena untuk menjaga mereka dari cibiran dan fitnah tetangga terkait status Sanin saat ini. Meski ada sedikit kekecewaan tergambar di wajahnya tapi Sanin memahami apa yang dikatakan oleh sang Komandan tersebut. Ia kemudian justru bersyukur karena memang ia sendiri mungkin tidak bisa menahan kesedihannya saat bertemu dengan anak istrinya di kursi pesakitan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN