Hari-Hari di Lapas Berkeamanan Maksimum

2392 Kata
Lapas itu berdiri megah di tengah pulau terpencil, dengan luas sekitar 121 kilometer persegi. Bagian selatannya langsung berhadapan dengan Samudera Hindia yang memiliki gulungan ombak ganas. Gelombang besar tanpa henti menampar karang-karang tajam setinggi belasan sampai puluhan meter, menjadi benteng alami yang mustahil ditaklukkan. Sanin ditempatkan di sebuah blok khusus berisi penjahat-penjahat kelas kakap dengan masa tahanan yang sama atau lebih dari dirinya, 20 tahun penjara atau seumur hidup. Tapi, Sanin tetap berkeyakinan kalau ia hanya akan mendekam di lapas tersebut hanya selama enam bulan saja, sang Komandan dan anak buahnya nanti akan datang untuk membebaskan dirinya seperti janji mereka. Hari pertama berada dalam lapas, saat Sanin diantarkan ke bloknya yakni di Blok F dan ditunjukkan kamarnya. Setelah para sipir kembali ke pos masing-masing, saat itu sedang waktunya aktivitas terpusat di area tengah blok, Sanin mendapatkan salam perkenalan dari napi lain yang telah terlebih dahulu menginap di hotel prodeo tersebut. Rekan-rekan satu bloknya berdatangan kemudian mengerumuninya dengan seringaian yang aneh terpahat di wajah mereka. Mereka mengadakan ospek ala penjara khusus untuk Sanin. Dengan segera Sanin memahami kalau penjara bukanlah tempat yang ramah untuk orang seperti dirinya. Ia bagaikan daging segar yang dilemparkan ke kawanan serigala buas yang tidak diberi makan selama berminggu-minggu. Tubuhnya yang kurus dan ringkih bukan tandingan mereka, wajah sangar badan kekar berotot para penghuni sebelumnya dengan seenaknya memperlakukan Sanin seperti boneka. Gerombolan itu terdiri dari pembunuh, pencuri kelas kakap, gembong n*****a (sebenarnya) dan pelaku berbagai kejahatan berbahaya lainnya. Sementara Sanin hanyalah seorang tukang martabak manis yang karena nasib sajalah sehingga ia berada di waktu dan tempat yang salah, dituduh sebagai gembong n*****a yang divonis masuk ke dalam lapas terpencil dengan keamanan maksimum tersebut. Rekan satu kamarnya, seorang pria tua dengan rambut gondrong dan wajah sangar juga tatapan yang seakan menusuk jiwa, tapi pendiam. Sedikit membuat Sanin lega, karena saat ‘teman’ satu bloknya telah puas bermain dengannya, sirine panjang yang nyaring berbunyi. Tanda agar mereka wajib kembali ke kamar masing-masing dan otomatis terkunci oleh sistem lapas. Sanin dengan kepayahan merangkak menuju kamar, pria tua itu hanya menatapnya tanpa berkata sedikit pun. Dua ranjang kayu kecil membentuk huruf L terdapat di kamar sempit tersebut, Pria tua itu tak lama sudah ngorok di salah satu ranjang. Sanin menghampiri ranjang yang lainnya, berbaring mencoba untuk tidur, tapi rasa sakit di sekujur tubuh membuatnya tetap terjaga. Esok harinya ketika matahari pagi menerobos sela-sela jeruji jendela, Sanin telah duduk menatap jendela dengan hampa. Sejak semalaman ia memang tidak bisa tidur karena menahan nyeri di sekujur tubuh. Pria tua teman sekamarnya bangun dan menatap dirinya. Pria tua itu mengambil sesuatu dari dalam lemari kecil yang ada di kamar mereka. “Minum ini! Kau akan merasa lebih baik.” Ucapnya menyerahkan sebuah botol berbentuk agak kotak. “Terima kasih.” Sanin menerima botol tersebut dan membuka tutupnya. Botol itu masih berjarak beberapa sentimeter dari mulut Sanin ketika ia mencium aroma yang khas menyengat, Sanin akhirnya tahu apa isi botol tersebut. Sanin urung meminum isi botol tersebut, memasang kembali tutup botol dan meletakkan di pinggir kasurnya. “Kenapa?” tanya pria tua itu mengerutkan dahi. “Saya tidak minum-minuman keras beralkohol.” Jelas Sanin. “Hahaha…! Apa kau sedang bercanda? Kau ini seorang gembong n*****a tapi tidak pernah mabuk?!” Pria tua itu terpingkal. “Saya bukan gembong narkoba.” Ujar Sanin pelan. “Apa maksudmu?” Pria tua itu memicingkan mata menatap Sanin penasaran “Bukankah kau dijebloskan kesini karena tertangkap basah mengedarkan n*****a berkilogram? Itu yang kudengar dari para sipir dua hari lalu.” “Saya sudah sering mencoba menjelaskannya, tapi tetap saja banyak orang yang tidak percaya, sungguh barang haram itu bukan milik saya. Para polisi itu datang dan langsung menggeledah dapur dan menemukan barang itu dalam karung terigu yang saya beli.” Pria tua itu menatap tajam ke arah Sanin “Kau benar, aku pun tak mempercayai ceritamu.” Bunyi sirine yang panjang melengking dan memekakkan telinga terdengar. Pria tua itu berdiri, dengan isyarat menyuruh Sanin untuk mengikutinya. Pria tua itu menyeret kaki kirinya dan berhenti di depan pintu jeruji kamar penjara mereka, Sanin menatap pria tua itu yang rupanya pincang sebelah. Kunci pintu kamar tahanan semua penghuni blok terbuka dengan mekanisme yang dibuat otomtatis oleh lapas, meski dalam kasus tertentu bisa dibuka juga secara individual dengan kunci manual. “Cepat!” perintah pria tua itu menyuruh Sanin keluar dan mengikutinya, ia menyeret kakinya yang pincang. Semua tahanan yang berada di blok tersebut pun, seperti telah menjadi kebiasaan mereka. Bergegas keluar dan menuju ke lapangan penjara, jangan sampai telat karena nanti akan ada petugas yang menyisir dan tak segan menghadiahi pentungan bila ada napi yang tertinggal di dalam kamar mereka. “Kita mau kemana?” tanya Sanin, menatap keheranan barisan Napi yang terus bergerak dan sedikit berdesakan di pintu menuju keluar. “Upacara!” ucap pria tua itu tanpa menghentikan langkahnya. Para penjaga mengawasi dan berjaga di tiap sudut “Ayo cepat!” Bentak mereka. Lapangan yang terletak tepat di belakang penjara tersebut sudah dipadati oleh para tahanan dari blok lainnya. Semuanya berusaha untuk berbaris dengan rapi, beberapa sipir mengecek barisan dan tak segan mementung bila ada napi yang tak mau diatur. Para sniper bersembunyi di tempat yang strategis, mengarahkan moncong senapannya, bersiaga bila ada kericuhan atau sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Pembina upacara adalah kepala Lapas, seorang pria yang akan pensiun beberapa tahun lagi. Selalu merasa kesal tiap saat karena ia ‘dibuang’ oleh atasannya untuk menjaga Lapas terpencil ini. Tapi kemudian ia juga merasa gembira karena bebas mengatur-ngatur sekehendak hatinya. Pulau penjara ini adalah kerajaan kecil dimana ia berkuasa sebagai rajanya. ‘King of the island’ Ia senang dengan ide itu. Upacara yang diadakan dalam lapas ini benar-benar mirip dengan upacara bendera yang biasa diadakan senin pagi di sekolah-sekolah. Sebagian sipir bertugas sebagai pelaksana upacara. Menyiapkan barisan, memberikan komando, membaca teks Pancasila dan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, juga memimpin doa. Semua tahanan mengikuti upacara ini dengan penuh khidmat, meski sebagian besar dari mereka terpaksa melakukannya. Tidak ada pilihan, lebih baik berpegal ria selama satu jam daripada harus dimasukkan kedalam sel isolasi yang pengap dan bau busuk seperti bungker berisi mayat kadal. Kemudian tibalah saat pembina upacara memberikan petuahnya. Lelaki setengah baya dengan perut buncit itu tersenyum terkendali menatap para tahanan yang berbaris rapi di depan mimbar khusus yang sengaja ia bangun dua tahun lalu. Berdehem sebentar. “Selamat pagi para sipir dan tahanan lapas.” Ujarnya. “Selamat pagi, Pak!” Kompak para sipir dan tahanan menjawab, lalu kembali diam, menyimak. “Seperti yang kita ketahui, negara kita tercinta akan merayakan ulang tahun kemerdekaannya satu bulan yang akan datang. Beberapa dari kalian akan mendapatkan remisi bahkan bebas.” Diam sejenak, melihat para peserta upacara yang tetap berusaha menyimak. Sang kepala lapas tadinya ingin ada yang bertepuk tangan atau bergembira, lalu ia akan membuat mereka yang membuat keributan itu dimasukkan kedalam sel isolasi dengan tuduhan tidak disiplin saat upacara. Tapi sepertinya para tahanan sudah tahu resikonya jika tidak khusyu dalam upacara ini. “Selain akan ada kunjungan rutin dari para pejabat kementerian, tahun ini lapas tercinta kita ini pun akan mengadakan beberapa kegiatan olah raga. Nanti para sipir yang akan mengatur tata laksananya. Lalu satu lagi, saya tak jemu mengingatkan. Bagi kalian yang mencoba melarikan diri dari fasilitas ini, maka hukumannya adalah ditembak mati! Saya kira semua sudah mengerti, baiklah demikian sepatah kata dari saya untuk hari ini.” Pungkas sang Kepala Lapas, sekali lagi mengedarkan pandangannya sambil tersenyum terkendali. Upacara berakhir, dengan tertib para tahanan kembali kedalam lapas dan langsung dikumpulkan di aula kantin. Sebentar lagi jam sarapan akan dimulai. Makanan yang disajikan di kantin lapas sangat buruk. Sanin berusaha keras untuk menelan setiap makanan yang ada dalam bakinya. Hari ini mereka disuguhkan sop yang rasanya hambar, bakwan jagung yang super keras dan nasi yang belum sepenuhnya matang. “Apa makanan disini selalu seburuk ini?” tanya Sanin pada rekan sekamarnya. Pria tua itu terkekeh “Tidak, minggu kemarin kita makan kambing guling, lalu rabu kemarin kita pesta barbeque, dan dua minggu lalu ada sushi serta sashimi. Bahkan kalau koki sedang senang hatinya ia mau membuatkan masakan kesukaanmu.” Para tahanan lain yang satu meja bersama mereka sudah tertawa terbahak-bahak. “Benarkah?” tanya Sanin polos. “Tentu saja tidak, Bodoh! Kita ini tahanan, makan apa yang disediakan bukan tamu yang sedang menginap di hotel mewah berbintang!” dengus Pria tua itu sebal. “Aku hanya bertanya.” Tukas Sanin pelan. “Cepat habiskan makanmu, kita cuma diberi waktu hanya satu jam. Sudah lebih dari setengah jam kita habiskan untuk mengantri tadi.” Pria tua itu mengingatkan, ia sendiri telah menyelesaikan makannya. Alarm panjang berbunyi sekali, waktu makan sudah habis. Para tahanan serempak berdiri dari tempat duduk mereka. Berbaris rapi mulai berjalan keluar dimulai dari mereka yang berada dekat dengan pintu kantin. “Setelah ini kita hendak kemana?” Tanya Sanin berbisik. “Program asimilasi.” Jawab Pria tua itu pendek. Tadinya Sanin hendak bertanya apa itu program asimilasi? Tapi ia mengurungkan niatnya sebab melihat seorang tahanan di dekat pintu keluar yang dipentung oleh seorang sipir sebab berjalan dengan lelet. “Tunggu! Kau ikut denganku!” Seorang sipir mengacungkan pentungan ke arah muka Sanin yang sedang berjalan melewati pintu keluar. “Sa-saya, Pak?” Sanin gugup, sedikit merasa ketakutan. “Kau dengar aku?! Ikut aku, kepala lapas ingin bertemu denganmu!” jelasnya. Sanin mengangguk, keluar dari barisan dan mengikuti sipir tersebut. Mereka berjalan menyusuri lorong demi lorong sampai akhirnya sampai di ruangan kepala lapas. Sang sipir mengetuk pintu ruangan dengan mantap dan tanpa menunggu jawaban ia memutar tuas pintu dan mengajak Sanin masuk. “Pak, tahanan yang anda minta datang sudah saya bawa.” Lapor sang sipir. Kepala Lapas saat itu sedang makan steak di mejanya. Ia mengiris sedikit daging kemudian menyuapkan kedalam mulutnya. Ia tak menjawab, dengan ujung pisau ia memberi isyarat agar Sanin duduk di kursi di depannya. Sang sipir mundur sedikit dan berdiri dekat pintu, memutar-mutar pentungannya. Sanin menatap Kepala Lapas yang sedang asyik makan, melihat steak yang disantap olehnya, tampak sangat lezat. Sanin menelan ludahnya, makanan Kepala Lapas jauh berbeda dengan makanan yang tadi disajikan di kantin untuk para tahanan. Beberapa lama Sanin hanya menonton sang Kepala lapas makan, sampai akhirnya ia selesai, meletakkan pisau dan garpu kemudian mengelap mulutnya dengan tisu dan meminum air bahkan bersendawa sesaat. Kepala Lapas menatap wajah Sanin. “Katakan padaku, kau seorang gembong n*****a besar. Apa kau ingin mendapatkan fasilitas tambahan di lapas ini?” tanyanya. Sanin mengerutkan dahi, lalu menggeleng “Saya bukan bandar narkoba.” Kepala Lapas tersenyum “Kau tidak perlu sungkan. Kalau kau ingin fasilitas tambahan setara hotel, kami bisa menyediakannya untukmu. Asal kau bisa membayar dengan pantas untuk fasilitas tambahan yang kami sediakan tersebut.” “Saya tidak bisa membayar, saya ini orang miskin, hanya seorang penjual martabak, Pak.” Meski tahu sia-sia tapi Sanin berusaha untuk menjelaskan keadaan sebenarnya dirinya. “Berkas kasusmu berkata lain. Kau adalah tahanan dengan masa tahanan yang cukup lama dan dengan barang bukti belasan kilogram sabu. Kalau kau tidak kaya, mana mungkin bisa memiliki barang mewah sebanyak itu?” selidik sang Kepala Lapas. Sanin menunduk “Saya tidak tahu.” Jawabnya lirih. Kepala Lapas menghela nafas, sebenarnya ia sudah mempelajari berkas kasus Sanin dan tahu kalau ada yang salah. Ia memang curiga kalau lelaki kerempeng di depannya ini pasti merupakan seorang lagi korban intrik para petugas kepolisian lokal yang ingin cepat naik jabatan dengan merekayasa sebuah kasus. Tapi, itu bukan masalahnya bukan urusannya. “Baiklah aku percaya padamu. Setelah ini kau tentukan program asimilasi yang akan kau ikuti, itu adalah program wajib di lapas ini. Selain itu mulai hari ini kau bertugas untuk membersihkan seluruh jendela lapas dan menyapu serta mengepel blok lapasmu. Kau mengerti?!” Sanin mengangguk “Saya mengerti, Pak.” “Kau boleh pergi, petugas disana akan menunjukkan padamu lemari penyimpanan alat-alat kebersihan. Kau langsung kerja untuk membersihkan jendela!” perintah Kepala Lapas menunjuk sipir yang tadi membawa Sanin ke hadapannya dan dengan kibasan tangan menyuruh Sanin untuk pergi. “Baik, Pak.” Jawab Sanin, beranjak dari duduknya. Sipir itu kemudian membawa Sanin ke ruang penyimpanan alat pembersih. “Ingat, buat membersihkan jendela kau cukup memakai koran bekas itu saja. Hemat kain lap dan cairan pembersihnya juga. Kau paham?” sang sipir menunjuk tumpukan koran bekas yang ada di sudut lantai dekat lemari yang berisi banyak cairan pembersih. “Paham, Pak.” “Kau pakai ini agar sipir yang lain tahu kalau kau adalah yang bertugas membersihkan. Kalau kau mencoba kabur selangkah saja dari area lapas, kau akan ditembak mati tanpa peringatan!” Ingatnya, memberikan sebuah kain bandana segitiga yang telah disablon dengan tanda kebersihan dan logo lapas. Sanin menerima bandana tersebut dan memakainya di dahi. “Setelah selesai kau laporan ke saya. Mengerti?!” lanjut sang sipir. “Mengerti.” “Bagus, kutinggalkan kau sendiri. Ingat kerja yang rajin jangan malas-malasan!” Sanin mengangguk. Sang sipir kemudian melangkah kembali ke kantor para sipir. Sanin membawa ember kecil, kemoceng, sebotol spray pencuci kaca dan sebundel koran bekas. Mengisi ember kecil itu dengan air yang ada di wastafel depan gudang penyimpanan tersebut. Para sipir lain yang berjaga dan kebetulan berpapasan selalu menatap Sanin tajam, tapi mereka segera mencuekkannya setelah melihat bandana petugas kebersihan yang ia kenakan. Penghuni yang dirasa tidak berbahaya memang selalu dijadikan petugas kebersihan gratis oleh kepala Lapas. Menghemat pengeluaran meski dalam anggaran yang ia ajukan ke pusat selalu ada alokasi untuk membayar petugas kebersihan tapi semua tahu sama tahu kemana menguapnya anggaran tersebut. Sanin mulai membersihkan jendela kaca yang berada di dekat dengan gerbang utama lapas tempat tadi mereka melaksanakan upacara pagi. Seorang sipir yang berada disana memberitahu Sanin agar tidak berjalan melewati bekas podium kepala lapas tadi menyampaikan amanat upacaranya. “Kalau kau melangkah satu langkah saja dari sana maka para sniper yang sedang mengawasi akan menembakmu tepat di kepala tanpa peringatan. Kusarankan kau tetap berada di lorong yang ada keramiknya saja.” Ujar sipir itu menunjuk lantai. “Terima kasih sudah dikasih tahu, Pak.” Ucap Sanin. Sipir itu mengangguk dan kembali berjaga di pintu gerbang bersama beberapa rekannya yang lain. Maka sejak hari itu, Sanin memiliki kesibukan baru sebagai petugas kebersihan di lapas. Setelah beres membersihkan jendela, menyapu dan mengepel lapas ia kemudian mengikuti program asimilasi seperti para napi lainnya. Terkadang pada sore hari atau waktu-waktu tertentu para tahanan pun diperbolehkan untuk berolahraga, baik di ruang kebugaran atau di lapangan khusus. Sanin lebih banyak jadi penonton untuk kegiatan yang satu ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN