Setiap waktu terutama bila malam telah tiba dan para penghuni lapas sebagian besar sudah terlelap, Sanin kerap memandang ke arah jendela kecil di atas dinding kamarnya yang terhalang jeruji besi. Terkadang ia bisa menatap bintang-bintang atau rembulan yang sedang purnama melintas di atasnya. Ia membayangkan keadaan anak dan istrinya, Sanin sangat berharap kalau mereka baik-baik saja, setiap saat kerinduannya tumbuh semakin besar. Ia hanya bisa sedikit mengobati kerinduan itu kemudian dengan menatap foto Dewi dan Rizky yang berhasil ia sembunyikan. Selembar foto yang sangat kecil namun begitu besar maknanya bagi Sanin.
Sanin yakin, ia akan bisa bertahan selama enam bulan di penjara demi anak dan istrinya. Ia percaya sang Komandan polisi dan anak buahnya akan menjemputnya setelah masa tahanan enam bulan ia lalui, mereka telah berjanji dan ia memegang erat janji tersebut akan dipenuhi.
Satu bulan berlalu hampir tak terasa, setelah mengikuti upacara bendera Sanin seperti biasa melakukan tugasnya membersihkan seluruh jendela yang ada di lapas. Hampir seluruh Sipir kini mengenali dirinya. Sebagian bahkan sudah tidak segan menyuruh-nyuruhnya. Sanin tidak menolak saat para sipir itu menyuruhnya untuk menghidangkan kopi atau bahkan memijat tubuh mereka yang pegal-pegal. Ia cukup senang karena tidak harus terus meringkuk terus di dalam kamar tahanannya.
Meski sudah dikenal oleh para sipir tapi Sanin tetap mematuhi aturan tentang batas larangan. Beberapa hari yang lalu ada tahanan baru yang datang dan disuruh membantu dirinya menyapu. Entah kenapa tahanan baru itu meski sudah diperingatkan, melanggar batas larangan dan melangkah beberapa kaki dari podium tempat kepala lapas biasa memberikan petuahnya. Tak ayal sebutir peluru yang dilepaskan oleh seorang sniper meluncur deras dan bersarang di kepalanya.
Tahanan baru itu jatuh tersungkur tak lagi bergerak, darah mengalir dari kepalanya. Sanin yang hendak memberikan pertolongan segera menghentikan langkahnya saat seorang sipir yang berada di dekatnya membentak dengan suara yang sangat keras “Tahan! Biar mayatnya nanti ada yang mengurus. Kalau kau melangkah ke sana kau pun akan mati! Para sniper itu tidak akan mengampuni siapa pun yang melanggar perimeter!”
Sanin segera mengurungkan niatnya dan benar saja tak berapa lama sekelompok orang berseragam serba hitam juga tersemat pita hitam di topi mereka datang dan membawa jenazah lelaki malang itu. Mereka berbaris sangat kompak, mengangkat jenazah pria malang tersebut dengan sangat cekatan dan terlatih.
Sanin kemudian mengetahui kalau mereka disebut tim pita hitam, sebuah tim khusus yang dibuat oleh Kepala Lapas untuk mengurus dan menguburkan tahanan yang mati ditembak sniper karena mencoba melarikan diri. Mereka adalah sipir istimewa yang berada langsung dalam komando sang Kepala sipir.
Lelaki malang itu lalu dimakamkan di lapangan belakang lapas yang menghadapa langsung ke arah samudera ganas dengan tembok karang tinggi menjulang. Disana pun sudah ada ratusan nisan sebagai penanda berapa banyak tahanan yang mati karena mencoba kabur. Sebuah monumen batu dibangun di tengahnya, berisi nama-nama mereka yang mati konyol tersebut.
Kepala lapas melepas jenazahnya dalam sebuah upacara sederhana kemudian memandang para tahanan lain yang sengaja dibariskan disana untuk menyaksikan, sambil tersenyum dia berujar “Saya rasa sudah banyak contoh.” Menunjuk ke arah makam-makam, “Bagi anda yang tetap keras kepala ingin kabur dari tempat ini. Maka saya jamin bahwa kalian akan berakhir ditanam di pemakaman ini!” Lanjutnya tersenyum terkendali, membuat bergidik dan membangkitkan bulu kuduk para tahanan dengan sikapnya yang dingin tersebut.
Kepala lapas kemudian berbalik dan melangkah dengan berwibawa dikawal oleh beberapa sipir berbadan kekar menuju kantornya. Ia menjilat lidah karena teringat steak yang berada di atas meja, ia akan meneruskan makannya yang terpaksa ditunda karena interupsi barusan.
Sanin memandang pusara-pusara yang berada di sana, ia harus lebih berhati-hati kalau tidak ia pun khawatir bakalan berakhir ditanam di tempat ini. Ia harus tetap hidup dan bisa pulang, lalu setelah bebas ia akan bisa melepaskan rindunya untuk menemui anak istrinya. Tangan Sanin bergetar, ia cukup shock dengan kejadian tak terduga ini.
Pria tua teman sekamar Sanin memegang pundaknya pelan.
Sanin menoleh, mengerutkan dahi menatap pria tua itu yang sedang menghela nafas sambil menatapnya serius.
“Kau baru kali ini melihat orang mati?” tanya pria tua itu.
“Tidak, hanya saja aku baru pertama kali melihat orang mati ditembak dan tewas seketika dengan bermandikan darah.” Sahut Sanin.
Pria tua itu tersenyum “Sebaiknya kita kembali kedalam sebelum para petugas sipir mementung kita!” ingatnya sambil melangkah menyeret kaki kirinya yang pincang bersama tahanan lain.
Sanin pun ikut melangkah, namun pikirannya masih berkecamuk mengingat kejadian yang mendebarkan dan membuat jantungnya seakan meletup-letup tadi siang itu.
Sanin dan pria tua itu kembali ke dalam kamar mereka, saat ini semua tahanan tidak diperkenankan untuk keluar sel mereka. Beberapa sipir mengumumkan kalau program asimilasi hari ini ditiadakan karena Kepala lapas mengadakan rapat dadakan dengan sebagian besar sipir. Sebagian lain yang memiliki fungsi vital tetap berjaga di pos masing-masing termasuk para sniper yang terus waspada dengan mata elang mereka yang tertempel ke lensa pengintai.
Pria tua itu duduk dan mengambil sebuah buku tebal dari dalam lemari kecil, ia meminjamnya dari perpustakaan lapas dan mulai membaca untuk membunuh waktu. Sanin berbaring di ranjangnya dan merogoh selembar foto kecil yang ia selipkan di bawah bantal, foto Dewi dan Rizky. Ia sangat merindukan anak istrinya sekarang ini, andai saja ia berada bersama mereka. Sanin pasti akan memeluk dan menggendong serta mencium anak istrinya tersebut.
Mereka berada dalam keheningan kurang lebih hampir satu jam sampai pria tua itu selesai deengan aktivitasnya. Ia menutup buku yang ia baca dan menyimpannya kembali dalam lemari. Ia berdiri merentangkan kedua tangan ke atas untuk menghilangkan penat tubuhnya. Ia kemudian menatap Sanin yang masih berbaring sambil mengamati selembar foto.
“Apa itu foto anak dan istrimu?” Suara pria tua yang nge-bass itu bertanya.
Sanin menatap teman satu kamar selnya kemudian mengangguk “Iya.”
“Apa kau merindukan mereka?” Pria tua itu mengajukan pertanyaan yang sedikit konyol dalam pandangan Sanin.
Sanin bangkit dan duduk di ranjangnya “Tentu saja, setiap saat, setiap menit bahkan setiap detik aku selalu merindukan mereka. Mereka adalah alasan aku tetap bertahan sampai enam bulan di sini.” Jawab Sanin dengan suara yang mantap.
Pria tua itu mengerutkan keningnya, “Enam bulan? Apa maksudmu?” tanyanya tak mengerti dengan ucapan Sanin yang jelas-jelas siapapun yang dilemparkan ke tempat ini minimal mendapatkan masa tahanan belasan sampai puluhan tahun bahkan seumur hidupnya. Kenapa bocah baru ini mengatakan hal yang seolah masuk kesini itu hanya sekedar tempat magang belaka.
Sanin menatap pria tua teman sekamarnya yang kini sedang mengeluarkan botol minuman dari lemari kecil andalannya, ia membuka tutup botol dan sesaat menghirup isinya lalu menenggaknya beberapa kali. Sanin tidak akan lagi mau kalau ditawari minuman seperti itu, ia harus menjaga agar tubuhnya tidak terkontaminasi minuman dan makanan yang berbahaya terlebih menurut pandangan agama.
“Pak Komandan polisi dan anak buahnya yang menangkapku berjanji akan membebaskanku setelah dipenjara di sini selama enam bulan. Mereka punya rencana dan berjanji membebaskanku jika aku bekerja sama dengan mereka mengikuti semua proses hukum dengan baik.” Tutur Sanin, matanya masih asyik mengamati kelakuan pria tua teman sekamarnya.
“Ahh…!” Pria tua itu mengecap-ngecap mulutnya sambil merem melek “Minuman yang baik. Kualitas yang hanya bisa ditandingi oleh anggur luar negeri.” Ujarnya sambil menutup botol itu dan memasukkannya kembali kedalam lemari, ia lalu berpaling ke arah Sanin yang sedang menatap ke arahnya “Dan kamu percaya semua yang mereka katakan? Semua omong kosong dari mulut busuk mereka?”
“Tentu saja. Mereka orang-orang baik, bahkan mereka memberiku makanan yang layak selama aku dalam proses penahanan di kantor mereka.” Jelas Sanin. Ia tetap berkeyakinan kalau para polisi itu adalah orang yang baik dan tidak mungkin berbohong kepadanya. Melindungi dan melayani, itu kan motto mereka kepada masyarakat?
Pria tua itu menghela nafas “Aku tidak tahu kau ini benar-benar bodoh. Buka matamu lebar-lebar! Para polisi itu jelas-jelas telah menjebakmu! Enam bulan?! Tidak mungkin itu, kau ditahan bersamaku dalam kamar ini jelas untuk waktu yang sangat lama. Seumur hidup! Kalau beruntung kau mungkin hanya menghabiskan waktu 20 tahun.” Pria tua itu mengibaskan tangannya tanda tak percaya dengan ucapan Sanin.
Sanin menggeleng-gelengkan kepalanya “Tidak, kau pasti berbohong. Aku tetap percaya pada mereka.”
“Terserah kau saja, kita lihat siapa yang benar setelah enam bulan ini berlalu. Kau atau aku? Hehehe…!” Pria tua itu terkekeh.
Sanin terdiam, di dalam hatinya ia jadi sedikit meragu tapi segera menepis keraguan tersebut. Ia harus memiliki keyakinan bahwa Komandan polisi itu akan menepati janjinya, demi anak istrinya.
Keesokan harinya setelah sarapan dengan menu yang buruk seperti biasanya, para tahanan dikumpulkan berbaris di aula penjara. Ada pengumuman yang dibacakan oleh salah seorang sipir senior, hasil rapat dengan Kepala Lapas kemarin.
Para tahanan berbaris rapi dan teratur meski harus berdesakan, di pinggir aula ada beberapa meja dan sipir yang duduk di kursi yang ada di belakang meja tersebut.
Sipir yang membacakan pengumuman itu berwajah keras dengan kumis tebal dan kulit yang terbakar sinar matahari, ia mengetuk mikrofon untuk mengetesnya apakah sudah menyala atau belum. Suara distorsi melengking memekakkan telinga untuk sesaat, ia melihat ke arah sang operator, dengan sigap operator audio segera menurunkan volume loud speakernya. Sang operator audio kemudian mengacungkan jempolnya tanda sudah baik-baik saja dan mikrofon siap digunakan kembali.
Berdehem sebentar “Para tahanan, kemarin Kepala Lapas dan para sipir telah mengadakan rapat. Yang mana hasilnya adalah untuk menyambut hari ulang tahun kemerdekaan negeri tercinta kita ini, maka kami segenap pengurus lapas akan mengadakan pertandingan olahraga. Semua tahanan wajib ikut dalam cabang olahraga pilihannya, dan terkhusus cabang olahraga tinju. Semua wajib mengikutinya tanpa terkecuali! Tentunya ada hadiah yang menarik bagi mereka yang jadi juaranya. Setelah ini silakan daftar kepada para sipir yang menjadi panitia. Demikian!” Pungkasnya. Dengan langkah mantap ia kemudian menuju ke pinggir aula untuk mengamati dan mengawasi proses pendaftaran tersebut.
Maka kemudian para tahanan dengan antusias maupun terpaksa mendaftarkan diri mereka untuk mengikuti cabang olah raga yang dijadikan lomba kepada para sipir yang duduk di belakang meja yang berada di pinggir aula. Para sipir dengan sigap mencatat nama, nomor sel dan cabang olah raga yang hendak mereka ikuti nanti.
Sanin dan pria tua rekan sekamarnya ikut antri mendaftarkan diri mereka sesuai dengan blok selnya. Sanin hanya ikut dalam cabang olah raga tinju saja, itupun terpaksa karena diwajibkan. Ia sama sekali tidak berpengalaman dalam bidang olah raga apapun apalagi tinju, olah raga yang ia pernah lakukan hanya olahraga biasa yang diajarkan saat ia SMP dan SMA saja. Itu pun tidak mencolok, Sanin hanya berolahraga demi mendapatkan nilai dari sang guru saja dan agar lulus sekolah dengan baik.
Setiap tahanan yang mendaftar kemudian mendapatkan sebuah kartu yang berisi hari dan jam mereka akan bertanding. Para sipir pun memajang jadwal pertandingan di sebuah spanduk besar yang diletakkan di beberapa tempat strategi sehingga bisa dilihat oleh para tahanan. Sepertinya tahun ini Kepala Lapas sangat serius untuk mengadakan pertandingan demi menyambut hari kemerdekaan.
Tapi sebenarnya kemeriahan itu hanya sebuah rencana lain dari Kepala Lapas, ia sengaja membuat acara meriah tersebut demi mendapatkan anggaran lebih dari kementerian pusat. Dan selain itu, ini adalah usahanya menjilat para atasannya yang akan datang nanti melihat pertandingan olahraga tersebut.
Kenapa tidak? Sang Kepala Lapas adalah raja di pulau tahanan ini, ia bebas untuk membuat berbagai kebijakan apapun semaunya. Tapi khusus untuk pengajuan anggaran yang besar dari pusat mak mau tidak mau ia harus berstrategi. Mengemas berbagai kegiatan dalam hal ini adalah acara olah raga untuk menyambut dan merayakan kemerdekaan negara. Itu adalah sesuatu yang bagus bukan? Sekali mendayung dua tiga pulau terlampau. Sekali mengadakan kegiatan acara, berbagai keuntungan bisa ia raih dan dapatkan.
Sang Kepala Lapas, meski ia adalah raja di pulau terpencil ini. Tapi ia sadar kalau ada batas waktu, ia sadar bahwa masa jabatannya pun akan hampir habis. Regenerasi tak bisa terelakkan lagi, dalam beberapa tahun ke depan jabatannya akan diganti oleh orang lain. Sementara ia diberhentikan atas nama pensiun. Sebelum semua itu terjadi ia harus bijak dan pandai-pandai menyimpan harta bendanya. Anggaran yang disediakan oleh pusat harus dimanfaaatkan dengan sebaik mungkin, dan separuhnya harus ia amankan ke kantong pribadi.
***