Satu minggu menjelang perayaan kemerdekaan, Lapas berubah menjadi lebih meriah dengan banyaknya hiasan khas perayaan yang dipasang hampir di semua sudut. Bendera dan umbul-umbul terpasang dengan gagah, pita-pita berwarna merah putih dengan rapi menjadi ornamen pelengkapnya. Semua orang terlihat sumringah dan semangat terlepas dari status mereka yang sebenarnya adalah tahanan. Semua gembira dan antusias menyambut peringatan kemerdekaan yang harinya semakin dekat.
Dengan semua kemeriahan dan suasana yang berubah menjadi sedikit lebih santai tidak membuat para sipir terutama sniper melonggarkan kewaspadaan mereka. Malah sebaliknya, dari kantor pusat mengirim beberapa batalyon tambahan penjaga untuk bersiaga mengamankan lapas. Tentu saja karena Pak Menteri akan datang pada hari-H. memastikan semuanya aman dan terkendali, Pak Menteri bisa batal dan gagal menyetujui anggaran lebih yang diminta pihak lapas kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Kepala Lapas tentu tak mau hal itu terjadi, ia sendiri yang mengecek dan mengecek ulang semua persiapan dan keamanan tersebut.
Perlombaan dan pertandingan olah raga lain telah dimulai sejak beberapa hari lalu, tapi yang paling dinantikan oleh setiap tahanan, terutama Sanin adalah pertandingan tinju. Tentu saja, sebab ia memang hanya mengikuti pertandingan tinju saja. Pertandingan yang diwajibkan oleh para sipir, kalau tidak maka Sanin lebih baik menjadi penonton saja.
Pertandingan tinju antar blok dimulai hari ini. Babak penyisihan diadakan dengan peserta yang dipilih secara acak setiap bloknya. Sistem yang digunakan adalah sistem gugur, dimana peserta yang kalah tidak lagi memiliki kesempatan bertarung dua kali. Tapi tentu saja tidak boleh mengundurkan diri atau sengaja kalah tanpa perlawanan terlebih dahulu. Pihak sipir akan memberikan hukuman kalau ada peserta yang sengaja mengalah begitu saja.
Yang mendapat giliran pertama adalah si Gergaji (seorang pembunuh berantai yang selalu menggunakan gergaji mesin untuk membantai korbannya) dari blok D melawan si Rantai (seorang pencuri kendaraan bermotor yang keji, ia tak segan membacok dan bahkan membunuh korbannya yang melakukan perlawanan) dari blok B. Keduanya sama sangar dan kekarnya, tampaknya pertandingan akan berlangsung seru. Kedua petinju segera bersiap dan berjalan menuju ke arena pertandingan.
Aula lapas telah diubah menjadi arena pertandingan lengkap dengan ring tinju di tengahnya. Para sipir dan penjaga bersenjata lengkap siaga di setiap sudutnya, mengantisipasi bila terjadi kericuhan.
Penonton riuh bersorak, bergemuruh, bertepuk tangan dan bersuit ketika kedua petinju saling berhadapan di ring. Wasitnya seorang sipir yang berbadan besar dan tegap.
“Kalian siap?” tanya sang sipir menatap kedua petinju secara bergantian.
Kedua petarung kompak mengangguk.
“Baik, ikuti instruksi dan peraturan! Pertandingan akan berlangsung selama tiga ronde, satu ronde terdiri dari tiga menit. Dilarang memukul di bawah sabuk, menendang, menggigit juga meludahi lawan. Oke kalau sudah mengerti kita mulai!” Jelas sang wasit.
Awalnya kedua petinju saling menjaga jarak, mencari celah untuk menyerang. Melancarkan pukulan-pukulan lemah untuk mengetes lawan mereka.
Si Rantai yang terlebih dahulu memukul dengan tenaga, ia melayangkan sebuah jab, ditangkis dengan mudah oleh si Gergaji, ia membalas dengan melancarkan jab kiri dan kanan berturut-turut. Si Rantai kini yang bertahan, ia melindungi wajah dengan kedua tangannya. Si Gergaji mengulum senyum, meski hanya sekedar tinju tapi ia merasakan adrenalinnya mulai naik. Sensasi memukuli orang yang hampir ia lupakan di dalam tahanan ini kembali ia nikmati. Si Rantai pun begitu, ia mulai menikmati pertarungan tinju ini.
Si Gergaji akhirnya menemukan celah dan melakukan pukulan ke arah perut si Rantai yang luput dijaga.
Si Rantai ternyata cukup cerdik karena itu hanya sekedar tipuan belaka, saat kepalan si Gergaji hampir mengenai perutnya ia berkelit ke sebelah kanan dengan cepat dan lincah. Si Rantai melayangkan sebuah hook bertenaga ke arah dagu si Gergaji. Si Gergaji refleks memalingkan wajah.
Telak! Pukulan si Rantai meski tidak mengenai dagu seperti yang ia rencanakan tapi tepat mendarat di wajah si Gergaji. Si Gergaji tak menyangka mendapat serangan balasan secepat itu. Si Gergaji jatuh tersungkur karena pukulan si Rantai yang cukup kuat.
Wasit mendekatinya dan mulai menghitung “Satu! Dua!”
Si Gergaji mengatur nafas dan segera bangkit kembali, wasit menghentikan hitungannya. Pertandingan dimulai kembali dengan kedua petinju yang berdiri di sudut masing-masing.
Ronde pertama berlangsung sangat seru, jual beli pukulan terjadi antara si Gergaji dengan si Rantai. Penonton bersorak-sorak kegirangan mendapatkan suguhan pertunjukan yang sangat menarik. Ronde pertama berakhir dengan keunggulan poin si Rantai. Secara statistik mereka seimbang, hanya saja si Rantai memang bisa melancarkan serangan balasan yang telak kepada lawannya.
Ronde kedua dimulai dengan bunyi bel yang dipukul oleh salah seorang sipir, sama halnya dengan ronde pertama, pertandingan berlangsung sangat seru. Jual beli pukulan bahkan kini langsung terjadi di detik-detik awal. Jab-jab cepat silih menghujani tubuh kedua petinju, mereka tak lagi segan atau peduli dengan pertahanan. Baik si Gergaji maupun si Rantai tampaknya bernafsu untuk menyerang dan mengalahkan lawannya dengan segera. Mereka menyadari kekuatan mereka semakin berkurang setiap detiknya, sudah tidak ada lagi kesenangan, waktunya memenangkan pertandingan.
Sanin menatap jerih ketika si Gergaji pada sebuah kesempatan mampu memasukkan sebuah pukulan hook tepat ke dagu si Rantai. Si Rantai memuntahkan darah segar dan seketika jatuh tersungkur, wasit segera menghampirinya dan melakukan hitung mundur.
“Sepuluh… sembilan… delapan…!”
Hingga hitungan mundur wasit berakhir, si Rantai tetap tak bergerak dan ia dinyatakan kalah. Dua orang petugas medis segera masuk dan memeriksanya, ia ternyata pingsan dan dua giginya copot.
Pertandingan tinju Sanin diadakan setelah jam makan siang. Sanin mewakili Blok F akan melawan seorang pria dari blok A yang dijuluki si Gorila. Lelaki itu memang berpostur mirip dengan gorila dengan kumis dan janggut lebat menghias wajahnya. Tubuhnya sangat besar dan gemuk, dadanya bidang dengan bulu lebat persis seperti bulu hewan.
“Gawat, lebih baik kau mengundurkan diri saja!” Saran Pria tua pincang itu begitu mengetahui siapa yang akan menjadi lawan Sanin. Ia menyentuh bahu Sanin. Sanin menatap pria tua teman sekamarny tak mengerti.
“Ia tidak bisa mengundurkan diri, kalau ia mengundurkan diri maka ia harus menjalani hukuman selama seminggu di kamar isolasi.” Timpal seorang sipir yang mendengar perkataan pria tua itu.
Sanin mengkerut ia jelas semakin ketakutan “Apakah ia berbahaya?”
Pria tua teman sekamarnya mengangguk “Iya, tapi lebih baik kau hadapi si Gorila saja. Kalau kau sampai dihukum di kamar isolasi aku yakin kamu cuma akan bertahan selama tiga hari dan kemudian mati.”
Sanin jelas tidak ingin mati hari ini, ia akan menghadapi si Gorila apapun yang terjadi. Minimal ia tidak akan mati dan bertahan untuk bertemu kembali dengan anak istrinya.
Setelah mengenakan celana boxer dan sarung tinju, Sanin yang kerempeng menelan ludah ketika menatap calon lawannya dari dekat. Si Gorila bertubuh sangat besar dan persis dengan gorila sungguhan. Kepalan tangannya hampir empat atau mungkin lima kali lipatnya dibandingkan dengan kepalan tangan Sanin.
Wasit menyuruh mereka berdiri di tengah ring terlebih dahulu, seperti biasa menjelaskan sedikit soal peraturan tinju yang akan segera dipertandingkan tersebut.
“Kalian sudah mengerti?” Tanya wasit mengakhiri penjelasannnya sambil menatap para peserta bergantian.
Sanin mengangguk “Mengerti, Pak!” sahutnya.
Si Gorila hanya menggeram sambil menatap ke arah wasit pertandingan.
“Baik, kembali ke sudut kalian terlebih dahulu!” Perintah wasit.
Bel tanda ronde pertama dimulai berbunyi, kedua petinju melangkah ke tengah ring. Wasit mengawasi dan menjaga jarak dirinya dengan kedua petarung. Para penonton bergemuruh, semua sedang bersemangat menyaksikan.
Si Gorila terdiam dan menatap Sanin dengan sorot matanya yang tajam sekaligus meremehkan lawannya yang terlihat kerempeng dan menyedihkan itu.
Sanin tak mengerti kenapa si Gorila hanya berdiam diri saja, baiklah ia akan mencoba untuk memukul terlebih dahulu.
Sanin mengepalkan tinjunya dan memasukkan sebuah jab ‘bughk!’
Jab dari Sanin telak mengenai perut si Gorila, anehnya si Gorila tetap diam bergeming dari tempatnya berdiri dan malahan melihat Sanin kemudian menguap tanda bosan.
Sekali lagi Sanin mendekati si Gorila dan bertubi-tubi memasukkan jab-jab nya ke arah tubuh si Gorila. Percuma, si Gorila benar-benar kuat dan tetap bergeming dari tempatnya berdiri.
Sanin malah mulai merasa lelah sendiri, keringat bercucuran dari sekujur tubuh, nafasnya tersengal. Ia lelah memukuli si Gorila dengan tenaganya yang terlatih hanya saat membuat adonan martabak saja. Jelas tak membuat si Gorila merasa kesakitan sama sekali.
Ronde pertama sudah berlangsung setengah waktu, si Gorila akhirnya bergerak ia merentangkan tangannya dan menahan sebuah pukulan yang dilancarkan oleh Sanin.
Sanin merasa tangannya ngilu akibat beradu dengan tangan si Gorila. Ia bahkan merasa sangat lengannya pegal.
Lalu, tanpa diduga si Gorila melangkah dengan cepat dan ‘bughk!’ memasukkan sebuah serangan yang telak ke perut Sanin.
Sanin terpental dan terbang ke ujung ring, untungnya tali pembatas ring mampu menahan tubuhnya sehingga tidak keluar arena. Ia terkapar, hampir semua penonton menghela nafas. Mereka sudah mengira hal tersebut, bahkan ada yang bertaruh kalau Sanin akan kalah dalam sekali pukulan. Memang itu yang terlihat saat ini, sebuah pukulan yang dilancarkan oleh si Gorila membuat Sanin tak berdaya.
Tapi tanpa diduga, Sanin ternyata mampu bangkit kembali sebelum wasit mendatangi dan menghitung mundur. Terhuyung ia kembali ke tengah ring. Penonton bersorak. Lihat pria kerempeng itu masih belum kapok dan kembali mencoba menjajal kekuatan si Gorila.
Pria tua teman sekamar Sanin menatapnya penasaran seharusnya pukulan seperti itu bisa mematahkan beberapa rusuk, mata elangnya kini mengawasi dengan tajam. Sanin teman sekamarnya itu memiliki sesuatu yang aneh dengan tubuhya. Dalam benaknya pria tua itu mulai memikirkan sebuah kemungkinan.
‘Bughk…!’ kembali Sanin menerima pukulan si Gorila, kali ini ia tidak terbang meski terpental beberapa kaki. Pukulan yang sama rupanya tidak mempan untuk kedua kalinya kepada Sanin.
Si Gorila menggeram marah, ia mengeraskan rahang dan mendekati Sanin yang berusaha bangkit. Padahal pukulannya yang kedua ia sudah mengerahkan setengah dari kekuatannya, bagaimana mungkin pria kerempeng itu masih bisa berdiri?
Sanin bangkit dengan mata yang berkunang-kunang, kepalanya pusing. Samar-samar ia melihat sosok tinggi besar mendekat ke arahnya, refleks ia mengangkat kedua lengan dan melindungi wajahnya.
Si Gorila yang merasa dipermainkan kini dengan membabi buta melancarkan pukulan demi pukulan ke arah tubuh Sanin. Ia tidak lagi merasa malu dan menahan tenaganya lagi. Yang ia tahu sekarang adalah harus secepat mungkin mengalahkan pria kerempeng yang menjadi lawan tinjunya.
Antara sadar dan tidak, Sanin mengepalkan tangan dan diantara pukulan-pukulan yang dilancarkan oleh si Gorila ia berhasil memasukkan sebuah serangan balasan. Sebuah hook kepalan tangan kanan Sanin melibas dagu si Gorila.
Sebuah clean hit tapi sayangnya pukulan Sanin itu amat lemah sehingga tidak berpengaruh apa-apa pada si Gorila.
Si Gorila semakin marah, ia tak lagi menahan diri dan dengan segenap tenaga memukul Sanin tepat di perutnya. Ia sudah lapar dan hendak makan meski jam makan siang sudah lewat dan ia pun sebenarnya sudah makan tapi bertinju seperti ini membuatnya merasa lapar kembali.
Pukulan itu sangat kuat, dan seperti sebelumnya Sanin terlempar melayang bahkan sampai keluar arena dan jatuh menimpa beberapa orang tahanan yang sedang menonton. Sesaat terlihat Sanin mencoba bangkit kembali, tapi ia sudah melewati batas ketahanan tubuhnya dan terkulai pingsan di luar ring.
Si Gorila oleh wasit dinyatakan menang telak hanya dalam satu ronde, Sanin KO!
Para penonton bergemuruh, sebagian senang karena taruhannya menang.
Pria tua teman sekamar Sanin mengangguk-angguk, ia semakin yakin dengan kemungkinan yang sedang dipikirkannya. Tinggal mencari cara untuk meyakinkan Sanin agar mau melaksanakan kemungkinan tersebut. Tenang saja, ia akan menemukan caranya. Lagi pula mereka sama-sama terjebak dalam kamar yang sama untuk waktu yang sangat lama di lapas pulau terpencil berkeamanan maksimum ini.
Sanin membuka matanya perlahan, ia merasa seluruh tubuhnya sangat pegal dan sakit. Mencoba duduk dan menghela nafasnya.
“Kau sudah bangun?” Sapa pria tua teman sekamarnya.
Sanin menatap sang pria tua dan mengangguk “Jam berapa sekarang?”
“Setengah delapan pagi, kau pingsan sehari semalaman penuh. Tahanan lain menggotongmu kesini setelah kau tak sadarkan diri terkena bogem si Gorila. Kau kalah telak tapi kau mendapatkan pengakuan dari para tahanan lain karena sanggup bertahan melawan si Gorila hampir satu ronde penuh.” Jelas pria tua itu menatap Sanin.
“Setengah delapan? Astaga aku telat!” Sanin bergegas bangkit dari tempat tidurnya, tubuhnya agak pegal tapi ia harus melaksanakan kewajibannya. Mengambil bandana berlogo petugas kebersihan lapas dari dalam lemari kecil dan mengenakannya di dahi.
“Kau mau kemana?”
“Menyapu dan membersihkan jendela.” Sahut Sanin, ia mengetuk-ngetuk pintu selnya memanggil Sipir yang sedang berjaga di salah satu pojok blok.
“Dengan keadaan tubuh seperti itu? Istirahat sajalah, mereka bakalan mengerti.” Ucap pria tua itu.
Sanin menggeleng “Aku harus melakukan tugasku.”
Sipir jaga mendatangi sel mereka “Ada apa?” tanyanya dari balik jendela kecil.
“Saya harus menyapu dan membersihkan jendela, Pak!” Ucap Sanin menunjuk ke bandana kebersihan yang sedang dikenakannya di dahi.
“Sebentar!” Sipir jaga itu kembali ke posnya, mengambil kunci kamar sel tahanan Sanin.
Sang sipir jaga kemudian membuka pintu kamar dan mengizinkan Sanin keluar untuk menyapu lantai blok serta membersihkan seluruh jendela penjara.
“Jam sepuluh kau harus sudah beres, pertandingan tinju dan lomba untuk menyambut perayaan kemerdekaan akan dimulai kembali di aula.” Ingat sang sipir jaga.
“Iya Pak.” Sahut Sanin mengangguk.
Pria tua itu menatap tajam ke arah Sanin. Teman sekamarnya itu benar-benar memiliki tubuh yang aneh, ia mampu sembuh dalam semalam setelah dihajar sampai babak belur oleh si Gorila. Tapi sepertinya ia tidak menyadari potensi tubuhnya tersebut, sangat disayangkan. Pria tua teman sekamar Sanin menggeleng-gelengkan kepalanya.
***