Sanin sumringah, ia menggoreskan sebuah tanda silang di kalender milik si Pria tua teman sekamarnya yang tegantung di dinding sel. Hari ini tepat enam bulan ia sudah berada dalam tahanan. Hari ini adalah hari yang telah dijanjikan oleh sang Komandan polisi. Hari ini adalah hari kebebasannya kembali, ia sangat yakin siang nanti ia akan dijemput dan pulang. Sore harinya ia sudah bisa berkumpul lagi bersama anak istrinya dan keluarga kecil miliknya akan kembali utuh lalu mereka dapat menjalani hari-hari penuh kebahagian seperti biasanya.
Sanin sudah membayangkan aktivitas rutin yang akan ia jalani kembali saat sudah bebas dan pulang ke rumah. Bangun pagi-pagi untuk menyiapkan adonan martabak manis, membersihkan gerobak sambil menunggu sang istri Dewi memasak sarapannya. Dan bermain dengan Rizky sampai tiba waktunya untuk mendorong gerobaknya ke sudut sebuah perempatan jalan tempat biasanya ia mangkal berdagang. Ia tersenyum-senyum sendiri, ia sangat senang hari ini akhirnya tiba.
“Kau tampak senang dan gembira, seperti orang yang baru menang lotere berhadiah puluhan juta saja hehehe.” Komentar pria tua teman sekamarnya sambil terkekeh menatap wajah Sanin yang bersemangat dan tersenyum sendiri.
“Tentu saja, hari ini tepat enam bulan aku menghabiskan hari di tempat menyebalkan ini. Hari ini aku akan dijemput oleh Pak Komandan Polisi untuk dibebaskan.” Jelas Sanin, mengusap rambutnya yang kini agak gondrong. Setelah kembali ke rumah ia akan memotong rambutnya agar rapi lagi.
“Hahaha… kau lucu sekali. Kau benar-benar berharap mereka akan menepati janjinya? t*i kucing itu!” Pria tua teman sekamar Sanin terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya mendengar penjelasan Sanin. Pantas saja ia sudah gembira pagi ini, rupanya ia masih sangat berharap akan dibebaskan oleh para polisi yang telah menjebaknya.
Sanin mengibaskan tangannya, ia sudah terbiasa dengan sikap sinis teman sekamarnya tersebut. Seperti biasa ia memilih untuk mengacuhkan komentar pria tua itu saja. Ia tetap yakin kalau para polisi itu adalah orang baik yang akan menepati janji mereka.
“Kita buktikan nanti siapa yang benar dan siapa yang salah. Kau atau aku?” Lanjut pria tua itu masih belum puas menggoda Sanin.
Sanin mengendikkan bahunya, meraih bandana berlogo petugas kebersihan lapas. Ia harus melaksanakan pekerjaan rutinnya di lapas terpencil ini, kalau tidak ia takut akan dihukum oleh para sipir. Tapi sebenarnya ia memang suka melakukan tugasnya ini, setidaknya ia tidak harus terus-terusan meringkuk di dalam sel dan mendengarkan ocehan si pria tua itu.
“Terserah dirimu saja, aku harus menyapu dan membersihkan jendela sekarang.” Timpal Sanin.
Pria tua itu itu hanya mengacungkan jempolnya, sudah malas menggoda teman sekamarnya. Ia lebih baik membaca buku sambil menunggu jam sarapan tiba.
Sanin kemudian menyapu lantai seluruh blok setelah seorang sipir jaga membukakan pintu selnya. Ia dengan gelisah dan harap-harap cemas menyapu, sesekali mencuri pandang ke arah jam dinding. Waktu terasa sangat lama bagi Sanin hari ini, seolah detik bergerak dengan malasnya seakan enggan bergulir.
Bahkan sebelum membersihkan jendela, selepas mengambil bundelan koran dan cairan pembersih dari ruang penyimpanan, Sanin menyempatkan diri datang ke pos jaga sipir dan menanyakan apa ada Komandan polisi atau suruhannya yang datang untuk bertemu dirinya. Tentu saja para sipir itu menggeleng dan saling tatap tak mengerti dengan pertanyaan yang diajukan oleh Sanin. Seharusnya kalau ada tahanan yang akan bebas atau hendak dibebaskan tentu bakalan ada surat perintah dan pemberitahuan dari pengadilan yang ditembuskan kepada mereka, jauh-jauh hari sebelumnya. Mereka mengira Sanin hanya sedang bercanda saja denga menanyakan hal tersebut, mereka kembali larut dengan aktivitas masing-masing dan meminum kopinya.
Sanin kemudian berlalu dan mulai membersihkan setiap jendela yang ada di lapas. Ia bersiul-siul sambil terus melirik ke arah pintu gerbang lapas. Berharap sang Komandan polisi atau suruhannya akan datang menjemputnya pulang. Ia terus celingukan ke arah pintu gerbang lapas itu hampir tiap lima atau sepuluh detik, membuat lehernya mulai pegal dan sedikit sakit.
Hujan turun ketika Sanin beres membersihkan seluruh jendela, ia menatap untuk terakhir kalinya ke arah gerbang lapas sebelum beranjak dan menaruh kembali alat-alat pembersih kaca kedalam lemari penyimpanan. Menghela nafasnya dengan berat, tertegun lagi sejenak sambil menatap ke arah pintu gerbang lalu berjalan masuk ke dalam gudang penyimpanan.
“Bagaimana Sanin, apa sudah ada yang menjemputmu?” Tanya pria tua rekan sekamarnya saat mereka sedang makan siang di kantin lapas, dengan menu yang buruk seperti biasanya. Meskipun begitu, para tahanan makan dengan lahap seakan tidak pernah bertemu dengan nasi dan lauk pauknya selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan.
Hujan semakin deras turun di luar dan berdenting menerpa genting dan kanopi lapas. Di saat seperti ini bahkan kau bisa mendengar gelombang besar menghantam batu-batu karang di belakang lapas, badai sepertinya sedang berlangsung di lautan. Membuat pasang gelombang sampai belasan meter, sesuatu yang menakutkan jika kita sedang berada di lautan lepas karena ombak bisa meluluhlantakkan kapal kecil.
Hidangan makan para tahanan siang itu adalah nasi yang kurang matang, sayur sop yang lebih cocok disebut sayuran iris dicampur air ledeng tapi beruntung ada kerupuk yang memiliki rasa cukup enak. Meski begitu, semua tahanan memakannya penuh semangat tanpa keluhan, mereka sudah paham kalau berani mengeluh maka bisa berakhir di sel isolasi selama beberapa hari.
Sanin dengan lemah menggeleng “Mungkin nanti sore setelah hujan reda.”
Para tahanan yang duduk satu meja bersama Sanin kontan terbahak-bahak.
“Kau jangan terlalu berharap, aku rasa mereka sudah menipumu.” Ujar seorang tahanan yang duduk di sebelahnya, ia menatap Sanin kasihan.
Sejak pertandingan tinju antara Sanin dengan si Gorila, meski ia kalah tapi Sanin sudah mendapatkan pengakuan dan sedikit rasa hormat dari sesama tahanan terutama yang berada di bloknya. Sanin bisa membuktikan ia memang pria sejati yang mampu bertarung dengan musuh yang lebih mengerikan daripada dirinya dan tidak menggigil ketakutan apalagi sampai ngompol di celana. Itu sudah cukup membuat rasa hormat dalam diri tahanan lain kepadanya.
Pria tua teman sekamar Sanin yang duduk di seberang meja ikut menimpali “Sudah kukatakan bukan, kau hanya korban intrik yang sengaja mereka buat.”
“Kalian salah! Aku yakin mereka hanya terlambat datang saja, mungkin terjebak badai atau gelombang laut yang terlalu tinggi.” Dalih Sanin, lebih ke arah untuk menenangkan dirinya sendiri yang mulai muncul rasa was-was di hatinya.
Para tahanan lain hanya mengendikkan bahu dan kembali larut pada makanannya mereka tidak lagi membahas Sanin. Lambat laun ia pasti akan mengetahui kebenarannya, pikir para tahanan lain.
Saat mengikuti program asimilasi, Sanin semakin sering mencuri pandang ke arah jam dinding. Setiap detik terasa begitu lama berubah menjadi menit dan kemudian jam pun berlalu, Sanin menanti dan terus menanti dengan gelisah kapan tibanya sang Komandan atau suruhannya membebaskan dia dari lapas terpencil yang berada di pulau kecil antah berantah ini.
Malam akhirnya tiba walau masih berbalut hujan yang terus turun sepanjang hari, dengan kecewa Sanin menghela nafas ia masih tetap menatap ke arah pintu kamar selnya dengan secuil harapan yang tersisa. Pria tua teman sekamarnya menjadi iba melihatnya, kepolosan Sanin telah dimanfaatkan oleh para aparat itu, dan lihatlah pria lugu itu sampai saat ini pun masih berharap.
“Sudahlah, sebaiknya kau istirahat dan tidur. Mungkin esok mereka baru tiba di sini, seperti yang kau bilang tadi kalau mereka mungkin terjebak oleh cuaca buruk dan menunggu di pelabuhan sampai badai reda.” Hibur pria tua itu.
Sanin mengangguk dan mulai berbaring di ranjangnya. Ia memejamkan mata berusaha untuk tidur, dua menit kemudian ia kembali membuka matanya. Rasa gelisah menyelimuti dirinya, ia sekarang memikirkan kemungkinan terburuk. Bagaimana jika apa yang dikatakan oleh pria tua itu sebelumnya adalah benar, ia telah dijebak dan dibiarkan membusuk di lapas ini untuk waktu yang lama, seumur hidupnya?
Semalaman berteman suara hujan yang kadang menderas dan kadang merintik Sanin terus terjaga, resah diombang antara harapan dan ketakutan kemungkinan terburuk dalam hidupnya telah terjadi. Ia mulai memikirkan ucapan pria tua teman sekamarnya dengan serius, bisa jadi kalau perkataan orang tua itu memang benar adanya. Mereka tidak akan datang menjemputnya.
Mentari pagi menerabas dari balik jendela kecil yang ada di dinding kamar sel tahanan, hujan akhirnya reda subuh tadi. Pria tua itu menggeliat dan bangun merentangkan tangan sambil menguap lebar, ia melihat Sanin yang masih duduk termangu di atas ranjangnya.
“Kau nampak buruk, seperti seorang gadis yang ditinggal nikah oleh kekasihnya, hehehe.” Komentar pria tua itu sambil terkekeh, ia meraih sebotol minuman dalam lemari kecilnya.
Sanin menatap pria tua teman sekamarnya yang kini sedang meneguk minuman dari dalam botol kecilnya, ia mencoba menghangatkan badan karena pagi ini udara memang terasa lebih dingin dari biasanya. Sanin penasaran darimana pria tua itu mendapatkan minumannya. Bukankah hal itu adalah ilegal? Tapi Sanin sedang tidak berselera menanyakannya saat ini, ia hanya mengamati pria tua itu sambil menghela nafas.
Sirine yang panjang dan memekakkan telinga terdengar. Hari ini adalah hari mandi, mereka harus bergegas menuju kamar mandi dan bergiliran mandi dengan blok lainnya. Blok mereka giliran pertama untuk bulan ini, meski cuaca masih terasa dingin tapi jangan sampai terlambat karena selain beresiko dipentung oleh para sipir juga tidak kebagian jatah mandi dan harus berbau ria selama tiga hari.
Sanin dan pria tua teman sekamarnya segera berdiri memegang handuk dan peralatan mandi seadanya lalu menunggu pintu sel kamar mereka terbuka oleh sistem.
Saat itulah, Sanin melihat pria tua itu menyelipkan botol kecil kosong miliknya kedalam handuk. Sanin mengerutkan dahinya, ia hendak bertanya tapi kemudian terdengar suara kunci kamar sel mereka dan seluruh penghuni blok lainnya terbuka oleh sistem. Mereka segera melangkah keluar dan berbaris dengan teratur menuju ke ruangan mandi yang letaknya berada di dekat kantin. Para sipir berjaga dengan senjata lengkap mengawasi para tahanan agar disiplin.
Mereka berjalan beriringan, Sanin sengaja berada di belakang pria tua itu. Ia ingin tahu apa yang hendak dilakukan oleh rekan sekamarnya itu dengan botol kosongnya. Mereka masuk ke dalam ruangan mandi, beberapa kamar untuk membersihkan badan dengan penutup tiga perempat tubuh berjejer dilengkapi dengan shower ada disana.
Pria tua itu tidak langsung masuk ke bilik mandi, ia malah mengecek wastafel dan mengambil sebuah keresek hitam yang sudah tersimpan di bawahnya. Sanin sekarang mengerti kalau teman sekamarnya itu melakukan transaksi gelap dengan cara menukarkan botol kosong yang sudah diselipkan uang diganti dengan botol minuman yang masih utuh dalam keresek hitam tersebut.
“Kau membeli minuman itu dari siapa dan bagaimana bisa kau mendapatkan uang disini?” Sanin tak mampu lagi membendung rasa penasarannya.
Pria tua itu menatapnya lalu tersenyum “Akan kuberi tahu rahasianya. Tapi tidak disini, nanti setelah kita berada di kamar akan kujelaskan semuanya.”
Sanin mengangguk paham, kalau mereka membicarakannya di sini mungkin akan ada bahaya atau semacamnya. Bisa jadi karena itu pun adalah hal yang rahasia dan pria tua itu hanya mau membagi rahasia tersebut dengan dirinya saja.
Mereka kemudian mandi agak tergesa karena jatah setiap orang hanya sekitar lima belas menit saja. Mereka sudah menghabiskan lebih dari lima menit tadi untuk mengobrol karena Sanin penasaran dengan yang dilakukan si pria tua sebelum mereka mandi.
Saat hendak keluar tiba-tiba seseorang menyenggol tangan Sanin, sabun yang ia pegang terjatuh ke lantai ruang mandi. Sanin sudah diberi tahu oleh pria tua itu tentang muslihat para tahanan saat di kamar mandi, ia membiarkan sabun itu dan berlalu keluar. Bahaya kalau sampai ia berjongkok di ruangan kamar mandi ini. Sesuatu yang buruk bakalan menimpa dirinya kalau ia mengambil sabun yang jatuh tersebut.
Tahanan yang sengaja menyenggol Sanin tadi menggeretakkan gigi dan memukul dinding kamar mandi, marah campur kecewa karena ia tidak bisa menyalurkan hasrat binatangnya yang sudah sangat menggebu-gebu dan membutuhkan pelampiasan.
Sanin merasa beruntung berada satu kamar dengan pria tua itu, ia sudah berbaik hati menjelaskan segala hal yang mengerikan dan berbahaya agar bisa ia hindari selama berada dalam lapas ini. Karena itu Sanin bisa selalu waspada dengan modus para tahanan lain yang bisa sangat jahat kepadanya.
Banyak aturan tidak tertulis dan juga strata yang dibuat oleh para tahanan. Sanin mulai memahami bagaimana ia harus bersikap dan berbicara dengan tahanan lainnya berdasarkan peraturan dan strata tersebut. Anehnya, Sanin melihat pria tua teman sekamarnya itu seolah tidak terpengaruh oleh aturan maupun strata yang diberlakukan. Para tahanan lain seakan enggan berurusan dengan pria tua itu, kalaupun harus maka mereka memperlakukannya dengan sikap menghargai dan hormat. Pria tua teman sekamarnya itu seperti memiliki rahasia tentang jati dirinya yaang sebenarnya dan Sanin tidak tahu dia itu siapa sesungguhnya.
***