Hari ini pun dilalui seperti sebuah rutinitas yang menjemukan, Sanin melaksanakan tugasnya untuk menyapu dan membersihkan seluruh jendela lapas. Kemudian mengikuti kelas asimilasi dan makan siang bersama di kantin dengan menu biasanya yang rasanya sangat buruk, Sanin sangat merindukan nasi goreng buatan istri tercintanya, nasi goreng buatan Dewi adalah nasi goreng terenak yang pernah ia makan. Mungkin itu adalh nasi goreng yang paling lezat di seluruh dunia ini.
Sampai malam tiba kembali, masih tidak ada yang datang untuk membebaskan Sanin. Pria tua teman sekamarnya mulai iba melihat Sanin yang kerap menatap ke arah pintu. Berkali-kali ia dapati Sanin yang termangu sambil terus-terusan menatap ke arah pintu sel mereka.
“Kau mau tahu bagaimana mendapatkan uang di dalam sini?” Pria tua itu mendekati Sanin yang sedang duduk termangu sambil menatap ke pintu kamar sel mereka dengan tatapan hampa, sungguh menyedihkan.
Sanin menoleh ke arah pria tua itu dan kemudian mengangguk.
“Ada banyak cara sebetulnya untuk menghasilkan uang dalam lapas, ini adalah praktek yang biasa dan lumrah.” Pria tua itu mulai menjelaskan dengan suara yang lirih dan ia pun duduk di sebelah Sanin.
Sanin mendengarkan dengan antusias, ia mulai menyadari kemungkinan kalau harus tinggal di lapas ini sangat lama maka ia pun harus bisa menghasilkan uang di sini agar bisa memperoleh makanan yang lebih layak.
“Saat pertama kamu datang kesini kau tentu ditanya oleh Kepala Lapas apa mau dapat previlege dengan membayar sejumlah uang bukan?” Tanya pria tua itu menatap Sanin dengan matanya yang selalu tajam.
Sanin mengangguk “Iya, dia tanya apa aku mau dapat fasilitas hotel mewah atau tidak, sebagai gantinya kata dia aku harus membayar sejumlah uang.”
“Nah, itu adalah salah satu sumber uang yang beredar di lapas ini. Para tahanan di sini sebagian besar adalah para penjahat kelas kakap yang memiliki harta melimpah sebagai hasil kejahatannya. Sebelum tertangkap, mereka telah mengamankan aset dan harta mereka agar ketika bebas bisa menikmati harta dari hasil kejahatan mereka itu. Kepala Lapas tentu tahu hal ini, dan dia menginginkan bagian dari harta para tahanan dengan iming-iming fasilitas dan kemudahan lainnya.” Pria tua itu menjelaskan, masih dengan suara yang lirih, mungkin ia takut ada sipir atau orang lain yang akan mendengarkan pembicaraan mereka.
“Kau juga membayar untuk dapat fasilitas itu?” Selidik Sanin sambil menatap wajah si pria tua.
Pria tua itu mengibaskan tangan “Aku tidak punya uang sebanyak itu, memangnya kenapa aku ditempatkan di sel sempit ini bersama dirimu? Tentu saja karena aku tidak mampu membayar fasilitas sel yang lebih besar dan lebih mewah.”
“Benar juga.” Gumam Sanin menyadari kebodohannya dan mengangguk-angguk.
“Lalu selain itu kau pun bisa mendapatkan uang atau barang dengan jual beli atau barter langsung. Bahkan kau bisa menjual jasa untuk mendapatkan uang disini.” Pria tua itu melanjutkan penjelasannya.
“Jasa?” Sanin mengernyit, ia tak tahu jasa apa yang bisa dilakukan di tempat seperti ini.
“Kau tahu kan ada banyak strata di tempat ini? Strata paling atas adalah para Bos yang memiliki kegarangan serta sudah diakui kekejiannya dan berdarah dingin saat melakukan kejahatan mereka. Kemudian ada strata kaya, mereka adalah penjahat tengik yang sebelumnya merupakan para pejabat atau pengusaha yang korup. Mereka semua ditempatkan di sel khusus yang mewah dan setiap bulan selalu menyetor sejumlah uang kepada Kepala Lapas, juga kepada para Bos agar tetap terlindungi keselamatannya di dalam sini. Nah para Bos itu mendapatkan uang dengan menjual jasa keamanan.” Jelas pria tua itu menjelaskan tentang maksud jasa yang ia sebutkan sebelumnya.
Pria tua itu beranjak meraih dua bungkus roti dan sebotol minuman kecil dari dalam lemari dan meneguknya. Ia melemparkan sebungkus roti ke arah Sanin, lalu kembali duduk di dekatnya.
Sanin menerima bungkus roti tersebut, membuka bungkus dan memakannya, ia masih tidak berkomentar dan menunggu pria tua itu melanjutkan penjelasannya.
“Kemudian ada strata lain yang lebih banyak, yaitu para kacung alias pembantu. Mereka adalah para pesuruh yang biasa disuruh-suruh oleh para bos atau strata kaya untuk melakukan pekerjaan kotor atau melayani mereka melakukan sesuatu. Mereka mendapatkan sedikit uang untuk pelayanan mereka. Bahkan ada juga tahanan strata paling bawah yang begitu frustasi mendapatkan uang untuk membeli barang terlarang yang harganya cukup mahal sampai mereka rela menjajakan p****t mereka.” Lanjut pria tua itu dan sekali lagi meneguk minuman kesukaannya.
Sanin mengangguk-angguk, ia mulai memahami bagaimana arus perputaran uang terjadi di dalam lapas. Ia kini paham bagaimana uang bisa datang ke dalam lapas dan bagaimana para tahanan bisa mendapatkan uang untuk membeli barang-barang tertentu.
“Tapi, bagaimana barang-barang dan uang itu bisa masuk kesini?” Tanya Sanin, ia mulai bisa mengetahui pola pikir mendapatkan uang di lapas terpencil tapi masih belum tahu bagaimana uang dan barang-barang terutama barang mewah dan terlarang bisa masuk ke dalam lapas.
“Ada dua cara yang umumnya dilakukan. Yang pertama barang-barang dan uang itu dibawa langsung oleh para sipir berbarengan dengan logistik yang dibawa oleh kapal pengangkut lapas setiap bulannya. Tentu barang-barang biasa yang legal seperti makanan dan minuman ringan. Sementara untuk barang yang ilegal secara hati-hati diselundupkan masuk kedalam oleh para pengunjung lapas. Terkadang bahkan ada sipir yang mau bekerja sama menyelundupkan barang-barang tertentu, dengan harga yang lebih tinggi tentu saja misal handphone, barang terlarang atau barang mewah lain. Tapi keamanan barang itu lebih terjamin dan yakin akan masuk diterima oleh sang pemesan.” Pria tua itu memaparkan dengan cukup panjang.
“Lalu apa yang kamu lakukan hingga bisa dapat uang dan dari siapa kau membeli minuman itu?” tanya Sanin.
“Hehehe, kalau aku mendapatkan uang dengan cara yang lain.” Pria tua itu terkekeh.
“Cara lain? Apa itu?” ternyata ada cara lainnya, Sanin penasaran mungkin ia akan mengikuti jejak pria tua itu dan caranya dalam mendapatkan uang.
“Taruhan.” Sahut pria tua itu singkat.
“Taruhan?” Sanin mengernyitkan dahinya, bagaimana bisa bertaruh sementara mereka kan selalu berada dalam sel tahanan masing-masing.
“Kau tahu betapa membosankannya tempat ini bukan? Kita butuh hiburan agar bisa tetap waras dan menjalani hari demi hari meski terkurung. Jadi para tahanan kemudian mengadakan berbagai permainan untuk hiburan. Dan saat itulah sebagian lain tahanan bisa bertaruh sejumlah uang atau barang untuk menebak siapa yang menang dalam permainan tersebut.” Pria tua itu menjelaskan.
Sanin menatap pria tua itu penasaran sekaligus mulai tertarik dengan taruhan yang dijadikan cara mendapatkan uang “Permainan seperti apa?”
“Seperti pertandingan tinju beberapa bulan lalu itu, secara diam-diam para tahanan telah mengadakan taruhan di setiap pertandingan bahkan sampai dengan pertandingan final. Aku harus berterima kasih padamu, aku bertaruh uang cukup besar saat pertandingan dirimu dan aku menang taruhan dengan memegang si Gorila, hehehe…” Pria tua itu terkekeh, ia telah menguak sebuah rahasia yang membuatnya cuku kaya dengan ‘menjual’ rekan sekamarnya.
Pantas saja waktu itu pria tua teman sekamarnya ini menyuruhnya mundur tapi meskipun ia tetap maju bertinju dengan si Gorilla tokh akhirnya ia tetap kalah telak. Si Gorila memang sangat kuat dan mengerikan, Sanin telah merasakan sendiri bagaimana tinju si Gorila itu begitu keras di tubuhnya.
“Kau taruhan dengan siapa?” Selidik Sanin, ia mulai melupakan harapannya untuk keluar dari tempat ini.
“Ada bandar yang memegang setiap uang taruhan, selain pertandingan semacam itu setiap minggu dan bulanan pun selalu ada yang bisa dijadikan taruhan.” Jelas pria tua itu.
“Setiap minggu dan bulan?” Sanin kaget, ternyata cukup sering juga para tahanan mengadakan taruhan tersebut.
“Iya, terkadang kalau ada yang masuk sel isolasi pun itu bisa dijadikan sebuah taruhan apa ia akan bertahan atau mati di sel isolasi itu.” Jelas pria tua itu.
“Bandarnya siapa dan bagaimana aku bisa ikutan bertaruh?” Tanya Sanin, ia jelas sudah sangat tertarik dan ingin menghasilkan uang di tempat ini agar bisa membeli cemilan sebagai selingan dari makanan kantin yang sangat buruk di lidahnya.
Pria tua itu terkekeh sejenak “Bagus, kau memang harus mulai bisa beradaptasi dan memahami hidup di tempat ini. Kalau tidak kau bisa dilibas tahanan lain atau terus merasakan makanan kantin yang amat buruk. Kalau kau punya uang kau bisa membeli makanan atau cemilan layak sendiri.”
Sanin mengangguk, akhirnya ia bisa menguak rahasia darimana pria tua teman sekamarnya ini mendapatkan minuman dan makanan lain yang tak pernah diberikan oleh kantin Lapas.
“Dan cara yang terakhir untuk mendapatkan uang adalah dengan menjadi cepu.” Lanjut si pria tua itu sambil menatap Sanin tajam.
“Cepu?” Sanin menatap pria tua itu tak mengerti.
“Menjual informasi. Ada beberapa tahanan yang menjadi mata-mata sipir dan aparat kepolisian, mereka menjual informasi tentang aktivitas dan kegiatan tahanan lainnya. Tapi kusarankan kau jangan jadi cepu meski bayarannya cukup menggiurkan. Sekali ketahuan kalau kau cepu, maka nyawamu akan melayang. Para tahanan tidak suka dengan cepu dan mereka bisa menghabisi para cepu dengan cara yang sangat kejam dan tak terbayangkan.” Jelas pria tua itu mengingatkan.
Sanin mengangguk-angguk, ia mengerti secara utuh sekarang bagaimana cara mendapatkan uang di dalam lapas.
Hari berikutnya Sanin masih sedikit menyimpan harapan bahwa ia akan dijemput dan dibebaskan, tapi setelah menjalani rutinitas hariannya yang semakin menjemukan, di ujung hari ia kembali harus menelan kekecewaan.
“Sanin, aku akan meminjamkan sedikit uang untukmu. Malam ini kau ikutlah bertaruh.” Pria tua itu mencoba menghibur rekan sekamarnya yang kembali terlihat murung dan gelisah, sesekali menatap ke arah pintu sel kamar mereka.
Sanin menghela nafas, sepertinya itu ide yang bagus “Malam ini apa yang dijadikan taruhan?”
“Sepak bola.” Sahut pria tua itu, ia berjongkok mengambil sebuah kertas dan puplen.
“Sepak bola?” Sanin tak mengerti.
“Iya, liga Eropa sudah dimulai dan ditayangkan dini hari nanti di televisi. Kau tinggal menaruhkan uang berapa dan skor berapa untuk kemenangan tim mana. Ini!” pria tua itu memberikan secarik kertas khusus yang ada label untuk taruhan yang ia dapatkan dari seorang bandar dan pulpennya.
Sanin tidak begitu mengerti tentang sepak bola tapi apa salahnya ia akan mencoba bersenang-senang saja “Tim mana yang berlaga?”
“El Matadore versus Barbavarian. Jangan lupa tulis namamu dan blok sel ini di bawahnya.” Sahut pria tua itu, ia sendiri sudah menuliskan taruhannya.
Sanin mengangguk, setelah selesai menuliskan pilihannya ia memberikan kertas itu kembali kepada rekan sekamarnya.
Pria tua itu memeriksa kertas Sanin dan mengerutkan dahinya.
“Kau yakin memilih Barbavarian?” tanyanya ragu.
Sanin mengangguk “Memangnya kenapa?”
“Saat ini yang dijagokan adalah El Matadore sebab memiliki komposisi pemain yang lebih kuat dan lebih baik.” Jelas pria tua itu, ia berharap Sanin akan mengganti pilihannya.
“Tidak apa-apa aku tetap bertaruh pada Barbavarian saja.” Sahut Sanin.
Pria tua itu mengendikkan bahunya “Terserah kau saja.”
Setengah jam kemudian seorang sipir yang jaga malam membuka jendela pengintip sel kamar mereka, sipir ini adalah pesuruh dari bandar dan sudah diberi tahu sel kamar mana saja yang akan ikut dalam taruhan. Pria tua itu menyelipkan kertas taruhan dan uang yang sudah dilebihkan sedikit untuk sang sipir.
Tanpa banyak bicara sipir itu mengambil kertas dan uangnya lalu beranjak pergi menuju ke kamar lain yang ikut bertaruh sebelum ia menyetorkan semuanya kepada sang bandar.
Bandar yang dimaksud adalah seorang lelaki bertubuh sangat gemuk berkulit pucat yang ditangkap karena kasus perjudian ilegal dengan nominal aset mencapai milyaran rupiah. Bandar itu kini meringkuk di sel penjara di Blok khusus dengan kamar mewah dan fasilitas memadai. Tapi ia masih melakukan praktik judinya meski berada dalam tahanan. Tak ada yang keberatan asal mendapatkan keuntungan dari praktik si Bandar tersebut. Semua sipir mengetahui aktivitas tersebut termasuk Kepala Lapas, tapi mereka membiarkannya karena selain mendapatkan keuntungan juga sebagai sarana hiburan bagi para tahanan.
Keesokan paginya pria tua itu membangunkan Sanin dengan melemparkan sesuatu ke arah ranjangnya. Sanin terperanjat dan bangun terduduk di ranjang kecilnya.
“Ada apa?” Sanin menguap dan mengucek-ngucek matanya yang separuh masih tertutup karena masih mengantuk.
“Itu uangmu, kau menang taruhan!” Jelas pria tua itu menunjuk ke arah amplop yang ia lemparkan.
Sanin menatap ke arah yang ditunjuk rekan sekamarnya, sebuah amplop yang agak gembung terletak di ranjang kecilnya, ia membuka amplop tersebut dan mengeluarkan isinya.
“Astaga! Banyak sekali.” Kaget Sanin, seumur hidup ia belum pernah memegang uang sebanyak itu.
“Kau sangat beruntung, taruhanmu itu satu banding seribu. Rata-rata semua mengunggulkan El Matadore, kau malah mendukung Barbavarian. Dan tak disangka malah kau yang menang. Keberuntungan pemula kurasa.” Ujar Pria tua itu menjelaskan.
“Apa kau menang juga?” Tanya Sanin penasaran.
Pria tua itu menggeleng “Aku mengunggulkan El Matadore.”
“Kita bagi dua, lagipula aku bertaruh dengan meminjam uangmu.” Jelas Sanin dan hendak membagi separuh uang yang ia pegang di amplop.
Pria tua itu mengibaskan tangannya “Simpan saja, kau akan lebih membutuhkannya nanti ketimbang aku.”
“Baiklah.” Sanin manggut-manggut dan kemudian menaruh amplop berisi uang hasil taruhannya dibalik kasur. Hari ini karirnya sebagai petaruh di lapas terpencil berkeamanan maksimum sudah dimulai.
***